
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Suasana di cafe mulai terlihat lengang, saat beberapa orang pengunjung telah ke luar dari cafe. Adrian mengusap lembut mulutnya menggunakan tissu, saat baru saja menyelesaikan makan siangnya. Beberapa menit kemudian, Ferdo dan Ayunda pun melakukan hal yang sama.
Ayunda tidak merasa canggung lagi, saat sudah mengetahui Ferdo dan Alfian adalah orang yang sama. Dia senang akhirnya dapat bertemu kembali dengan teman masa kecilnya itu, walaupun mereka bersama hanya beberapa hari. Ayunda pun mengubah panggilannya menjadi lebih akrab pada Ferdo. Dia pun memanggilnya dengan sebutan kak Alfian.
Ayunda bersama dengan Alfian dan Adrian beranjak dari tempat duduk masing-masing. Ayunda berpamitan pada Lisa terlebih sebelum melanjutkan langkahnya ke luar cafe. Bahkan Ayunda pun ingin berpamitan pada Rian, namun dia hanya mendapat tatapan tidak suka dari Rian. Ayunda terpaksa ke luar dari cafe, tanpa senyum yang biasa diberikan oleh Rian.
"Kenapa Kau bersedih?" tanya Adrian saat melihat wajah murung Ayunda.
"Ah, tidak ada apa-apa, Kak", sahutnya sambil masuk ke dalam mobil. Setelah di dalam mobil dia sadar, kalau dia tidak sedang berada di mobil sang kakak. "Ma- maaf, Kak. Aku sepertinya salah naik mobil!" seru Ayunda yang mencoba ke luar dari dalam mobil.
"Tunggu dulu!" teriak Adrian menghentikan Ayunda. "Ini mobil Alfian", ucapnya menjelaskan.
"Oo, ini mobil Kak Alfian. Mobilnya sangat bagus, memang cocok untuk seorang CEO seperti Kakak", ucapnya dengan tersenyum lebar. "Semoga Kak Adrian bisa membeli yang seperti ini juga", ucapnya melanjutkan.
"Sebenarnya dia bisa membelinya, tapi dia sedang berhemat untuk biaya pernikahannya", sahut Ferdo yang mendapat tatapan tajam dari Adrian. "Apa Kau sudah tak ingin bekerja lagi?" tanya Ferdo mengintimidasi Adrian.
"Cih, bisanya hanya mengancam!" seru Adrian sambil melajukan kendaraan yang sedang dikemudikannya. "Ayunda Kau jangan terlalu akrab dengannya!" seru Adrian dengan nada kesal.
"Hahaha... Kalian terlihat lucu kalau saling memuji, Kak", ucap Ayunda dengan tertawa. Perasaan Ayunda saat ini sangat bahagia, karena dia dapat bertemu kembali dengan Alfian, teman masa kecilnya itu.
"Kak, turunkan aku di halte bus saja. Aku tidak ada jam kuliah lagi, jadi aku ingin pulang ke rumah naik busway", tutur Ayunda sambil mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan saat berbicara pada sang kakak.
"Aku tidak izinkan! Aku akan mengantarmu!" seru Adrian penuh penekanan. "Dari halte bus ke apartemen sangat jauh, apa Kau akan berjalan kaki", ucap Adrian melanjutkan, karena melihat Ayunda diam dengan wajah merengut.
__ADS_1
"Jangan terlalu keras padanya", tutur Ferdo sambil menepuk pelan pundak Adrian.
"Aku tahu cara mendidik adikku dengan benar", sahut Adrian yang masih fokus menyetir dan telah melewati halte bus di kampus Ayunda.
Ayunda kesal, karena sang kakak tidak mendengarkan permintaannya. Dia menoleh ke samping dan menatap ke luar jendela dengan wajah cemberut. Adrian melirik dari kaca spion dalam mobil. Dia sebenarnya tak ingin melihat sang adik marah padanya, tapi dia melakukannya semua demi kebaikan Ayunda.
Ferdo yang sedari tadi diam, bingung melihat sikap ke dua orang adik beradik itu. Dia memutar lagu kesukaannya, untuk memecah keheningan di dalam mobil.
*
Setelah lima belas menit di perjalanan, Adrian menepikan kendaraannya di depan apartemen mereka.
"Terima kasih, Kak", ucap Ayunda saat baru turun dari mobil dengan wajah cemberut. Lalu Ayunda menatap ke arah Ferdo. "Kak Alfian, sering-sering berkunjung ke sini, ya", tuturnya saat memandang Ferdo dengan senyum lebar. Ferdo pun membalasnya dengan tersenyum. Ayunda melambaikan tangannya setelah berpamitan pada Adrian dan Ferdo, lalu berjalan menuju lobi apartemen.
Adrian menatap kesal Ferdo, "Aku menyesal telah memberitahukan semuanya pada Ayunda", ucapnya sambil menginjak pedal gas mobil, kemudian melajukannya kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Adrian menggelengkan kepalanya, saat suara Ferdo tiba-tiba memekakkan telinganya. Nada tinggi pada lagu pilihannya, diikuti oleh Ferdo bak penyanyi profesional. Setiap bait lagu serasa menghanyutkan perasaan Ferdo sahabatnya itu.
"Apa aku perlu menyewa sebuah tempat karaoke untukmu?" tanya Adrian dengan senyum mengejek.
Ferdo pun berhenti mengikuti irama lagu, dia meraih ponsel di sakunya untuk menghubungi seseorang. Tangan sebelah kanannya mengecilkan volume, tangan kirinya meletakkan ponsel pada telinganya.
Dia menelpon Tya sang sekretaris, untuk membuatkan suatu pengumuman. Setelah Ferdo memberitahukan dengan jelas pada Tya, program baru yang akan di buatnya. Ferdo pun memutus telpon, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Apa Kau benar-benar, akan membuat acara seperti itu?" tanya Adrian saat Ferdo baru saja memasukkan ponselnya ke saku.
Ferdo menoleh ke arah Adrian sambil tersenyum, "Ya, kenapa tidak!" ucapnya dengan yakin. "Kau yang memberikan ide itu, aku hanya ikut dengan saranmu saja", ucapnya melanjutkan.
__ADS_1
"Aku hanya memintamu menyewa tempat karaoke, bukan untuk dijadikan acara di televisi!" seru Adrian yang masih fokus saat membelokkan kendaraannya ditikungan.
"Ya, itu sama saja!" seru Ferdo yang tak ingin di bantah.
"Terserah, Pak Ferdo. Aku hanya menjalankan arahan dari Bapak!" sahutnya kesal, namun masih fokus memperhatikan jalanan yang ramai, meskipun terik mentari sangat menyengat.
Ferdo mendengus kasar, dia tahu Adrian sangat kesal padanya. Sapaan yang berubah menjadi formal, menunjukkan Adrian ingin membantah, tapi dia tak dapat berbuat apa-apa. Ferdo langsung menepuk pundak Adrian, "tenanglah, jika Kau tetap mendukungku, acara apa pun itu pasti sukses", tutur Ferdo sambil tersenyum.
Adrian melirik sekilas ke arah Ferdo, lalu membuang nafasnya dengan berat. "Baiklah, aku akan tetap mendukungmu", balasnya dengan menarik paksa ke dua sudut bibirnya membentuk lengkungan.
Ferdo pun memberitahukan detail acara yang akan di adakan. Adrian mendengarkan penjelasan Ferdo, sambil fokus menyetir. Sesekali dia memberikan masukan pada Ferdo, untuk beberapa point yang di anggap kurang maksimal. Ferdo pun saling bertukar pendapat dengannya. Setelah semua perbincangan mereka tentang acara baru itu selesai mereka pun tertawa bersama.
Ferdo dan Adrian merasa meeting dadakan di dalam mobil lebih asyik, dari pada meeting dadakan yang mereka adakan pagi itu.
Tanpa terasa Adrian sudah membelokkan kendaraannya memasuki halaman kantor Santoso Station. Adrian menjalankan kendaraannya menuju basement. Setelah kendaraan terparkir sempurna, Ferdo dan Adrian ke luar dari mobil dan berjalan menuju lift.
*
Ting.
Ferdo dan Adrian ke luar dari dalam lift, saat lift sudah terbuka lebar. Mereka melangkahkan kaki menuju ruangan Ferdo. Ada pembahasan lanjutan yang ingin dibicarakan Ferdo sebelum memulai meeting dengan kepala divisi.
Tya dengan sigap berdiri, saat melihat Ferdo dan Adrian datang menghampirinya. "Tya, berkas dari semua divisi sudah berada di mejaku?" tanyanya dengan ramah.
"Eh, sudah Pak", sahutnya dengan tersenyum. Tya merasa aneh dengan perubahan sikap sang atasan yang tiba-tiba. Namun dia juga senang, jika sikap atasannya selalu seperti itu.
"Oke", balasnya singkat. "Jangan izinkan siapa pun masuk!" pintanya dengan serius pada sang sekretaris.
__ADS_1
"Baik, Pak", sahut Tya dengan tersenyum. Senyumnya tak kunjung luntur, meskipun sang atasan sudah tidak ada di hadapannya lagi.