
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Mobil yang di kendarai Tony sang pengawal meluncur di belakang mobil Ferdo, menyusuri jalanan yang mulai sepi. Sebelumnya Adrian sudah membagi posisi masing-masing. Ayunda dan sang bunda berada di mobil yang dikendarai oleh Tony, sedangkan Adrian dan Ferdo di mobil yang berbeda. Akibat ulah Adrian, Ferdo duduk di belakang bangku kemudi dengan wajah di tekuk.
Adrian memandang iba sahabatnya itu. "Sabar ya, Bro", ucap Adrian sambil menepuk pelan pundak Ferdo. "Meskipun yang terjadi itu ... " Adrian menggantung ucapannya agar tidak menambah kesedihan Ferdo.
Ferdo melirik ke arah Adrian sekilas tanpa mengucapkan sepatah kata, namun Adrian terus berusaha menenangkan sahabatnya itu. "Jangan khawatir, Bro. Kita akan segera menemukan pelakunya!" seru Adrian dengan sorot mata tajam.
"Apa Kau tahu aku sedang memikirkan apa?" tanya Ferdo yang sedari tadi hanya mendengarkan Adrian memberi wejangan.
"Ya!" jawabnya singkat.
Ferdo membalas dengan menepuk pelan pundak Adrian. "Bagaimana bisa Kau tahu masalahku, jika Kau sendiri masih jomblo, puft", ledek Ferdo sambil memegang perutnya.
Wajah iba Adrian berubah menjadi menggeram, yang membuat Ferdo bergidik ngeri. "Cih, bukankah Kau sama saja!"
"Iya... iya... kita memang,,, "
Cittttt.
Decitan ban saat sang supir menginjak pedal rem tiba-tiba, membuat Ferdo dan Adrian terpental.
"Itu pasti mereka." Adrian menyeringai. "Kita tunggu di sini saja!" seru Adrian pada sang supir. Sedangkan Ayunda dan sang bunda yang berada di mobil berbeda mulai ketakutan. Mereka saling berpelukan dan menutup mata, tak ingin menyaksikan aksi kekerasan yang pastinya akan menumpahkan darah.
"Hubungi Yunda, agar mereka tenang", ucap Ferdo dengan panik.
"Tenanglah! Sebelum berangkat aku sudah meminta Tony langsung menenangkan mereka, jika hal ini terjadi", sahut Adrian.
Ferdo berusaha tenang saat mendengar jawaban Adrian. "Oke", balasnya singkat.
*
Perkelahian sengit pun terjadi di hadapan Ferdo dan Adrian. Para pengawal yang sudah terlatih, dengan cekatan melumpuhkan serangan lawan. Musuh di buat kewalahan menghadapi para pengawal Ferdo, karena mereka kalah jumlah dengan sang pengawal. Merasa mulai terjepit para penjahat itu mencoba untuk kabur, namun aksi mereka dapat digagalkan. Saat ini para musuh berada dalam kungkungan sang pengawal.
Adrian menyeringai, karena rencana Siska dan papanya gagal. Sehari sebelum keberangkatan mereka, Adrian telah mendapat informasi dari Tony tentang rekaman obrolan Siska di telepon bersama sang papa. Mereka telah merencanakan penghadangan di jalan saat Ferdo akan melakukan perjalanan ziarah ke makam orang tuanya.
Adrian telah mengatur para pengawal berada di depan mereka beberapa meter, dengan menggunakan kendaraan yang biasa digunakan oleh Ferdo dan Adrian. Sehingga saat penghadangan terjadi, anak buah suruhan papanya Siska lebih dulu menghadapi para pengawal Ferdo.
"Sepertinya mereka sudah kalah. Ayo, kita lihat", ucap Ferdo. Ferdo dan Adrian turun dari mobil, lalu berjalan menghampiri para pengawal.
"Bawa mereka semua ke gudang." Adrian memerintahkan para pengawal membawa musuh yang telah dikalahkan itu ke tempat yang sudah dipersiapkan oleh Adrian sebelumnya.
__ADS_1
"Kita harus menghindari kecurigaan Siska. Jangan sampai dia tahu kalau kita sudah meletakkan alat penyadap di tasnya."
"Ya, aku sudah memikirkan itu sebelumnya. Para pengawalmu akan membereskan mereka semua,", ucap Adrian menyeringai.
"Kakak... !" teriak Ayunda dengan suara bergetar.
"Kenapa Kau turun!" sergah Adrian. "Tony... kenapa Kau biarkan...!" ucapan Adrian terhenti saat seseorang menodongkan senjata tajam pada sang bunda.
"Apa-apaan ini!" Adrian berdecak frustasi. Dia merasa gugup karena nyawa sang bunda terancam.
Tony mengatur trik untuk mencari titik lemah musuh. Dia mengawasi setiap gerak gerik musuh di depannya.
"Pak polisi!" teriak Tony mengalihkan perhatian pria yang menodongkan senjata tajam itu. Saat musuh lengah, Tony melempar sebuah belati tepat mengenai lengan musuh.
"Aww... " ringisnya dengan menahan sakit, sehingga senjata tajam di tangannya pun jatuh. Tony langsung menyelamatkan sang bunda dan melumpuhkan musuh.
"Terima kasih, Tony!" ucap Adrian dengan bangga, sambil memeluk sang bunda yang masih gemetaran.
"Ini sudah tanggung jawab saya, Pak," sahut Tony sopan.
Adrian tersenyum mendengar perkataan orang kepercayaannya itu. "Aku tidak salah memilih" ucap Adrian yang masih mencoba menenangkan sang bunda.
"Terima kasih, karena Bapak senang dengan hasil kerja saya."
"Yunda... " panggil Ferdo yang membuat Ayunda berbalik memandang ke arah Ferdo. "Apa Kau baik-baik saja?" tanya Ferdo saat melihat wajah pucat Ayunda.
"Hem, aku tidak apa-apa, Kak", balas Ayunda yang berusaha tersenyum.
"Syukurlah... kalau begitu, ayo kita kembali ke mobil", ucapnya sambil menuntun Ayunda ke mobil.
"Ehem... jangan modus dong!" teriak Adrian dari dalam mobil saat Ferdo memegang lengan Ayunda.
"Aku hanya membantunya, bukan berbuat yang aneh-aneh!" sergah Ferdo.
"Iya, tapi Yunda masih bisa jalan sendiri!" seru Adrian yang tak terima dengan sikap Ferdo.
"Dikit doang! Pelit amat jadi abang!" balas Ferdo dengan kesal.
Sorot tajam mata Adrian berhasil membuat Ferdo bergidik ngeri. Dengan cepat Ferdo menjauhkan tangannya dari lengan Ayunda.
"Dasar abang posesif!" geruru Ferdo yang masih dapat di dengar jelas oleh Adrian.
"Jangan lupa, Bro! Kau sudah bertunangan", ucap Adrian mengingatkannya.
__ADS_1
Ferdo kesal jika disinggung tentang tunangan. Dia langsung membalikkan badan tanpa menyahut ucapan Adrian. Lalu berjalan menuju kendaraan mereka di parkir.
Maaf sahabatku, aku hanya tak ingin Ayunda celaka, karena kedekatan kalian. Batin Adrian.
*
Setelah semua kekacauan yang terjadi, mereka kembali pada tujuan utama. Sang supir menepikan kendaraan tepat di sebuah gerbang menuju makam orang tua Ferdo. Sang kakek telah membeli sebidang tanah, agar ke dua orang tuanya dapat dimakamkan dengan layak.
Drrttt... drrttt.
Ferdo langsung merogoh sakunya untuk meraih ponsel yang sedang berbunyi.
"Kakek!" gumamnya sambil melirik Adrian. "Apa Kakek tahu sesuatu?" ucapnya dengan bertanya pada Adrian, yang di balas Adrian dengan mengangkat ke dua bahunya.
"Angkat saja dulu", ucap Adrian yang mulai jengah mendengar nada dering ponsel Ferdo.
Dengan sedikit gugup Ferdo menggeser tombol hijau di ponselnya. "Ha- hallo, Kek", sapanya.
"Kau di mana?" teriak sang kakek, yang memekakkan telinga Ferdo.
"Aku sedang di jalan, Kek", balasnya dengan mencoba santai.
"Di jalan mana?" tanya sang kakek dari seberang telepon masih dengan nada emosi.
"Ada apa Kek? Kenapa Kakek bertanya dengan marah-marah?" tanya Ferdo mencoba mengalihkan perhatian sang kakek.
"Jangan alihkan pertanyaan kakek! Cepat katakan Kau di mana sekarang", suara sang kakek yang terdengar tidak bersahabat itu dari ujung telepon.
"Di makam papa dan mama", balasnya.
"Harusnya Kau beritahu kakek! Kakek pasti ikut, jika Kau beritahu", ucap sang kakek yang mulai melunak.
"Maaf, Kek", sahut Ferdo menyesal.
"Oke! Atur waktumu kembali bulan depan. Kakek akan datang ke sana." Suara sang kakek dari ujung telepon.
Setelah Ferdo menyanggupi permintaan sang kakek, mereka pun saling memutus sambungan telepon.
Ferdo memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. "Kakek tahu dari mana, aku datang ke mari?" tanya Ferdo dengan mengernyitkan keningnya.
"Aku yakin itu pasti salah satu dari pengawalmu! Coba Kau tanyakan saja", ucap Adrian.
"Ya, Kau benar. Nanti akan aku selidiki." Ferdo pun turun dari mobil. Lalu berjalan menuju makam ke dua orang tuanya.
__ADS_1