Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Adrian di pecat


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Pagi ini kantor Santoso Station digemparkan oleh berita pemecatan Adrian, seorang yang merupakan tangan kanan Ferdo, bisa di katakan orang kedua setelah Ferdo.


Adrian telah di berhentikan dengan tidak terhormat, sehingga dia tidak mendapat sepeser pun sebagai pesangon. Dia pun meninggalkan ruangannya sambil menahan rasa sesak di dada. Bahkan tak sekalipun dia melirik pada beberapa karyawan yang sedang bergosip, saat menyusuri koridor kantor. Dia terus berjalan seakan tak terjadi apa-apa, namun tanpa sengaja dia mendengar cibiran para karyawan yang sebelumnya bahkan tak pernah menyebut namanya.


Hem, benar kata orang... kita akan tahu siapa kawan, di saat kita susah.


Baru saja Adrian akan membalikkan badannya, namun dia urungkan, setelah berpikir sesaat. "Lebih baik pergi tanpa berpamitan pada Ferdo dan Winda. Meskipun pemecatannya bukanlah atas kemauan Ferdo." Adrian bergumam sambil melanjutkan langkahnya.


"Adrian!" teriak Winda memanggil Adrian, dan semakin mempercepat langkah kakinya agar dapat menghampirinya. "Aww... " tiba-tiba kaki kanan Winda terpelecok, saat heels sepatunya patah.


Adrian refleks berjalan untuk menangkap tubuh Winda. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya sambil membantu sang kekasih berdiri. "Kenapa harus buru-buru?" Adrian masih membantu Winda berdiri dengan sempurna.


"Jangan pergi, please! Aku akan mencoba membujuk Ferdo." Winda berucap dengan memburu, bahkan tak melepaskan pegangannya dari pergelangan tangan Adrian.


Adrian menatap intens Winda, dan memaksakan senyumannya. "Kau tak perlu melakukan itu, karena itu bukanlah keinginan Ferdo... " Adrian memberi jeda ucapannya. "huft, tapi perbuatan kakek", lanjutnya dengan wajah gusar sambil membuang nafas kasar.


Winda mengernyitkan keningnya. "Kakek yang memintanya? Tapi kenapa? Bukankah kakek sangat sayang padamu?" Winda terus bertanya. Dia tak percaya bahwa sang kakek tega melakukan itu. Adrian baru saja menganggukan kepalanya, Winda sudah menghubungi sang kakek, yang membuat Adrian menunggu untuk melanjutkan ucapannya.


Winda kembali menghubungi sang kakek, karena panggilan telepon pertamanya tidak di jawab.


"Uh, kakek kemana, sih?" Winda berdecak kesal, hampir saja ponsel di tangannya jatuh dengan bebas saat dia menghempas kasar tangannya. "Tumben kakek tidak mengangkat telepon dariku." Winda berfikir sejenak dengan menopang dagunya pada ponsel yang ada di tangannya.


"Sudah aku katakan, Kau tak perlu repot untuk melakukan itu", ucapnya yang sudah tidak nyaman dengan tatapan sinis beberapa karyawan. "Aku pergi dulu." Adrian pamit tanpa menunggu jawaban Winda, seakan mereka tak lagi punya hubungan spesial.


"Tunggu dulu! Adrian... !" Winda terus berteriak memanggil nama Adrian, namun Adrian mengacuhkannya.

__ADS_1


Winda hanya menatap gusar kepergian Adrian. Dia tidak dapat berbuat apa-apa, sebelum mendapat penjelasan dari sang kakek. "Maafkan aku Adrian. Aku tahu kau pasti membutuhkanku saat ini, tapi aku harus bicara dengan kakek dulu", ucapnya namun tak dapat lagi di dengar oleh Adrian.


***


Ayunda meninggalkan kampus dengan langkah terburu-buru. Anak pembunuh yang disematkan padanya membuatnya menangis tanpa suara. Rasa sesak yang sedari tadi di tahannya, kini dia tumpahkan saat berada di dalam mobil.


"Non, aku minta maaf", ucap Tony saat mendengar tangisan hebat Ayunda. Ayunda bergeming, dia sedang tak ingin bicara pada siapa pun, namun pengecualian untuk Ferdo. Ayunda yang sedari tadi menunggu panggilan dari Ferdo tiada hentinya melirik ponsel di tangannya.


"Non, tolong maafkan aku", ucap Tony kembali namun sedikit menaikkan nada suaranya.


Ayunda melirik sekilas, namun dia kembali pada ponselnya. "Kenapa mas Tony minta maaf? Semua ini kan terjadi bukan karena mas Tony", ucapnya dengan terisak.


"Semua karena mas Tony, Non." Ayunda mengkerutkan keningnya masih dengan terisak, sambil menyimak perkataan Tony. "Reina, Non. Reina yang sudah memberitahu tentang keluarga non pada Sherly." Tony meneruskan perkataannya dengan sedikit penyesalan.


Ayunda berhenti menangis, perhatiannya kini dia tujukan pada perkataan Tony. "Reina melakukannya karena mas sudah menolaknya. Dia mengira kalau mas itu suka sama kamu", ucapnya sendu.


"Apa? Kenapa Reina berfikir seperti itu?" Ayunda menuntut penjelasan lebih pada Tony.


"Jadi ini semua ulah Sherly? Tapi dari mana dia tahu, kalau ayahku berhubungan dengan kasus seperti itu? Tak ada yang tahu selain kakak dan ... " Ayunda tidak melanjutkan ucapannya. Dia menutup mulutnya, karena tak percaya jika bude Arsih tega melakukannya. "Aku harap itu bukan perbuatan bude Arsih", ucapnya masih dengan rasa penasarannya.


"Ya, Non. Tapi non gak marah sama mas, kan?" tanya Tony sambil melirik dari spion dalam mobil.


"Tergantung", balas Ayunda yang membuat Tony bingung, namun dia tak dapat menyahut ucapan Ayunda, karena sebuah mobil hampir saja menyerempet mobil mereka, jika Tony tidak dengan sigap mengelak.


"Tergantung, jika mas Tony jawab dengan jujur pertanyaan Yunda", ucap Ayunda dengan tersenyum penuh arti.


"Ya, aku akan jawab dengan jujur, Non", balasnya, yang sangat menginginkan maaf dari Ayunda.


"Apa mas Tony suka sama Yunda?" tanyanya to the point yang membuat Tony tersentak kaget, dan hampir saja Tony mengendarai mobil ke luar dari jalurnya.

__ADS_1


"Hati-hati mas!" teriak Ayunda histeris saat mobil seakan berputar oleng ke kiri.


"Iya, Non. Maaf tadi aku gak fokus", balas Tony sambil menetralkan degupan jantungnya.


Ayunda menghela nafas lega. "Lain kali lebih hati-hati ya, Mas", ucapnya masih merasakan degupan jantungnya yang memompa dengan cepat.


"Iya, Non. Sekali lagi maafkan mas, ya", ucap Tony yang sedikit kacau, saat di tanya tentang perasaannya pada Yunda.


"Iya, iya", balas Ayunda cepat. Dia tak ingin menanyakan lagi tentang perasaan Tony, meskipun sebenarnya dia masih penasaran dengan jawaban Tony. Bukan karena rasa suka sebagai kekasih, tapi karena Ayunda telah menganggapnya seperti kakaknya sendiri.


***


Adrian berjalan mondar mandir di apartement miliknya. Dia mendesah dengan gusar sambil memikirkan cara untuk mendapatkan bukti bahwa sang ayah tak bersalah. Pelaku penabrak sebenarnya yang tak lain adalah teman kerja sang ayah telah tiada, beberapa hari setelah kejadian itu. Meskipun kematiannya tak wajar, namun Adrian juga tak dapat membuktikannya.


Sang bunda berjalan menghampiri Adrian yang terlihat uring-uringan, saat dia baru saja ke luar dari dalam kamar.


"Nak, jangan putus asa. Berdoalah, minta petunjuk dari Allah."


Adrian hanya membalas dengan anggukan kecil. "Terima kasih, Bun", ucapnya dengan tersenyum yang dipaksakan. Lalu dia teringat sesuatu. "Bunda, doakan juga supaya Adrian mendapatkan bukti-buktiny", ucapnya.


"Ya, itu pasti, Nak", balas sang bunda dengan tersenyum.


Ceklek.


Pintu apartement di buka. Ayunda muncul dari balik pintu dengan wajah murungnya.


"Kenapa?" tanya sang kakak dengan khawatir, saat melihat Ayunda yang berjalan tanpa memiliki semangat hidup.


Drrt... drrt.

__ADS_1


Baru saja Ayunda akan menjawab sang kakak, ponselnya berbunyi.


"Kak Alfian", ucapnya dengan wajah yang tak dapat dideskripsikan, saat membaca nama Ferdo di layar ponselnya.


__ADS_2