Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Pengganti Tya


__ADS_3

Happy Reading


Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Reina dan pelamar satunya sedang mempersiapkan diri dengan merapikan make up serta pakaian mereka. Tidak ada yang mau membuka suara di antara 2 pelamar yang saat ini sedang duduk berdampingan.


Tiba-tiba Tya ke luar dari balik pintu. "Reina dan Sherly masuk", ajak Tya pada ke dua pelamar. Mereka langsung berdiri, lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan.


Kenapa kami masuk barengan, ya. Batin Reina.


Di dalam ruangan itu sudah ada Winda yang sedang duduk sambil menatap Reina dan Sherly bergiliran.


"Silakan duduk", pinta Tya pada ke dua pelamar. Tya pun kembali ke tempat duduknya yang ada di sebelah Winda.


"Pertama-tama saya ucapkan selamat kepada kalian berdua, karena sudah terpilih dari sekian banyak pelamar", ucap Tya dengan tulus.


"Setelah saya melihat cv anda, saya yakin anda sekalian adalah seorang yang bisa melakukan di luar kemampuan anda. Tidak ada di antara kalian yang punya basic sekretaris, tapi kalian terlalu berani melamar, bahkan kalian pun lulus seleksi." Tya menatap mereka bergiliran dengan wajah serius.


"Ini adalah tahap akhir, keputusan akan disampaikan oleh bu Winda." Tya meminta Winda melanjutkan.


Winda mulai berdehem. "Sebenarnya hal yang utama saat kita bekerja adalah attitude dan kejujuran. Tidak ada gunanya kepintaran bahkan kecantikan, jika attitude kita bobrok.." Winda menekankan kata bobrok yang membuat ke dua pelamar menahan rasa gugupnya sambil berfikir kepada siapa kata itu disematkan.


"Selamat Reina, kamu di terima." Winda langsung menyampaikan pilihannya, tanpa interview.


Sherly bangkit dari tempat duduknya. "Atas dasar apa ibu lebih memilih dia!" tunjuk Sherly pada Reina dengan emosi.


"Tya..." Winda memanggil Tya sambil tersenyum simpul pada Sherly.


"Ya, bu..."


"Kau sudah lihat, kan?"


Tya yang mengerti arah ucapan Winda mengangguk sambil tersenyum. "Iya, bu."


Lalu Tya meminta Sherly untuk segera meninggalkan ruangan, namun Sherly tidak mau. Dia masih meminta penjelasan, kenapa mereka memilih tanpa seleksi. Sherly pun menuduh mereka bermain curang.


"Ini pasti ada nepotisme", tuduh Sherly.


Winda yang jengah melihat sikap Sherly, akhirnya angkat bicara.


"Baiklah... Sekarang saya ingin bertanya. Apakah Dafa kekasihmu?"


"I..iya", jawab Sherly ragu. Dia mengira apa yang terjadi padanya karena Winda juga menyukai Dafa.


"Apakah kalian akan menikah dalam waktu dekat ini?" Winda bertanya dengan menjebak.


"Ya, tentu dong. Rencana tahun ini." Sherly tersentak sambil menyekap mulutnya. Dia baru sadar kalau kebohongannya terbongkar, karena sebelumnya dia mengatakan bersedia untuk tidak menikah selama 5 tahun.


"Ta..tapi, itu rencana kami sebelumnya." Ucapan Sherly terbata-bata yang membuat Winda dan Tya tersenyum sinis.


Tya memaksa Sherly ke luar, namun dia tetap tidak terima keputusan itu. Winda yang sudah benar-benar muak melihat sikap Sherly, bangkit dari tempat duduknya dan menatap tajam Sherly.


"Tya panggil security!"


"Baik, bu." Tya langsung melepaskan genggamannya dari tangan Sherly dan bersiap untuk menghubungi security.

__ADS_1


"Tunggu dulu... Aku akan ke luar." Ucapan Sherly menghentikan Tya menekan nomor telepon security.


"Tapi... Ingatlah satu hal. Aku akan membuat kalian menyesal telah melakukan ini padaku." ancam Sherly. Lalu dia melangkah ke luar dengan membanting pintu.


Winda, Tya dan Reina tersentak kaget sambil mengelus dadanya.


"Dasar orang aneh", gerutu Tya. "Kok, bisa sih dia lulus seleksi."


Winda menaikkan kedua bahunya. "Entahlah." Lalu Winda mengalihkan pandangannya pada Reina. "Reina, sekali lagi selamat bergabung di PT Santoso Station." Winda tersenyum sambil menjulurkan tangannya.


"Terimakasih, bu", balas Reina dengan menjulurkan tangannya juga, hingga mereka bersalaman.


Tya pun memberi selamat pada Reina, lalu mengajaknya berkenalan dengan setiap divisi. Karena esok dia sudah aktif bekerja. Tya hanya punya waktu beberapa hari saja untuk mentrainingnya.


***


Di kota Paris


Setelah melakukan perjalanan selama hampir 17 jam, Alfian dan Siska sudah berada di kediaman orang tua Siska.


"Lelah sekali", ucap Siska sambil membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Alfian pun membiarkannya beristirahat sejenak. Entah kenapa ada perasaan iba saat menatap Siska yang sudah tertidur pulas. Awalnya dia tidak tega Siska yang sedang berbadan dua harus melakukan perjalanan yang cukup lama, namun Siska memaksa untuk ikut dengannya.


Alfian dengan mengendap-endap ke luar dari kamar, agar tidak mengganggu tidur Siska. Saat sudah berada di luar kamar, dia berjalan sambil mengedarkan pandangannya menyusuri rumah mertuanya itu. Sepertinya tidak ada ruang tersembunyi, batin Alfian. Lalu dia mendengar sayup suara dari ruang dihadapannya saat pintu sedikit terbuka.


"Cari sesuatu?" tanya sang ayah mertua saat mendengar derap langkah seseorang. Dengan cepat dia memutuskan sambungan telepon, lalu membuka pintu lebar-lebar.


"Umm, bukan apa-apa", jawab Alfian kaku, seakan tertangkap basah.


Alfian mengangguk. "Iya, pak."


"Oke, kalau gitu saya tinggal. Saya masih ada urusan." Sang mertua kembali masuk lalu menutup rapat pintu.


Alfian mematung, seakan sang mertua tidak ingin dia masuk ke dalam. Setelah dirasa tidak ada lagi kemungkinan untuk dia diperbolehkan masuk ke dalam, dia pun melangkahkan kakinya menjauhi ruangan itu. Lalu menuruni anak tangga sambil mencari bi Tanti.


"Bi... Bi... " Alfian terus memanggil, namun belum menemukannya. Lalu dia pergi mencari sampai ke kamar sang bibi.


"Ternyata bibi ada di sini."


Bi Tanti terlonjak kaget saat sedang aayik menonton drama kesukaannya. Biasanya sang majikan tidak pernah mencarinya sampai ke kamar tidur. "I...iya Tuan. Ada yang bisa dibantu?" Bi Tanti mengajukan diri.


"Bi... Tolong buatkan teh hangat dan beberapa kudapan untuk Siska."


"Baik, Tuan", balas sang bibi dengan sopan.


"Sekalian di bawa ke atas ya, bi."


"Ya, Tuan. Saya siapkan dulu." Sang bibi bergegas melakukan apa yang sudah diminta Alfian.


***


Di tempat yang berbeda, Adrian bersama keluarganya sudah tiba di rumah, setelah menutup Restoran.yang mereka buka hanya sampai jam 7 malam. Hal itu mereka lakukan sampai mereka benar-benar mendapatkan koki yang sehandal sang bunda.

__ADS_1


"Penatnya..." Sang bunda menepuk-nepuk pundaknya yang mulai terasa berat sambil duduk di sofa.


"Sini Yunda pijitin, bun."


Sang bunda tersenyum saat Ayunda menawarkan diri tanpa dia harus meminta. Lalu sang bunda membiarkan Ayunda memijatnya.


Heegg


Sesekali terdengar suara sendawa sang bunda, saat sang bunda mulai menikmatinya.


Sang ayah pun merasakan hal yang sama. Usianya yang tidak lagi muda membuat seluruh tubuhnya terasa kaku dan pegal, karena berada di balik meja kasir seharian.


Adrian melangkahkan kakinya menghampiri sang ayah yang duduk di sofa sambil menyandarkan tubuhnya.


"Yah, biar Adrian pijitin."


Sang ayah langsung merubah posisi duduknya, agar Adrian duduk di belakangnya.


Adrian menghampiri sang ayah dengan tersenyum. "Besok ayah tidak perlu capek lagi, karena besok kasirnya mulai bekerja." Jari jemari Adrian terus menyusuri punggung sang ayah, untuk mengurangi rasa pegalnya.


"Bagus kalau begitu", sahut sang ayah dengan mata terpejam.


***


Setelah seluruh keluarga menyelesaikan makan malam. Mereka langsung beranjak ke kamar masing-masing.


Ayunda sedang duduk menyandarkan tubuhnya di tempat tidur. Entah kenapa saat ini dia terus memikirkan Alfian. Setelah kata putus yang diucapkan Alfian tadi siang, sekarang resmi mereka tidak lagi punya hubungan apa-apa.


Tok.. Tok..


Adrian terus mengetuk pintu kamar Ayunda.


"Ya, ada apa kak?" Ayunda bertanya saat pintu sudah terbuka lebar.


"Kakak mau pinjan charger." Adrian berjalan masuk menuju laci meja tempat Ayunda biasa menyimpannya.


"Emang charger kakak kenapa?"


"Tinggal di meja kasir restoran bunda." Tangan Adrian merogoh laci meja Ayunda yang dipenuhi dengan berkas-berkas. Tiba-tiba netranya melihat sebuah dokumen, lalu menariknya ke luar dan membacanya.


"Ini maksudnya apa?" selidik Adrian.


"Ehm, itu bukan apa-apa kak." Ayunda dengan cepat meraih dokumen dari tangan sang kakak, lalu menyimpannya di belakang tubuhnya.


"Berikan!" desak Adrian sambil menjulurkan tangannya, karena dia belum membacanya dengan rinci.


"Yunda bisa jelaskan, kak." Ayunda tetap mempertahankan dokumen ditangannya.


"Ayo, Yunda..." Adrian terus mendesak. Tangannya pun masih tetap terjulur.


Ayunda memberikan dokumen ditangannya pada sang kakak dengan rasa khawatir. "Biarkan Yunda jelaskan, kak", pintanya dengan memohon.


Adrian kembali membaca dokumen Ayunda lebih detail lagi. Tiba-tiba netranya terbeliak saat tahu isi dokumen itu.

__ADS_1


"Jadi Yunda..."


__ADS_2