Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Rencana Pulang Kampung


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Ferdo duduk di belakang bangku kemudi dengan rasa kesal, karena baru saja sang kakek kembali menghubunginya. Dia meminta agar Ferdo mempersiapkan diri untuk acara pertunangan yang akan diadakan dua minggu lagi. Setelah perdebatan yang alot, akhirnya sang kakek memberikan pilihan pada Ferdo. Pertunangan akan batal, jika dia membawakan seorang calon cucu menantu di hadapannya, dan waktu yang diberikan sang kakek hanya satu minggu. Apabila lewat dari waktu yang ditentukan, maka Ferdo harus setuju dengan pertunangan yang sudah direncanakannya.


Ferdo mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan sejak dia meninggalkan restoran. Keadaannya sangat kacau, sejak sang kakek mengatur sebuah pertunangan baginya. Tidak ada pilihan selain dia harus mencari seorang wanita, untuk diperkenalkan sebagai calon istri di hadapan sang kakek.


"Bagaimana aku mendapatkan calon istri dalam waktu satu minggu!" ucap Ferdo frustasi, lalu mengalihkan pandangannya ke luar kaca mobil, sambil memikirkan solusinya.


***


Malam yang panjang di temani bintang-bintang yang bertaburan di langit. Membuat kagum setiap orang yang memandangnya, di temani hembusan angin yang merasuk ke dalam kulit. Hal inilah yang dirasakan Ayunda, sudah beberapa jam dia berdiri di atas balkon, menikmati malam indah itu. Matanya yang sulit terpejam, karena mengingat masa kecilnya, membuatnya rela berdiri lama-lama di atas balkon.


Sebuah kenangan masa kecil yang tidak pernah dilupakan Ayunda. Ada kisah sedih, namun ada juga masa bahagia. Semuanya menyatu menjadi sebuah kenangan indah.


"Belum tidur?" tanya sang kakak yang datang tiba-tiba membuat Ayunda kaget.


"Kakak... kenapa muncul tiba-tiba, untung saja aku gak punya penyakit jantung", balas Ayunda sambil mengelus dadanya.


Adrian tertawa kecil, lalu berdiri di samping Ayunda. "Ya, biar sekalian melatih jantungnya", ucap sang kakak dengan tersenyum. "Tapi, kenapa Kamu belum tidur?" tanya sang kakak kembali.


"Yunda kangen kampung, Kak. Ayah gimana kabarnya, ya?" ucap Ayunda dengan wajah sendu.


"Kakak juga kangen sama masa-masa kecil kita di kampung. Kamu tenang, ya. Kakak akan segera mengajakmu ke sana", tutur Adrian dengan lembut. Adrian tidak mau memberitahukan Ayunda, kalau dia sudah menemukan keberadaan sang ayah.


"Benarkah, Kak?", tanya Ayunda dengan girang, yang di balas dengan anggukan oleh sang kakak. "Terima kasih, Kak", ucapnya sambil memeluk erat sang kakak. "Tapi kapan?" tanyanya kemudian sambil mendongak ke wajah Adrian.


"Sabar, ya. Kakak akan atur waktunya", tutur Adrian sambil mengacak rambut sang adik.

__ADS_1


"Ah, Kakak. Kenapa Kakak suka sekali mengacak rambutku!" seru Ayunda dengan wajah cemberut, sambil melepas pelukannya.


Adrian terkekeh melihat raut wajah Ayunda, "sudahlah... Ayo, kita tidur. Ini sudah larut, besok Kau harus ke kampus", ujar Adrian dengan tersenyum.


Ayunda menganggukkan kepalanya, "ya, Kak", balasnya singkat. Lalu beranjak meninggalkan balkon, dan masuk ke dalam apartemen sambil melingkarkan tangannya di pinggang sang kakak.


***


Pagi ini semangat Ayunda dua kali lipat dari biasanya, karena mengingat sebuah janji yang diucapkan sang kakak kemaren malam. Perasaan bahagia terlihat jelas, saat Ayunda menikmati sarapan dengan senyum yang terus mengembang.


Sang bunda yang melihat tingkah putrinya itu, termangu sambil menyikut Adrian. "Apa dia baik-baik, saja?" tanya sang bunda yang terus menatap Ayunda dengan khawatir.


Adrian menatap Ayunda sekilas dengan tersenyum, "Yunda kita baik-baik saja, Bun", sahut Adrian yang baru saja menyelesaikan sarapannya, lalu dia menoleh ke arah sang bunda. "Bunda jangan khawatir. Mungkin ada kabar bahagia yang membuatnya seperti itu", tutur Adrian dengan lembut.


"Kabar bahagia?" tanya sang bunda penasaran.


"Iya, Bunda", sahut Ayunda sambil meletakkan gelas di tangannya, setelah selesai meneguk segelas air. "Kak Adrian janji akan membawa kita ke kampung, kalau Kak Adrian sudah tidak sibuk lagi di kantor", ucapnya kemudian dengan tersenyum bahagia pada sang bunda.


"Bun, ceritanya di lanjutkan nanti saja, ya. Kami harus berangkat sekarang!" seru Adrian sambil meraih tangan sang bunda, lalu mencium punggung tangan sang bunda. Ayunda pun melakukan hal yang sama dengan sang kakak.


Adrian dan Ayunda berjalan ke luar apartemen setelah sang bunda mengantar mereka sampai di depan pintu.


Tony sang pengawal yang sudah sedari tadi menunggu Ayunda di depan pintu, langsung berjalan menghampiri Adrian dan Ayunda saat mereka baru saja ke luar dari dalam apartemen.


"Ayuk, Mas Tony", ajak Ayunda dengan ramah. Lalu Tony berjalan mengikuti langkah Ayunda.


***


Tok... tok.

__ADS_1


"Masuk!" sahut Ferdo dari dalam ruangannya.


Ceklek.


Seseorang masuk setelah pintu terbuka lebar. "Hai, sayang", sapa Siska dengan tersenyum lebar, lalu berjalan menghampiri Ferdo bak seorang pragawati.


Ferdo yang baru saja memikirkan hal yang berhubungan dengan Siska, di buat termangu. Seolah memiliki ikatan batin, dia pun memandang Siska tanpa berkedip. Siska yang di pandang seperti itu oleh Ferdo, menjadi tersipu malu. Dia duduk di hadapan Ferdo sambil tersenyum, "apakah Kau terpesona denganku?" tanya Siska dengan menggoda. "Hari ini aku spesial berpenampilan cantik seperti ini, semua buat Kamu", ucap Siska dengan percaya diri.


Ferdo merasa ada sesuatu yang menggelitiknya. Hampir saja tawanya lepas, namun berhasil di tahannya. "Maaf... aku sedang sibuk", ucapnya sambil menahan tawa. Lalu mengubah ekspresinya menjadi sangat serius.


"Ya, aku tahu Kau sangat sibuk. Semua itu pasti Kau lakukan, hanya untuk masa depan kita, kan", tutur Siska dengan tersenyum. "Tapi, nanti siang kita bisa makan bareng, ya. Aku sudah memesan sebuah tempat yang romantis buat kita", tuturnya dengan lembut.


Ferdo mulai jengah dengan sikap sok manis Siska. Dia langsung menghubungi Tya, meminta Tya segera masuk ke ruangannya.


"Ya, ada apa, Pak?" sahut Tya dengan melirik ke arah Siska, sejak kapan dia masuk? Apa saat aku ke toilet tadi? batin Tya.


"Apakah Kau lupa, hari ini ada meeting dengan klien advertising coorp?" tanya Ferdo yang membuat Tya bingung, karena seingat dia hari ini tidak ada meeting dengan klien mana pun. Namun saat Ferdo menatap tajam ke arahnya, Tya tahu tujuan sang bos mengatakan itu.


"Ah, iya Pak. Saya juga sudah menyiapkan berkas yang Bapak minta", sahut Tya dengan tersenyum.


"Bagus!" ujarnya. "Bawa berkasnya, sekarang. Aku akan mengeceknya", pintanya pada sang sekretaris.


"Baik, Pak", balasnya sambil berjalan ke luar ruangan. Dalam benaknya, Tya memikirkan berkas mana yang akan di bawanya ke dalam.


"Ferdo, sayang... aku tak ingin mengganggu pekerjaanmu. Nanti aku akan menelponmu", tuturnya sambil beranjak dari tempat duduk. Lalu berjalan ke luar ruangan Ferdo.


Ferdo menarik nafas lega, saat Siska telah menutup rapat pintu ruangannya. Tya yang melihat Siska ke luar dari ruangan sang bos pun bernafas lega, dia tidak perlu lagi mencari berkas yang akan di bawanya masuk. Namun jantungnya hampir saja copot, saat Adrian mengagetkannya.


"Pak Adrian!" teriaknya dengan kesal.

__ADS_1


"Salah siapa melamun", ucap Adrian dengan tersenyum seolah menggoda Tya. Winda yang tidak sengaja lewat, menatap Adrian dengan mata sendu. Winda merasakan ada yang sakit, tapi tidak berdarah.


To be continue...


__ADS_2