
Adrian masih menunggu sambungan telepon terhubung.
"Assalamualaikum", ujar Ayunda dari seberang telepon.
"Waalaikumsalam. Bagaimana kabarmu dek?" Adrian menyahut salam dari Ayunda.
"Alhamdullilah baik, kak. Bagaimana kabar kakak, Ayah dan bunda?"
"Kami semua baik di sini. Ayah dan bunda juga mendengar percakapan kita ini."
"Ayah, bunda, Yunda kangen", teriak Ayunda yang membuat sang ayah dan bunda merasakan rindu yang sama. Mereka ingin sekali memeluk erat putri cantik mereka itu.
"Ayah dan bunda lebih rindu sama kamu, dek. Kalau kamu bisa lihat ekspresi wajah ayah dan bunda saat ini, pasti kamu sudah berlari memeluk mereka", ujar Adrian.
"Ya, kak. Yunda akan pulang di hari pernikahan kakak."
"Hmm, sebenarnya ada hal penting yang mau kakak omongin."
"Hal penting apa kak?"
"Kami sudah menonton peristiwa penembakan itu. Dan kami merasa kuatir, karena kamu adalah sasaran penembakan itu."
Ayunda terdiam beberapa saat, dia sudah menduga bahwa keluarganya akan membicarakan kembali hal itu.
"Yunda... Kamu masih mendengarkan kakak?"
"Ya, kak", sahut Ayunda dengan sedikit gagu.
"Jadi ayah dan bunda minta supaya Yunda balik ke Indo saja. Di sini Yunda juga bisa menggapai mimpi kok. Gak ada bedanya", ujar Adrian yang mencoba membujuk Ayunda.
"Mmm, apa kita bisa membicarakan hal ini saat Yunda sudah balik ke Indo saja kak?"
"Kenapa?"
"Pertama di sini masih pukul 1 dini hari, kak", ujar Ayunda yang tidak ingin mengganggu teman 1 kamarnya yang baru masuk asrama hari ini.
"Oh, maaf. Kakak lupa perbedaan waktu kita."
"Dan ada banyak hal lainnya yang gak bisa Yunda sampaikan melalui telepon."
"Oke, kalau begitu kita bicarakan setelah kedatanganmu ke Indo."
"Baik, kak", sahut Ayunda.
Mereka mengakhiri sambungan telepon dengan saling mengucapkan salam.
"Ayah dan bunda sudah dengar sendiri, apa kata Yunda. Jadi gimana ayah, bunda?"
__ADS_1
"Ya, mau gimana lagi. Kita gak bisa memaksa Yunda", sahut sang ayah.
"Bunda juga ikut aja. Bunda gak mau ini menjadi beban pikiran putri kesayangan bunda."
Adrian pun tersenyum saat mendengar ucapan kedua orangtuanya yang memahami keinginan sang adik.
***
Di rumah sakit.
Sang kakek melangkahkan kakinya dengan di bantu oleh seorang pengawal. Usianya yang tidak muda lagi membuatnya sedikit kesulitan untuk berjalan.
"Kakek!" seru Alfian yang langsung menghamburkan dirinya memeluk sang kakek. Kedatangan sang kakek kali ini seakan menambah kebahagiaan Alfian.
"Apa kakek mau melihat cicit kakek?" tanya Alfian saat baru saja melepas pelukannya.
"Nanti saja", ucap sang kakek dengan santai, seolah tidak merasakan kegembiraan seperti yang dirasakan oleh Alfian. Dia duduk di kursi tunggu sambil menggenggam tongkat ditangannya.
Alfian terus menatap guratan di wajah sang kakek yang terlihat sangat jelas. "Kakek butuh sesuatu?" tanya Alfian saat melihat sikap sang kakek yang tidak seperti biasanya, lalu duduk disamping sang kakek.
"Tidak", sahut sang kakek singkat.
Lalu Alfian menatap ke arah sang pengawal yang sudah menemani sang kakek.
"Apa kakek baik-baik saja?" tanyanya pada sang pengawal.
Alfian hanya bisa menunggu sang kakek mengatakan sesuatu sambil duduk termenung.
"Kakek sudah melaporkan penabrak kedua orang tuamu", ujar sang kakek tiba-tiba membuka suara yang membuat Alfian terkesiap.
"Siapa pelakunya kek?" tanya Alfian sambil menatap serius sang kakek.
"Dia bukanlah supir yang melakukan penabrakan, karena supir yang menabrak telah meninggal sebulan setelah kejadian itu. Saat ini Kakek sudah melaporkan orang yang menyuruh supir itu untuk menabrak kedua orang tuamu."
"Siapa orang itu, kek?" tanya Alfian dengan penasaran.
"Pakdenya Ayunda!" seru sang kakek.
"Apa? Bukankah ayahnya Yunda sudah dinyatakan tidak bersalah oleh pengadilan, kenapa pakdenya juga terlibat?"
"Sebenarnya pakdenya Ayunda sakit hati pada kedua orang tua Ayunda, karena keluarga Ayunda mendapat banyak warisan dari kakeknya Ayunda, sedangkan pakdenya tidak mendapat apa-apa, karena mereka keluarga jauh Ayunda."
Alfian menautkan kedua alisnya. "Benar dong yang dilakukan kakeknya Yunda."
"Tapi bagi pakdenya itu sama saja tidak menghargai keberadaannya, karena dia tidak meminta banyak. Dia hanya mau seperempat bagian saja. Tapi tetap tidak diberikan. Jadi dia telah menjebak ayahnya Ayunda yang seharusnya bertugas sebagai supir yang sedang membawa mobil truk saat itu, namun dia gantikan dengan supir lain. Dia jadikan ayah Ayunda sebagai tersangka utama, padahal ayah Ayunda sudah keluar dari dalam mobil sebelum truk itu ditabrakkan."
Alfian menganggukkan kepalanya. "Jangan-jangan kedua orang tua Ayunda berpisah karena ancaman dari pakdenya?"
__ADS_1
"Kakek tidak menanyakan sampai kesana", sahut sang kakek sambil bangkit berdiri.
"Kakek mau kemana?" tanya Alfian yang juga bangkit dari tempat duduknya.
"Melihat cicit", sahut sang kakek dengan wajah datar. Namun tiba-tiba sang kakek menghentikan langkahnya saat melihat papanya Siska berdiri mematung.
"Sejak kapan kau berada disitu?" tanya sang kakek dengan curiga.
"Sekitar 5 menit yang lalu", jawab papanya Siska dengan santai.
"Jadi kenapa kau terus berdiri disana?"
"Aku tidak ingin mengganggu kalian", ujarnya masih tetap santai.
"Kalau begitu ayo lihat cucumu yang baru lahir", ucap sang kakek sambil melangkahkan kakinya yang dibantu sang pengawal.
Papanya Siska membalas dengan berdehem, lalu mengikuti langkah kakeknya Alfian.
***
Mereka pun tiba disebuah ruangan steril. Mereka hanya bisa melihat bayi mungil yang sedang menggeliat dari luar kaca.
"Kakek coba lihatlah cicitmu itu. Dia sungguh imut", ujar Alfian yang sudah tidak sabar untuk menyentuh putri kecilnya itu.
"Dia bukan cicitku. Tapi dia cucu dari pak Herman, papanya Siska", ujar sang kakek yang membuat Alfian menatap sang kakek dengan kesal. Entah kenapa sang kakek tidak mau menganggap putrinya sebagai cicitnya sang kakek.
"Kenapa Tuan Santoso berkata seperti itu?" tanya papanya Siska yang mulai curiga.
"Cih, kau jangan berpura-pura lagi. Atau kau memang tidak tahu selama ini putrimu sudah berselingkuh. Mmm... Lebih tepatnya punya hubungan di luar pernikahan", ujar sang kakek secara blak-blakan.
"Jangan menuduh sembarangan!"
"Jika kau tidak percaya, silakan tanyakan langsung pada putri kesayanganmu itu", sahut sang kakek.
"Oke, meskipun itu benar. Tapi dia tetap darah dagingnya Alfian."
"Apa kau punya bukti yang menyatakan bahwa itu adalah benih Alfian, sedangkan dia tidak pernah melakukannya sama sekali."
Papanya Siska dan Alfian terkesiap mendengar ucapan sang kakek.
"Maksud kakek, kejadian malam itu tidak pernah terjadi?" tanya Alfian.
"Iya, dan itu hanya akal-akalan Siska. Kita bisa buktikan dengan tes DNA", tantang sang kakek.
Papanya Siska mulai resah saat mendengar pernyataan sang kakek, dia ingin memastikan hal itu dengan bertanya pada putrinya. Tanpa berpamitan dia melangkahkan kakinya menuju kamar Siska dirawat.
"Kenapa kakek bisa berasumsi seperti itu?" tanya Alfian yang belum sepenuhnya percaya dengan ucapan sang kakek.
__ADS_1
"Ini bukan asumsi tapi fakta, sebuah kenyataan yang tidak akan pernah berubah", sahut sang kakek sambil berjalan mengikuti langkah papanya Siska yang sudah jauh meninggalkannya. Alfian pun berjalan mengikuti langkah sang kakek.