
Happy reading...
Citt...
Suara decitan ban mobil bmw seri 5 itu menyita perhatian orang yang baru saja melewatinya.
"Kenapa ada mobil mewah di lingkungan ini?" tanya seorang pria sambil memandang kagum. "Bahkan ada 2", ucapnya berdecak semakin kagum, saat 1 lagi mobil bmw berhenti tepat di belakangnya.
Sang kakek bersama Alfian dan Winda turun dari mobil pertama. Siska dan papanya juga langsung ke luar dari dalam mobil dibelakangnya. Mata Siska terbeliak kaget saat dia melihat sebuah gedung di hadapannya. Mulutnya pun ternganga seakan tidak percaya dia akan mengadakan pernikahannya di tempat kumuh. Apa-apaan kakek tua ini, batinnya. Dengan langkah berat dia berjalan mengejar ketertinggalannya.
Mereka tiba di sebuah ruangan sempit yang sudah terpasang beberapa kipas angin sebagai pendingin ruangan.
"Apa tidak ada tempat yang lain, Kek?" tanya Siska yang tidak berhenti mengibaskan tangannya seakan kipas angin di dalam ruangan itu tidak ada gunanya.
"Jika tidak mau, ya... pernikahan kita tunda", ancam sang kakek.
"Setuju, kek", balas Alfian cepat.
Siska langsung menggayutkan tangannya di lengan sang kakek. "Kek, kita tunda seminggu lagi, ya", pintanya dengan rayuan.
"Mau lanjut sekarang atau kita batalkan" ucap sang kakek yang tidak tertarik dengan rayuan Siska.
Papa Siska yang sedari tadi masih menyimak percakapan mereka berdehem. "Ehem, lanjutkan", ucapnya singkat. Kau pikir kami akan menyerah kakek tua, batinnya.
"Oke, silakan pengantin duduk di sana", pinta sang kakek dengan menunjuk sebuah meja.
Oh, no... bukan pernikahan seperti ini yang aku inginkan, batin Siska.
Alfian dan Siska berjalan menuju meja yang telah disiapkan, lalu duduk bersama di hadapan pak penghulu. Semua yang hadir juga ikut duduk, dan acara pun dimulai. Raut wajah kesal Siska berubah bahagia saat memandang pria yang ada disampingnya. Yang penting kau sudah menjadi milikku, batin Siska.
"Sah...", teriak mereka bersama.
Siska tersentak kaget saat ijab kabul selesai dilakukan. "Berarti kita sudah sah jadi suami istri", ucapnya girang. Dengan cepat dia menghamburkan dirinya memeluk Alfian.
"Eits... Cium tangan", seru Alfian yang langsung beringsut mundur, lalu memberikan punggung tangannya.
"Baiklah suamiku", sahut Siska lembut dengan wajah riang, namun Alfian bergidik ngeri mendengarnya.
__ADS_1
Cih, dasar berkepribadian ganda, dan sekarang dia jadi istriku, batin Alfian menangis.
***
Ayunda bersama keluarganya sedang berada di sebuah mall terbesar di kota itu. Rasa bahagia mereka atas bebasnya sang ayah terlihat jelas saat menjalani setiap sudut mall. Ayunda pun berjalan dengan riang saat memilih beberapa pakaian untuk di pakai sang ayah. Sesaat Ayunda melupakan salah satu masalah terbesarnya yakni pernikahan Alfian yang berlangsung di hari yang sama dengan hari dibebaskannya sang ayah.
"Sudah, nak?" tanya sang bunda saat melihat Ayunda membawa banyak pakaian di tangannya.
"Belum, bun", sahut Ayunda tanpa memandang ke arah sang bunda.
"Bunda lelah, Yunda", seru sang kakak yang juga lelah mengikuti Ayunda. Bahkan dia merasa menyesal telah ikut berbelanja, harusnya dia juga pulang sama seperti yang dilakukan teman-teman Ayunda.
"Oh, maaf bun", seru Ayunda dengan bersusah payah membawa beberapa potong pakaian.
"Sini ayah bantu", pinta sang ayah menawarkan diri.
"Tidak perlu ayah", ucap Ayunda dengan menghindar.
Sang ayah hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ternyata ada yang meniru sifat keras kepala ayah", seru sang ayah saat melihat Ayunda berusaha sendiri membawa semua pakaian di tangannya menuju meja kasir.
Setelah sang kakak membayar semua barang yang telah di pilih Ayunda, mereka bergegas menuju restoran, karena mereka tidak ingin perut keroncong sang ayah yang berbunyi kencang itu di dengar semua pengunjung mall.
"Tidak apa-apa, nak. Ayah masih bisa menahannya, kok", sahut sang ayah sambil tersenyum.
Tapi Ayunda bersikukuh ingin menebus kesalahannya. "Sebagai tebusannya, Yunda akan masak godok-godok kesukaan ayah", seru Ayunda dengan tersenyum manis menampilkan deretan gigi rapinya.
Sang ayah terdiam, wajah bahagianya berubah sendu saat mengingat kejadian 12 tahun lalu. Keluarga bahagia mereka harus melewati semua kejadian itu. Bahkan dia harus mendekam di penjara atas perbuatan yang tidak pernah dilakukannya.
Akhirnya kebenaran terungkap setelah sebuah rekaman cctv dari dashboard mobil yang menunjukkan bahwa dia tidak sedang berada di dalam mobil truk. Dia hanya berdiri di samping truk yang bergerak menabrak mobil orang tua Alfian. Ingin rasanya dia berterima kasih pada si pemberi bukti, namun dia tidak tahu kepada siapa dia harus berterima kasih.
"Ayah tidak apa-apa, kan?" tanya Ayunda yang melihat sang ayah termenung.
"Tidak apa-apa, nak", balas sang ayah. "Oh, ya... Alfian kemana?" tanya sang ayah mengalihkan perhatian mereka. Sang ayah tergagu saat melihat ekspresi mereka bertiga. "A..apakah di.dia sibuk?" tanyanya ragu.
Sang bunda langsung menghampiri sang ayah. "Ayah, jangan bahas itu dulu ya", pintanya dengan sedikit berbisik pada sang suami, yang di balas dengan anggukan oleh suaminya itu.
Mereka pun duduk di bangku kosong di sudut ruangan restoran itu. Nafsu makan Ayunda hilang saat mendengar nama Alfian. Namun setelah mendapat bujukan dari sang bunda, akhirnya dia memaksakan dirinya menyantap makanan yang sudah di pesan oleh sang bunda.
__ADS_1
***
Di bandara internasional
Alfian bersama Siska mengantar kepulangan sang kakek. Sang kakek harus segera mengurus masalah bisnis di Paris, karena putra pertamanya (putra angkatnya) itu tidak becus dalam menjalankan bisnis keluarga yang baru saja dia serahkan. Untuk alasan itulah sang kakek meminta pernikahan Alfian dan Siska dilakukan dengan segera, karena dia akan menetap di Paris untuk waktu yang lama.
"Daa... Kakek", seru Siska yang dengan sengaja berteriak untuk menarik perhatian pengunjung bandara.
"Apa tidak ada yang kenal dengan kakek", gumamnya saat melihat tidak ada reaksi dari orang disekitarnya. "Coba aku cek dulu", ucapnya sambil meraih ponsel di tas jinjingnya, lalu jarinya menscroll layar ponsel di tangannya untuk melakukan pencarian atas nama Santoso.
Baru saja dia menemukan artikel mengenai keluarga Santoso, beberapa reporter berlari menghampiri mereka.
"Permisi", ucap salah seorang reporter.
"Ya, ada apa?" tanya Siska dengan suara lembut sambil menghentikan jarinya yang masih sibuk menscroll artikel keluarga Santoso.
"Apakah benar anda adalah istri dari pak Alfian Ferdo Santoso?" tanya sang reporter sambil menyodorkan sebuah mic di tangannya.
Spontan Siska mengibaskan rambut panjangnya, lalu tersenyum manis ke arah kamera. "Ya, saya istrinya", sahut Siska dengan suara lembut.
Alfian maju ke depan, lalu menutup lensa camera yang sudah on. "Atas izin siapa kalian melakukan wawancara?" sergahnya. "Matikan sekarang", tunjuknya pada beberapa kamera yang terarah kepada mereka.
Sang kameramen segera mematikan kameranya. Para reporter hanya berdiri kaku dan saling menatap bingung. "Tapi istri anda yang sudah meminta kami datang", ucap salah seorang reporter yang tidak terima dengan sikap Alfian.
"Istri siapa, hah?" tanyanya. "Apa kalian punya bukti?" tanya Alfian dengan nada tinggi, untuk menekan para reporter agar mereka segera pergi.
Keributan itu pun menyita perhatian pengunjung bandara. Tidak ingin masalah semakin besar, Alfian semakin merapatkan dirinya pada Siska. "Ingat pesan kakek!" ancamnya dengan berbisik.
Siska pun mendelik, mengingat semua ucapan sang kakek. "Eh, maaf ya semuanya", ucapnya dengan tersenyum kaku. "Sebenarnya saya hanya bercanda", ujarnya dengan terpaksa.
Para reporter bedecak kesal. "Apa anda pikir kami bisa dijadikan lelucon!" ucap salah seorang dari reporter. "Anda bisa kami tuntut!" ancamnya.
Siska tersentak kaget. Kenapa jadi seperti ini, batinnya.
"Tunggu dulu, saya benar-benar minta maaf", seru Siska dengan wajah panik. Kekuatirannya menunjukkan bahwa benar dia telah menghubungi para reporter dari stasiun pesaing suaminya.
"Sudahlah! Kita pergi saja", seru reporter lainnya dengan nada kesal. Tanpa aba-aba, mereka langsung membereskan perlengkapan yang mereka bawa, meninggalkan Alfian dan Siska tanpa berpamitan.
__ADS_1
Sorot tajam mata Alfian membuat Siska bergidik ngeri. Dengan cepat dia pergi meninggalkan Alfian. Dia terus berjalan menuju parkiran mobil tanpa menoleh ke arah Alfian. Lebih baik aku tunggu diparkiran saja, batin Siska.