Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Tony punya banyak keahlian


__ADS_3

Kakek dan Alfian masuk bersamaan kedalam ruangan dimana Siska di rawat. Mereka menyapa papa Siska, yang sedang duduk di tepi ranjang, sambil menatap sendu putrinya yang masih tertidur lelap.


"Siska", panggilnya lirih. Namun Siska bergeming. Tak ada tanda yang menunjukkan dia akan segera bangun.


"Kita tunggu saja sampai dia bangun", ujar sang kakek pada pak Benny sambil duduk di sofa.


Alfian pun mengikuti langkah sang kakek, lalu duduk disebelahnya.


"Siska!" seru pak Benny, saat mata Siska mulai mengerjap. "Bagaimana keadaanmu, nak?" tanya pak Benny dengan mengusap lembut punggung tangannya.


Siska masih menetralkan netranya dengan cahaya disekitarnya. "Aku dimana?" Siska bertanya sambil menatap kesekeliling ruangan.


"Di rumah sakit, nak dan selamat kau sudah menjadi seorang ibu sekarang", ujar sang papa sambil tersenyum padanya.


Siska menyentuh perutnya yang kembali perih. "Dimana anakku, pa?" tanyanya.


"Putrimu masih di inkubator. Karena dia lahir prematur."


"Putri!" seru Siska. "Pasti dia sangat cantik", ujarnya dengan tersenyum bahagia. "Aww", ringisnya tiba-tiba saat dia kembali merasakan perih dibagian perutnya.


"Hati-hati, nak. Jangan banyak bergerak."


"Aku mau melihat putriku, pa", ujarnya sambil berusaha menggerakkan kakinya. "Aww", ringisnya kembali.


"Sudah papa bilang, jangan banyak bergerak!" seru pak Benny sambil membenarkan kembali posisi Siska.


"Hai, sayang. Hai, kakek", sapa Siska pada kakek dan Alfian saat baru menyadari keberadaan mereka. Namun tidak ada satupun di antara mereka yang menyahut ucapan Siska. "Apa kabar kakek?" tanya Siska dengan tersenyum.


"Pikirkan saja dirimu sendiri! Dan satu hal lagi, aku bukan kakekmu!" seru sang kakek yang membuat Siska terkesiap.


"Kenapa? Bukankah kakeknya Alfian juga kakek Siska?" tanya Siska yang berusaha menatap ke arah sang kakek.


"Tolong jangan bicarakan itu sekarang!" pinta pak Herman yang kuatir dengan keadaan Siska.


"Ayo, kita keluar", ajak sang kakek pada Alfian. Lalu mereka sama-sama bangkit dari sofa dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.


"Eh, tunggu dulu!" teriak Siska yang masih menginginkan penjelasan dari sang kakek. "Aww", ringisnya kembali saat mencoba bergerak.


"Sudah... Sudah... lebih baik pikirkan dulu kesehatanmu", ujar sang papa sambil mengusap lembut kepala Siska.


"Tapi, pa... " rengek Siska yang tidak tenang sebelum mendapat penjelasan saat itu juga. "Aaa", teriaknya sambil menahan rasa sakit pada bekas sayatan diperutnya.


"Kenapa?" tanya sang papa dengan panik. Lalu dia menekan tombol panic button.


Tidak berselang lama perawat masuk dan menanyakan bantuan yang mereka inginkan.

__ADS_1


"Ada perlu apa pak?" tanya sang perawat.


"Sus, coba cek putri saya. Dia sangat kesakitan", ujarnya dengan gelisah.


"Sebentar saya cek dulu, pak", sahut perawat dengan ramah sambil memperhatikan bagian perut yang sedari tadi di pegang Siska. "Astaga, kenapa bisa berdarah lagi", ujar sang perawat sambil menutup mulutnya. "Apa yang barusan terjadi? Apa ada yang sudah membuatnya marah?" tanya sang perawat.


Pak Benny terdiam sesaat. "Mmm, sebenarnya tadi dia berteriak, sus."


"Apa? Lagi?" ujar sang perawat sambil menggelengkan kepalanya. Dia merasa aneh dengan keluarga Siska yang seharusnya merasa bahagia. Namun yang mereka lakukan malah sebaliknya.


"Sebentar saya panggilkan dokter ya, pak." Sang perawat beranjak untuk memanggil sang dokter.


***


Di restoran bundo.


Ayah dan bunda Adrian sedang sibuk menghubungi bude Arsih yang ada di kampung. Mereka ingin memastikan kabar penangkapan pakdenya yakni suami bude Arsih.


"Bagaimana Ayah?" tanya sang bunda yang sudah tidak sabar mendengar kebenarannya.


Sang ayah mengangguk dengan wajah lesu. "Iya, bun", ujar sang ayah yang membuat sang bunda beringsut mundur sambil menutup mulutnya.


"Kenapa dia melakukan itu?" tanya sang bunda dengan bergumam. Dia tidak percaya kalau saudara jauh suaminya itu sanggup melakukan hal sekejam itu.


"Ya, ayah", sahut sang bunda.


***


Di kantor Santoso Station.


"Kakek...", panggil Winda sambil menghamburkan dirinya memeluk sang kakek.


"Bagaimana kabarmu?" tanya sang kakek sambil memeluk erat cucunya itu.


"Selamat siang, Tuan", ucap Tony yang baru saja masuk ke dalam ruangan Winda.


"Siang", sahut sang kakek.


"Apa yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Tony dengan ramah.


"Tunjukkan hasil data yang sudah kau retas dan berikan pada Alfian", ujar sang kakek sambil berjalan menuju sofa. Dia tidak akan kuat, jika harus berdiri.


"Baik, Tuan", sahut Tony sambil membuka tas laptopnya. Lalu dia mengotak-atik laptop itu beberapa saat. Setelah data yang diminta sang kakek sudah di buka di layar laptopnya, Tony langsung memberikan laptopnya pada Alfian.


"Ini, pak", ujarnya.

__ADS_1


Alfian mengernyitkan keningnya saat menscroll data di layar laptop Tony. "Sejak kapan kau meretasnya?" tanya Alfian.


"Sejak Tuan memintaku melakukannya pak", sahut Tony dengan tenang.


Alfian menatap heran ke arah Tony. Dia tidak menyangka jika Tony sebenarnya punya banyak keahlian. Namun karena Tony tidak pernah mengumbar keahliannya itu, mereka hanya mempekerjakannya seadanya. Bahkan dia pernah hanya bekerja sebagai pengawal Ayunda.


"Sebenarnya kau lulusan dari mana?" tanya Alfian yang tidak pernah memperhatikan cv Tony.


"Harvard, pak", sahut Tony yang membuat Alfian tercengang. Bahkan Reina yang baru saja akan masuk ke dalam ruangan Winda berdecak kagum. Ternyata selama ini aku tidak salah memilih calon suamiku, batin Reina.


"Reina, masuklah", pinta Winda saat melihatnya berdiri di luar pintu.


"Ya, bu", sahut Reina sambil berjalan masuk. "Permisi pak. Hari ini pukul 2 ada jadwal meeting dengan klient yang dari Singapore."


"Apa bisa di cancel?" tanya Alfian.


"Tidak bisa, pak. Karena klient kita sudah tiba di bandara", sahut Reina dengan wajah serius.


"Oke, aku akan menemuinya. Kau siapkan bahan untuk jam 2 nanti."


"Baik pak. Semua sudah saya siapkan", sahut Reina.dengan sopan.


"Oke, bagus. Apa ada lagi?" tanya Alfian.


"Ehm, tidak ada pak", ucapnya ragu. Sebenarnya dia ingin berada lama di sana, karena ingin terus memandang wajah tampan pria idamannya itu. Namun dia terpaksa undur diri dan melanjutkan pekerjaannya.


"Apa kakek butuh sesuatu?" tanya Alfian pada sang kakek yang sedari tadi di pijit oleh Winda.


"Tidak ada. Cukup pelajari saja data yang diberikan Tony", sahut sang kakek. "Sebelah sini lagi!" pinta sang kakek pada Winda sambil menunjuk punggung bawahnya. Dia mulai merasakan enaknya pijatan Winda.


"Siap kek", sahut Winda dengan memindahkan tangannya ke bagian yang baru saja ditunjuk sang kakek. "Oh, iya kek. Winda pernah bertemu orang yang sangat mirip dengan mama, lo", ujarnya sambil menyusuri punggung sang kakek.


Kakek dan Alfian terkesiap mendengarkan ucapan Winda. Alfian yang sudah berjanji akan membantunya mencari ibu tersebut, namun dia lupakan hingga hampir 1 tahun lamanya. Sedangkan sang kakek mulai gusar, seakan menyimpan suatu hal yang dia ketahui.


"Ada juga tuh yang pernah janji mau menemaniku mencari tahu apakah benar itu mama, tapi sampai sekarang dia melupakannya", ucap Winda yang membuat Alfian canggung.


"Iya, iya. Tapi aku kan janji kalau sedang tidak sibuk. Tahu sendiri kan aku jarang punya waktu", sahut Alfian membela diri.


"Iya deh si paling sibuk", balas Winda. "Menurut kakek gimana?" tanya Winda mengalihkan perhatiannya pada sang kakek.


"Apanya?"


"Orang yang mirip dengan mama itu!" seru Winda.


"Ya, itu kan cuma mirip. Banyak kok orang di dunia ini yang wajahnya sangat mirip, tapi mereka tidak punya hubungan saudara atau bahkan berada di negara yang berbeda. Jadi itu pasti suatu kebetulan", sahut sang kakek yang membuat Winda menghentikan gerakan tangannya memijat sang kakek. Ada perasaan kecewa saat dia mendengar ucapan kakeknya itu.

__ADS_1


__ADS_2