Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Perjanjian


__ADS_3

Sepeninggal Bi Arsih, keluarga Ayunda bernafas lega, meskipun masih ada sedikit rasa khawatir, Bi Arsih akan datang kembali dan menuntut balas pada keluarga Ayunda. Untuk itu sang bunda buru-buru mengajukan permohonan pada pihak rumah sakit agar Ayunda diizinkan keluar pada hari ini juga.


Permohonan sang bunda dikabulkan dengan mudah. Mereka pun bersiap untuk pulang ke rumah.


"Kak..." panggil Ayunda dengan nada lirih.


Adrian pun menoleh ke arah Ayunda ."Ya, Dik."


"Tolong beritahu kak Alfian, kalau hari ini Yunda sudah keluar dari rumah sakit", pintanya seraya menahan rasa sakit saat berbicara.


"Jangan khawatir, dek. Kakak pasti akan memberitahunya, walaupun kau tidak mengatakannya", jawab Adrian, Ayunda pun membalas dengan mengulum senyum.


Setelah semua barang milik Ayunda selesai dikemas, mereka langsung berjalan keluar dari ruangan itu menuju pintu lift. Adrian mendorong kursi roda sang ayah, sedangkan sang bunda mendorong kursi roda Ayunda yang dia pakai hanya untuk sementara hingga sampai ke basement rumah sakit.


...---...


Ting.


Pintu lift terbuka lebar, mereka berempat keluar dari dalam lift. Tanpa mereka sadari Bi Arsih sedang menunggu di balik sebuah tiang. Sesaat kemudian Bi Arsih keluar dari persembunyiannya. Dia berjalan menghampiri keluarga Ayunda yang sedang berjalan menuju kendaraan mereka di parkir.


"Dasar keluarga tidak tahu malu!" teriaknya dengan sangat keras, hingga mengundang perhatian orang-orang yang akan masuk ke dalam gedung rumah sakit. "Semua harta sudah kalian rebut, namun kalian masih membawa suamiku kepenjara!" lanjutnya, hingga beberapa orang yang lewat dan gemar update status itu memviralkannya.


Petugas keamanan pun datang, dia langsung menuntun Bi Arsih menuju ruang keamaman. "Ayo, bu", ajaknya dengan sedikit memaksa.


Adrian tiba-tiba mendapat panggilan telepon dari klien pentingnya. Dia bertanya mengenai berita viral itu. Adrian yang memiliki sikap tenang dapat mengatasinya dengan baik.


"Kejadiannya baru saja, tapi sudah langsung diketahui banyak orang", ucap Adrian bergumam.


"Ada masalah apa, nak?" tanya sang ayah yang mendengar ucapan Adrian.


"Seseorang sudah merekam saat Bi Arsih sedang marah-marah pada kita, Ayah. Beritanya menjadi viral dan di tonton oleh klien Adrian, makanya tadi dia menghubungi Adrian untuk memastikan kejadian yang sebenarnya."


"Cepat juga beritanya tersebar ya."


"Ya, Ayah.Tapi Ayah jangan terlalu memikirkannya lebih baik sekarang kita pulang saja", menuntun Ayahnya masuk ke dalam mobil. Ayunda dan sang bunda pun mengikuti. Setelah mereka semua masuk ke dalam mobil, Adrian buru-buru menyalakan kendaraannya dan meninggalkan basement.


...---...


Bi Arsih, wanita paruh baya itu akhirnya bisa keluar dari ruang keamanan rumah sakit setelah interogasi panjang yang dilakukan oleh kepala keamanan padanya.

__ADS_1


"Heran melihat manusia-manusia yang suka sekali mencampuri urusan orang lain. Apa mereka tidak punya kerjaan," gumam Bi Arsih dengan berdecak kesal.


Dia berjalan menyusuri basement yang tampak ramai itu. "Pasti mereka sudah pulang", ucapnya saat tidak lagi melihat kendaraan milik Adrian. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundaknya.


"Hantu... Hantu", ucap Bi Arsih latah seraya menoleh ke arah belakang. "Bapak ini siapa?" tanyanya.


"Bisa kita bicara sebentar, Bu?"


"Ya, silakan!"


"Maaf kalau saya merepotkan. Tapi lebih baik kita mencari tempat yang aman untuk berbincang sebentar", ujarnya.


Bi Arsih tampak berfikir sejenak sembari menatap serius pria dihadapannya.


"Saya papanya Sherly", ucapnya memperkenalkan diri.


Bi Arsih terkesiap mendengar nama Sherly. Dia tahu sedikit mengenaii Sherly dari putrinya yang sudah tiada itu. "Ada perlu apa, Pak?"


"Saya tidak bisa mengatakannya di sini. Jadi saya minta tolong supaya ibu mau mengikuti saya", pohonnya.


Bi Arsih masih mencoba berfikir. "Oke", balasnya dengan singkat.


"Apa kita harus bicara di tempat seperti ini?" tanya Bi Arsih dengan ketakutan.


"Ibu jangan khawatir. Saya tidak akan membuat Ibu celaka", ucapnya untuk membuat tenang Bi Arsih. "Saya hanya mau menawarkan kerjasama seperti yang telah dilakukan oleh putri kita."


Bi Arsih menatap serius pria dihadapannya. "Apa ucapanmu itu bisa di pegang?"


Pria dihadapannya menganggukkan kepalanya. "Apakah Ibu mau bekerjasama dengan saya?"


"Katakan dulu rencananya! Setelah itu baru aku putuskan."


Kalau bukan karena Sherly yang memintaku, maka aku tidak akan menemuimu, rutuknya di dalam batin.


"Kita akan bekerjasama untuk membuat keluarga mereka bangkrut. Caranya akan aku beritahukan melalui telepon. Tolong berikan nomor ponselmu, karena tidak aman bicara di sini."


"Berikan ponselmu!" pinta Bi Arsih seraya mengulurkan tangannya.


Pria itu langsung meletakkan ponsel miliknya di atas telapak tangan Bi Arsih. "Ini", katanya.

__ADS_1


Bi Arsih mengetik beberapa angka di layar ponsel pria itu, lalu menekan tombol memanggil. "Ini nomorku, simpanlah", ujarnya sembari mengembalikan ponsel milik ayah Sherly.


"Oke, aku akan mengubungimu pukul 7 malam", ucapnya sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Baik, aku tunggu panggilan telepon darimu!" sahut Bi Arsih dengan wajah serius.


Lalu mereka meninggalkan tempat itu, namun tanpa mereka sadari seseorang sudah berada di tempat itu sebelum mereka tiba.


...---...


Mobil milik Adrian terparkir sempurna di halaman rumahnya. Mereka bergegas keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju teras rumah.


"Assalamualaikum..." ucap salam sang bunda. Namun tidak di sambut oleh siapapun, kecuali hening yang menjelma.


"Assalamualaikum Mama Azzam..." timpal Adrian dengan suara keras.


"Waalaikumsalam..." balas Winda dari dalam rumah. Lalu dia membukakan pintu buat keluarganya yang sedang menunggu di luar.


"Apa Adik ipar sudah boleh pulang?" tanya Winda.


"Sebenarnya belum boleh, tapi tadi bunda meminta izin ke dokter supaya Yunda ke luar rumah sakit hari ini", sahut sang bunda sembari melangkah masuk ke dalam rumah.


"Kenapa terburu-buru bu? Lebih baik menunggu adik ipar pulih dulu", imbuhnya dengan mengekor di belakang sang bunda.


"Di sana mulai tidak aman."


Winda mengernyitkan keningnya. "Emang di sana ada apa bun? Kenapa tidak aman?"


"Bi Arsih tadi pagi tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Yunda, kebetulan bunda sedang berada di luar. Kata ayah dan Adrian, sikap Bi Arsih sangat mencurigakan", ujar sang bunda. "Jika saja Adrian dan ayahmu tidak datang tepat waktu, bunda khawatir Bi Arsih sudah berbuat kasar pada Yunda."


"Tidak boleh suudzon, bun", ujar sang ayah saat Adrian menuntun kursi rodanya menuju sofa.


"Tapi sewaktu di tempat parkir mobil, Bi Arsih datang lagi Ayah. Dia berteriak dengan penuh dendam pada keluarga kita Ayah."


"Ayah tahu itu. Tapi tetap kita tidak boleh suudzon pada orang lain."


"Baik ayah", ujar sang bunda dengan tertunduk lesu. Lalu dia memalingkan wajahnya menatap Adrian. "Adrian... Bunda minta tolong kamu cek keadaan restoran."


"Baik, Bunda", balas Adrian dengan suara keras, hingga membangunkan putranya yang sedang tertidur pulas itu.

__ADS_1


__ADS_2