Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Pertemuan Ayunda dengan Ferdo


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Reina terus tersenyum melupakan tujuan awal dia datang ke Mall.


"Sebenarnya Kau ingin membeli, apa?" tanya Ayunda kesal.


"Aku mau lihat-lihat dulu", sahut Reina.


"Sudah berapa banyak baju yang Kau lihat, dan sudah berapa toko yang kita kunjungi, tapi tak ada satu pun yang Kau beli!" seru Ayunda.


"Jangan marah-marah, Non. Entar cepat tua", ledek Reina.


Hufft... Ayunda mendengus kasar. "Ayo kita pulang saja!" kesal Ayunda.


"Jangan dong! Kita makan dulu ya, please", pinta Reina lembut.


Ayunda membalas dengan berdehem.


Lalu mereka berjalan menuju salah satu Resto yang ada di Mall itu. "Mas Tony, sini!" pinta Reina saat sudah berada di dalam resto dan duduk di salah satu kursi yang kosong.


"Saya di sana saja, Mba", sahut Tony ramah.


Reina cemberut karena penolakan Tony, selera makannya pun seketika hilang. "Ay, kita pulang aja", ujar Reina.


"Lho, kenapa?" tanya Ayunda yang baru saja akan memilih menu.


Reina tak menyahut Ayunda, dia diam masih dengan wajah kesalnya.


"Reina...!" panggil Ayunda dengan sedikit berteriak.


"Ah, iya. Ini, tiba-tiba seleraku hilang", sahut Reina kelabakan.


Ayunda mengernyit bingung melihat perubahan sikap Reina yang tiba-tiba. Ayunda teringat sesuatu, lalu dia mengalihkan pandangannya, mencari seseorang. "Mas Tony...!" panggilnya dengan suara kencang, sehingga mengalihkan pandangan pengunjung lainnya. Mereka menatap Ayunda dengan tatapan tak suka. Reina pun kaget saat mendengar suara lantang Ayunda.


Lalu Tony berjalan menghampiri Ayunda, "Ya, Non", sahut Tony saat sudah berada di samping meja Ayunda dan Reina.


"Mas Tony duduk di sini saja", pinta Ayunda.


Tony terdiam sesaat, "hmm... baik, Non", ucapnya tak ingin membantah.


Reina pun kembali ceria saat Tony duduk semeja dengan mereka. Dia bahkan makan dengan lahapnya mengabaikan Tony yang memandangnya dengan tatapan aneh.


***


"Terima kasih, Reina", tutur Ayunda saat turun dari mobil Reina.


"Harusnya aku yang berterima kasih, karena Kau telah menemaniku", sahut Reina bahagia.


Ayunda tersenyum melihat sorot mata Reina ke arah yang berbeda saat berbicara dengannya. "Oke, kalau begitu hati-hati di jalan", ucap Ayunda.


"Apa Kau mengusirku?" tanya Reina sedikit kesal.


Ayunda tertawa melihat ekspresi Reina, "aku tidak mengusirmu, aku belum meminta izin pada kakakku, untuk mengundang orang lain datang ke rumah", tutur Ayunda.

__ADS_1


"Oke, kalau gitu, aku tunggu kabar darimu saja", seru Reina.


Ayunda hanya membalas dengan berdehem. Lalu melambaikan tangannya, saat Reina berpamitan padanya.


***


"Pantes aja gak punya pacar, setiap saat hanya memandangi layar laptop!" seru Winda saat duduk di hadapan Ferdo.


"Cih, apa bedanya dengan yang ngomong!" ledek Ferdo tanpa memandang Winda.


Winda tak terima dengan perkataan Ferdo, "jelas beda dong, setidaknya aku pernah menyatakan cinta!" sergah Winda. "Ups", ucapnya menutup mulut, karena keceplosan.


"Ha... ha... menyatakan cinta aja bangga", ujar Ferdo sambil tertawa. "Harusnya Kamu yang di tembak, Kamu kan wanita", tuturnya melanjutkan.


Winda mendengus kasar, "mau gimana lagi, kalau aku terus menunggu, bisa-bisa aku jadi perawan tua", ucapnya dengan wajah sendu.


Ferdo menutup laptopnya, lalu mengarahkan pandangannya pada Winda, "apakah Kau benar-benar menyukainya?" tanya Ferdo.


"Kalau aku tidak suka, tak kan mungkin aku menembaknya!" sergah Winda.


"Aku akan ke rumah Adrian hari ini, apakah Kau mau ikut?" tanya Ferdo.


Winda seolah mendapatkan peluang, "ya, aku ikut", ucapnya dengan mata berbinar.


***


"Bunda... " panggil Ayunda sedikit berteriak saat melihat sang bunda sedang sibuk di dapur.


"Kenapa berteriak? Ini bukan seperti rumah kita yang lama, nanti tetangga akan terganggu", seru sang bunda.


"Siap, Kak. Tak akan terulang lagi", janji Ayunda.


Ting... tong... suara bel.


"Biar Yunda yang buka, Kak", pinta Ayunda yang langsung beranjak menuju pintu.


Ayunda melihat dari lubang kecil pintu sebelum membukanya, seperti yang di ajarkan sang kakak padanya. "Kak Winda", gumamnya.


Ceklek...


"Hai, Kak Winda", sapa Ayunda ramah saat pintu terbuka lebar.


"Hai, Ay", sahut Winda.


"Hai, Pak Ferdo", sapa Ayunda ramah. Namun Ferdo tak membalasnya, ada rasa kesal di hatinya saat mendengar sapaan Ayunda.


Dia memanggilku pak, batin Ferdo.


"Ayo, silakan masuk", ajak Ayunda. "Duduk dulu, Kak, Pak. Yunda mau panggil kak Adrian", tuturnya ramah.


Adrian berjalan bersama sang bunda dan Ayunda menghampiri Ferdo dan Winda yang masih setia duduk di sofa.


"Hai, Bro", sapa Adrian dengan memberikan tos pada Ferdo. "Kenalkan ini bundaku", tuturnya melanjutkan.


"Hai Tante, aku Al-", ucapannya terpotong. "Aku Ferdo, Tan", ucapnya memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Oo... teman Adrian di kantor ya. Kamu tampan, Nak", sahut bunda Adrian membuat Ferdo tersipu saat mendengar ucapannya. "Ini siapa, Nak?" tanya sang bunda.


"Hai, Tante, kenalkan aku Winda, kami di kantor yang sama dengan Adrian", sahut Winda sambil tersenyum.


"Oo... Winda. Kamu cantik, Nak", ucap bunda Adrian membuat Winda salah tingkah.


"Terima kasih, Tante", ucap Winda.


"Kalau gitu, tante tinggal ya", pamit sang bunda


"Oke Tante", balas Ferdo dan Winda bersamaan.


Ayunda sedari tadi memandang curiga tatapan Winda pada sang kakak, " Kak Winda, ayo kita bantu bunda di dapur", ajak Ayunda.


Winda senang akan ajakan Ayunda, dia langsung beranjak dari duduknya hendak mengikuti Ayunda menuju dapur, namun sorot mata Winda tak sengaja menangkap tatapan tajam Adrian. Dia berhenti di tempatnya berdiri, ada keraguan di benaknya untuk mengikuti ajakan Ayunda.


"Ayo, Kak", ajak Ayunda sambil menarik paksa tangan Winda. Tarikan Ayunda yang kuat membuat Winda terpaksa melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Tumben ke mari?" tanya Adrian sambil meraih ponselnya di atas meja.


Ferdo masih gak melepaskan pandangannya pada seseorang yang sedang berjalan ke arah dapur, mengabaikan Adrian yang bertanya padanya.


Adrian pun mengikuti arah pandangan Ferdo, "Kau suka Ayunda?" tanya Adrian tiba-tiba membuat Ferdo kelabakan.


"Kenapa Kau bertanya seperti itu?" tanya Ferdo menutupi perasaannya.


"Matamu berbicara!" seru Adrian.


Ferdo tak membalas ucapan Adrian, dia terdiam seribu bahasa.


"Ayolah, Kau menyukainya, kan!" seru Adrian yang semakin memojokkan Ferdo.


"Aku haus, tidak bisakah Kau memberi atasanmu segelas air minum?" tanya Ferdo mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah, kalau Kau tidak mau mengakuinya", ujarnya sedikit kesal. "Aku akan mengambilkanmu air minum, sebentar", ucapnya kemudian beranjak meninggalkan Ferdo sendiri di ruang tamu.


"Ini minumlah", tutur Adrian saat sudah kembali sambil memberikan segelas air pada Ferdo.


Ferdo langsung menyambar segelas air yang di berikan Adrian.


Gluk... gluk...


Segelas air berhasil di habiskan oleh Ferdo dalam sekali tegukan.


"Apa Kau sangat haus, kenapa Kau meneguknya dengan terburu-buru?" tanya Adrian.


Ferdo tak menyahut ucapan Adrian, dia hanya mengembalikan gelas yang kosong pada Adrian tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Kenapa Ferdo jadi aneh gini? batin Adrian bertanya-tanya.


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2