Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Lamaran Resmi Alfian


__ADS_3

Sang ayah mendorong perlahan kursi rodanya, lalu membukakan pintu.


"Assalamualaikum, Pak", ucap Alfian saat pintu terbuka lebar.


"Waalaikumsalam... Ayo, masuk", ajak Ayah Ayunda dengan ramah.


Alfian melangkahkan kakinya dengan membawa masuk sang Kakek.


"Silakan duduk, Pak dan nak Alfian. Saya akan memanggil Ayunda sebentar", ujarnya seraya mendorong kursi rodanya menuju kamar Ayunda.


"Ayah..." panggil Winda saat baru.saja menutup pintu kamarnya. "Biar saya yang memanggil adik ipar. Ayah tunggu di depan saja", imbuhnya. Lalu dia berjalan menuju kamar Ayunda.


Sang ayah mendorong kembali kursi rodanya menuju ruang tamu. "Maaf Pak Santoso dan Alfian menunggu lama", tuturnya dengan nada sopan.


"Tidak apa-apa.. Kami juga tidak buru-buru", sahut sang Kakek dengan santai.


"Kakek..." panggil Winda saat datang bersama Ayunda.


Sang Kakek menatap dengan serius. "Kakek hampir lupa kalau kau tinggal di sini", ujarnya.


"Ayah mertua", panggil Ibunya Winda saat muncul dari belakang dengan membawa nampan berisi beberapa gelas minuman.


"Silakan di minum, Ayah mertua dan nak Alfian", katanya setelah semua isi nampan berada di atas meja.


"Jadi sekarang menantuku ini tinggal di sini?" tanya sang Kakek dengan menaikkan kedua alismya.


"Ayah mertua salah paham. Saya baru saja tiba pagi ini. Dan kebetulan Ayunda sedang sakit, makanya saya yang membuatkan minuman", ucapnya menjelaskan.


"Aku pikir menantuku sudah tidak punya apa-apa lagi, makanya menumpang hidup di rumah besan."


"Kakek, hentikan" sergah Alfian, karena dia merasa ucapan sang Kakek terlalu merendahkan Ibunya Winda dan tidak menjaga perasaan Ayah Ayunda.


"Kenapa kau berteriak dihadapan orang tua. Jaga sopan santunmu!" tegur sang Kakek seraya menoleh ke arah Alfian.


"Maaf, Kek. Tapi menurut Alfian perkataan Kakek terlalu menyudutkan Tante Meri. Meskipun Tante Meri pernah berbuat salah, tapi Tante sudah mengakuinya dan mau berubah, bahkan Tante yang membantu supaya pelakunya terungkap."


Sang Kakek mendengus kasar. "Maaf, aku telah menyinggung perasaanmu. Aku bahkan belum berterima kasih padamu", ujar sang Kakek dengan rasa bersalah. "Menantuku, mungkin selama ini sikapku terlalu keras padamu dan suamimu. Aku harap kau tidak memikirkan untuk balas dendam seperti yang dilakukan oleh saudara iparmu", sambungnya.


"Ayah mertua tidak perlu khawatir. Aku tidak pernah lagi menyimpan dendam, setelah Allah memberiku kesempatan selamat dari kematian."


"Syukurlah kalau begitu", balas sang Kakek dengan tersenyum hingga kerutan diwajahnya semakin terlihat jelas. "Berarti kita kembali pada tujuan utama datang kemari", lanjutnya.


"Iya, Kek", sahut Alfian dengan tidak sabar.

__ADS_1


"Sebelumnya saya minta maaf, kalau kedatangan kami tiba-tiba", ujar sang Kakek dengan sopan. "Tujuan kedatangan kami kemari adalah untuk meminang secara resmi putri dari Pak Rendra", ujar sang Kakek dengan wajah serius.


Ayahnya Ayunda menatap sang Kakek dengan serius. "Saya menyambut niat baik Pak Santoso. Tapi apakah tidak lebih baik, jika ucapan disertai dengan tindakan", sahut Ayahnya Ayunda dengan sopan.


Sang Kakek mengetuk tongkatnya, membuat mereka kebingungan. Para ajudan yang berjaga di luar rumah tiba-tiba masuk membawa bingkisan.


"Letakkan di atas meja", titah sang Kakek.


"Ini adalah seserahan di awal sebagai keseriusan kami ingin meminang putri Pak Rendra", kata sang Kakek dengan tegas.


"Baik. Saya menerima lamaran dari Alfian", balas sang Ayah.


Semua yang ada di ruang tamu, akhirnya bernafas lega setelah pinangan Alfian tidak mendapat penolakan dari Ayah Ayunda.


"Kalau begitu kita tinggal menentukan tanggal pernikahannya", ucap sang Kakek.


"Oke, silakan Pak Santoso memberi ide."


"Untuk tanggal pernikahan kita serahkan pada mereka saja", sahut sang Kakek. "Àpa mau disampaikan sekarang atau kalian perlu berunding dulu?" tanya sang Kakek dengan menatap Alfian dan Ayunda bergantian.


"Kami rundingkan dulu, Kek", jawab Alfian. Dia tidak ingin Ayunda mengalami kesulitan, jika harus dibicarakan saat ini juga.


"Oke, kalau begitu. Pak Rendra, sepertinya kita harus menunggu kabar dari mereka", katanya dengan santai.


"Pak Rendra mau saya kenalkan dengan Dokter ahli tulang?" tanya sang Kakek yang tiba-tiba mengubah topik pembicaraan. Semua mata menatap bingung sang Kakek yang berbicara santai dengan Ayahnya Ayunda.


"Kenapa kalian semua menatap Kakek? Apa ada yang salah dengan ucapan Kakek?"


"Tidak ada, Kek", sahut Alfian. "Silakan Kakek lanjutkan bicara dengan Ayahnya Yunda. Alfian mau bicara dengan Yunda sebentar."


Alfian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Ayunda. "Ayo, kita duduk di teras depan sebentar", ajak Alfian. Ayunda pun mengikuti keinginan Alfian, dia berjalan menuju teras rumahnya.


...---...


Di restoran bundo, Adrian tampak kebingungan. Di satu sisi dia ingin pulang ke rumah untuk memastikan keadaan di rumah baik-baik saja. Namun di sisi lain dia ingin melindungi sang Bunda dari niat jahat wanita yang sudah berani masuk ke restoran pagi ini.


"Sudah Bunda katakan, kamu pulang saja. Di sini kamu terlihat tidak tenang", kata sang Bunda yang ikut merasa resah melihat sikap Adrian.


"Tidak bisa Bunda. Semua karyawan di sini punya tugas masing-masing. Mereka tidak akan bisa menjaga Bunda seperti Adrian menjaga Bunda."


"Tapi Bunda merasa cemas melihatmu seperti ini."


"Baiklah, Adrian duduk tenang. Bunda juga duduk tenang, ya", bujuk Adrian agar sang Bunda tidak lagi khawatir.

__ADS_1


Tiiba-tiba ponselnya berdering. "Ayah akhirnya menghubungiku", ujarnya.


"Assalamualaikum, Ayah."


"Waalaikumsalam... Apa Bunda sedang berada disampingmu?"


"Ada, Ayah. Tapi..."


"Berikan ponselnya pada sang Bunda", pinta sang Ayah yang membuat Adrian sedikit kesal, karena ucapannya di potong.


"Bunda... Ayah mau bicara", ujarnya sembari menyodorkan ponsel miliknya pada sang bunda. Lalu dia menunggu kedua orang tuanya itu menyelesaikan perbincangan mereka.


Tak lama kemudian sang bunda menghampiri Adrian yang sedang duduk termenung menatap ke luar kaca restoran.


"Adrian", panggil sang Bunda yang membuyarkan lamunannya.


"Apa kata Ayah, Bun?" tanya Adrian seraya menerima ponselnya dari tangan sang Bunda.


"Tadi Alfian dan Kakeknya datang melamar Ayunda."


Adrian terkesiap mendengar penuturan sang Bunda. Berarti yang datang bertamu ke rumah mereka, syukurlah, ucap Adrian di dalam batinnya.


"Ayah langsung menerimanya?"


"Tidak bisa di bilang langsung menerima. Ayah menerimanya setelah ada perbincangan yang biasa dilakukan oleh para orang tua."


"Intinya tetap di terima kan, Bun."


"Iya, pasti di terima. Ayah dan Bunda kan sudah menerimanya sewaktu di rumah sakit."


"Hem, Bunda benar. Kalau begitu kenapa tadi Ayah tidak langsung bicara pada Adrian saja?"


"Kenapa sekarang kamu banyak protesnya? Jelas Bunda adalah istri Ayahmu, dan yang mau kami bicarakan adalah mengenai putri kami."


"Maaf Bunda", balas Adrian dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tapi tadi Ayah juga menyampaikan satu kabar baik."


"Kabar baik apa, Bunda?"


"Kata Ayah, Kakek Alfian akan membawa Ayah pada seorang Dokter tulang yang terkenal."


Adrian membalas dengan manggut-manggut. "Ini memang kabar baik, Bun. Semoga Ayah bisa berjalan tanpa kursi roda lagi."

__ADS_1


"Amin", ucap sang Bunda dengan yakin. Tanpa mereka sadari seseorang yang sedang duduk di kursi makan mendengar semua perkataan mereka.


__ADS_2