
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Ayunda berdiri di depan cermin sambil memutar badannya, memastikan penampilannya sudah cocok sebagai pembawa acara. Tas jinjing yang masih tersimpan rapi di dalam almari kaca di raihnya. Ayunda merogoh ke dalam tas, untuk menyusun beberapa peralatan make up yang mungkin akan di pakainya nanti saat mempercantik riasan wajahnya.
"Kertas stick note", ucapnya saat melihat stick note berwarna pink itu. "Hem, kenapa aku bisa melupakan ini." Ayunda kembali membacanya, tulisan tangan di kedua kertas stick note di tangannya mempunyai kemiripan. "Ini benar-benar sama. Jadi si pengirim berinisial A itu adalah... " ucap Ayunda yang terperangah sambil menutup mulutnya. Kemudian dia mengulas senyum saat membayangkan pria berinisial A itu.
Tok... tok.
"Yunda... Yunda... " panggil sang bunda dari balik pintu.
"Ya, sebentar Bun!" sahut Ayunda, lalu dia menghamburkan diri meraih tas jinjingnya. Kemudian Ayunda melangkahkan kakinya menuju pintu.
Ceklek.
"Kenapa lama, Nak? Bukankah pagi ini ada perlombaan di kampus?" tanya sang bunda yang khawatir Ayunda akan terlambat.
"Yunda sudah selesai kok, Bun. Ayo, kita sarapan!" sahut Ayunda sambil menggandeng tangan sang bunda. Senyuman di wajahnya seakan melengkapi penampilan Ayunda saat ini.
"Putri bunda cantik banget", tutur sang bunda dengan tulus.
Ayunda tersipu malu, namun tetap menggandeng tangan sang bunda. "Bunda juga cantik", sahutnya dengan mencium pipi sang bunda.
"Kamu itu, ya!" seru sang bunda dengan mencubit gemas hidung Ayunda. Lalu mereka berjalan bersama menuju meja makan.
"Kamu sudah siap, dek?" tanya Adrian saat baru saja menelan makanan di mulutnya.
"Sudah dong, Kak. Doakan Yunda berhasil ya, Kak", ucapnya dengan memandang ke arah Adrian.
__ADS_1
"Kakak selalu mendoakan yang terbaik buatmu. Asal kamu berusaha sungguh-sungguh, kakak yakin kamu pasti juara!" seru Adrian dengan tersenyum lebar.
"Amin!" ucap Ayunda yang sedang mengambil sikap berdoa. Lalu mereka melanjutkan menikmati sarapan pagi spesial buatan sang bunda. Tidak banyak obrolan di pagi ini, karena Ayunda sedikit terburu-buru saat melahap sarapannya.
"Yunda berangkat, Bun!" teriak Ayunda setelah mengusap dengan perlahan sisa air di bibirnya. Dia tak ingin lipstik berwarna peach di bibirnya terusap, meskipun sebenarnya dia bisa memperbaki riasannya setelah tiba di kampus nanti.
"Hati-hati, Nak!" seru sang bunda dengan sedikit berteriak, karena Ayunda dengan cepat sudah berada di depan pintu.
"Ya, Bun", sahut Ayunda sambil menutup kembali pintu yang baru saja di bukanya.
Adrian juga berpamitan pada sang bunda, setelah mengambil beberapa berkas yang tertinggal di dalam kamarnya.
***
Saat Ayunda tiba di kampus, matanya terbeliak menyaksikan para kru televisi yang sedang sibuk mempersiapkan perlengkapan yang akan mereka gunakan pada acara lomba nanti.
Titt... titt.
"Hei! Apa Kau pikir ini jalanmu!" sergah Sherly, saat Ayunda menepi. "Cih, dasar orang udik!" ledeknya dengan tersenyum jahat sambil melajukan kendaraannya.
Ayunda mematung tanpa membalas ucapan Sherly. Dia tak ingin membuang energinya dengan menanggapi sesuatu yang tak penting. Baru saja Ayunda akan melanjutkan langkahnya, namun langkahnya terhenti saat melihat sahabatnya Reina berjalan dengan langkah gontai menuju ke arah Ayunda.
"Reina!" teriak Ayunda dengan melambaikan tangannya. Senyumnya terus mengembang saat Reina memandang ke arahnya. "Hai, Rei- " ucapan Ayunda terputus, karena Reina melewatinya tanpa menyapanya.
"Tunggu!" ucap Ayunda, namun Reina tetap melanjutkan langkahnya. Ayunda berlari kecil mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Reina. "Reina", ucapnya sambil membalikkan tubuhnya, namun Reina membuang pandangannya ke sembarang arah. "Aku tahu ada yang sedang mengancam perusahaan ayahmu", ucapnya yang membuat Reina terbeliak.
"Cih, ternyata mas Tony bukanlah orang yang bisa di percaya", balas Reina membuka suara.
"Jangan salahkan dia. Ini semua ide dariku", sahut Ayunda yang mencoba memberi pengertian pada sahabatnya itu.
__ADS_1
Reina menatap Ayunda dengan tersenyum getir. "Apa Kau fikir, ini semudah yang Kau bayangkan?" tanya Reina sambil menarik nafas berat. "Dia itu sangat licik. Kau tidak akan bisa melawannya. Jadi tolong jauhi aku", ucap Reina yang langsung berbalik, lalu berjalan dengan langkah lebar meninggalkan Ayunda yang membisu di tempatnya semula.
"Reina... apa pun resiko yang akan aku hadapi, aku tetap siap! Kau sahabatku, tak akan kubiarkan seorang pun menyakitimu." Ayunda berbicara setelah Reina jauh meninggalkannya.
***
Beberapa perlengkapan untuk acara perlombaan pembawa acara di kampus Tri Karya sudah selesai di pasang. Semua kru yang terlibat telah mengatur berkas-berkas yang diperlukan oleh dewan juri.
Para peserta di beri nomor sesuai dengan nomor yang diberikan oleh panitia pada saat pendaftaran. Ayunda mendapat nomor urut terakhir, karena telah mendaftar saat pendaftaran lomba akan tutup.
MC memulai acaranya dengan mempersilahkan ke empat dewan juri, yang dua diantaranya adalah perwakilan kampus itu, untuk duduk di bangku yang sudah di sediakan. Setelah itu para penonton juga dipersilahkan masuk, sedangkan para peserta menunggu di balik panggung untuk di panggil satu persatu.
MC menjelaskan bahwa acara lomba di bagi dua tahap. MC mengumumkan bahwa tahap pertama akan di mulai. Dia pun memanggil para peserta satu persatu berdasarkan nomor urutnya.
Nomor urut pertama sampai lima belas, semuanya sudah menampilkan yang terbaik di hadapan para dewan juri. Namun dari ke lima belas peserta akan di pilih 3 orang terbaik. Setelah semua peserta tampil, MC pun memberi jeda, agar dewan juri dapat berdiskusi memilih yang terbaik. Selama jeda berlangsung, MC mengatakan bahwa seorang penyanyi yang tersohor akan bernyanyi menghibur semua orang di dalam ruangan itu. Saat MC menyebut namanya, penggemar maniaknya pun berteriak histeris, walaupun sang artis belum muncul.
*
Setelah 20 menit penampilan sang artis menghibur semua orang, namun seakan tidak ada puasnya mereka meminta sang artis menyanyikan kembali sebuah lagu. Jika saja para dewan juri yang sudah mengantongi 3 nama yang terpilih itu tidak datang, maka panggung itu akan berubah menjadi konser pribadinya.
Tiga nama itu sudah berada di tangan MC, dan dia siap mengumumkannya. MC membuka amplop yang telah diberikan oleh dewan juri, dengan senyum yang penuh arti, di tambah iringan musik yang membuat debaran jantung para peserta semakin berdegup kencang.
"Dan yang berhasil lolos ke tahap ke dua adalah... " ucap sang MC menjeda ucapannya. Beberapa orang peserta memejamkan mata menunggu sang MC menyebutkan ke tiga nama yang lolos.
"Bagi nama yang akan saya sebutkan, silahkan maju selangkah saja. Baiklah... inilah nama yang lolos!" ucap sang MC. "Yang pertama, selamat kepada... Inovatif Sri Sakti. Beri tepuk tangan yang meriah." Sang MC mendengarkan tepuk tangan penonton dengan tersenyum saat sorakan dari pendukung peserta yang lolos itu meneriakkan nama Inovatif. "Selanjutnya yang kedua selamat kepada... Sherly Tri Dharma. Dia juga seorang putri kampus, sungguh dia memiliki bakat yang luar biasa", puji sang MC. "Berikan tepuk tangan yang meriah." Sang MC merasa heran karena yang bersorak hanya beberapa orang. "Oke, ini yang terakhir. Siapakah dia...?" tanya sang MC membuat semua orang tak sabar untuk mendengarkannya. "Selamat kepada... A..yunda Milly Rendra..."
Prokk... prokk.
Tepuk tangan yang meriah terdengar sebelum sang MC memintanya.
__ADS_1
"Selamat kepada kalian bertiga, siapkan diri untuk tahap penentuan setelah satu jam ke depan. Terima kasih."
Para peserta saling memberi selamat kepada ke tiga teman mereka yang lolos. Berbeda dengan Sherly yang meninggalkan panggung tanpa menyapa peserta yang lain. Keangkuhan Sherly terlihat jelas oleh dua juri dari pihak penyelenggara.