Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Teman Payah


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


"Sial!" maki Siska dengan bergumam. "Tujuanku hanya ingin bertemu dengan Ferdo, tapi apa yang aku dapat, aku malah mendengarkan ocehan Winda yang gak jelas itu", gerutu Siska sambil mengacak kasar rambutnya.


Siska berjalan dengan buru-buru, namun sesekali dia menoleh ke belakang, barang kali Ferdo sudah bangun dan sedang mengejarnya saat ini.


"Aww", ringisnya, saat dia tak sengaja menabrak seseorang. Khayalan manis yang tadi dibayangkannya seketika sirna, yang tinggal hanyalah rasa malu, karena dia terduduk dengan keras dan terdengar sobekan di sela celana yang di kenakannya.


Siska malu untuk memandang pria yang telah menjulurkan tangan di hadapannya itu. Dia berlari sekencang mungkin dengan menutup wajahnya menggunakan tas jinjingnya. Dia terus berlari mengabaikan pria yang sedari tadi berusaha memanggilnya.


Siska berhenti dengan nafas ngos-ngosan saat berada di basement. Dia beruntung, karena apartemen Winda dan Ferdo berada di lantai tiga, jadi dia tidak sampai pingsan karena telah berlari menggunakan tangga darurat. Siska langsung masuk ke dalam mobilnya, dia tak ingin ada siapa pun melihat celana sobeknya itu.


"Kenapa aku sangat sial hari ini." Siska berteriak sambil memukul setir mobilnya. Lalu dia melajukan kendaraannya meninggalkan basement apartemen.


***


Winda sudah berada di dalam apartemen Ferdo, karena Ferdo telah mengizinkannya masuk saat tahu Siska telah pergi dari depan pintu apartemennya.


"Kau tidak boleh memperlakukan wanita seperti itu", tutur Winda sambil menuang air ke dalam gelas di tangannya.


Glukk... glukk.


Winda mengusap sisa air dibibirnya, setelah segelas air berhasil melewati kerongkongannya. Lalu dia menoleh menatap Ferdo. "Aku tahu Kau tidak menyukainya, tapi tolong jangan perlakukan dia seperti yang tadi."


"Jadi aku harus bagaimana, hah?" tanya Ferdo dengan kesal.


"Setidaknya Kau mengizinkan dia masuk sebentar", sahut Winda.


"Sebentar! Apa Kau yakin?" tanya Ferdo.


Winda terdiam, tak mampu menjawab pertanyaan Ferdo. Dia memejamkan matanya sambil memikirkan sesuatu, lalu dia kembali menoleh ke arah Ferdo. "Fer, aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Siska, untuk itu aku perlu bantuan Kamu", tuturnya memohon pada Ferdo.


"Winda, aku pasti akan membantumu apa pun itu, tapi tidak untuk hal yang satu itu", sahut Ferdo sambil menepuk pelan pundak Winda. "Suatu hubungan yang di bangun dengan ketidak tulusan, tidak akan pernah bertahan lama, begitu pula dengan hubungan saudara", ucapnya sambil tersenyum tulus pada Winda.


Winda menanggukkan kepalanya, dia melupakan sesaat tujuannya untuk membujuk Ferdo. Namun pikiran Winda kembali terusik, saat sebuah pesan dari Siska diterimanya. Siska meminta Winda, membantunya mengajak Ferdo makan di luar pada akhir pekan ini.


"Kenapa?" tanya Ferdo.


Winda langsung menyerahkan ponselnya pada Ferdo. Ferdo menyambutnya dan langsung membaca pesan itu. Setelah selesai membacanya, dia kembali menatap Winda, "jadi apa yang akan Kau lakukan?" tanya Ferdo.

__ADS_1


"Hmm... aku rasa aku punya alasan yang tepat. Aku akan memenuhi undangan dari Ayunda", seru Winda.


"Undangan apa?" tanya Ferdo.


Winda menatap Ferdo heran, "ternyata teman payahmu itu tidak mengundangmu, hah!" seru Winda.


Ferdo mengernyitkan keningnya, "teman payah?" tanyanya bingung.


"Ya, siapa lagi? Kau hanya punya satu teman yang payah. Kalau begitu aku pulang, ya. Aku merasa mules, jika harus membahasnya", sahut Winda sambil berlalu meninggalkan Ferdo.


***


Keesokan harinya di kantor Santoso Group.


Tok... tok.


"Masuk", pinta Adrian saat seseorang mengetuk pintu ruangannya.


Ceklek.


Pintu ruangan Adrian terbuka, memunculkan wajah Ferdo dari balik pintu.


"Berapa kali harus aku katakan, Kau tak perlu mengetuk pintu untuk masuk ke ruanganku."


Adrian mengkerutkan keningnya, bingung dengan ucapan Ferdo.


"Kenapa aku tidak mendapatkan undangan di akhir pekan ini?" tanyanya kesal.


"Astaga, iya aku lupa. Maafkan aku, sahabatku", pintanya memohon. "Akhir pekan ini jangan lupa datang ya", ucapnya kemudian, namun Ferdo tak menyahutnya.


"Benar kata Winda, kalau Kau teman payah!" seru Ferdo.


Adrian termangu saat mendengar nama Winda di sebut oleh Ferdo. "Apa kalian suka membicarakan seseorang di belakang?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Cih, siapa yang suka membicarakanmu!" sergah Ferdo.


Tok... tok.


"Permisi, Pak", ucap Ayunda formal, saat Adrian mempersilakannya masuk. Ayunda berjalan lurus menghampiri Adrian, tanpa memperhatikan Ferdo yang sedang duduk di sofa.


"Kak, aku membawa berkas untuk acara jam 7 malam yang baru", ucap Ayunda sambil duduk di hadapan Adrian.

__ADS_1


"Oo, oke. Letakkan saja", sahut Adrian sambil tersenyum. "Gimana rasanya magang di sini?" tanyanya kemudian.


"Aku sangat senang, Kak. Selain karyawannya yang ramah, juga banyak ilmu yang aku dapatkan di sini. Mungkin aku akan mendapat nilai terbaik nantinya", tutur Ayunda.


"Oo, bagus kalau begitu", balas Adrian.


Ehem.


Ferdo berdehem karena merasa telah diabaikan oleh mereka.


"Eh, maaf Pak", ucap Ayunda. "Kenapa Kakak tidak bilang ada pak Ferdo di sini", ucap Ayunda dengan berbisik pada Adrian.


Ayunda merasa malu, dia tak ingin berlama-lama di ruangan Adrian. Ayunda langsung pamit pada sang kakak dan Ferdo. Dia berjalan dengan terburu-buru sambil menunduk meninggalkan ruangan Adrian.


"Dia sangat lucu ya", ucap Ferdo sambil tersenyum.


Adrian memperhatikan ada yang berbeda dengan sahabatnya itu. Dia selalu bahagia saat memandang Ayunda. Adrian pun tersenyum seakan mengetahui sesuatu.


***


Ayunda dan Adrian berada di salah satu butik yang cukup terkenal, karena setelah jam kerja usai, Adrian langsung melajukan mobilnya menuju toko itu.


"Pak Adrian", sapa salah seorang karyawan butik saat Adrian dan Ayunda sedang menunggu.


"Di tunggu sebentar ya, Pak", ucap karyawan itu dengan ramah. Lalu dia masuk ke dalam untuk mengambil pesanan Adrian.


"Ini, Pak", ucap sang karyawan sambil menyerahkan gamis cantik pesanan mereka. "Semoga ukurannya sesuai, ya", tuturnya kemudian.


Ayunda tersenyum mendengar ucapan karyawan butik itu. Dia teringat saat harus mengambil salah satu gamis kesukaan sang bunda. Dia juga terpaksa berbohong pada sang bunda, saat sang bunda mencari-cari gamis kesukaannya itu, yang akan di pakai di acara wirid.


"Ayo, Yunda", ajak sang kakak padanya. Lalu mereka berjalan ke luar butik dengan bahagia.


"Kita ke toko kue sebentar, ya", ucap Adrian.


Ayunda hanya membalas dengan anggukan. Adrian pun melajukan kendaraannya menuju toko kue.


Kurang dari sepuluh menit, mereka tiba di toko kue. Adrian memarkir kendaraannya, lalu mereka ke luar bersama-sama dari dalam mobil.


"Aww", ringis seorang wanita saat tak sengaja menabrak Adrian.


Adrian hanya menatap wanita itu, tanpa membantunya.

__ADS_1


"Kak, ayo bantu dia", pinta Ayunda pada sang kakak. Namun Adrian masih tetap mematung dan terus menatap wajah wanita itu. Ayunda langsung membantu wanita itu berdiri. "Kau!"


To be continue...


__ADS_2