Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Kecemburuan Ferdo


__ADS_3

Minal aidin wal faizin readers.


Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Ayunda tiba di perhentian busway terdekat dari rumahnya, lalu dia melangkahkan kakinya berjalan menyusuri jalan yang akan menuju tempat tinggalnya itu. Baru saja Ayunda berjalan beberapa langkah, dia merasakan seseorang seolah sedang mengikutinya. Tanpa berbalik badan untuk memastikannya Ayunda mulai mengambil langkah lebar dan bersiap untuk lari. Dia pun menjadi panik, karena ketika dia mempercepat langkahnya, penguntit itu juga mempercepat langkahnya. Ayunda berlari dengan kencang hingga dia tiba di depan gerbang rumahnya.


"Huft... huft... " Ayunda memegang dadanya dengan nafas yang memburu sambil merasakan debaran jantungnya yang terus memacu.


"Ay!" teriak pria yang mengikuti Ayunda sambil memegang pundaknya.


Ayunda yang terlonjak kaget berteriak keras, "Siapa?" suara lantangnya bertanya saat deru nafasnya belum kembali stabil, namun tak lupa tangannya mengepal seperti ingin meninju. "Kak Reno! Kenapa kakak mengikutiku seperti pencuri, saja!" ujarnya dengan kesal, lalu menurunkan kepalan tangannya yang hampir saja melayang.


"Maaf... maaf. Tadi aku ragu kalau itu kau", balasnya dengan merasa bersalah. "Jadi aku hanya bisa mengikutimu dan berharap kau berbalik melihat ke belakang. Tapi kau malah terus mempercepat langkahmu", ucapnya dengan tersenyum malu.


"Uhh, hampir saja kakak dapat pukulan mautku", balas Ayunda masih dengan sedikit kesal.


"Iya, kakak minta maaf. Ngomong-ngomong sejak kapan Ayunda jadi petinju?" ucapnya dengan senyum meledek.


"Oh, itu ilmu bela diri di saat terdesak", sahut Ayunda. "Apa Kak Reno ingin mencobanya?" ucapnya kemudian dengan tersenyum penuh arti.


"Eh, kakak hanya bertanya saja", balas Reno dengan memajukan kedua tangannya tanda penolakan. Ayunda pun tersenyum puas, saat melihat sikap Reno yang sedikit gugup. "Kenapa Kau berada di sini? Ini rumah siapa?" tanya Reno sambil mengedarkan pandangannya, namun tak dapat menjangkau sampai ke dalam gerbang.


"Emm, ini rumah kerabat kami kak", sahutnya berbohong.


"Oh, aku pikir Ayunda tinggal di sini, kan seru kalau kita bertemu setiap hari", balas Reno dengan tersenyum.


Ayunda sedikit gugup mendengar ucapan Reno. "A- apa maksud kakak?" tanyanya yang berharap jawaban Reno tidak seperti yang dipikirkannya.

__ADS_1


Reno kembali tersenyum, "ya, kalau Ayunda tinggal di sini pasti kita sering bertemu, karena rumah kakak di seberang", tunjuk Reno tepat di seberang tempat tinggal Ayunda. "Rumah berpagar abu-abu itu." Reno kembali mempertegas arah telunjuknya.


Ayunda pun terbelalak, karena apa yang dipikirkannya benar-benar terjadi.


Habislah aku, aku sudah berbohong, batin Ayunda.


"Oh, begitu ya. Ehm, mobil kak Reno mana?" tanya Ayunda mencoba mengalihkan perhatian Reno.


"Mogok Ay... sekarang masih di bengkel, makanya kakak naik busway", sahut Reno masih dengan tersenyum.


Ayunda menatap tak percaya pada Reno. "Jadi, Kak Reno naik busway?" tanyanya.


Reno menganggukkan kepalanya. "Ya, emangnya kenapa, Ay? Itu kan hal biasa." Reno membalas dengan santai.


"Hal biasa bagi Ayunda, Kak. Bukan bagi kakak", ucap Ayunda dengan kesal.


Reno langsung tertawa meledek saat mendengar penuturan Ayunda. "Siapa yang bilang? Itu juga hal biasa bagi kakak, kok."


Reno terdiam sesaat, karena degupan jantungnya yang semakin kencang.


Tit... tit.


Suara klakson mobil membuat Ayunda terjingkat. Spontan dia mundur menjauhi Reno. Lalu sorot matanya menatap ke dalam mobil yang berhenti tepat di samping mereka, karena kaca mobil baru saja diturunkan. "Kak Alfian!" serunya dengan mulut terngaga. Hampir saja dia memaki orang yang telah membuatnya kaget itu.


Ferdo keluar dari dalam mobil dengan wajah yang tak bersahabat. Dia menatap lekat pada Ayunda dan langsung menghampirinya. "Siapa dia?" tanya Ferdo tanpa memandang Reno.


"Oh, ini kak Reno... "


"Aku gak butuh namanya. Untuk apa dia di sini?" Ferdo bertanya dengan mengintimidasi, membuat Ayunda sedikit gugup.

__ADS_1


Tadi kak Alfian yang nanya siapa dia, batin Ayunda meledek.


Reno berusaha membantu Ayunda. "Tenang, Bro... "


Ferdo langsung memajukan telapak tangannya, menghentikan ucapan Reno. "Aku sedang bicara dengan kekasihku", ujarnya dengan nada tak ramah.


"Kak... dia itu mantan bosku", tutur Ayunda dengan lembut, mencoba menenangkan Ferdo. Namun Ferdo tak percaya, dengan terpaksa dia memalingkan wajahnya menatap ke arah Reno.


"Kalau gitu untuk apa dia di sini? Kau sudah tak bekerja lagi untuknya", ujar Ferdo yang sudah mulai menurunkan nada bicaranya.


Ayunda menghela nafas berat, dia khawatir jika dia mengatakan bahwa Reno tinggal di seberang rumahnya, maka Alfian akan kembali marah. Sedangkan Reno hanya diam seperti kambing congek yang tak dapat berkata apa-apa.


Ferdo menunggu jawaban dari Ayunda dengan tidak sabar. "Kalian ada hubungan, kan?" tanyanya dengan tatapan membunuh.


"Di- dia tinggal di seberang", tunjuk Ayunda dengan cepat, namun sedikit gugup. Dia tak ingin terjadi kesalahpahaman.


"Apa? Sejak kapan?" tanya Ferdo yang kembali marah. "Pantes Kau tak memberikan alamat rumahmu. Dengan dalih, Adrian tak mengizinkan. Cih, ternyata Kau sama saja dengan wanita lainnya", ucap Ferdo kesal, lalu bergegas meninggalkan Ayunda dan Reno yang masih berdiri di tempatnya semula.


Namun Ayunda langsung mengejar Ferdo dan berusaha menghalanginya untuk pergi. "Kakak salah paham!" serunya dengan berdiri di samping pintu mobil Ferdo. "Kita masuk ke dalam, dulu. Biar Yunda jelaskan", pinta Ayunda dengan mengetuk kaca jendela mobil yang baru saja tertutup.


"Kak Alfian... please. Kak... " Ayunda terus berteriak mengetuk kaca jendela mobil Ferdo, namun Ferdo mengabaikannya. Dia melajukan kendaraannya meninggalkan kediaman Ayunda.


Ayunda tidak tinggal diam, dia pun meraih ponsel di dalam tasnya dan tanpa sengaja kertas kecil di tangannya jatuh masuk ke dalam tas. Ayunda yang panik tidak memperhatikannya, karena dia fokus untuk membujuk Ferdo. Ayunda sudah berkali-kali menghubungi Ferdo, namun Ferdo tidak mengangkatnya. Ayunda mengusap kasar rambutnya, hampir saja dia terduduk lemas jika Reno tidak langsung menopangnya. Namun Ayunda menghempaskannya.


"Ini semua karna kak Reno. Andai saja kak Reno gak muncul sekarang", ucap Ayunda dengan menitikkan air mata.


"Maaf Ay... tapi... "


"Cukup kak!" Ayunda memotong ucapan Reno. Lalu dia masuk ke dalam gerbang rumahnya meninggalkan Reno yang masih bingung.

__ADS_1


"Kalau dia benar-benar mencintaimu, harusnya dia mendengarkan penjelasanmu dulu, bukannya pergi begitu saja!" teriak Reno dari luar gerbang. Ayunda menghentikan langkahnya sesaat mendengarkan ucapan Reno, kemudian dia melangkah lebih cepat memasuki pintu rumahnya.


Ayunda mencari keberadaan sang kakak ke setiap sudut rumahnya, namun dia tak menemukannya. Dia pun teringat, jika sang bunda dan sang kakak sedang mengikuti persidangan sang ayah. Ayunda meraih ponselnya untuk menghubungi sang kakak.


__ADS_2