
Sebuah panggilan telepon dari Dhany membuat Siska gugup. Dia menggeser tombol hijau di layar ponselnya dengan tangan gemetar.
"Ha-halo", sahut Siska. Lalu dia mendengarkan suara di ujung telepon.
"Iya,.aku akan datang", ucapnya dengan ketakutan.
Lalu sambungan telepon terputus.
Siska terdiam sesaat hingga ponsel ditangannya terjatuh barulah Siska tersentak. "Dia mau membunuh Zahra", ucapnya lirih.
Alfian mendelik. "Ayo, kita lapor polisi sekarang!" ujar Alfian dengan panik seraya membuka pintu, karena hanya tinggal melangkah saja kantor polisi ada dihadapan mereka.
"Jangan", sahut Siska lirih. "Dia akan melakukannya.jika kita melapor polisi. Jadi jalan satu-satunya, aku harus menemuinya", ucap Siska.
"Oke, kita pergi sekarang" sahut Alfian yang tidak ingin mengulur-ulur waktu, namun jarinya sudah mengirim GPS ke seseorang.
***
Butuh waktu 1 jam untuk mereka tiba dilokasi yang sudah dikatakan oleh Dhany.
Alfian dan Siska turun dari dalam mobil. Mereka pun terbelalak saat melihat sebuah gudang kumuh yang ada dihadapan mereka.
Dengan was-was Alfian dan Siska melangkah masuk ke dalam gudang.
"Zahra..." panggil Alfian di dalam kegelapan yang sunyi.
"Dhany dimana kau?" teriak Siska hingga suaranya menggelegar di dalam gudang tua itu.
Ha...ha... Suara tawa seorang pria pun menyambut mereka. "Akhirnya pasangan suami istri idaman ini datang juga", ledeknya.
"Mana putirku Zahra?" tanya Siska dengan suara lantang.
"Eits, ada yang salah dengan ucapanmu", sahut suara Dhany dari tempat persembunyiannya. "Aku ralat ya, putri kita Zahra. Nah, itu yang benar. Ha... Ha..." Dhany kembali tertawa.
Alfian mencuri kesempatan disela perbincangan keduanya, dia pun melangkahkan kakinya dengan mengendap-endap mencari sumber suara. Sorot mata Alfian akhirnya melihat sebuah penerangan tampak di sebuah ruangan yang ada di ujung gudang. Dengan berhati-hati Alfian berjalan menuju ruangan tersebut. Dan benar saja Dhany ada di dalam bersama dengan Zahra. Namun Dhany sedang memegang senjata ditangan kanannya.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali?" ucap Alfian bergumam yang sedang menunggu orang suruhannya datang ke tempat itu, karena dia telah share lokasi itu sebelumnya.
Alfian kelabakan saat kembali mengintip, namun Dhany sudah tidak lagi berada di posisinya. "Kemana ..." Alfian menggantung ucapannya saat sebuah senjata ditodongkan tepat dikepalanya. Alfian pun mengangkat kedua tangannya menunjukkan bahwa dirinya menyerah.
"Mau jadi pahlawan ya? Tapi sayang kau kalah sebelum berperang!" ledek Dhany sembari menodongkan senjata. "Ayo berdiri!" teriak Dhany yang dapat di dengar oleh Siska. Lalu Dhany menendang tepat di bokong Alfian. "Jalan!" ucapnya memberi perintah.
"Kau di mana sayang?" tanya Siska saat tidak menemukan keberadaan Alfian didekatnya.
"Aku di sini sayang", sahut Dhany sambil tertawa renyah. "Apa kau merindukanku?"
Siska mendelik. "Berarti Alfian dalam tahanan Dhany", ucapnya bergumam. "Dhany lepaskan mereka!" seru Siska.sambil mengedarkan pandangannya ke sembarang arah. Minimnya penerangan membuat Siska takut untuk melangkahkan kakinya
Tony bersama orang suruhan Alfian lainnya tiba di gudang. Dengan sigap mereka memencarkan diri menyusuri gudang tua itu. Tony sebagai pemimpin di antara mereka maju lebih dulu, hingga dia tiba di tempat Dhany dan Alfian berada. Tanpa aba-aba, Tony lebih dulu masuk dengan menodongkan senjata yang dia dapat dari kakek Alfian.
"Cih, ternyata pahlawan kita bawa teman", ejek Dhany seraya menggendong Zahra yang sedang menangis. "Silakan tembak aku!" Dhany mengolok-olok Tony yang sudah membidiknya.
Dor.
Suara letusan senjata api mengagetkan semua orang yang ada dalam gudang itu. Siska pun berteriak histeris seraya menutup rapat telinganya.
Alfian memberi kode pada Tony agar dia segera mundur. Tony pun melakukan sesuai perkataan Alfian. Saat Dhany melihat jalannya sudah di buka, dia langsung melangkah perlahan tanpa menurunkan senjaa ditangannya.
"Sampai jumpa", ucqp Dhany saat berhasil melewati Tony. Lalu dia menggendong Zahra dan berjalan menuju pintu keluar gudang.
Siska yang semula berjongkok, akhirnya bangkit dan mengikuti langkah Dhany. "Lepaskan Zahra!" teriak Siska dengan rasa takut.
"Ayo, ikut bersama denganku sayang", ajak Dhany sembari menjulurkan tangannya. Namun Siska menepisnya. Dhany langsung menodongkan senjata ke arah Siska. Dengan gemetar Siska memohon.
"Tolong jangan lakukan", pinta Siska sembari mengatupkan kedua tangannya. "Aku menyayangimu."
"Cih, bulshit. Kau pikir aku akan percaya lagi pada omonganmu. Kau itu egois. Semua kata manismu padaku hanya demi mencapai.tujuanmu saja! Sekarang kau hanya akan mendengarkanku saja! Sampai jumpa di neraka, sayang." Dhany menarik pelatuk senjatanya tepat di kepala Siska.
Dor.
Suara tangis Zahra pun semakin kuat. "Diamlah! Kau sama cerewetnya dengan ibumu. Lebih baik kaupun mengikutinya", ujar Dhany seraya meletakkan ujung senjata tepat di dada Zahra.
__ADS_1
Dor.
Sebuah peluru mengenai tepat di dada Dhany. Zahra pun terlepas dari gendongannya. Dengan cepat Tony menyambut Zahra sembari menyaksikan tubuh Dhany yang baru saja jatuh ke lantai. Polisi yang baru saja menembaknya langsung menghampiri Dhany dan membawanya ke rumah sakit.
"Zahra..." panggil Alfian. Lalu Alfian mengambil Zahra dari pangkuan Tony. "Syukurlah kau baik-baik saja, nak", ucap Alfian sambil menciumi Zahra.
"Papa", panggil Zahra dengan terisak. Tubuh gemetarnya memaksa Alfian untuk meninggalkan tempat itu. "Zahra mau permen?" tanya Alfian mengalihkan perhatian Zahra. Dia tidak ingin Zahra menjadi trauma karena telah menyaksikan suatu kejahatan di depan matanya.
"Lapar papa", ucap bibir mungilnya.
"Ayo, kita makan enak", ajak Alfian dengan riang.
"Ayo, mama..."
Alfian terdiam sesaat, dia mengerti maksud ucapan Zahra. "Iya, mama nanti datang."
"Mama... Mama..." rengek Zahra.
Alfian memeluk erat Zahra sambil meneteskan air mata. "Kita pesan dulu makanannya, nanti mama nyusul", bujuk Alfian yang berhasil.membuat Zahra tenang.
***
Di dalam kamar Ayunda berjalan dengan uring-uringan. Dia terus memikirkan alasan yang tepat, agar kedua orang tuanya memberinya izin bekerja di luar negeri.
Tok. Tok.
Ayunda bergegas membuka pintu kamarnya.
"Yunda. Coba lihat berita!" pinta sang kakak dengan panik saat baru saja membuka pintu.
"Ada apa sih, kak?" tanya Ayunda yang masih pusing dengan masalahnya sendiri. Rasanya dia tidak berminat untuk menonton atau bahkan mengurusi masalah orang lain.
"Lihat saja dulu!" ucap Adrian berdecak kesal.
Ayunda pun terpaksa mengikuti perintah sang kakak. Dengan sedikit rasa malas dia membuka laptopnya dan mencari siaran berita yang disebutkan oleh sang kakak. Seketika mata Ayunda terbelalak saat menonton berita kematian Ssika. Ayunda merasa tidak yakin atas pemberitaan kematian Siska tersebut. Dia meminta sang kakak menghubungi Alfian.
__ADS_1
"Kakak sudah melakukannya sebelum kau memikirkannya.", ujar Adrian. "Kayaknya Alfian syok, makanya dia tidak memperhatikan ponselnya."