Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Datang Lebih Awal


__ADS_3

Sambil menunggu cerita ini up, yuk mampir di sini juga.



----


Ayunda berjalan masuk ke dalam rumah. "Assalamualaikum..." Dia mengucapkan salam, lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa.


"Waalaikumsalam...." Adrian membalas salam sang adik sembari menuntun putranya berjalan. "Tante Yunda udah pulang", ucap Adrian dengan meniru gaya bicara Azzam.


"Iya Azzam gantengnya tante." Ayunda bangkit dari sofa dan berjalan menghampirinya, lalu dia berjongkok agar sejajar dengan Azzam. Tangannya langsung mencubit gemas pipi gembul keponakannya itu. "Um, wanginya Azzam. Udah mandi, ya?" Ayunda mendekatkan penciumannya pada tubuh Azzam, hingga keponakannya itu terkekeh merasakan geli akibat sentuhan Ayunda. "Kalau gitu tante mau mandi juga. Biar bisa main lagi sama Azzam."


"Oke, tante. Mandi yang bersih ya." Adrian menjawab mewakili sang anak.


Ayunda pun tertawa tatkala sang kakak meminta dirinya mandi yang bersih. "Iya dong, tante kalau mandi pasti bersih. Tante cantik ke kamar dulu, ya. Daa..."


"Dadaa tante cantik..."


 


Di tempat lain seorang pria sedang duduk termenung di kursi kebesarannya. Ajakan makan malam berbau bisnis gagal dia dapatkan dari seorang gadis bernama Ayunda.


Abian pria muda dan sukses itu, banyak disukai oleh para wanita dari berbagai kalangan, bahkan mungkin tak akan ada sekalipun di antara wanita itu yang mau melewatkan kesempatan untuk berduaan bersamanya.


"Apa dia cuma jual mahal, supaya aku penasaran padanya." Abian bergumam seraya menopang dagunya. "Atau aku terima saja dulu tawarannya makan siang besok." Abian tampak berfikir sejenak, lalu dia meraih ponselnya di atas meja dan menghubungi Ayunda.


 


Di apartemen Alfian.


Malam ini harusnya Alfian menyuruh Siera keluar dari apartemennya, namun dia urungkan karena dia adalah saudaranya juga meski tidak sedarah.


"Besok, carilah tempat tinggal yang baru!"


Siera mencoba membujuk kembali Alfian. "Aku tidak mengenal daerah ini, kalau nantinya aku diculik bagaimana?"


"Tidak akan ada yang akan menculikmu!" Alfian berjalan meninggalkan Siera seorang diri di ruang tamu.


Siera pun mengacak kasar rambutnya. Gagal sudah rencananya untuk menikah dengan pria kaya. Dia yang adalah anak angkat dari orang tuanya itu, tentulah tidak punya hubungan sama sekali dengan Alfian, makanya dia berani menjadikan Alfian target untuk.dijadikan calon suami.


"Kemana lagi aku mencari pria kaya?" ucapnya bergumam seraya merebahkan tubuhnya di sofa. Dia lebih memilih tidur di sofa daripada kamar bekas Siska itu.


 

__ADS_1


Malam panjang pun berlalu, berganti dengan pagi yang cerah.


Pagi ini Ayunda sudah mempersiapkan beberapa berkas yang akan dia bawa saat meeting bersama Abian nanti siang. Sebenarnya Ayunda sedikit malas untuk melakukannya, karena menurutnya semua hal sudah jelas di dalam surat perjanjian kerjasama antara perusahaan tempatnya bekerja dan perusahaan milik Abian. Tapi ya sudahlah setidaknya sekedar mengenal lebih baik lagi para investor kan tidak ada salahnya, pikir Ayunda.


"Ayah, bunda, Yunda berangkat kerja dulu ya. Assalamualaikum..."


"Waaalaikumsalam... Hati-hati di jalan, nak."


"Ya, bun." Ayunda langsung melangkahkan kakinya berjalan keluar rumah. Dia pun masuk ke dalam mobil inventaris kantor yang kemaren dibawa pulang olehnya. Lalu dia melajukan kendaraannya menuju kantor.


 


Di apartemen Alfian.


Setelah mencium perlahan kening Zahra yang masih tertidur pulas itu, Alfian pun bergerak perlahan bangkit dari tempat tidur Zahra. Setelah itu dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar Zahra. Saat baru saja menutup pintu kamar Zahra, Alfian terkesiap sembari menggeleng-gelengkan kepalanya tatkala melihat saudara angkatnya yang masih tidur dengan mendengkur di sofa.


Ting. Tong.


Alfian mengalihkan perhatiannya pada seseorang yang sedang memencel bel apartemennya. Lalu dia berjalan menuju interķom untuk melihat tamu yang datang ke apartemennya itu. Alfian pun membuka pintu saat mengetahui pengasuh Zahra berada di depan pintu apartemennya.


"Assalamualaikum pak", sapa salam pengasuh Zahra saat pintu dibuka.


"Waalaikumsalam. Tolong jaga dia dengan baik, ya. Saya langsung berangkat ke kantor."


"Baik, pak."


"Siap, pak!"


"Oke, saya berangkat."


Kedatangan sang pengasuh membuat Alfian tenang meninggalkan Zahra, putri kecilnya itu. Dia berjalan keluar dari apartemennya menuju lift.


 


Di tengah perjalanan di sebuah persimpangan lampu merah Alfian menghentikan kendaraannya. Tanpa sengaja dia menoleh ke sisi kiri mobil, sembari menunggu lampu berganti hijau.


"Itu seperti Ayunda", ucap Alfian bergumam. Dia pun menyipitkan matanya untuk memastikannya. Kaca yang gelap menyulitkan Alfian untuk melihat lebih jelas.


Tit. Tit.


Suara klakson kendaraan dibelakang Alfian yang tidak sabar memintanya untuk jalan, karena lampu sudah berganti hijau, memaksa Alfian memajukan kendaraannya.


Alfian pun melajukan kendaraannya mengikuti mobil Ayunda. Hingga mobil itu berhenti di sebuah bangunan berlantai 3.

__ADS_1


Tampak Ayunda yang mengenakan setelan baju kantor iti keluar dari dalam mobil.


"Ternyata benar itu Ayunda", ucapnya bergumam. Namun tiba-tiba Alfian mendelik saat melihat seorang pria menghampiri Ayunda. "Siapa pria yang sedang berbicara dengannya itu?" Alfian mencoba memperhatikannya dengan jelas, namun punggung Ayunda menutupnya sehingga Alfian sulit untuk mengenalinya.


Suara dering ponsel Alfian mengalihkan perhatiannya. Di raihnya ponsel yang menempel di car holder HP. Lalu digesernya tombol hijau pada layar ponsel.


"Hallo, Reina."


"Pak Alfian... bapak lagi dimana?" suara panik Reina dari ujung telepon.


Tiba-tiba Alfian mengingat sesuatu.


"Oh, saya lagi di jalan. Jalanan sedikit macet, mungkin 15 menit lagi saya sampai."


"Baik, pak. Tolong segera ya pak, klien sedang menunggu", sahut Reina dari seberang telepon dengan rasa was-was.


"Oke", balas Alfian singkat. Lalu dia memutus sambungan telepon dan bergegas melajukan kendaraannya menuju kantor.


---


Ayunda yang sedari tadi berbicara dengan Dafa, akhirnya mengakhiri perbincangan mereka.


"Aku tunggu di cafe biasa entar malam, ya", ujarnya yang tak bisa membuat janji dengan Ayunda di siang hari, karena Ayunda sudah punya janji dengan Abian.


"Dafa.. Dafa.. please. Aku gak bisa janji, lho."


"Aku akan tetap menunggumu! See you tonight." Dafa melangkahkan kakinya menjauhi Ayunda yang masih berdiri dengan wajah bingung.


"Dia siapa?" tanya Abian tiba-tiba.


Ayunda mendelik tatkala melihat ada seorang pria lagi yang membuatnya sedikit pusing. "Kapan bapak datang?" tanya Ayunda sembari melangkahkan kakinya. Sudah 15 menit lamanya dia berdiri di sana dan tak ingin lebih lama lagi berada di sana.


"Baru saja", jawab Abian seraya mensejajarkan langkahnya dengan Ayunda.


"Bukankah pertemuan kita nanti siang, pak Abian?"


Abian terdiam sesaat. Entah kenapa sapaan pak oleh Ayunda seakan membuat jarak yang jauh di antara mereka.


"Iya, tapi apa aku salah datang lebih awal?"


Ini bukan masalah datang lebih awal, tapi ini masalah kenyamanan saya bekerja pak! Jerit Ayunda di dalam batinnya.


"Gak salah pak. Tapi tempat pertemuannya bukan di sini!"

__ADS_1


"Oh, saya memang sengaja datang ke sini. Biar kita berangkat bareng, masalahnya mobil saya lagi di bengkel."


Ayunda pun tak mampu lagi berucap. Dia pasrah membiarkan Abian berkeliaran di kantornya sampai jam makan siang.


__ADS_2