Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Sahabat terbaik


__ADS_3

Di sebuah gedung yang tidak jauh dari restoran bundo, Adrian dan Conny sedang duduk bersama 2 orang pria yang bertubuh gemuk. Wajah serius menyiratkan ada hal penting yang sedang mereka bicarakan.


Setelah hampir 2 jam lamanya mereka berbincang akhirnya di ambil satu keputusan.


"Kami akan menarik kembali sisa dana sesuai perhitungan tadi."


Adrian terkesiap saat mendengar keputusan para investor, kecuali Conny kedua pria gendut itu tak ingin melanjutkan berinvestasi pada usaha Adrian. Meskipun mereka harus membayar penalty karena telah memutus hubungan kerjasama.


"Tapi..."


Kedua pria itu mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan Adrian.


"Kami beri waktu 2 minggu." Kedua pria itu langsung berdiri dan beranjak meninggalkan Adrian dengan wajah lesu.


Tiba-tiba Conny menepuk pelan pundak Adrian. "Sabar, kita coba cari jalan keluarnya", ucap Conny menghibur.


Adrian terus berfikir barang kali dia pernah menyinggung seseorang, namun tidak ada satu nama pun yang berhasil dia ingat. Entah siapa yang menyebar isu tentang bisnis yang sudah dia mulai dari nol setelah resign dari perusahaan Santoso Station.


"Sudah... Jangan kuatir, pasti ada jakan keluarnya." Conny terus meyakinkan Adrian. Prilaku manis yang ditunjukkan Conny seperti seorang istri yang sedang menyemangati suaminya.


Adrian mengangguk pelan. "Terimakasih, kau memang sahabat terbaikku."


Deg.


Perkataan Adrian menghentikan debaran jantung Conny. Ada rasa yang ingin dia ungkapkan, namun dia tak sanggup menyatakannya. Dalam diam dia menangisi kesialannya yang terlambat bertemu dengan Adrian. Tapi aku ingin lebih dari seorang sahabat, batinnya.


"Hei..." sapa Adrian yang membuyarkan lamunan Conny. "Kenapa sekarang jadi kau yang murung?"


Conny menarik paksa lengkungan bibirnya. "Ah, bukan apa-apa", sahutnya berbohong.


"Apa kita bisa kembali ke restoran?" tanya Adrian, karena dia tidak membawa kendaraan. Dia meninggalkan kendaraannya untuk digunakan okeh ke dua orangtuanya.


"Ayo", ajak Conny sambil berdiri.


Mereka pun beranjak dari tempat duduk masing-masing, lalu melangkah meninggalkan tempat itu.


Ada sepasang mata yang memandang dari kejauhan dan merekam semua hal yang terjadi di sana.


***

__ADS_1


Setibanya di restoran Adrian meraih ponsel dari dalam tasnya. Dia teringat telah mengaktifkan mode silent agar tak mengganggu pertemuan mereka tadi. Matanya terbeliak saat melihat banyaknya panggilan dari Ayunda.


"Tadi Yunda mencarimu, nak", ucap sang bunda yang sedang berjalan menghampirinya.


"Apa Yunda sudah tiba di London?" Adrian bertanya sambil menuntun sang bunda duduk di salah satu kursi.


"Ya", sahut sang ayah yang baru saja datang, namun mendengar ucapan Adrian. Lalu dia duduk di samping sang bunda. "Katanya dia kepikiran kamu terus." Sang ayah melanjutkan ucapannya saat bobot badannya berhasil menempel di kursi.


Adrian terdiam sesaat. Apa Yunda tahu apa yang baru saja terjadi, batinnya. Adrian menatap ke arah Conny yang baru saja duduk hampir bersamaan dengan sang ayah.


Conny menaikkan ke dua bahunya, seakan paham akan arti tatapan Adrian.


Kemudian Adrian mencoba menghubungi Ayunda kembali, namun ponselnya tidak aktif.


"Ponsel Yunda gak aktif, yah", ucap Adrian.


"Coba saja lagi nanti. Mungkin kehabisan daya", sahut sang ayah dengan santai. "Ayah tinggal dulu ya, nak." Sang ayah buru-buru meninggalkan mereka, karena tiba-tiba saja dia ingin ke toilet.


"Bunda juga mau lihat dapur." timpal sang bunda sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Ya ayah, bunda." Adrian membalas dengan sedikit berteriak, agar sang ayah mendengarnya.


Sepeninggal kedua orang tua Adrian, saat ini Adrian dan Conny duduk berdua di satu meja. Mereka duduk saling berhadapan, hingga Conny dengan bebas menatap wajah tegas Adrian. Dia tampan, batin Conny.


"Hai, Winda", sapa Conny sopan.


"Oh, hai", balas Winda dengan sedikit gagu. "Apa kami bisa bicara berdua saja?" tanya Winda.


"Conny sahabatku. Apa ada rahasia yang tidak boleh didengarnya?" Adrian langsung menyahut ucapan Winda.


Winda terdiam sesaat. "Ehm, sebenarnya ini tentang hubungan kita, jadi orang luar tidak perlu tahu."


"Conny bukan orang luar", Adrian membela Conny, hingga menimbulkan rasa sakit hati Winda, sedangkan Conny berusaha menahan senyumannya.


"Oke, aku akan membicarakannya lain waktu." Winda beranjak dari tempat itu dengan rasa kesal, hingga tujuannya untuk memasak sarapan di dapur sang bunda berakhir batal. Perutnya yang sudah mulai berbunyi membuat kekesalannya bertambah.


Saat sudah berada di parkiran mobil, Winda membuka dan menutup kasar pintu mobilnya. Setelah duduk di bangku kemudi, Winda berteriak sambil membanting setir. Dari parkiran dia dapat melihat jelas Adrian sedang tersenyum tanpa rasa canggung saat sedang berbicara dengan Conny.


"Apa hubungan kami ini berarti baginya?" Winda bergumam dengan wajah sendu, karena Adrian sama sekali tidak menahan kepergiannya tadi. Setelah 5 menit dia duduk diam di bangku kemudi, perut keroncongnya semakin berbunyi keras hingga memaksanya untuk meninggalkan tempat itu. Winda pun melajukan kendaraannya meninggalkan restoran bundo.

__ADS_1


***


Pagi ini Reina bekerja dengan sangat riang. Setelah kesulitannya teratasi dengan bantuan Tya. Dia pun berhasil mengerjakan semua pekerjaan yang sebelumnya menumpuk di atas meja kerjanya.


"Terima kasih, bu Tya" , ucap Reina sambil menggenggam tangan Tya.


Tya membalas dengan anggukan. Lalu tangannya menyodorkan sesuatu. "Ini undangan buatmu, jangsn lupa datang, bawa juga pacarmu."


Reina membaca undangan di tangannya.


"Kak Reno", ucapnya.


"Apa kau mengenal Reno?" tanya Tya penasaran.


Reina mengangguk. "Kak Reno yang punya cafe dekat kampus Tri Karya, kampus tempat Reina kuliah dulu, bu."


Tya juga mengangguk. "Iya benar Reno itu. Tapi sekarang dia sibuk dengan bisnis di luar kota. Jadi cafe itu sudah diserahkan pada saudaranya."


"Oooo..." balas Reina dengan mulut membentuk bulatan.


"Jangan lupa datang, ya", ucap Tya sambil meraih tas jinjingnya.


Reina kembali mengangguk. "Insya Allah."


"Saya pamit pulang. Semoga sukses." Tya beranjak meninggalkan Reina yang sudah siap dengan tugasnya sebagai sekretaris.


Tak berselang lama kepergian Tya, Winda datang bersama.Tony.


"Reina", sapa Winda.


Reina yang kelabakan saat melihat Tony tak merespon sapaan Winda.


"Hai, Reina." Winda kembali menyapanya.


"I, iya bu. Ada yang bisa di bantu?" tanya Reina sambil menelan salivanya. Kenapa dia tiba-tiba ada di sini, batin Reina.


"Ini Tony", ucap Winda memperkenalkannya pada Reina.


"Kita sudah saling kenal, bu", ujar Tony agar Winda langsung ke intinya.

__ADS_1


"Oh, bagus kalau begitu. Kalian bisa bekerja sama dengan baik, menunggu Alfian kembali. Karena untuk sementara waktu tugas Alfian di ambil alih Tony."


"Baik, bu", sahut Reina dengan girang. Namun tidak dengan Tony. Saat ini dia ingin sekali pergi memghindar dari Reina.


__ADS_2