
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Ayunda menyandarkan punggungnya setelah mendapatkan kabar tentang Reina dari Tony. Wajah sendunya membuat sang bunda yang baru saja ke luar dari dalam kamar, mengernyitkan keningnya.
"Ada apa, Nak?" tanya sang bunda sambil menghampiri Ayunda.
"Bun, aku tidak tahu apa yang terjadi pada Reina. Kenapa dia tiba-tiba membenciku dan tak ingin berteman lagi denganku", ujarnya dengan wajah sendu. Sang bunda seolah merasakan kesedihan putrinya itu, dia mengusap lembut rambut Ayunda.
"Bukankah dia anak yang baik?" tanya sang bunda. Ayunda mengangguk pelan. "Ya, Bun."
Adrian yang baru saja datang dari arah dapur, juga ikut bergabung dengan sang bunda dan Ayunda.
"Yunda kenapa, Bun?" tanya Adrian setelah meneguk segelas air dalam sekali tegukan.
Sang bunda yang melihat apa yang dilakukan Adrian, mengabaikan pertanyaannya. "Apa yang Kau lakukan, Nak. Bukankah itu air hangat?"
"Iya, Bun", jawabnya santai.
"Harusnya Kau tidak menghabiskannya dalam sekali tegukan!" seru sang bunda yang khawatir dengan putranya itu.
"Tidak apa-apa, Bun. Tadi aku sangat haus, lagi pula aku jarang melakukan seperti yang tadi." Adrian mencoba menerangkan agar sang bunda tidak khawatir lagi.
"Oke, tapi jangan di ulangi lagi!" Sang bunda mengingatkan.
"Siap, Bun. Tapi ada apa dengan Yunda kita, Bun?"
"Huft", sang bunda menarik nafas berat. "Begini lho, Nak. Teman dekat adikmu ini, tiba-tiba berubah, dia tak ingin berteman lagi dengan Ayunda."
"Siapa, Bun?" tanya Adrian yang mulai penasaran.
"Namanya Reina. Iya kan, Nak?" tanya sang bunda pada Ayunda untuk memastikan. Ayunda pun menganggukkan kepalanya membenarkan jawaban sang bunda.
"Reina teman kampus Yunda?" tanya Adrian memastikan.
Ayunda kembali menganggukkan kepalanya. "Iya, Kak", balas Ayunda.
"Apa tadi di kampus kalian ada masalah?" tanya Adrian beralih pada Ayunda.
"Nah, itu dia masalahnya Kak. Tadi di kampus kami baik-baik aja. Bahkan Reina yang sudah mendaftarkanku untuk ikut acara yang di adakan perusahaan Kakak di kampus kami." tutur Ayunda memberitahu pada sang kakak.
"Hem, jadi dia tiba-tiba berubah?" tanya Adrian curiga.
__ADS_1
Ayunda mengangguk cepat. "Hem, iya Kak."
"Dia dekat dengan Tony. Kakak akan minta bantuan Tony mencari tahu apa yang terjadi dengan sahabatmu itu. Jadi Kau jangan sedih lagi, ya." Adrian mencubit gemas pipi Ayunda sambil tersenyum.
"Ka- kak!" teriak Ayunda dengan suara yang tak jelas. Bukannya merasa bersalah telah membuat merah pipi Ayunda, Adrian malah tertawa saat melihat pipi merah sang adik.
"Adrian!" seru sang bunda yang ikut tersenyum melihat kejahilan putranya.
"Iya, ampun Bun. Aku hanya tak mau wajah imut adikku ini berubah jadi nenek tua!" ledek Adrian yang membuat Adrian mendapat gelitikan dari sang adik.
"Ampun, Yunda! Please ini geli!" Adrian terus berteriak, namun Ayunda mengabaikannya.
***
Dikeheningan malam di saat semua orang sedang asyik tertidur lelap. Ferdo yang masih terlelap di dalam tidurnya, penuh peluh dan terus mengigau. Sebuah kejadian tragis membuatnya menangis dan terus berteriak. Mimpi yang menguras emosinya itu, seakan sulit di akhiri.
Dengan nafas terengah-engah Ferdo berteriak. "Pa... Ma... ! Tidak!" Ferdo langsung terbangun dengan keringat yang masih bercucuran.
"Ada apa ini?" Ferdo bertanya-tanya sambil mengusap kasar wajahnya. Lalu dia meraih jam waker yang ada di nakas. "Ini masih jam 1. Kenapa aku tiba-tiba memimpikan mereka. Apa aku harus berziarah ke sana." Ferdo terus berbicara saat kesadarannya baru terkumpul sepenuhnya.
Ferdo beranjak dari tempat tidurnya, kemudian dia berjalan menghampiri almari yang di dalamnya ada sebuah laci yang selalu terkunci rapat. Dia membukanya, lalu meraih sebuah figura di dalamnya. Ferdo memegang figura itu di tangannya. Dengan meneteskan air mata Ferdo mengusap lembut figura yang sudah terlihat usang itu.
"Pa... Ma... ", ucapnya dengan wajah sendu.
***
"Kenapa Kau lama sekali mengangkat telepon", sahut Ferdo tanpa membalas sapaan Adrian.
"Apa tidurmu tidak nyenyak? Kenapa Kau harus marah-marah sepagi ini? Apa Kau tahu, jika hari ini adalah hari Minggu?" tanya Adrian dari seberang telepon dengan sedikit kesal, karena telah mengganggu waktu liburnya.
"Hem, aku butuh bantuanmu", sahut Ferdo santai, tanpa menjawab pertanyaan Adrian.
"Katakanlah!" suara Adrian yang mulai melunak dari seberang telepon.
"Apa Kau bisa mengatur waktu agar kita pulang ke kampung halamanmu?" tanya Ferdo dengan serius.
"Bisa... Kau maunya kapan?" tanya Adrian setelah menyanggupi permintaan Ferdo. Suaranya terdengar dari ujung telepon Ferdo.
"3 hari lagi... setelah acara perlombaan di kampus Ayunda", sahut Ferdo.
"Oke, segera aku atur waktunya. Tapi kalau boleh tahu, kenapa Kau mendadak pulang kampung?" tanya Adrian masih dari seberang telepon.
"Aku ingin melakukan ziarah ke makam orang tuaku", balas Ferdo dengan lirih.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan memesan tiketnya", balas Adrian.
Setelah Ferdo mendapat kabar yang menenangkan hatinya dari Adrian. Mereka pun saling menutup sambungan telepon.
***
Ting... tong.
"Ya, sebentar", sahut Ayunda dari dalam, setelah seseorang memencet bel apartemen mereka.
Ceklek.
"Pagi Mas Tony", sapa Ayunda saat tahu siapa yang datang melalui layar interkom.
"Pagi, Ay. Apa Pak Adrian ada?" tanya Tony sopan.
"Ada mas. Ayo, masuk dulu", balas Ratu dengan tersenyum ramah pada Tony. "Mas mau minum apa?" tanya Ratu saat Tony baru saja akan duduk di sofa.
"Gak perlu repot. Aku sudah minum tadi", balas Tony dengan tersenyum. "Nanti kebanyakan bisa diabetes. Ini aja aku sudah hampir terkena diabetes", Jawab Tony yang membuat Ayunda mengernyitkan keningnya.
"Kenapa, Mas? Apa Mas Tony sering minum yang manis?" tanya Ayunda.
"Bagaimana tidak kena diabetes, kalau setiap hari harus melihat senyum manis", balas Tony dengan tersenyum. Ayunda memandang Tony dengan muka cengo, karena dia tahu siapa orang yang di maksud Tony.
"Apa Kau di bayar untuk menggoda Ayunda?" sembur Adrian yang baru saja ke luar dari dalam kamar.
"Maaf, Pak. Aku hanya berkata jujur, tidak bermaksud menggoda Ayunda."
"Oke, jalankan tugasmu dengan baik!" ucap Adrian menegaskan.
"Baik, Pak", balas Tony.
"Ada apa Kau ingin menemuiku pagi-pagi gini?" tanya Adrian yang sedari tadi mendengar pembicaraan Ayunda dan Tony.
"Maaf, telah mengganggu waktu Bapak. Tapi ada yang harus aku beritahukan segera."
"Mengenai apa?" tanya Adrian.
"Apa bisa aku katakan di sini, Pak?" tanya Tony sambil melirik ke arah Ayunda. Adrian yang paham maksud Tony, langsung mengajaknya masuk ke dalam kamarnya.
Ayunda hanya diam sambil memperhatikan mereka berjalan masuk ke dalam kamar sang kakak.
"Kenapa kak Adrian tak mengizinkanku mendengar apa yang akan disampaikan oleh mas Tony." Ayunda bergumam. "Aku akan menanyakannya nanti pada kak Adrian", ucapnya sambil beranjak dari sofa, lalu berjalan menuju dapur, untuk membantu sang bunda yang masih sibuk menyiapkan sarapan.
__ADS_1