
Happy reading
***
Pria itu tidak bergidik sedikit pun, namun perutnya yang semula baik-baik saja serasa ingin mengeluarkan semua isi di dalamnya."Uwek..." batinnya yang merasa jijik mendengar ucapan Siska.
Lalu dia kembali fokus pada tujuannya datang ke apartemen Siska. Dia pun membuka perbincangan dengan berdehem. "Kenapa kau melakukan itu?" tanyanya dengan nada dingin.
Siska yang masih kecentilan dan pura-pura tidak tahu mencoba meraih tangan pria itu, namun langsung dihempaskan oleh sang pria. "Apa maksudmu, Alfian?" tanya Siska yang mulai merubah nada bicaranya. "Jangan lupa aku adalah tunanganmu. Selamanya tidak akan pernah berubah!" ancamnya pada Alfian.
"Cih, apakah Kau Tuhan?" sanggahnya. "Kau tidak berhak menentukan hubungan di antara kita! Bahkan kakek sekali pun!" ucapnya tegas. "Kau bukan siapa-siapa bagiku!" tunjuk Alfian pada Siska yang membuat Siska marah, namun dia berusaha menahan emosinya.
"Sayang... Jangan gitu dong", rayu Siska dengan wajah memelas. Dia tidak ingin membalas kemarahan Alfian dengan kemarahan, agar hati Alfian segera melunak. Sangat sulit meminta Alfian untuk berkunjung ke rumahnya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka ini.
Alfian menjadi gusar, dia sangat ingin menenggelamkan wanita bermuka dua di hadapannya saat ini dan segera pergi meninggalkannya Jika saja hal itu tidak berkaitan dengan Ayunda, dia tidak akan sudi untuk menemui Siska. "Jangan alihkan pertanyaanku tadi. Kau sengaja kan memberikan flashdisk sembarangan pada Winda?" Alfian memperjelas pertanyaannya.
"Sayang... aku benar-benar tidak tahu", ucapnya dengan lembut dan mencoba semakin dekat pada Alfian. "Lebih baik kita membicarakan hari baik pernikahan kita saja. Itu kan lebih penting", sahutnya dengan menekankan kata pernikahan. "Ayo, duduklah dulu. Aku akan membereskan pecahan kaca itu, setelah itu aku akan menyajikan teh dan beberapa kudapan untukmu. Anggap saja latihan menjadi istrimu", ucapnya melanjutkan dengan tersenyum lebar.
"Apa kau pikir aku terlalu santai untuk datang kemari hanya untuk membicarakan hal bodoh yang kau katakan itu?" sahutnya yang membuat Siska terdiam kaku. Dia seakan kehabisan kata-kata manis, yang tersisa hanya luapan emosi. Namun bukan Siska namanya jika tidak bisa berakting kembali.
"Kamu sangat kejam Alfian." Siska berbalik dan menangis tersedu-sedu. "Bagaimana bisa kamu menyakiti hati seorang wanita yang lemah ini", ucapnya dengan terisak.
"Ah, sudahlah! Tidak ada gunanya bicara denganmu!" sergahnya. Alfian membalikkan badannya dan beranjak meninggalkan Siska yang masih berpura-pura sedih. Tanpa Siska sadari Alfian sudah pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Tapi... " ucapan Siska terputus saat dia membalikkan badan dan sorot matanya tidak lagi melihat keberadaan Alfian. "Alfian... Kau boleh mengabaikanku saat ini, tapi ingat aku akan membuat kau menjadi milikku seutuhnya, bukan orang lain!" seringainya. Lalu dia teringat akan flashdisk yang mereka permasalahkan. "Memang ada apa dengan isi flashdisknya? Kenapa mereka berdua sangat marah". Siska bergumam sambil berjalan menutup pintu apartemennya.
***
Lalu lintas yang dipadati berbagai jenis kendaraan bahkan pejalan kaki pun seakan ikut berpacu memadati trotoar. Entah berapa banyak klakson yang berbunyi meminta kendaraan di depannya untuk segera maju. Sesekali terdengar umpatan dilontarkan pada pengemudi lain yang telah membuat kebisingan.
"Dasar wanita licik", gerutu Alfian sambil memukul setir, saat dia sedang menunggu pergantian lampu merah.
Tit... Tit...
Suara klakson mobil di belakang Alfian telah membuyarkan lamunannya. Lalu dia bergegas melajukan kendaraannya, agar pengemudi di belakang tidak membuat kerusuhan.
Sepanjang perjalanan Alfian menyetir matanya tetap fokus menyusuri jalanan yang macet, meskipun sesekali dia melirik ke arah ponselnya. Saat layar ponselnya menyala, dengan cepat Alfian menyentuh dan menggeser layar ponselnya. Raut kecewa tampak di wajah Alfian saat pesan yang masuk bukanlah dari seseorang yang dia tunggu sedari tadi.
Citttt...
Alfian menginjak rem mendadak saat dia baru saja membelokkan kendaraannya di tikungan menuju apartemennya. Hampir saja dia menabrak seorang ibu yang tiba-tiba menyeberang dengan tidak hati-hati. Alfian turun dari mobil saat dia berhasil mengatur nafasnya yang tidak beraturan.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya Alfian sambil membantu sang ibu berdiri. Namun betapa kagetnya dia saat melihat wajah sang ibu yang hampir saja dia tabrak. "Ma... ?" ucapannya gagap dengan mulut sedikit menganga. Sang ibu langsung melepaskan tangan Alfian, lalu dia kembali berlari meninggalkan Alfian yang masih berdiri dengan termangu. Alfian berfikir sejenak, mencoba meyakinkan bahwa sang ibu tadi bukanlah orang yang dia kenal.
"Sepertinya bukan, pasti hanya mirip", gumamnya sambil berjalan dan masuk ke dalam mobil. Namun wajah wanita itu masih terngiang dipikirannya.
***
__ADS_1
Di sebuah ruangan yang terasa sunyi, karena tidak ada seorang pun yang dapat berinteraksi dengannya. Bahkan makanan yang semula hangat, sudah tidak menarik lagi untuk dinikmati karena telah diabaikan berjam-jam lamanya.
"Yunda... " panggil sang bunda memecah keheningan di dalam kamar Ayunda. "Ayo, makan dulu nak. Nanti kamu bisa sakit kalau tidak mengisi perutmu", ujar sang bunda dengan lembut sambil berjalan menghampirinya dan membawa makanan baru yang masih hangat. Sang bunda meletakkan sepiring makanan di tangannya di atas nakas, lalu dia membujuk Ayunda untuk duduk bersandar di tempat tidur.
"Bunda, Yunda bisa melakukannya sendiri", ujar Ayunda dengan suara parau. "Bunda istirahat saja ya", pinta Ayunda yang tidak ingin merepotkan sang bunda.
"Tidak bisa!" sahut sang bunda. "Lihat itu", tunjuknya pada makanan sebelumnya. "Kamu bahkan tidak menyentuhnya."
"Iya, iya Bun. Yunda janji akan segera memakannya", ujar Ayunda sambil menggeser selimut yang sedari tadi menutupi badannya. "Ini Yunda makan ya, bun", ucapnya. Lalu dia meraih piring di atas nakas dan memasukkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya, agar sang bunda percaya padanya. Sang bunda pun melihatnya dengan tersenyum.
"Putri kecilku... " ucap sang bunda dengan menghela nafas.
"Yunda sudah besar, bun" bantahnya sambil mengunyah makanan dimulutnya.
"Tapi kamu masih bertingkah seperti anak kecil", sahut sang bunda. Lalu tangan kanannya membelai lembut kepala Ayunda. "Bunda tahu kamulah yang paling hancur saat ayah dan bunda berpisah. Dan saat kamu mengetahui penyebab perceraian kami sebenarnya, cara pandang kamu pun berubah terutama pada ayah."
Sang bunda kembali menghela nafas. "Jika yang terjadi hari ini tidak sesuai dengan harapan kita, jangan kecewa ya, nak. Pasti Allah punya rencana yang lebih baik lagi", ucapnya melanjutkan.
"Betul itu", sahut Adrian yang baru saja masuk karena pintu kamar Ayunda terbuka. "Serahkan semua pada Allah, karena kakak baru saja menyelesaikan tugas itu", ucapnya lembut dengan tersenyum ke arah Ayunda.
"Yunda sangat beruntung memiliki bunda dan kakak", ucap Ayunda dengan rasa haru. "Yunda semakin yakin ayah pasti akan bersama dengan kita nantinya", seru Ayunda sambil tersenyum pada sang bunda dan Adrian.
Mereka pun kembali riang, hingga tidak terasa sepiring makanan di tangan Ayunda telah habis tak bersisa. Lalu sang bunda dan Adrian beranjak meninggalkan kamar Ayunda.
__ADS_1