
Abian sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang membelah keramaian jalan menuju kantornya. Hatinya sedikit gusar kala mengetahui bahwa Ayunda dan Alfian telah memiliki huhungan sebelumnya.
Cit.
Suara decitan ban mobil miliknya kala Abian menginjak pedal rem mobilnya mendadak, karena seseorang telah menyeberang dengan sembrono tepat di depan mobilnya. Abian menurunkan kaca mobilnya sembari melihat dari spion mobil, wanita yang hampir saja dia tabrak itu sedang berjalan menghampirinya.
"Hei, apa kau... " ucapan wanita itu menggantung kala melihat wajah tampan Abian.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Abian dengan rasa peduli.
"Em, aku cuma sedikit kaget saja", sahutnya dengan tersenyum menggoda.
"Oke kalau begitu." Abian menaikkan kembali kaca mobilnya dan melajukan kendaraannya meninggalkan wanita yang masih berdiri diposisinya itu dengan muka cengo.
"Hei. Dimana sopan santunmu?" teriak Siera berdecak kesal. Dia mengira Abian akan menawarkan dirinya sesuatu sebagai permintaan maaf. Namun jangankan ditawarkan sesuatu, permintaan maaf pun tidak dia dapatkan.
"Apa dia benar-benar tidak mengingatku? Padahal dia melihat kearahku waktu bersama dengan Alfian di cafe waktu itu!" Siera terus menggerutu saat menapaki trotoar yang terlihat lengang pejalan kaki itu.
Tiba-tiba sebuah mobil mundur perlahan dan berhenti tepat di posisi Siera berdiri. Lalu pria itu menurunkan kaca mobilnya. "Mba Siera, mau kemana?" tanya Tony dengan ramah.
"Untung kau datang. Kakiku sudah mulai keram, sedari tadi berjalan dari apartemen", ujarnya sembari masuk ke dalam mobil walaupun yang empunya belum mempersilakan.
"Kenapa gak pesan taxi online saja mbak?"
Siera seketika mendelik. "Kenapa kau baru ngomong sekarang?" teriaknya hingga memekakkan telinga Tony.
"Iya maaf", sahut Tony sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ini sebenarnya yang salah siapa sih? Batin Tony. Lalu Tony melajukan kendaraannya membelah jalanan yang tak pernah sepi itu. "Mau di antar kemana, mba?"
"Bawa aku ke kantor Alfian", titanya dengan sok berkuasa.
"Baik, non."
Tidak ada lagi percakapan di antara mereka, hingga Tony menghentikan kendaraannya tepat di depan loby kantor Alfian.
"Sudah sampai non", ujar Tony.
"Oke. Apa kau bisa membawaku ke dalam", ucap Siera sembari membuka pintu mobil, lalu dia menutupnya. "Ayolah, aku tak ingin dipersulit naik ke atas", ucapnya dengan memelas.
__ADS_1
"Maaf, non. Saya masih ada tugas penting. Saya pergi dulu", sahut Tony dengan tersenyum yang membuat Siera berdecak kesal atas penolakan Tony.
"Dasar pesuruh aja belagu", makinya dengan muka cemberut. Lalu dia berjalan dengan langkah gontai menuju lobi kantor Alfian.
Seorang resepsionis yang melihat gelagat aneh Siera, menyapa Siera lebih dulu. "Ada yang bisa dibantu, bu?" tanya sang resepsionis dengan ramah.
Namun keramahan sang resepsionis di balas dengan tatapan tajam oleh Siera. "Apa aku sudah menikah dengan bapakmu?"
Sang resepsionis mengernyitkan keningnya. Ditanya baik-baik, malah dijawab dengan ketus, batin sang resepsionis.
"Pelayanan di sini buruk sekali. Akan aku lsporkan pada Alfian", ancamnya yang membuat sang resepsionis mendelik.
Siapa dia? Kenapa akrab dengan pak Alfian, atau itu hanya gertaknya semata, batin sang resepsionis.
"Maaf, bu. Ada keperluan apa, ya?"
"Sudah aku katakan, sejak kapan aku menikah dengan bapakmu?" ucap Siera bernada kesal. Dia akan marah jika ada yang memanggilnya ibu.
"Owh, itu hanya sapaan sopan saya pada kakak", ujar sang resepsionis yang telah mengubah sapaannya, agar wanita yang sedang mondar mandir dihadapannya saat ini segera pergi.
"Maaf, kak. Pak Alfian sedang tidak di tempat saat ini", sahut sang resepsionis.dengan sopan.
"Owh, aku hafal dengan kata-kata seperti ini. Aku yakin Alfian pasti ada di dalam, tapi dia sedang tidak ingin di ganggu." Siera langsung melangkah masuk menuju lift.
"Kak... Kak.. Mau kemana?" teriak sang resepsionis sembari keluar dari balik meja dan mengejar Siera yang berjalan dengan terburu-buru. "Security..." panggilnya agar membantunya untuk menghadang Siera.
Di sebuah rumah sakit
Alfian berlari dengan terburu-buru sambil menggendong Zahra. Dia begitu panik saat suhu tubuh Zahra sangat panas hingga mencapai 39 derajat celcius.
"Permisi... Permisi." Alfian menepikan setiap orang yang berjalan berlawanan arah dengannya, hingga dia tiba di.sebuah ruangan khusus.anak.
"Sus, tolong periksa putri saya. Demamnya tidak mau turun dari kemaren malam.
"Baik pak. Akan kami periksa. Tolong anaknya dibaringkan di atas tempat tidur", pinta sang perawat. Lalu dia langsung membawanya ke dalam ruang pemeriksaan.
__ADS_1
Alfian mengikuti kemana Zahra di bawa.oleh sang perawat, karena Zahra sama sekali tidak mau melepaskan pegangannya tangannya dari Alfian.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Zahra selesai di periksa sang dokter dan diberi sesuatu untuk penurun panasnya. "Dia baik-baik saja. Hanya perlu dibetikan vitamin agar imun tibuhnya kuat.
"Baik, dok", sahut Alfian dengan tegas. Dia pun kembali memangku Zahra untuk membawanya pulang. Sang dokter tidak meminta Zahra di rawat inap, karena panasmya sudah turun.
Alfian terus berjalan melewati koridor rumah sakit. Tanpa disengaja dia bertemu dengan seseorang.
"Yunda, Winda", panggilnya saat mereka sedang saling berhadapan. 'Siapa yang sedang.sakit?" tanya Alfian sembari menatap wajah imut Ayunda.
Ayunda menggeleng dengan pelan. "Aku disini karena sedang menemani kakak ipar untuk imunisasi.Azzam."
"Wah Azzam sudah besar sekarang", ujar Alfian sembari tersenyum pada Azzam.
"Zahra kenapa kak?" tanya Ayunda yang mengalihkan perhatian Alfian.
"Dia demam dari tadi malam. Ini panasnya baru mulai turun."
"Zahra cepat sembuh ya", ucap Ayunda sembari tersenyum ke arah wajah lesu Zahra.
"Iya, sama-sama tante", balas Alfian. Dia langsung melanjutkan langkahnya berjalan meninggalkan Ayunda dan Winda.
Sepeninggal Alfian, Winda mulai angkat bicara. "Aku melihat masih ada cinta dari sorot mata kalian berdua. Mungkin karena saling ego, makanya kalian tidak bisa bersatu."
Ayunda terdiam sejenak. "Ucapan kakak ipar ada benarnya juga. Tapi Yunda tidak sepenuhnya menyalahkan kak Alfian. Yunda pasti akan menerimanya kembali jika dia mau menjelaskan semuanya pada Yunda."
"Akhirnya adik iparku yang imut ini mau terbuka dengan perasaannya", ujar Winda dengan raut wajah bahagia. Dia sangat mendukung Alfian berbaikan kembali dengan Ayunda.
Drrt. Drrt.
Tiba-tiba ponsel Winda bergetar. "Tolong gendong Azzam sebentar, ya", pintanya pada sang adik ipar sembari memberikan Azzam padanya. "Kakak angkat telepon sebentar, di sini sedikit berisik." Winda pun menjauh, lalu dia menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Assalamualaikum, bu Winda", terdengar suara bariton Tony dari ujung telepon.
"Waalaikumsalam. Ya, gimana hasilnya Ton?" tanya Winda dengan tidak sabar. Lalu Tony langsung menyampaikan hasil penyelidikannya.
"Owh, begitu ya. Lanjutkan saja penyelidikannya." Winda pun mengakhiri sambungan telepon.
__ADS_1