
Alfian baru saja memutus sambungan telepon saat suara ketukan pintu mengalihkan pandangannya.
"Masuk", seru Alfian.
Tya berjalan masuk dengan membawa beberapa dokumen ditangannya.
"Pak, ini berkas yang bapak minta", ucapnya sambil membawanya ke hadapan Alfian.
"Oke, letakkan di sana", sahut Alfian menunjuk dengan isyarat tangan.
"Baik, pak", sahut Tya sopan, lalu meletakkan dokumen di atas meja. "Ehm, Pak... tadi bu Winda datang. Apakah bu Winda boleh bertemu dengan bapak sekarang?" tanyanya dengan sedikit ragu.
"Apa dia mengatakan tujuannya?" tanya Alfian.
"Tidak, pak. Bu Winda hanya berpesan, agar menghubunginya saat bapak tidak sibuk", sahut Tya menjelaskan.
"Memangnya kapan aku terlihat santai?" tanyanya yang membuat Tya gugup.
"Ehm, bukan seperti itu maksudnya pak" jawab Tya yang mulai kelabakan.
"Puft... Aku cuma bercanda", ujar Alfian sambil menahan tawanya.
Tya pun mendengus kasar, hampir saja dia jatuh pingsan. Dia mengira sang atasan sedang mengalami masalah berat, hingga melampiaskan kemarahan pada dirinya.
"Oke, suruh dia kemari", pinta Alfian sambil memandang wajah pucat Tya.
"Ba...baik, pak", sahut Tya. Lalu bergegas ke luar dari ruangan Alfian.
Tidak butuh waktu yang lama, Winda sudah berada di depan pintu. Dia pun langsung menghampiri Alfian.
"Ada apa?" tanya Alfian saat melihat wajah Winda yang seperti kebingungan.
"Kau mungkin tidak akan percaya jika aku katakan", ucap Winda yang membuat Alfian mengernyitkan keningnya.
"Bagaimana aku percaya, jika belum kau katakan", sahut Alfian dengan berdecak kesal.
Winda semakin mendekati Alfian, lalu memegang pundaknya. "Tapi ini benar-benar mustahil", ucapnya sambil berpikir.
Alfian menghempaskan tangan Winda yang bertopang padanya. "Katakan dengan jelas, aku masih punya pekerjaan lain", ucap Alfian yang semakin kesal dengan Winda.
"Aku bertemu mama", ucapnya sambil mencengkram kedua lengan Alfian.
"Aww... hentikan", pinta Alfian yang merasakan sakit. Lalu Winda melepaskan cengkramannya.
"Di mana kau bertemu dengan tante?" tanya Alfian sambil mengelus lengannya yang masih terasa sakit.
"Setelah persimpangan jalan menuju kantor kita", sahut Winda.
Alfian berfikir sejenak. "Aku juga pernah bertemu seorang wanita yang sangat mirip dengan tante. Tapi tempatnya berbeda", ucap Alfian saat mengingat kejadian itu.
"Di mana kau bertemu mama?" tanya Winda dengan mendesak.
"Di jalan menuju apartemen kita", sahut Alfian.
"Aku yakin itu pasti mama", seru Winda. " Ayo kita pergi mencarinya", pinta Winda sambil menarik paksa tangan Alfian, namun Alfian menahan tubuhnya agar tidak dapat di tarik Winda.
"Tenangkan dirimu dulu." Alfian menepuk pelan punggung tangan Winda. "Apa kau lupa jika tante sudah tiada?" tanya Alfian dengan hati-hati.
Winda terdiam sesaat, lalu dia menatap Alfian dengan rasa kecewa. "Jadi kau tidak percaya bahwa itu mama?" Winda melepaskan tangan Alfian dengan emosi.
__ADS_1
"Oke... baiklah. Aku akan membantumu mencarinya sampai ketemu, tapi tidak sekarang." Alfian mencoba membujuk Winda. "Akan aku beritahu kapan waktunya."
Winda menatap Alfian dengan serius. "Janji?"
"Ya, aku janji", sahut Alfian.
"Oke", ucap Winda. Lalu dia berjalan ke luar, meninggalkan Alfian yang masih berdiri sambil memikirkan sesuatu di dalam benaknya.
***
Setelah seharian Alfian berkutat dengan laptop di hadapannya, akhirnya mata lelahnya memaksa Alfian untuk menghentikan pekerjaannya itu.
"Sayang... sudah dong. Ayo kita makan", ajak Siska pada Alfian seakan mereka adalah pasangan yang mesra.
Alfian bergidik ngeri. Dia pun mempercepat menyelesaikan pekerjaan kantor yang seharusnya dia selesaikan di kantor, namun dia bawa pulang ke rumah agar Tony bisa membantunya.
Kesibukan Alfian telah membuat dia lupa memenuhi janjinya memberikan kamar untuk Tony. Dia membiarkan Tony tidur di sofa hanya supaya Siska tidak bisa bebas di apartemennya. Tony yang sudah mengetahui hubungan Alfian dan Siska, tidak ingin mencampurinya meskipun dia tahu bahwa Alfian juga memiliki hubungan dengan Ayunda.
"Sayang...", rengek Siska dengan suara manja. Namun Alfian mengabaikannya. Dia langsung membawa laptop dan semua dokumen masuk ke dalam kamar tanpa menoleh ke arah Siaka.
Tony hanya berdiri canggung, saat melihat Siska melempar sendok yang sudah ditatanya rapi di atas meja makan. Bahkan makanan yang sudah dia pesan melalui online tersebut harus berakhir di tong sampah.
Dalam kemarahan Siska masuk ke kamar sambil membanting pintu, yang membuat Tony tersentak kaget.
Aku di mana, aku kenapa, batin Tony.
Berada di tengah-tengah pasutri aneh ini, membuat Tony harus melatih jantungnya setiap hari.
***
Setelah dua minggu berlalu, semua pekerjaan Alfian sudah kembali normal. Tidak perlu lagi dia membawa pulang pekerjaannya. Namun ada satu masalah yang belum diselesaikannya, yakni mencari pengganti Tya. Sampai hari ini belum ada kandidat yang cocok untuk menggantikan Tya.
Ceklek...
"Alfian...", panggilnya sambil menangis. Lalu berlari menghamburkan dirinya dipelukan Alfian.
"Kenapa lagi?" tanya Alfian dengan menaikkan kedua alisnya.
"Adrian", seru Winda dengan terisak. "Bisa-bisanya dia tidak mengundangku", rengeknya.
"Adrian menikah?" tanya Alfian saat melihat raut kesedihan Winda.
"Bukan.." jawabnya singkat.
"Lha, trus kenapa?" tanya Alfian yang mulai kesal.
"Hari ini acara pembukaan restoran bundanya, tapi dia tidak mengundangku. Dia malah memilih Conny untuk mendampinginya", sahut Winda kesal.
"Ehm, kirain..." Alfian berdehem. Dia mengira bahwa Winda sedang menagih janjinya.
"Kirain apa?" tanya Winda dengan tatapan emosi. "Apa kau menginginkan Adrian benar-benar menikah?" Winda terus mencecar Alfian.
"Bukan itu... Kau tenanglah dulu", pinta Alfian.
Winda pun mendengus kasar memberikan ruang pada dadanya yang sesak.
"Ayo, kita ke sana", ajak Alfian sambil merapikan jasnya.
"Tapi kita tidak di undang", sahut Winda.
__ADS_1
Alfian seakan mengingat satu hal. Dia langsung menarik laci mejanya, lalu meraih sesuatu di dalamnya. "Ini bukankah undangan?" tanya Alfian yang membuat amarah Winda kembali memuncak.
"Apa! Kenapa hanya kau yang dia undang?" tanya Winda penuh emosi.
"Sudah... jangan di bahas lagi, oke. Sekarang yang penting kita punya undangannya, berarti kita boleh datang ke sana", ucap Alfian sambil memberikan undangan di tangannya kepada Winda.
Winda menautkan alisnya saat melihat nama yang tertera pada undangan. "Alfian and partner", gumamnya. "Berarti kau harus datang bersama Siska, dong", ucap Winda.
Alfian mendelik. "Apakah dia temanku?" tanya Alfian yang membuat Winda tersenyum.
"Nah, gitu dong. Jangan marah-marah terus, entar cepat tua", seru Alfian yang membuat Winda semakin mengembangkan senyumannya.
"Dasar aneh, di bilang tua semakin senang", gumamnya.
"Barusan ngomong apa?" tanya Winda.
"Gak, aku cuma mau bilang... Kau cantik kalau tersenyum", ucap Alfian berbohong.
"Terimakaaih", balas Winda sambil meraih compact powder dari dalam saku blazernya, yang sempat dia bawa saat pergi ke toilet. Lalu memperhatikan pantulan wajahnya pada cermin kecil ditangannya.
"Cih, dasar wanita", ucap Alfian.
"Emang", balas Winda.
"Jadi ikut, gak?" tanya Alfian yang masih menunggu Winda memperbaiki riasannya.
Ceklek...
"Ayo", ucap Winda bersamaan dengan pintu di buka oleh seseorang.
"Kemana?" tanya Siska saat dia baru saja masuk ke dalam ruangan Alfian.
"Bukan urusanmu!" sergah Alfian dengan melangkahkan kakinya, lalu mendorong Siska menjauhi pintu. Namun Siska mencoba bertahan.
"Tapi ini akan menjadi urusanmu!" seringai Siska sambil menunjukkan sebuah amplop yang ada ditangannya.
Saat Alfian hendak pergi mengabaikannya. Siska langsung menariknya, hingga mereka terus berdiri di ambang pintu.
"Aku hamil", seru Siska saat dia sudah tidak dapat lagi menahan kepergian Alfian.
Alfian, Winda dan Tya pun terkesiap. Mereka seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar. Tya menjatuhkan gagang telepon yang sempat dia pegang. Winda pun menjatuhkan compact powder yang hampir masuk ke dalam saku.
Lalu Alfian mendorong kasar Siska masuk ke dalam ruangannya. "Apa maksudmu?" sergahnya.
Siska kembali memberikan surat ditangannya kepada Alfian. "Lihatlah", pintanya.
Alfian meraihnya dan membaca isi surat itu. Kemudian matanya terbelalak saat membaca kata positif.
"Cih, apa kau pikir bisa menipuku!" Alfian melempar surat itu kehadapan Siska.
"Jika tidak percaya, kau boleh membawaku sekarang ke dokter yang dapat kau percayai", tantang Siska.
Alfian terdiam sesaat, lalu dia mengingat pesan dari sang kakek saat mereka berbincang melalui sambungan telepon.
"Oke, ayo kita ke dokter", ajak Alfian pada Siska
"Aku gimana?" tanya Winda yang sedari tadi diam mendengarkan ke dua saudaranya itu berdebat.
"Kau bisa pergi bersama Tony. Nanti aku beritahu dia", sahut Alfian. Lalu dia pergi bersama Siska dan meninggalkan Winda yang masih berdiri dengan wajah bingung.
__ADS_1
Setelah kepergian Alfian dan Siska, Winda pun melangkahkan kakinya ke luar. Dia ingin menemui Tya teman bergosipnya, untuk membicarakan berita panas pagi itu.