Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Acara Di rumah Siska


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Setelah perdebatan antara Ferdo dan Adrian, yang saling memperebutkan untuk menaiki mobil masing-masing, akhirnya disepakati mereka akan menaiki mobil Adrian. Dengan terpaksa Ferdo mengikuti langkah Adrian berjalan menghampiri mobil yang sedang dikendarai Tony.


"Begini saja, minta supirmu mengikuti kita dari belakang." Adrian memberi saran karena melihat wajah cemberut Ferdo.


"Kenapa bukan Tony saja yang mengikuti kita dari belakang?" tanya Ferdo yang tidak langsung menyetujui ide Adrian.


Adrian menggeleng, dia tak habis pikir dengan sikap keras kepala sahabatnya itu. ""Kalau Tony di mobil yang berbeda dengan kita, bagaimana kita bisa menyusun rencana bersama?" Adrian berdecak kesal saat mengatakannya. Ferdo pun diam, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil Adrian.


Tony langsung menjalankan kendaraan yang dikemudikannya, saat ke dua bosnya itu masuk ke dalam mobil. Adrian menunggu sampai suasana hati Ferdo adem, barulah dia menyampaikan ide untuk rencana mereka di acara Siska malam itu.


*


Setelah 20 menit dalam perjalanan, mereka tiba di basement apartemen Siska. Tony memarkirkan kendaraannya dengan sempurna. Lalu mereka ke luar bersamaan dari dalam mobil, menuju lift.


Tony sudah membawa beberapa peralatan berupa kamera pengawas yang terhubung dengan dvr yang sudah disiapkannya di apartemen. Dia juga sudah menghubungkannya ke ponsel Ferdo dan Adrian.


Ting.


Pintu lift terbuka lebar di lantai yang ingin mereka tuju. Mereka ke luar dari dalam lift bak dua orang bodyguard tampan bersama seorang kliennya.


Tony memencet bel saat mereka tiba di apartemen Siska.


Ceklek.


"Sa - " Ucapan Siska terhenti saat orang yang muncul di hadapannya bukanlah pria yang di nantikannya. Tony pun tersenyum ramah melihat penyambutan hangat Siska.


Sebenarnya pria ini cukup tampan, tapi levelnya sangat jauh, batin Siska.


Tiba-tiba Ferdo muncul dari samping Tony. Siska pun tersenyum lebar, dia ingin menghamburkan dirinya memeluk Ferdo, namun dengan cepat Ferdo mengelak sambil menarik Adrian serta mengatakan, "aku datang bersama Adrian."


Siska melihat dengan wajah tak suka, hampir saja dia terjatuh karena Ferdo mengelak pelukannya.

__ADS_1


"Ayo, kita masuk" ajak Siska dengan wajah yang berubah tidak ramah.


Mereka pun berjalan masuk, mengikuti Siska dari belakang. Saat sudah berada di dalam apartemen Siska, semua mata memandang dengan berdecak kagum. Bahkan tanpa sadar, ada yang telah menumpahkan minumannya ke baju sendiri. "Wah, pangeran tampan", suara-suara terdengar dari hampir semua teman Siska, kecuali Winda dan seorang teman lainnya yang memang sedang berada di balkon apartemen Siska.


Mendengar kehebohan di ruang tamu, Winda dan sahabatnya itu melangkahkan kaki meninggalkan balkon. "Ada apa sih", rasa penasaran mereka mengharuskan mereka untuk segera melihatnya.


Winda dan sahabatnya terbelalak saat melihat Adrian. Winda yang kagum dan bingung, kenapa Adrian baru memakai kado pemberiannya itu, sedangkan sahabatnya yang bernama Conny kaget melihat tetangga dinginnya itu juga berada di sana.


"Adrian!" seru Conny yang membuat Winda menoleh.


"Kau kenal dia?" tanyanya.


"Ya, kami tinggal di apartemen yang sama", balas Conny dengan tersenyum bahagia. "Maaf aku lupa memberitahumu, kalau aku baru pindah sebulan yang lalu", ucapnya sambil melangkahkan kakinya menghampiri Adrian.


"Hai Adrian", sapa Conny ramah yang di balas dengan senyum sekilas oleh Adrian, lalu Adrian mengalihkan pandanganya pada Winda.


Adrian dan Winda saling bertukar pandang, manik mata mereka pun saling mengunci. Adrian tak rela untuk melepaskan tatapannya, dia menunggu reaksi dari Winda untuk memberi penilaian penampilannya malam ini. Seakan tersihir oleh tatapan Adrian, Winda pun berjalan mendekat. "Hai semua", sapanya dengan tersenyum ramah, sebelum mendekati Adrian. Lalu dia membisikkan sesuatu pada Adrian. "Apa Kau yakin kostum yang Kau pakai cocok di sini?", bisiknya dengan cepat, kemudian berlalu meninggalkannya.


Senyum Adrian pun pudar, saat mendengar bisikan Winda. Bukan pujian yang didapatkannya melainkan ejekan yang sangat menyebalkan. Bahkan Adrian sudah mengabaikan Conny yang sedari tadi tersenyum padanya. Pada hal Adrian sengaja memakai pakaian pemberian Winda, karena dia yakin Winda pasti hadir di acara yang diadakan Siska, namun hasilnya tidak seperti yang diharapkannya.


"Oh, maaf", ucap Adrian yang tersadar dari lamunannya. Wajah sendu yang diperlihatkannya dengan tiba-tiba membuat Conny bingung.


Apa Adrian punya hubungan spesial dengan Winda ya, batin Conny bertanya-tanya.


Siska kembali menghampiri Ferdo yang sedari tadi berdiri di antara Adrian dan Conny. "Sayang, ngapain Kamu di sini. Mending kita ke sana, yuk", ajaknya pada Ferdo dengan suara menggoda.


Ferdo bergidik ngeri saat mendengar penuturan Siska, dia mengedarkan pandangannya seakan mencari sesuatu. "Aku mau ke toilet. Toiletnya di mana, ya?" Ferdo membuat alasan untuk menghindar dari Siska.


"Ehm, Kamu pakai toilet yang ada di kamar aku aja sayang." Siska langsung menggayutkan tangannya, mengajak Ferdo ke kamar.


"Eh, tapi - " Ferdo sudah di tarik masuk ke dalam kamar Siska, sebelum dia melanjutkan ucapannya.


"Itu toiletnya", tunjuk Siska pada sebuah ruangan yang ada di sudut kamarnya. "Aku tunggu di luar ya sayang, jangan lama-lama", tutur Siska sambil mengedipkan matanya, namun Ferdo tak meresponnya.


Setelah Siska benar-benar ke luar dari dalam kamar, Ferdo langsung mengunci pintu kamar itu. Dia khawatir, Siska akan masuk tiba-tiba saat dia berada di kamar mandi.

__ADS_1


Sebuah penyadap suara diletakkannya di bawah meja rias yang ada di kamar Siska. Kemudian dia ke luar, setelah berpura-pura membasuh tangan di washtafel.


Ceklek.


"Wadaw... " Ferdo berjingkat, melihat wajah Siska tepat berada di hadapannya, saat baru saja membuka pintu.


"Kenapa sayang?" Siska langsung memegang ke dua tangan Adrian dengan rasa khawatir.


Ferdo berusaha melepaskannya dengan perlahan. "Oh, aku hanya kaget. Tadi Kau tiba-tiba muncul di depanku."


Siska cemberut dan berpura-pura merengut. "Jadi Kau pikir wajahku ini menyeramkan, hem?" Siska bertanya dengan membuang muka, agar Ferdo membujuknya.


"Maaf... tadi itu spontan. Kamu... cantik, kok", tutur Ferdo dengan berat lidah mengucapkannya.


"Iiss, Kau coba menggodaku, ya." Mata Siska berbinar, dia langsung menggandeng tangan Ferdo, lalu membawanya ke tengah ruang tamunya.


"Perhatian! Perhatian! Semuanya... aku mau mengatakan sesuatu", ujar Siska yang masih menggandeng tangan Ferdo.


Semua yang ada di ruangan itu mengalihkan perhatiannya pada Siska dan Ferdo. Mereka menghentikan aktifitasnya untuk mendengarkan Siska.


"Aku akan katakan di hadapan semua sahabatku yang ada di sini, bahwa aku sangat mencintai Ferdo tunanganku ini. Aku juga berjanji tidak akan pernah mengkhianatinya." Siska menatap Ferdo dengan tersenyum lebar, namun Ferdo diam tanpa ekspresi.


Lalu Ferdo melepaskan genggaman tangan Siska. "Terima kasih, tapi ini tidak pantas diucapkan di sini. Cukup lakukan, jangan ucapkan janji apa pun." Ferdo menatap jengah sikap Siska. Kemudian Ferdo mengajak Adrian dan Tony pulang.


"Sayang, aku minta maaf. Aku terlalu mencintaimu, aku di buat gila oleh cinta ini. Please, sayang... maafkan aku", bujuk Siska yang tak ingin melepaskan tangannya dari lengan Ferdo.


"Oke", ucap Ferdo melunak. "Tapi, aku tetap harus pulang."


"Kenapa?" tanya Siska.


"Ada pekerjaan mendadak yang harus aku tangani sendiri", tuturnya menjelaskan.


"Baiklah, sayang. Tapi jangan lupa untuk menelponku", ucap Siska dengan nada manjanya. Ferdo pun mendesah, karena permintaan yang tak ingin di lakukannya itu.


"Hemm... " Ferdo hanya membalas dengan deheman, lalu beranjak meninggalkan apartemen Siska.

__ADS_1


__ADS_2