Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Seorang Wanita Bernama Jenny


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Setelah semua bumbu bercampur dalam satu wadah, wanginya pun mulai menyeruak dari dalam panci, menggugah selera setiap orang yang mencium aromanya.


"Emm... wangi sekali", tutur Winda saat wangi masakan sang bunda menggelitik hidungnya.


Sang bunda menciduk sop di dalam panci, lalu mencicipinya. Lalu dia terdiam saat satu sendok kuah sop berhasil meresap masuk ke dalam tenggorokannya. "Hmm... sudah pas", ucap sang bunda sambil tersenyum.


Ayunda dan Winda tersenyum melihat ekspresi sang bunda. Lalu mereka membantu membawa beberapa perlengkapan ke meja makan. Mereka berjalan sambil bercanda, mengusik perhatian Ferdo dan Adrian. Dalam pandangan mereka, ada dua wanita anggun sedang berjalan bak pragawati sambil tersenyum ceria.


Sorot mata Ferdo dan Adrian seakan tak berpindah menangkap dua makhluk cantik yang sedang berjalan menjauh. "Cantik", kata itu lepas dari mulut mereka bersamaan. Lalu Ferdo dan Adrian saling memandang, seolah mereka memikirkan hal yang sama. "Hahahaha..." tawa mereka pun memenuhi ruangan.


"Ayo, kita makan", ajak sang bunda saat Ayunda dan Winda sudah selesai menyajikan makanan di meja makan.


Ferdo dan Adrian berjalan mendekati meja makan, lalu mereka duduk bersama.


Adrian memandang makanan kesukaannya dengan tersenyum lebar, "wah, ada rendang", ucapnya girang, lalu menoleh ke arah Ferdo. "Ferdo, Kau harus mencoba rendang buatan bundaku, Kau pasti akan ketagihan", seru Adrian.


Ferdo hanya membalas dengan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Lalu dia langsung menjulurkan tangannya hendak mengambil rendang yang memang menggugah selera. Namun dia tidak berhasil mendapatkannya, karena sepiring rendang itu masih jauh dari jangkauannya.


Ayunda yang melihatnya kesusahan, berinisiatif memberikannya pada Ferdo. "Ini, Pak", tutur Ayunda.


Ferdo tersenyum simpul saat beberapa potong rendang telah berada di piringnya. "Terima kasih", ucapnya ramah.


Ayunda membalas dengan tersenyum, "sama-sama, Pak", sahutnya.


Makan malam terasa nikmat, karena mereka berada di antara orang-orang yang di sayangi. Mereka melahap makanan, yang telah di bumbui dengan rasa cinta oleh sang bunda, dengan nikmat.


Makan malam pun selesai, Ferdo dan Winda merasa bahagia saat berada di antara keluarga Adrian. Mereka belum pernah menikmati makan malam senikmat malam ini. Ada kehangatan di meja makan yang sudah lama tidak mereka rasakan.


Ferdo dan Winda berpamitan setelah lebih dari dua jam mereka berada di apartemen Adrian.


🌸🌸🌸


Sebuah mobil melaju dengan kencang menyusuri jalan yang masih ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki. Malam yang tak ingin di lewatkan oleh orang-orang pemburu jajanan malam, karena esok mereka akan kembali sibuk dengan rutinitas pekerjaan.


Dafa semakin melajukan kendaraannya dengan tak sabar, dia membelokkan kendaraannya di sebuah jalan menuju gang sempit. Di parkirkannya kendaraan di sebuah halaman setelah mendapat izin dari si empunya. Lalu Dafa ke luar dari mobil, dan melangkahkan kakinya berjalan menyusuri gang sempit yang pernah di laluinya satu kali.


Langkah Dafa terhenti di sebuah rumah bercat hijau, lalu dia berdiri di depan pintu sambil mengetuknya.

__ADS_1


Tok... tok...


"Ay", panggilnya dari luar rumah. Namun tak ada seorang pun yang menyahutnya. Kenapa rumahnya gelap ya, batin Dafa. Lalu Dafa berjalan menghampiri seseorang yang sedang berjalan kaki.


"Permisi, Pak", tuturnya.


"Ya, ada apa?" tanya si pejalan kaki.


"Apa Bapak tau pemilik rumah ini, kemana?" tanya Dafa.


"Oo,,, mereka baru saja pindah pagi ini", sahut sang bapak.


Dafa mengernyitkan keningnya, "pindah?" tanyanya memastikan.


"Iya,,, saya buru-buru, permisi", ujarnya.


"O, terima kasih, Pak", sahut Dafa.


Dafa mengusap kasar rambutnya, lalu meraih ponsel di sakunya. Sebuah pesan balasan dari Ayunda di terimanya, Ayunda meminta Dafa tidak menghubungi atau pun mencarinya. Dafa kesal saat melihat isi pesan dari Ayunda. "Apakah kau sengaja menghindar dariku", Dafa bergumam. Lalu dia beranjak dari tempat itu, berjalan menuju mobilnya di parkir.


***


Pagi hari yang cerah, memunculkan sang mentari yang sedang merona. Di dalam kamar, Ayunda masih sibuk dengan pakaian yang baru di belinya kemaren. Ayunda menyunggingkan senyum manisnya saat puas dengan pantulan dirinya di cermin.


"Pagi..." sahut mereka bersamaan.


"Kita berangkat bareng, ya!" pinta sang kakak.


Ayunda terdiam sesaat, lalu menatap Adrian, "aku takut orang kantor berfikir yang aneh-aneh, Kak", sahut Ayunda.


"Kamu jangan kuatir, tidak akan ada yang berani membicarakanmu", tutur Adrian meyakinkan Ayunda.


Ayunda terdiam, lalu menganggukkan kepalanya, "Baiklah, Kak. Aku ikut Kakak", sahutnya.


Adrian dan Ayunda berpamitan pada sang bunda, mereka melangkahkan kakinya menuju ke luar. Saat sudah berada di depan pintu lift, Adrian menekan tombol dan pintu pun terbuka. Lalu mereka masuk menekan tombol menuju basement.


Ting...


Pintu lift terbuka, Adrian dan Ayunda berjalan ke luar menuju tempat mobil di parkirkan.


Brukk...

__ADS_1


"Aww..." ringis Ayunda. Seseorang yang berjalan dengan terburu-buru menabrak Ayunda.


Dengan gesit Adrian menangkap tubuh Ayunda, sehingga tidak terjatuh. "Kamu gak apa-apa?" tanya Adrian memastikan.


Ayunda menggeleng, "gak apa-apa, Kak", sahutnya.


"Ma- maaf", ucap wanita itu sambil mengatupkan ke dua tangannya.


Adrian menatap tajam wanita di hadapannya, "Kau sengaja, kan!" sergahnya.


"Tidak, Mas, saya gak sengaja", ucapnya gemetar.


Adrian menuntun Ayunda masuk ke dalam mobil, mengabaikan wanita yang telah menabrak Ayunda. Lalu seorang wanita lain berlari sambil meneriakkan nama seseorang, "Jenny", teriaknya. Lalu wanita yang menabrak Ayunda itu, membalikkan badan saat mendengar namanya di panggil. Dia langsung berlari menghindari wanita yang tak berhenti mengejarnya.


Aksi kejar-kejaran terjadi di hadapan Adrian, namun Adrian mengabaikannya. Dia tak ingin mencampuri urusan orang lain.


"Kak, kasian wanita itu", tunjuk Ayunda.


"Jangan urusin mereka, kita tak tau apa yang menjadi permasalahan mereka", tutur Adrian sambil menstart kendaraannya.


Mobil Adrian mulai berjalan, saat mobilnya akan melewati dua orang wanita yang saling kejar-kejaran itu. Adrian menginjak rem tiba-tiba, dia kaget saat wanita yang telah menabrak Ayunda mencoba menghentikan mobil, dengan menghadangnya di depan mobil.


"Kau cari mati!" sergahnya.


Wanita itu menghampiri Adrian, "tolong aku!" pintanya sambil menangis. "Please", ucapnya sambil mengatupkan ke dua tangannya.


"Pergi, jangan halangi jalanku!" sergah Adrian. Lalu dia mencoba menjalankan kembali mobilnya.


Ayunda langsung memegang tangan sang kakak, "tolong dia, Kak", pinta Ayunda. Namun Adrian tak memperdulikannya.


Wanita bernama Jenny itu meronta, "Tidak! Lepaskan aku!" teriak wanita itu saat wanita yang mengejarnya berhasil menangkapnya.


Ayunda merasa iba saat melihat wanita itu meronta-ronta melalui spion dalam mobil, Ayunda menoleh ke arah sang kakak. "Kak, please", bujuknya pada sang kakak.


Adrian memberhentikan kendaraannya dengan tiba-tiba, lalu menoleh ke arah Ayunda. "Jangan pernah percaya pada orang yang baru saja Kau jumpai", tutur Adrian menasehati.


Ayunda menjawab hanya dengan anggukan, namun masih ada keraguan di hatinya, dia tak tega saat menyaksikan wanita itu di seret.


*


*

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2