Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Sikap Manja Siska


__ADS_3

Waktu seakan berlalu begitu cepat. Baru saja sebagian orang menikmati istirahat makan siang, mereka sudah harus kembali lagi ke rumah untuk melupakan sejenak kesibukan yang tidak ada habisnya itu.


Saat ini keluarga Adrian sudah berada di rumah dengan raut wajah lelah. Hampir saja restoran mereka mendapatkan penilaian buruk dari pengunjung, akibat ketidaksengajaan sang bunda saat meletakkan bumbu pada makanan. Hal itu pun dapat tertolong, karena Adrian yang tanpa sengaja mencicip masakan sang bunda.


Huft.


Adrian mendengus kasar, saat bokongnya berhasil menempel.di sofa.


Sang ayah dan bunda juga mengikutinya duduk di sofa. Sedangkan Ayunda masih berada di halaman luar rumah mereka sambil berbincang dengan tetangga.


Saat Ayunda masuk ke dalam rumah, dia langsung menghampiri sang kakak. "Kak, apakah kakak tahu siapa calon suami kak Tya?" tanya Ayunda sambil duduk di sebelah Adrian.


"Gak", sahut Adrian sambil menggelengkan kepalanya.


"Kak Reno... kak. Kak Reno tetangga kita itu, dia calon suami kak Tya", ucap Ayunda antusias, namun respon sang kakak tidak seperti yang dia harapkan.


Sang ayah dan bunda berjalan menuju kamar, meninggalkan ke dua anak mereka yang sedang asyik membicarakan sesuatu.


"Apa kakak sudah tahu sebelumnya?" tanya Ayunda curiga.


"Belum", jawab Adrian singkat.


Ayunda beranjak dari sofa, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Adrian. "Gak asyik", gumamnya.


"Emang kamu pikir kakak suka bergosip", ledek Adrian yang mendengar Ayunda bergumam. Namun Ayunda tetap melanjutkan langkahnya menuju kamar dan mengabaikan ucapan sang kakak.


Adrian juga beranjak ke kamarnya, setelah rasa penatnya berangsur hilang.


Setelah tiga puluh menit berlalu, seluruh keluarga telah berkumpul di meja makan untuk menikmati masakan sang bunda yang selalu bikin nagih itu. Hanya butuh waktu 15 menit makanan di meja habis tak bersisa.


"Yunda cuci piring dulu, ya", ucap Ayunda saat sedang membereskan perlengkapan makan yang sudah selesai mereka gunakan.


"Kakak bantuin deh, biar cepat." Adrian mengedipkan matanya seakan mengingatkan Ayunda.


Oh, iya masih bahas masalah kelanjutan kuliah, batin Ayunda.


Ayunda pun bergegas mengerjakannya. Cuma dalam waktu 5 menit Ayunda yang dibantu sang kakak menyelesaikannya. Lalu mereka kembali duduk di kursi makan.


"Yunda... " panggil sang ayah dengan lembut.


"Ya, ayah."


"Apakah Yunda bahagia saat menerima surat dari kampus itu?" tanya sang ayah.

__ADS_1


Ayunda mengangguk dengan cepat. "Ya, ayah."


"Kalau Yunda bahagia, ayah pun turut di dalamnya. Jadi, ayah minta gapailah impianmu nak", ucap sang ayah sambil tersenyum bahagia. Lalu dia meminta sang istri menyampaikan keinginannya.


"Sebenarnya bunda berat melepas Yunda untuk pergi ke negri orang. Sudah seharian bunda memikirkan hal ini dan bunda tidak ingin menjadi penghambat kesuksesan anak-anak bunda." Sang bunda terdiam sejenak untuk mengatur nafasnya saat suaranya mulai bergetar.


Ayunda beranjak dari tempat duduknya, lalu menghamburkan dirinya memeluk sang bunda.


"Pergilah, nak. Doa bunda menyertai dimana pun Yunda berada." Air mata sang bunda berhasil lolos dari pelupuk mata yang sedari tadi sudah menggenang. Ayunda pun ikut larut dalam suasana haru itu. Dia semakin menenggelamkan dirinya dalam pelukan sang bunda.


"Semua orang mendukungmu, nak. Ayah harap kamu tidak akan mengecewakan kami", tutur sang ayah yang mengingatkan Ayunda.


"Baik, ayah. Yunda akan selalu ingat pesan dari ayah, bunda dan kak Adrian", sahut Ayunda.


Mereka pun kembali bercengkrama seperti biasanya, meski masih ada sedikit kegelisahan yang dirasakan sang bunda.


***


Di tempat lain, di kota Paris.


Terdengar suara teriakan yang bersahutan dengan sesuatu yang pecah.


Mood wanita hamil suka berubah-ubah, batin bibi Tanti. Saat ini dia berdiri di luar balik pintu kamar Siska. Sudah 1 jam dia membujuk Siska untuk makan sesuatu yang sudah dia persiapkan atas suruhan Alfian. Namun Siska membuangnya sambil berteriak.


"Pergi... Aku hanya mau Alfian di sini", teriaknya berulang-ulang, hingga sang bibi terpaksa bersembunyi di balik pintu.


Tiba-tiba dia mendengar derap langkah seseorang menaiki anak tangga.


"Tuan...", panggil sang bibi saat papanya Siska berjalan menuju sang bibi.


"Ada apa? Kenapa kau terus menghubungiku?" papa Siska terus mencecar sang bibi dengan pertanyaan, karena sang bibi telah mengganggu rapat pentingnya dengan investor besar.


"I- ini, Tuan. Non, Siska."


"Kenapa dengan Siska?" ucapnya khawatir sambil buru-buru berjalan masuk ke dalam kamar Siska.


"Ada apa, sayang?" tanyanya saat menghampiri Siska yang duduk di tempat tidur dengan wajah sembab.


"Papa..." rengeknya sambil memeluk sang papa.


Lalu sang papa menatap tajam ke arah sang bibi. "Apa yang sudah kau lakukan?"


"Bu- bukan... Sa- aya tidak melakukan apa-apa, Tuan." Sang bibi tertunduk dengan rasa takut.

__ADS_1


"Iya, pa. Bi Tanti gak salah apa-apa", ucap Siska membela sang bibi.


"Jadi, kenapa kau seperti ini?"


"Alfian, pa. Alfian mana?"


Sang papa menatap Siska dengan bingung. "Bukankah kau tahu dia di mana?" tanyanya heran.


"Iya, tapi kenapa dia belum juga pulang", rengeknya dengan bertingkah layaknya anak kecil.


Sang papa mendengus kasar. Andai saja dia tidak sedang hamil, sudah aku tinggalkan. Batin sang papa.


"Ya, mungkin kerjaannya masih banyak. Lagian ini baru jam 3", ucap sang papa memberi pengertian pada putri manjanya itu.


"Ya, sudah Siska tunggu Alfian pulang saja", ujarnya dengan bibir manyun.


Sang papa hanya mengangguk sambil berdehem, lalu dia berpamitan meninggalkan putrinya yang masih manyun itu.


***


Di sebuah kamar yang twrlihat suram, karena warna dinding


"Bagaimana?" tanya seorang pria pada seseorang melalui sambungan telepon.


"Tenang, bos. Kami sudah menyelesaikan dengan sangat rapi sesuai dengan intruksi bos." jawab seseorang dari seberang telepon.


"Bagus...", balas pria itu dengan tertawa puas. "Jika berhasil aku akan memberikan bonus tambahan." Pria itu memberi janji.


"Terimakasih, bos. Senang bekerja sama dengan bos", sahut si penerima tugas dengan girang. Lalu mereka saling memutus sambungan telepon.


"Cih, nikmatilah dulu kebahagianmu itu", ucap pria itu dengan menyeringai. Sorot matanya !menunjukkan ada niat jahat yang aķan segera dia lakukan.


***


Setelah di rasa penat dan pekerjaan itu tidak ada


habis-habisnya. Alfian memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia menaiki taksi pesanannya menyusuri jalanan yang mulai di penuhi dengan penerangan dan dalam waktu 30 menit Alfian tiba di rumah kediaman sang mertua.


Alfian melangkah masuk dan menaiki anak tangga dengan tidak sabar untuk segera merabahkan diri. Namun saat akan berbelok menuju kamar, suara sayup kembali terdengar dari dalam ruangan kerja sang mertua. Dengan mengendap-endap dia melangkah menuju dekat pintu.


"Oke, lakukan segera", ucap sang mertua dari dalam, lalu dia menutup sambungan telepon.


"Ada keperluan apa?" tanya sang mertua saat membuka pintu dengan lebar.

__ADS_1


Alfian memandang sang mertua dengan muka cengo. Lagi-lagi dia tertangkap basah.


"Ehm, bukan apa-aoa, Pak" sahut Alfian dengan sedikit grogi. Tatapan dingin sang mertua seakan menyiratkan sesuatu baginya. "Kalau begitu saya ke kamar dulu ya, Pak", ucapnya menghindar. Sang mertua pun hanya membalas dengan deheman dan anggukan.


__ADS_2