Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Sarapan Bareng


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Sang bunda yang sedari tadi duduk termenung di sofa, sambil menunggu kepulangan Adrian dan Ayunda untuk sarapan bareng, akhirnya bangkit saat mendengar pintu apartemen di buka oleh seseorang.


Kemudian dia berjalan menghampiri pintu. "Kalian lama sekali, Nak", seru sang bunda meskipun belum melihat dengan jelas siapa yang telah membuka pintu. Lalu Adrian muncul dari balik pintu di susul Ayunda yang berjalan di belakangnya. "Kenapa bajunya sama sekali tidak ada bau keringat? Kalian joging atau ..." ujar sang bunda dengan sengaja menggantung ucapannya.


Baru saja sang bunda akan melanjutkan ucapannya, Ferdo dan Winda berjalan masuk dari belakang Adrian dan Ayunda.


"Hem, bunda tahu sekarang", ucap sang bunda dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ternyata joging hanya alasan, ya", seru sang bunda dengan tersenyum.


"Bunda ...!" seru Ayunda sambil memeluk sang bunda. "Yunda hanya ikut ajakan Kak Adrian, saja", sahutnya membela diri.


"Kamu itu, ya. Masih kecil sudah ikut-ikutan kakakmu. Kakakmu sebentar lagi mau menikah. Nah, Kamu ...!" ujar sang bunda yang membuat Ferdo merasa bersalah, karena Ayunda tertunduk lesu.


Ferdo berjalan menghampiri sang bunda. "Maaf, Bu", ucap Ferdo yang mengalihkan perhatian sang bunda padanya. "Saya yang bersalah, Bu. Jadi, tolong jangan marahi Yunda lagi, Bu", tutur Ferdo yang tak tega melihat Ayunda diomelin.


Sang bunda tersenyum bahagia mendengar penuturan Ferdo. "Ternyata kamu memang sangat baik, Nak", ucapnya. Sebenarnya dia hanya ingin melihat reaksi pria yang di sukai oleh Ayunda, saat Ayunda menerima omelan darinya.


"Kalian pasti belum sarapan. Ayo kita sarapan bareng", ajak sang bunda. Ferdo dan Winda menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Baik, Bu", balas mereka hampir bersamaan.


"Jangan panggil Bu. Kalian panggil bunda saja, sama seperti Adrian dan Yunda", sahut sang bunda sambil berjalan menuju meja makan.


"Baik, Bunda", balas mereka kembali.


"Nah, gitu dong. Biar kita lebih akrab", tutur sang bunda dengan bahagia. Namun tiba-tiba wajahnya berubah sendu, tak kala kembali mengingat ucapan Adrian di telepon kemaren.


*


Di meja makan, mereka sedang asyik menikmati sarapan buatan sang bunda. Bahkan sesekali terdengar percakapan yang menghangatkan suasana di meja makan.


"Masakan sang bunda the best. Lebih baik bunda buka restoran, saja." Winda memberi saran pada calon ibu mertuanya itu.

__ADS_1


"Kamu terlalu memuji, Nak. Masakan bunda sama dengan masakan rumah biasanya. Apalagi kalau dibandingkan dengan chef, jauh banget", balas sang bunda dengan tersenyum ke arah Winda.


"Apa kalian sudah merencanakan hari baiknya?" tanya sang bunda yang membuat Adrian dan Winda tersedak bersamaan.


"Pelan-pelan, Nak!" seru sang bunda dengan khawatir. Lalu sang bunda bergegas memberikan air minum pada calon menantunya.


Adrian yang melihat sang bunda lebih perhatian pada Winda, berpura-pura merajuk. "Bunda sudah tidak sayang anaknya, lagi", ucapnya dengan wajah merengut.


"Kamu itu pria, gak boleh manja", sahut sang bunda, yang membuat Winda tersenyum bahagia.


"Alfian ..." panggilnya pada Ferdo yang baru saja meneguk sisa air di gelasnya, yang di balas dengan deheman oleh Ferdo. "Lihatlah, bunda lebih sayang pada wanita. Posisi kita tidak akan aman", ucapnya yang membuat Ferdo bergeming.


"Kamu gak nambah lagi, Nak Alfian?" tanya sang bunda dengan lembut yang menyita perhatian Adrian.


Ferdo pun menggeleng. "Sudah cukup, Bunda", balasnya dengan tersenyum ramah.


Dengan mulut sedikit mangap, Adrian yang mulai risau langsung menoleh ke arah Ferdo. "Berarti hanya posisi aku doang yang terancam", ucapnya dengan wajah sendu, lalu dia menatap bingung ekspresi wajah mereka satu persatu.


Hahaha...


"Sungguh, Bun?" Adrian memastikannya.


Sang bunda memandang Adrian dengan tersenyum. "Ya, Nak", ucapnya sambil menganggukkan kepalanya. "Kau dan Ayunda akan selalu ada di hati bunda, tapi mungkin sebentar lagi akan bertambah", ucap sang bunda sambil melirik Ferdo dan Winda. "Pagi ini bunda sangat senang, karena ada anggota keluarga yang nambah di meja makan, meskipun itu terjadi hanya sebentar", tutur sang bunda dengan menatap mereka bergantian. "Bunda harap tak lama lagi, ini terjadi seterusnya", ucap sang bunda melanjutkan.


Adrian dan Ayunda beranjak dari kursi mereka, lalu memeluk erat sang bunda. Sedangkan Ferdo dan Winda yang menyaksikan ikut terbawa suasana, mereka merasa terharu, karena mereka sudah tidak memiliki orang tua lagi.


***


Di apartement Winda, seorang wanita yang tak lain adalah Siska sedang berjalan mondar mandir, karena kebingungan saat akan ke luar. Dia tidak tahu password pintu apartement Winda, bahkan ponselnya juga sedang tidak ada daya baterai, di tambah lagi dia lupa membawa charger. Lengkaplah sudah, ponsel keluaran terbaru miliknya tidak dapat menggunakan charger milik Winda, sehingga dia tak dapat mengisi daya baterai ponselnya.


Pagi ini merupakan pagi tersial bagi anggapan Siska. Ini pertama kalinya dia kelaparan, tapi tidak dapat berbuat apa-apa.


"Awas saja, kalau Kau sudah pulang Winda", geramnya.


Krukkk.

__ADS_1


Suara dari perut Siska sendiri membuatnya berdecak kesal. "Arrgghhh ... sial!" decihnya.


***


"Gawat!" seru Winda sambil bangkit dari sofa.


"Kenapa?" tanya mereka hampir bersamaan.


"Siska sendiri di apartementku. Aku tidak memberitahunya saat ke luar tadi, karena dia masih terlelap", sahut Winda dengan khawatir.


"Dia udah gede. Lagian apa Kau itu ibunya? Sampai segitu khawatirnya?" Ferdo berdecak kesal melihat sikap berlebihan Winda.


"Iya aku tahu, tapi aku lupa membawa ponselku. Dia juga tidak tahu password apartementku, karena aku baru menggantinya. Jika dia langsung pulang itu tidak menjadi masalah, aku khawatir dia kelaparan, karena masih menungguku pulang", balasnya dengan gelisah. "Sayang, bisa antarkan aku pulang?" pintanya pada Adrian, karena dia yakin Ferdo pasti tidak akan mau mengantarnya jika berhubungan dengan Siska.


"Baiklah, sayang", balas Adrian, lalu bangkit dari duduknya. Adrian dan Winda berpamitan pada sang bunda sebelum mereka beranjak menuju pintu.


"Tunggu dulu, Nak. Bawalah sarapan untuk temanmu itu", ujar sang bunda.


"Tidak perlu, Bun. Nanti - " balas Winda yang menggantung ucapannya. Hampir saja dia mengatakan akan membeli sarapan di luar.


"Ini masih cukup buat temanmu, Nak", ujar sang bunda dengan tersenyum yang membuat Winda bergeming, kemudian dengan perlahan Winda menganggukkan kepalanya.


"Di tunggu sebentar, ya", ucap sang bunda, lalu bergegas menuju dapur.


Tak menunggu lama sang bunda sudah membawa satu kantong plastik yang berisi sebungkus nasi goreng buatannya.


"Ini, Nak. Semoga temanmu suka, ya", ucap sang bunda yang bahagia, karena sarapan pagi buatannya hari ini tak bersisa. Biasanya dia harus membagikan kepada penghuni apartement lainnya atau membagikannya pada pak satpam.


"Kami pergi dulu ya, Bun", ucap Adrian.


"Ya, hati-hati di jalan", sahut sang bunda yang langsung di balas Adrian dan Winda.


"Bro, tunggu aku. Ada yang akan aku bicarakan padamu", ucap Adrian sebelum beranjak ke luar.


"Oke", balasnya singkat.

__ADS_1


Lalu Adrian dan Winda berjalan ke luar meninggalkan apartement. Sedangkan Ferdo masih tinggal, karena dia sudah punya acara khusus yang dia rencanakan bersama dengan Ayunda.


__ADS_2