Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Pelaku Penculikan Zahra


__ADS_3

Alfian masih tetap menunggu di bagian informasi. Dan akhirnya kesabarannya membuahkan hasil.


"Pak Alfian", pamggil petugas bagian informasi.


"Ya, saya pak", sahut Alfian sambil berjalan menuju meja informasi.


"Silakan ikuti saya pak!" ujarnya sambil menuntun Alfian menuju sebuah ruangan. Ruang yang penuh dengan layar. Seorang pria sedang memantau layar dihadapannya sambil duduk di kursi.


"Ini pak, orang yang ingin melihat rekaman CCTV", ujar sang petugas pada rekannya.


"Oke", sahutnya pada pria yang telah mengantar Alfian. Lalu dia menanyakan waktu dan tempat kejadiannya.


Alfian pun menyebutkan tempat kejadian dan waktu sesuai dengan jam digital di ponselnya, saat dia melakukan panggilan telepon.


Pria berkacamata itu langsung mengotak-atik layar monitor dengan mencocokkan tempatnya. Setelah sebuah monitor dipilih, pria itu pun memilih waktu sesuai yang dikatakan Alfian, kemudian memutar ulang kejadian itu.


"Stop, pak!" seru Alfian saat melihat seseorang yang mengenakan hoodie dan masker hitam datang dan duduk tepat disebelah Zahra. "Bisa di zoom, pak", pintanya dengan tak sabar.


Pria berkacamata kembali mengotak-atik layar, hingga tampilannya menjadi lebih besar.


Alfian menatap dengan serius wajah pria di layar. "Wajahnya seperti tidak asing", ujarnya. bergumam. "Apa suaranya bisa terdengar?" tanya Alfian saat melihat pria itu sedang berbicara dengan Zahra sambil menyodorkan sesuatu.


"Maaf pak, jaraknya terlalu jauh. Kemungkinan tidak akan terdengar", sahut pria itu.


Alfian berdecak kesal, karena info yang dia dapat masih sangat minim. "Tolong cek tempat parkiran, pak", pinta Alfian yang berharap akan mengetahui plat kendaraannya.


Pria berkacamata mencocokkan waktu perkiraan pria memakai hoodie itu tiba diparkiran. Dengan tatapan fokus Alfian melihat rekaman CCTV, namun tidak terlihat sosok pria memakai hoodie yang sedang membawa anak kecil disana. Alfian mengacak rambutnya dan mulai frustasi. Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi. "Siska", ucapnya berguman saat melihat nama kontak di layar ponselnya. Alfian menggeser tombol hijau diponselnya.


"Hallo", ucap Alfian lesu.


"Hallo, sayang. Zahra kita diculik seseorang", ujar Siska dengan panik dari seberang telepon.


Alfian tersentak. "Dari mana kau tahu?" tanya Alfian.


Siska diam sesaat. "Em, itu. Penculiknya tadi menelponku", sahut suara Siska dari seberang telepon.


"Siapa yang menculiknya? Apa yang dia inginkan? Kenapa dia hanya menelponmu?" Alfian mencecar Siska dengan banyak pertanyaan.


"Dhanny yang telah menculiknya. Dia ingin Zahra jadi miliknya. Dan entahlah, kenapa dia hanya menelponku." Siska berbicara sedikit gugup.


"Kenapa dia menginginkan Zahra?" tanya Alfian kembali.

__ADS_1


"Aku tidak tahu. Kalau begitu ayo kita lapor pada yang berwajib, saja", sahut suara Siska masih dari ujung telepon.


"Eh, tunggu dulu. Bagaimana kalau nanti dia mencelakai Zahra", ucap Alfian dengan menduga-duga. "Gini saja, coba kirim nomor teleponnya", pinta Alfian. Siska pun langsung mengirimkan nomor telepon si penculik.


Tanpa mengulur waktu, Alfian langsung menghubungi Dhanny. Namun panggilan telepon darinya tidak diangkat oleh Dhanny. Meskipun Alfian mengulanginya berkali-kali. Saat ini Alfian mulai frustasi, karena khawatir sesuatu terjadi pada Zahra.


"Terimakasih atas bantuannya pak. Saya permisi", ucap Alfian pada petugas monitor CCTV yang langsung di sahut oleh petugas tersebut. Alfian keluar dari dalam ruangan itu dengan rasa cemas. Dia berjalan sambil memikirkan solusi untuk membebaskan Zahra.


"Aku minta Siska saja yang menghubunginya, barangkali di angkat", ucapnya bergumam. Alfian pun menghubungi Siska dan memintanya untuk segera menghubungi Dhanny.


Setelah Alfian selesai menghubungi Siska, dia melangkahkan kakinya berjalan menuju parkiran mobil. Alfian menghela nafas saat duduk dibangku kemudi, lalu dia melajukan kendaraannya menuju tempat Siska berada.


***


Adrian baru saja selesai mengganti popok putra kecilnya itu. "Nah, sudah gak bau pup lagi", ujar Adrian saat melihat senyum menggemaskan Azzam.


"My hubby... ", panggil suara parau Winda, khas orang bangun tidur.


"Mama Azzam udah bangun?" Adrian menggendong putra kecilnya itu sambil menghampiri sang istri yang baru saja bangun, karena Azzam sedikit rewel malam tadi.


"Azzam ditemani sama papa ya?" ucap Winda sambil mencium pipi merah putranya. "Ya, dia tak terima dicium!" seru Winda saat Azzam memalingkan wajahnya. "Mama bau iler ya, nak?" Winda kembali berinteraksi dengan putra kecilnya yang sedang mengerjap.


"Makanya mama mandi dulu, gih", ucqp Adrian mewakili sang anak.


Tok. Tok.


Suara ketukan pintu membuat Adrian beranjak tempatnya berdiri. "Siapa?" tanya Adrian saat berjalan menghampiri pintu.


"Yunda, kak" sahut Ayunda dari balik pintu.


Adrian memutar handle pintu, lalu membukanya dengan lebar. "Ada apa tanteku yang imut?" Adrian kembali menirukan suara Azzam.


"Azzam udah bangun ya", ujar Ayunda sambil mencium pipi gembul keponakannya itu.


"Ada apa, Yunda?" tanya Adrian saat Ayunda sedang bermain dengan Azzam.


"Ada yang mau Yunda omongin kak", sahut Ayunda.


"Ya, diomongin aja!" ucap Adrian.


"Em, kakak ipar dimana?" tanya Ayunda sambil menjulurkan kepalanya mencari keberadaan Winda.

__ADS_1


"Lagi mandi", sahut Adrian.


"Kalau gitu Yunda tunggu kakak ipar selesai mandi, baru nanti kita bicarakan di ruang tamu."


"Oke, nanti kami nyusul ke sana", ujar Adrian masih dengan menggendong Azzam.


***


Alfian berlari menghampiri Siska yang sedang duduk menangis di bangku taman.


"Bagaimana hasilnya? Apa dia mengangkat telepon darimu?" Alfian menuntut jawaban dari Siska sambil duduk disampingnya.


Siska menggelengkan kepalanya. "Nomornya sudah tidak aktif lagi", ucapnya dengan wajah sendu.


Alfian seakan menemukan jalan buntu. "Ayo, kita lapor ke pihak yang berwajib saja", ajak Alfian sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Jangan!" teriak Siska menolak.


Alfian mengernyit bingung, karena sebelumnya Alfian yang melarang untuk melaporkan hal itu ke polisi. Namun sekarang Siska yang melarangnya. "Kenapa?" tanya Alfian.


Siska terdiam sesaat. "Em, itu. Talutnya Zahra kita jadi celaka kalau kita lapor polisi", ucap Siska sedikit gaguk.


"Tapi penculiknya tidak meminta tebusan apa pun." Alfian mengusap kasar rambutnya, karena tidak mendapat kabar dari penculik Zahra.


"Iya, kita tunggu saja." Suara Siska bergetar saat mencoba meyakinkan Alfian.


Tiba-tiba ponsel Siska berbunyi. Raut wajahnya berubah saat melihat nomor yang tidak asing sedang menghubunginya.


"Ini dia", ujar Siska sambil menunjuk layar ponselnya.


Dengan cepat Alfian meraih ponsel dari tangan Siska. "Sini", pintanya.


"Hallo... Hallo...Dhany!" Alfian langsung menjawab panggilan telepon, namun tak terdengar suara dari seberang telepon. "Dhanny, aku tahu kau di sana! Kembalikan putriku! Aku akan memberikan berapapun yang kau inginkan."


"Cih, kau sangat sombong!" ucap Dhany ketus.


"Dhanny, aku serius dengan ucapanku."


"Aku tahu kau sangat kaya. Tapi aku menginginkan putriku. Dia darah dagingku!" ujar Dhanny yang membuat Alfian tersentak kaget.


"Apa!" teriak Alfian.

__ADS_1


"Ya, tanyakan saja pada Siska! Dan satu hal lagi, Siska tidak sedang hilang ingatan. Kau boleh mengujinya." Dhanny langsung menutup sambungan telepon.


"Dia minta apa?" tanya Siska dengan wajah sendu. Alfian pun menoleh ke arah Siaka sambil mengembalikan ponsel miliknya.


__ADS_2