Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Ayunda Setuju


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Adrian dan Ferdo berjalan ke luar dari mobil, saat Adrian baru saja memarkirkan kendaraannya di basement apartemennya.


Ting.


Pintu lift terbuka, saat Adrian dan Ferdo berjalan menuju lift. Mereka pun langsung masuk ke dalam lift.


"Tunggu!" teriak seorang wanita yang tak lain adalah Conny, tetangganya yang tinggal di lantai tujuh itu.


"Apa kebiasaanmu meminta orang menunggu?" tanya Adrian, karena pertemuan pertamanya dengan Conny adalah saat Conny mengejar lift yang hampir saja tertutup.


"Pufft, aku fikir Kau bisu!" cerca Conny sambil menekan tombol angka tujuh, saat dia berhasil masuk ke dalam lift. "Selama ini Kau tidak pernah berbicara denganku", tuturnya dengan tersenyum ramah, namun Adrian membalasnya dengan menatap tidak suka.


"Aku malas berbicara dengan orang sepertimu!" seru Adrian yang tak ingin kalah berdebat dengan wanita yang saat ini berdiri di sampingnya.


"Siapa juga yang suka bicara dengan orang seperti kamu", balas Conny dengan menjulurkan lidahnya.


Ferdo menggelengkan kepalanya, tak habis fikir dengan sikap kekanak-kanakan ke dua orang yang sedang berdebat di dalam lift saat ini.


Ting.


Lift terbuka lebar di lantai tiga, Adrian langsung berjalan ke luar tanpa menyapa Conny, bahkan meninggalkan Ferdo di belakangnya. Ferdo tersenyum simpul pada Conny, saat akan ke luar dari dalam lift. Conny pun membalasnya dengan tersenyum lebar. "Yang ini tidak hanya cakep, tapi juga ramah. Beda banget sama yang sono", Conny bergumam, saat pintu lift akan tertutup seluruhnya.


*


Ceklek.


Adrian membuka pintu apartemennya, lalu mengucapkan salam, yang di sahut oleh sang bunda dari arah dapur. Ferdo pun melakukan hal yang sama dengan Adrian, saat dia baru saja melangkah masuk ke dalam apartemen Adrian.


"Yunda di mana, Bun?" tanya Adrian sambil duduk di sofa yang di ikuti oleh Ferdo.


"Ada, di dalam kamarnya", sahut sang bunda yang sedang sibuk menyiapkan makan malam. "Dia juga baru saja sampai. Mungkin dia mandi", tutur sang bunda, saat memasukkan beberapa potong brokoli ke dalam wajan.

__ADS_1


"Oke, Bun", sahut Adrian. "Bunda masak apa? Wangi banget", seru Adrian dengan mengendus.


"Ini bunda lagi belajar masak resep baru, cah brokoli sosis", sahut sang bunda dengan semangat.


"Wah, pasti enak", ujar Adrian yang sudah menelan salivanya. "Fer, Kau harus cobain. Masakan bunda itu tiada duanya", ajak Adrian pada Ferdo sambil memuji masakan sang bunda.


Ferdo hanya membalasnya dengan anggukan, namun sorot matanya terus menatap pintu kamar Ayunda yang tak kunjung terbuka.


"Jangan di lihat terus. Dia pasti ke luar, sabar ya bro", ujar Adrian dengan tertawa mengejek.


Ceklek.


Baru saja Adrian meledek Ferdo, pintu kamar Ayunda sudah terbuka lebar. "Itu, yang di tunggu sudah datang", ucap Adrian yang menunjuk menggunakan ekor matanya.


"Hai, Kak Alfian. Sudah lama menunggu?" tanya Ayunda sambil duduk di sofa.


"Oh, belum. Kami baru saja sampai", balas Ferdo dengan tersenyum.


Sang bunda tiba-tiba datang dengan membawa sesuatu di tangannya. "Ini bunda buat cupcake, selagi hangat ayo di cicipi", seru sang bunda dengan tersenyum ramah.


"Fer, aku ke kamar sebentar", ucap Adrian yang di balas Ferdo dengan anggukan, lalu dia beranjak dari sofa dan melangkahkan kakinya berjalan menuju kamar tidurnya.


"Bagaimana kuliahnya?" tanya Ferdo membuka obrolan dengan Ayunda, saat Adrian baru saja masuk ke dalam kamarnya.


"Masih sama, Kak. Tidak ada yang spesial", balas Ayunda dengan meletakkan ponsel yang sedari tadi di pegangnya.


Ferdo mengkerutkan keningnya saat menatap Ayunda. "Emangnya spesial seperti apa yang Kau inginkan?" tanya Ferdo penuh selidik.


"Ya, seperti event yang diselanggarakan untuk mencari pembawa acara berbakat." Ayunda menatap Ferdo dengan menampilkan gigi rapinya.


Ferdo menganggukkan kepalanya, yang menyetujui ucapan Ayunda. "Apa Kau berminat?" tanya Ferdo kembali.


"Tentu dong, Kak. Aku ingin menjadi pembawa acara terkenal", sahut Ayunda dengan tersenyum lebar. "Jika Kakak membutuhkan pembawa acara, di acara yang kurang diminati orang sekalipun, aku siap membawakannya", tutur Ayunda menawarkan diri.


"Tapi saat ini aku butuh seorang pacar bohongan", balas Ferdo dengan mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Gak sabaran amat", sembur Adrian saat baru saja ke luar dari dalam kamarnya. "Ayunda pasti mau, kok", ucapnya kemudian sambil tersenyum pada Ayunda.


"Oh, iya masalah itu. Memang aku sudah memikirkannya. Dan aku..." ujar Ayunda menggantung ucapannya. Ferdo dan Adrian mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah Ayunda, yang dengan tidak sabar menunggu ucapan Ayunda.


"Sebenarnya aku sudah membuat keputusan dan sudah memikirkan dengan matang, aku... menerima permintaan untuk jadi pacar bohongan Kakak", ucap Ayunda dengan tersenyum, yang membuat Ferdo dan Adrian bernafas lega. Satu masalah Ferdo akhirnya dapat di atasi.


"Terima kasih, Yunda", ucap Ferdo dengan girang. Ferdo langsung memberitahukan kepada Ayunda, apa yang harus dilakukannya, agar sang kakek percaya bahwa Ayunda adalah pacarnya.


Mereka membuat rencana yang matang, untuk menghindari kecurigaan sang kakek. Dari kesukaan masing-masing, bahkan kapan tepatnya mereka bertemu.


Setelah semua rencana telah di susun dengan mantang, mereka langsung menuju meja makan, karena sang bunda sudah memanggil sedari tadi. Bahkan sang bunda harus menyusul mereka ke ruang tamu, untuk mengajak mereka bergabung di meja makan. Mata mereka terbelalak, saat melihat hidangan yang sangat menggugah selera buatan sang bunda, terhidang dengan cantik di atas meja.


"Waw, ini pasti sangat lezat", ucap Adrian saat duduk di kursi, yang di ikuti oleh Ferdo dan Ayunda.


Malam ini seolah menjadi malam keberuntungan buat Ferdo. Di mulai dari saat Ayunda tidak menolak permintaannya, bahkan ada makanan lezat yang dia dapatkan sebagai bonus.


***


Malam yang semakin larut, memaksa Ferdo untuk meninggalkan apartemen Adrian. Ferdo yang sedang berada di jalanan, memandang ke luar jendela kaca mobil, ketika sang supir mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Perasaan bahagia seakan tidak ingin luntur dari wajah Ferdo. Dia terus tersenyum memandang jalanan yang mulai lengang. Dan seakan senyumnya menular, sang supir pun ikut tersenyum melihat majikannya dari spion dalam mobil.


Ferdo dengan tidak sabar memberitahu kakek kesayangannya itu, tentang seorang wanita yang akan diperkenalkannya pada sang kakek. Dia buru-buru meraih ponsel di dalam saku celananya, untuk menghubungi sang kakek.


"Hallo, Kek", sapa Ferdo saat panggilan sudah terhubung dan sang kakek sudah menjawab lebih dulu dari seberang telepon.


"Ada apa?" suara sang kakek yang di dengar Ferdo dari ujung ponselnya.


"Aku mau memberitahukan kabar bahagia pada Kakek", sahut Ferdo yang tidak langsung terus terang pada sang kakek.


"Kabar bahagia, apa?" suara sang kakek yang penasaran dari seberang telepon.


"Aku akan memperkenalkan calon cucu mantu kakek", jawab Ferdo yang membuat sang kakek terdiam sesaat, walaupun Ferdo sudah memanggil sang kakek berkali-kali, namun lidah sang kakek seakan tercekal dan sulit membalas ucapan Ferdo.


Setelah Ferdo menunggu beberapa saat, akhirnya terdengar suara sang kakek dari ujung telepon. "Oke, bawalah dia. Perkenalkan pada kakek segera", sahut sang kakek dengan nada datar.


Mereka langsung memutuskan sambungan telepon, saat perbincangan di telepon berakhir.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2