Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Kabar Duka


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Adrian duduk di kursi kerjanya dengan berpangku tangan, sesuatu yang sedari tadi dipikirkannya telah membuatnya gelisah. Sebuah kebenaran yang dia dapatkan dari sang ayah membuatnya ingin menjauh dari Winda, tapi tidak dengan hatinya. Adrian mendesah dengan perasaan gusar. Seandainya dia tidak mengetahui fakta itu, mungkin dirinya tidak hanya sekedar memerima hadiah dari Winda. Suatu ikatan hubungan bisa saja sudah terjalin saat ini.


"Apa benar mamanya Winda tega berbuat jahat?" Adrian seakan tak percaya, bila membayangkan keramahan mamanya Winda. Dia masih berharap bahwa apa yang telah dituduhkan sang ayah itu salah.


Adrian beralih pada ponsel yang terletak di meja kerjanya. Dia membuka sandi ponselnya, lalu mencari icon galery. Sorot matanya memandang sendu sebuah foto yang telah dia jepret kembali dari foto keluarga yang terpajang di dinding rumahnya yang ada di desa. Foto masa kecilnya, sang adik dan ke dua orang tuanya yang terlihat bahagia, saat itu keluarga mereka masih lengkap bersama sang ayah, tanpa ada rasa benci dan pertengkaran.


Adrian mengerjapkan matanya, buliran air mata tanpa di sengaja akhirnya jatuh dari pelupuk matanya. "Ayah, maafkan aku, karena telah menyukai putri dari wanita yang telah berbuat jahat padamu", ucapnya dengan suara parau.


Ceklek.


Pintu ruangan Adrian telah di buka oleh seseorang tanpa mengetuk lebih dulu. Dengan buru-buru Adrian mengusap air mata yang masih membasahi pipinya. Sorot mata tajamnya, dia fokuskan pada pintu ruangannya, dan bersiap memaki seseorang yang sudah dengan berani membuka pintu ruangannya tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Wajah Adrian yang galak berubah melunak, saat Ferdo muncul dari balik pintu ruangannya. Hampir saja dia memaki sahabatnya itu.


"Ada apa, Pak?" tanya Adrian dengan formal.


Apa aku beritahu Adrian saja, kalau ayahnya yang sudah menabrak mobil orang tuaku 12 tahun yang lalu, batin Ferdo.


"Ferdo... " panggil Adrian dengan melambaikan tangannya, namun Ferdo tetap diam seperti sedang kebingungan. "Ferdo... " Adrian masih terus memanggilnya.


"Ehm, maaf aku ke sini mau - "


"Adrian... !" teriak Winda dengan tiba-tiba sambil menghempas pintu ruangan Adrian.


"Ada apa? Kenapa Kau menangis?" tanya Adrian khawatir.


"Ma-mama... " ucap Winda dengan isak tangis.

__ADS_1


"Kenapa dengan mama? Ayo tenanglah dulu", pinta Adrian yang mencoba menenangkan Winda.


Dengan terisak Winda mencoba mengatakan kembali ucapannya yang tadi terputus. "Ma- ma, hiks... hiks... sedang kritis." Winda menyelesaikan ucapannya sambil membuang nafas dengan memburu.


Ferdo terbeliak"Tante Mery kritis?" ucapnya memastikan.


Winda mengangguk dengan cepat. "Ayo, kita lihat mama", pinta Winda dengan rengekan. Lalu Winda menghamburkan diri memeluk Adrian. "Please, temani aku ke Paris", ucapnya masih dengan memeluk Adrian.


Drrtt... drrtt.


Ponsel Ferdo berbunyi, sebelum Adrian menjawab Winda.


"Ini telpon dari kakek", ucap Ferdo, yang mengalihkan perhatian Adrian. Adrian dengan tidak sabar menunggu apa yang akan disampaikan oleh sang kakek. Ferdo langsung menyahut sang kakek, dan mendengarkan berita yang sama dengan yang baru saja dikatakan oleh Winda. Namun tiba-tiba Ferdo terbeliak, badannya meringsut mundur duduk di sofa ruangan Adrian. Air matanya juga mengalir tiada henti, saat kabar yang baru saja di dengarnya dari sang kakek lebih mengejutkan.


"Ada apa?" tanya Adrian yang merasa khawatir.


"Tante Mery", ucapnya dengan terisak. "Dia sudah tiada." Ferdo melanjutkan ucapannya dengan mengusap kasar wajahnya.


"Tidak! Kau pasti bohong!" teriak Winda tak percaya sambil menatap tajam Ferdo. "Kau pasti bohong, kan!" Winda terus berteriak, air matanya sudah tak dapat dibendungnya. Lalu dia mengalihkan pandangannya pada Adrian, isak tangisnya semakin kencang. "Adrian... please ayo kita ke Paris!" pintanya dengan memaksa.


"Apa kalian tidak punya kerjaan!" sergah Adrian.


Setelah membentak beberapa karyawan penyibuk itu, Adrian langsung menghubungi bawahannya untuk memesankan tiket ke Paris pada hari itu.


***


Siska kaget saat mendengar berita yang baru saja disampaikan oleh sang papa. Dia khawatir dengan keadaan Winda, meskipun selama ini dia tidak pernah akrab dengan saudara sepupunya itu. Siska menghubungi Winda untuk menyampaikan bela sungkawa, namun Winda tidak mengangkat telpon darinya.


"Mungkin dia sangat terpukul dengan kepergian Bibi Mery. Aku akan telpon nanti saja", ucap Siska sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Ada apa sayang?" tanya seorang pria yang sedari tadi menunggunya menyelesaikan panggilan telepon.

__ADS_1


"Oh, bukan apa-apa, Dhany. Hanya saja ada saudaraku yang sedang berduka", ucapnya tanpa ekspresi.


"Maaf, aku turut berduka cita ya", sahut sang pria dengan wajah di buat sedih. "Jadi, apa Kau akan pergi melayat ke rumah duka?" tanyanya kembali.


"Aku akan menghubungi tunanganku dulu. Jika dia pergi maka aku akan ikut", ucapnya dengan tersenyum dipaksakan.


"Oh, baiklah", ucap Dhany bernada tak suka.


Siska yang melihat perubahan raut wajah Dhany berusaha menghiburnya. "Come on, ini hanya sementara, sayang", ucapnya dengan memegang tangan sang kekasih. "Bukankah aku melakukan ini untuk mendapatkan semua kekayaannya?" tanya Siska dengan mencoba meyakinkan sang kekasih.


"Ya, aku tahu sayang. Tapi ingat, tunangan itu hanya sebagai tameng!" Dhany berbicara dengan tegas pada Siska.


Siska mengangguk dengan cepat, "ya, aku tahu sayang", balasnya masih dengan senyum dipaksakan. Lalu dia kembali meraih ponsel di dalam tasnya untuk menghubungi Ferdo.


***


Ayunda berjalan menghampiri sang bunda yang termangu saat baru saja memutus sambungan teleponnya.


"Ada apa, Bun?" tanya Ayunda sambil duduk di sebelah sang bunda.


"Oh, ada kabar duka, Nak", balasnya.


Ayunda terperangah, "innalillahi wa innailaihi rojiun... siapa yang meninggal, Bun?" tanya Ayunda dengan tidak sabar.


"Ibu dari teman kakakmu... namanya... siapa tadi ya namanya", ucap sang bunda sambil berfikir. Ayunda dengan sabar menunggu sang bunda mengingat nama teman kakaknya itu. "Oh, itu... namanya Winda", ucap sang bunda.


"Apa! Kak Winda! I- ibunya kak Winda meninggal, Bun?" tanya Ayunda dengan rasa haru.


"Iya, Nak." Sang bunda membalas sambil menganggukkan kepalanya.


Ayunda tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya dari sang bunda. Dengan buru-buru dia menghamburkan diri ke dalam kamarnya, lalu meraih ponsel yang ada di atas nakas. Ayunda menyalakan ponselnya dan mencari nomor kontak sang kakak.

__ADS_1


Saat panggilan sudah terhubung dan sang kakak menyahut dari seberang telepon, Ayunda langsung bertanya pada intinya. Adrian yang di todong langsung oleh Ayunda, tak dapat mengelak. Dia menceritakan bahwa benar mamanya Winda telah tiada. Kejadian yang sangat mencurigakan, karena asisten rumah tangganya mengatakan bahwa dia jatuh dari atas balkon rumahnya saat hendak meraih sesuatu yang jatuh. Ayunda pun memikirkan hal yang sama dengan sang kakak.


Setelah obrolan mereka di telpon selesai, Ayunda menyampaikan ucapan bela sungkawa melalui sang kakak untuk disampaikan pada Winda. Lalu mereka saling memutus sambungan telpon.


__ADS_2