Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Ferdo datang ke Kampus Ayunda


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Tony menepikan kendaraannya tepat di depan gerbang kampus Ayunda.


"Terima kasih, Mas", ucap Ayunda saat akan ke luar dari dalam mobil.


"Sama-sama, Non", balas Tony dengan tersenyum. Tony tidak langsung pergi, dia selalu menunggu Ayunda benar-benar masuk melewati gerbang, barulah dia melajukan kendaraan meninggalkan kampus Ayunda.


"Ada apa di sana? Rame banget", ucap Ayunda saat melihat para wanita teman kampusnya berkerumun sambil berteriak histeris.


"Apa ada artis, ya? Hem, lihat artis sampai segitunya." Ayunda kembali berucap mengabaikan kerumunan.


"Yunda!" panggil seseorang saat Ayunda baru saja melangkah masuk melewati gerbang kampus. Lalu Ayunda membalikkan badannya untuk melihat pria yang sudah memanggilnya.


"Kak Alfian", ucapnya dengan mengkerutkan kening. Ferdo yang di panggil Alfian oleh Ayunda pun berjalan menghampiri Ayunda.


"Ya, ada apa Kak?" tanya Ayunda yang penasaran dengan apa yang di lakukan Ferdo sepagi ini di kampusnya.


"Ada yang perlu Kau ketahui", ucap Ferdo sambil menghela nafas panjang. "Ini!" tunjuknya pada cincin yang melingkar pada jari manisnya. "Ini tidak berarti apa-apa bagiku. Aku melakukannya hanya untuk menyenangkan hati kakek."


Ayunda semakin bingung dengan perkataan Ferdo. "Maksud Kakak, apa?" tanya Ayunda.


"Aku belum menikah, dan pertunanganku ini akan segera berakhir." Ferdo mengucapkannya dengan serius, sambil menatap lekat Ayunda. Dia berharap Ayunda mengerti tujuannya mengatakan itu. "Aku harap Kau mengerti! Kalau begitu aku permisi."


Ayunda diam mematung di tempatnya semula sambil menatap punggung Ferdo yang semakin menjauh dengan muka cengo, lalu dia mencubit lengannya. "Aww", ringisnya saat merasakan pedihnya cubitannya sendiri. "Aku pikir sedang bermimpi", gumamnya. "Mungkin Kak Alfian sedang belajar akting," gumamnya mengartikan ucapan Ferdo yang menurutnya sangat aneh itu, lalu dia beranjak dan melanjutkan langkahnya menuju kelas.


***


Ferdo duduk di belakang bangku kemudi kendarannya dengan perasaan yang campur aduk, dia khawatir Ayunda tidak memahami maksud ucapannya tadi.


"Semua ini karena Adrian. Entah kenapa dia memintaku menemui Ayunda sepagi ini di kampusnya. Harusnya aku bisa mengatur waktu dulu, untuk bertemu dengannya di tempat yang romantis." Ferdo terus menggerutu, membuat sang supir terus melirik dari spion dalam mobil.


Sang supir tetap diam dan fokus menyetir, dia tidak ingin mendapat semburan sang bos, saat mengucapkan sepatah kata. Dia menunggu Ferdo atasannya itu yang mengajaknya bicara terlebih dahulu. Namun sampai mobil yang dikendarainya masuk ke halaman kantor Santoso Station, Ferdo tidak sama sekali mengajaknya bicara.


Sang supir menepikan kendaraannya, tepat di depan pintu lobby. "Silahkan, Pak", ucap penjaga kantor dengan ramah, saat membukakan pintu mobil Ferdo.


"Terima kasih", balas Ferdo singkat, lalu melangkahkan kakinya memasuki lobby, tanpa menyapa sang resepsionis yang sedari tadi sudah menunjukkan gigi rapinya. Sang resepsionis memandang bingung sikap CEO mereka yang tidak biasanya. Bahkan gigi mereka hampir saja kering, karena mengira Ferdo lupa dan akan kembali berbalik menyapa mereka.


"Apa itu benar pak Ferdo?" tanya salah seorang rekan resepsionis yang terus memandang Ferdo berjalan memasuki lift, hingga dia hilang dari pandangannya.

__ADS_1


"Entahlah, mungkin tunangannya membuat masalah. Kau pasti tahu benar bagaimana sikap Bu Siska yang sangat sombong itu", jawab rekannya dengan lantang.


"Apa kalian tidak punya pekerjaan lain, selain bergosip!" bentak Winda pada ke dua resepsionis yang terjingkat saat tiba-tiba mendengar suara hentakan meja. Mereka takut akan mendapat masalah, karena telah membicarakan hal yang tidak baik tentang sepupu Winda.


"Ma- maaf Bu, kami tidak akan mengulanginya lagi", ucap ke dua resepsionis bersamaan dengan menakupkan ke dua tangannya.


"Ini peringatan terakhir! Jangan sampai aku mendengarnya sekali lagi!" sergah Winda dengan tatapan tajam.


"Baik, Bu", ucap mereka bersamaan sambil menunduk.


Winda melanjutkan langkahnya menuju lift, suasana hatinya mendadak buruk, karena ada yang membicarakan hal buruk tentang saudara sepupunya itu.


Ke dua resepsionis yang masih ketakutan itu saling diam, ucapan Winda membuat mereka menjadi bisu, bahkan mengabaikan Adrian yang baru saja menyapa mereka.


"Ada apa?" tanya Adrian membuat mereka terjingkat.


"Ma- maaf, Bu. Kami tidak akan mengulanginya."


Adrian mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan aneh sang resepsionis yang biasanya ramah dengan senyum terbaik mereka.


"Apakah aku kelihatan seperti ibu-ibu?" tanya Adrian yang membuat sang resepsionis semakin ketakutan. Baru saja mereka melakukan kesalahan, dan saat ini mereka telah menambah satu kesalahan lagi.


"Ma- maaf, Pak. Kami tidak sengaja", ucap salah seorang dengan gugup.


Ke dua resepsionis itu saling memandang, lalu mereka menggeleng dengan cepat. "Tidak ada, Pak", balas mereka bersamaan.


"Ya, sudah kalau begitu lanjutkan pekerjaan kalian."


"Terima kasih, Pak", balas ke duanya hampir bersamaan. Lalu mereka menghela nafas lega, karena hampir saja menambah satu masalah.


"Lain kali kita harus berhati-hati", ucap salah seorang rekan resepsionis.


"Ya, Kau benar. Dan jangan pernah membicarakan itu lagi."


Mereka pun sepakat tidak akan menyinggung hal itu lagi, kapan pun dan di mana pun.


***


Tok... tok.


"Masuk", seru Ferdo dari dalam ruangannya.

__ADS_1


"Permisi, Pak. Perusahaan iklan dari Mischa Advertising sudah datang", ucap Tya dengan sopan.


"Oke. Bawa mereka ke ruang meeting."


"Baik, Pak", sahut Tya sambil melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan Ferdo.


"Tya!" panggil Ferdo saat Tya baru saja membuka pintu.


"Ya, Pak", balas Tya saat membalikkan badan.


Ferdo ragu untuk melanjutkan ucapannya. "Hem, apa Kau sudah punya pacar?" tanya Ferdo yang membuat Tya syok.


"Kau jangan salah paham dulu! Kau jawab saja, apakah Kau sudah punya pacar?" tanya Ferdo kembali.


"Apa Bapak tahu, kalau aku baru saja jadian dengan pacarku?" Tya menjawab dengan balik bertanya.


"Apa Kau tidak dengar, aku bertanya apa, hah!" Ferdo berdecak kesal karena Tya memamerkan kalau dia punya pacar baru.


"Apa Bapak tidak mengerti maksud ucapanku?"


"Kau sudah berani melawanku!" Ferdo menaikkan nada suaranya, namun Tya tahu kemarahan Ferdo sesungguhnya seperti apa, makanya dia berani menjawab dengan tidak serius.


Tya mendesah melihat sikap sang atasan. "Ya, Pak. Tadi kan saya sudah bilang ke Bapak, kalau saya baru jadian."


"Sudah-sudah, nanti kita lanjutkan. Sekarang siapkan dulu ruang meeting."


"Baik, Pak", balas Tya. Dia ke luar dari ruangan Ferdo dengan menggerutu, karena telah di buat penasaran oleh Ferdo.


"Kenapa dia menanyakan tentang pacarku?" gumamnya sambil berfikir. "Ah, sudahlah. Dari pada aku pusing memikirkan itu terus, lebih baik aku siapkan ruang meeting saja", ucapnya sambil meraih beberapa berkas di atas mejanya, lalu berjalan menuju ruang meeting.


*


"Bu Winda", sapa Tya dengan ramah.


"Pak Ferdo, ada?" tanya Winda dengan wajah yang tak ramah.


"Ada, Bu. Tapi sebentar lagi ke ruang meeting, karena ada klien penting.


"Oh, oke. Terima kasih", balas Winda dengan tersenyum pahit.


"Permisi, Bu", ucap Tya melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Winda pun membatalkan niatnya untuk menemui Ferdo. Dia membalikkan badannya, untuk kembali ke ruangannya.


__ADS_2