Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Bantuan dari Conny


__ADS_3

Adrian menatap kosong ke luar jendela kamarnya. Entah apa yang sudah membuatnya risau saat ini.


Tok... Tok...


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Lalu dia beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju pintu.


Ceklek.


"Bunda..." ucap Adrian dengan suara lesu.


"Ayo, kita ke ruang tamu dulu, nak. Ada yang mau bunda bicarakan."


Adrian mengangguk, lalu menutup pintu kamarnya mengikuti langkah sang bunda menuju ruang tamu.


"Duduk, nak."


"Ya, bun", sahut Adrian sambil duduk di sofa tepat di samping sang ayah.


Sang ayah yang sedari tadi duduk diam di sofa langsung membuka kacamata, lalu mengucek matanya. "Ehm, ayah lihat kamu uring-uringan sejak pagi. Apa ada masalah?"


Adrian diam sesaat. "Tidak ada, yah."


"Jangan bohong!"


Adrian menghela nafas. "Hanya masalah kecil dengan investor, yah."


Sang ayah menyerongkan tubuhnya menatqp wajah gugup Adrian. "Ayah gak percaya. Wajahmu tidak bisa berbohong."


"Iya, nak. Jika ayah dan bunda bisa membantu, akan kami bantu", timpal sang bunda.


"Ini bukan seperti yang ayah dan bunda bayangkan", ucap Adrian dengan sedikit gagap.


"Katakan seperti apa?" desak sang ayah.


Adrian kembali menghela nafas. Sebenarnya dia tidak ingin membebankan ke dua orangtuanya dengan masalah pekerjaan. "Jadi ada investor yang menarik kembali dananya." Adrian menelan salivanya. Mata sendunya menatap ke dua orangtuanya. "Adrian harus mengembalikan sejumlah uang sesuai perjanjian dalam waktu 2 minggu."


Sang ayah dan bunda saling berpandangan saat mendengar penuturan Adrian.


"Berapa banyak, nak?" tanya sang bunda.


"1 M, bun"


Ayah dan bunda Adrian terperangah saat mendengar kata 1 M.


Sang ayah mencoba berfikir. Lalu dia menatap ke arah sang bunda.


"Bun, bagaimana dengan tanah kita di desa? Apa bunda masih menyimpan surat-suratnya?"


Sang bunda pun mencoba mengingat-ingatnya. "Sepertinya masih di pegang sama bu Arsih, yah", sahut sang bunda.


"Kok bisa?"


"Bunda pinjamkan, karena bu Arsih mau buat usaha dodol katanya. Jadi minjam dana ke bank."


"Ayah, bunda. Sudah jangan dipikirkan lagi. Biar Adrian sendiri yang cari solusinya." Adrian mencoba menghentikan perbincangan ke dua orangtuanya itu.


"Iya, ayah tahu. Tapi mengenai surat tanah kita harus bunda tanyakan kembali", ujar sang ayah dengan wajah serius.


"Baik ayah. Nanti bunda telepon bu Arsih."

__ADS_1


"Oke, bun. Bagaimana kalau kita jual restoran saja?" sang ayah mencoba memberi solusi.


"Tidak ayah", sahut Adrian dengan tegas. "Adrian akan menghitung semua asset Adrian, semoga itu cukup."


"Jangan, nak. Nanti kamu tidak punya pekerjaan lagi", ujar sang ayah dengan rasa khawatir.


"Ayah tenang saja. Adrian bisa memulainya dari nol."


Sang ayah dan bunda terkesiap saat mendengar penuturan Adrian. Lalu mereka saling berpandangan dan berbincang dengan sangat serius.


Adrian pun menatap haru kedua orangtuanya itu.


***


Mentari pagi menyeruak dari balik awan yang telah menyelimutinya. Sebagai isyarat datangnya hari baik.


Adrian yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya, berharap terbukanya pintu berkah yang membuat dia terlepas dari semua masalahnya saat ini. Dengan segala asset yang dimilikinya sekarang, dia dengan berat hati untuk menjualnya.


"Tenang Adrian... Kau pasti bisa bangkit kembali", ucapnya menyemangati diri sendiri saat berdiri di depan cermin. Wajah sendunya kembali ceria saat adanya secerca harapan.


Tok... Tok.


"Nak... Ada Conny di depan. Cepat keluar, ya!" seru sang bunda dari balik pintu kamar Adrian.


"Ya, bun. Sebentar lagi", sahut Adrian. Diraihnya tas laptop yang terletak di atas meja, lalu dia berjalan ke luar kamar.


Pagi ini Conny datang menjemput Adrian sesuai pembicaraan mereka di telepon, bahwa mereka akan bertemu klient baru.


***


Setelah Conny dan Adrian menunggu selama 10 menit, investor baru yang akan diperkenalkan Conny datang menghampiri mereka.


Adrian menatap kedua pria itu bergantian sambil tersenyum ramah. 'Iya, gak apa-apa, Pak."


"Ehm, kita langsung ke intinya saja ya."


"Silakan, Pak", sahut Adrian dengan ramah.


"Saya sudah melihat profile kamu. Jika kalau bukan karena keponakan saya yang terus merekomendasikan, mungkin saya kurang tertarik." Salah seorang pria berkumis tipis menjelaskan dengan gamblang yang membuat Adrian sedikit menciut.


"Jadi gimana, Pak?" tanya Adrian dengan ragu.


"Ini ada beberapa persyaratan dari kami. Coba kamu baca dulu." Pria yang bertubuh gemuk menyodorkan beberapa lembar dokumen. Adrian pun menerimanya dengan raut wajah serius.


"Apa ini tidak bisa dinegosiasikan lagi, pak?" tanya Adrian saat baru saja selesai membaca dokumen itu.


"Tidak bisa."


Adrian terkesiap mendengar ucapan pria itu. Hatinya mulai bimbang sambil memikirkan penawaran dari kedua pria itu. Karena jika dia menerima penawaran itu, maka sama saja dengan dia bekerja tanpa di gaji.


"Apa boleh saya pertimbangkan dulu?" tanya Adrian.


'Heh, lihatlah Conny. Benar kan apa yang paman katakan. Dia cuma mementingkan keuntungan semata."


"Bukan begitu paman", bujuk Conny saat sang paman mulai emosi.


"Begini saja, jika kau memang serius dengan bisnis ini. Maka aku ingin melihat keseriusanmu pada keponakan kami!"


Adrian mengkerutkan keningnya, mencoba memahami ucapan paman Conny berkumis tipis itu.

__ADS_1


"Nikahi dia segera!"


"Apa!" ucap Adrian dan Conny bersamaan. Mereka kaget saat mendengar permintaan paman Conny.


"Tapi, paman... Ini tidak..."


"Conny jangan membelanya lagi", ujar sang paman memotong ucapan Conny.


"Jika sudah diputuskan, maka temui kami kembali." Lalu kedua pria itu bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Adrian dan Conny yang masih termangu.


Apa cuma itu satu-satunya jalan ke luar, batin Adrian.


Adrian menoleh ke arah Conny yang sedari tadi diam. Entah apa yang dipikirkan Conny saat ini, Adrian tidak tahu. Dia menatap Conny dengan rasa canggung.


"Apa kita bisa kembali ke restoran?"ucap Adrian memecah keheningan sambil menatap Conny.


"Ehm, ayo", balas Conny yang mulai tersipu saat di tatap Adrian.


***


Di kantor Santoso Station.


Reina bangkit berdiri saat Alfian baru saja datang sambil menyapanya. "Pagi, pak", sahut Reina dengan sopan.


"Tolong ke ruangan sekarang", pinta Alfian saat tangannya masih menggantung di handle pintu.


"Baik, Pak", sahut Reina. Ternyata sikapnya berbeda kalau sedang di kantor, batin Reina.


"Silakan duduk." Alfian menunjuk dengan tangan terbuka. Reina pun mengikutinya, dia duduk tepat dihadapan Alfian.


"Bagaimana pekerjaan beberapa hari ini?" tanya Alfian dengan santai.


"Saat ini semuanya sudah terkendali, pak."


"Jadi sebelumnya tidak?"


"Ehm, terkendali juga pak, walaupun saya sempat kelabakan. Saya gak punya basic sekretaris, jadi agak sulit memahaminya."


"Apa? Kamu bukan lulusan sekretaris."


Reina mengangguk pelan. Dia merutuki dirinya yang terlalu berterus terang.


Tok... tok.


Suara ketukan pintu membuat Reina terbebas dari pertanyaan bertubi-tubi Alfian.


"Masuk!" seru Alfian.


Tony pun masuk ke dalam ruangan Alfian sambil membawa beberapa dokumen ditangannya.


"Ini dokumennya pak", ucap Tony sambil menoleh sekilas ke arah Reina.


"Silakan letak di sini saja", tunjuk Alfian tepat di samping kanannya.


"Kalau begitu saya permisi, pak.


"Oke, terimakasih", sahut Alfian. Lalu dia kembali fokus pada Reina.


Kenapa mas Tony cuma bentaran doang, batin Reina meringis.

__ADS_1


__ADS_2