
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Adrian dan sang bunda baru saja masuk ke dalam rumah dengan wajah lelahnya, lalu Adrian bergegas duduk di sofa. "Huft, kalau tahu di tunda besok, aku tak akan datang", ucapnya kesal sambil membuang nafas berat.
"Yang sabar, Nak. Besok kita pergi lagi", sahut sang bunda yang juga ikut duduk di sofa.
"Tapi, Bun... "
"Sudah! Tinggal nunggu besok, doang." Sang bunda memotong ucapan Adrian, tak ingin Adrian mempersoalkannya lagi.
Adrian mendengus kasar. "Ya, Bun. Semoga besok gak di tunda lagi!" serunya sambil bangkit dari sofa. "Adrian ke kamar dulu ya, Bun", ucapnya sambil melangkah meninggalkan sang bunda.
Sang bunda mengangguk, "ya, nak", balasnya, saat Adrian sudah berjarak beberapa meter dari sang bunda.
Baru saja sang bunda bangkit berdiri dari sofa, Ayunda masuk setelah membuka pintu sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum... bunda", sapanya dengan berlari kecil menghampiri sang bunda yang akan melangkahkan kakinya.
Sang bunda berbalik, lalu menyambut Ayunda yang langsung memeluknya. "Kamu sudah makan, Nak?" tanya sang bunda padahal jam sudah menunjukkan pukul 2.15.
"Hem, bunda. Apa bunda belum makan?" Ayunda balik bertanya setelah melepas pelukannya. Sang bunda pun mengernyitkan keningnya, atas pertanyaan Ayunda. "Ini sudah jam berapa, Bun?" tanyanya kembali dengan tersenyum.
"Oh, iya. Mungkin bunda kurang fokus", sahut sang bunda dengan tersenyum.
"Bunda pasti mikirin ayah, kan?" tanyanya dengan tersenyum meledek.
"Kamu itu ya, mau tau aja urusan orang tua!" seru sang bunda dengan melanjutkan langkahnya.
"Bunda... tunggu." panggilnya sambil menyusul langkah sang bunda. "Maksud Yunda bukan seperti itu, Bun", ucapnya saat langkahnya telah sejajar dengan sang bunda, yang memaksa sang bunda menghentikan langkahnya.
"Hem, apa lagi nak?" tanya sang bunda dengan membalikkan badannya memandang Ayunda.
Ayunda memandang sang bunda dengan tersenyum. "Kak Alfian mau membantu kita untuk menemukan bukti yang menunjukkan ayah tak bersalah, Bun!" seru Ayunda dengan girang.
__ADS_1
"Benarkah? Baguslah kalau begitu." sahut sang bunda. "Bunda tahu nak Alfian adalah orang baik. Sebenarnya dia memecat kakakmu hanya karena permintaan sang kakek. Dia tidak akan tega melakukan itu pada kakakmu", ucap sang bunda dengan wajah serius.
"Ya, Bun. Kak Alfian tidak berubah. Dia masih orang yang baik", balas Ayunda masih dengan tersenyum, sang bunda pun ikut tersenyum.
***
Ferdo baru saja akan masuk ke dalam apartemennya saat Siska menyerobot masuk ke dalam, setelah keluar dari persembunyiannya. Ferdo mendengus kasar, lalu meminta Siska segera ke luar dari apartemennya.
"Aku minta Kau keluar, sekarang!" seru Ferdo dengan nada tak ramah.
Siska bergeming, tak beranjak dari posisinya berdiri. "Aku tak akan keluar. Kau tak pernah mengizinkanku masuk!" serunya seperti anak kecil yang merengek saat tak ingin melakukannya.
Ferdo mengusap kasar wajahnya. "Tolong! Aku tak ingin wanita yang tidak aku sukai ada di apartemenku!" serunya masih dengan nada emosi.
Siska mendelik tak percaya, Ferdo telah mengucapkan kata selugas itu padanya. "Aku tunanganmu!" seru Siska dengan wajah memerah, karena menahan emosi. "Yang artinya calon istrimu!" ucapnya dengan emosi yang tertahan. "Jadi aku berhak atas tempat ini!" ucapnya melanjutkan.
"Cih, Kau tak punya hak sedikit pun di sini!" sahutnya. "Keluar, sebelum di usir dengan cara yang memalukan!" Ferdo menunjuk ke arah luar, lalu dia masuk ke dalam untuk menghubungi bagian keamanan. Begitu Siska mendengarnya, dia langsung ke luar dengan kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Setelah Siska berada di luar, Ferdo bergegas menutupnya sebelum Siska mengurungkan niatnya untuk masuk kembali.
*
Berbeda dengan Siska, dia merengut sambil meraih ponsel di dalam tasnya. "Lihatlah, Kau akan menyesali telah mengusirku", seringai Siska. Lalu dia menghubungi sang kakek.
"Hallo, Kek", sahutnya saat sang kakek menyapanya dari seberang telepon.
"Ya, ada apa?" tanya sang kakek.
"Kakek, Ferdo sudah mengusirku dari dalam apartemennya. Padahal aku ini kan tunangannya", rengeknya.
"Oke, kakek akan meneleponnya", sahut sang kakek.
"Tunggu dulu, Kek... gimana kalau pernikahan kami saja yang di percepat?" Siska memberi saran dengan menyeringai.
"Hem, oke. Kakek akan minta pada papamu supaya 2 minggu lagi pernikahan kalian dilangsungkan", balas sang kakek dengan menghela nafas. Namun sebenarnya dia kesal dengan keinginan Siska.
__ADS_1
"Serius, kek?" tanyanya dengan girang.
"Ya", balas sang kakek singkat.
"Terima kasih, kek. Kalau begitu Siska mau ke butik dulu, ya." Siska berucap dengan bahagia, lalu dia mengakhiri percakapannya di telepon dengan sang kakek.
"Akhirnya!" serunya dengan girang, saat baru saja memutus sambungan telepon. Lalu dia beranjak dari depan pintu apartemen Ferdo.
***
Adrian duduk di meja kerjanya sambil membolak-balik berkas yang ada di hadapannya.
Krek.
Pintu ruangan Adrian terbuka sebagian, Ayunda pun muncul dari balik pintu. "Hai, Kak", sapanya sambil berjalan menghampiri Adrian. "Lagi sibuk, Kak?" tanyanya saat melihat tumpukan kertas di meja kerja sang kakak, lalu menarik kursi sambil duduk dihadapan sang kakak.
"Hem, ada apa?" Adrian bertanya tanpa menatap Ayunda. Dia terlalu fokus pada berkas yang masih di bolak-baliknya.
Ayunda tersenyum sambil memandang sang kakak yang masih sibuk. "Kak... tadi siang Yunda bertemu dengan kak Alfian", ucapnya. Spontan Adrian menghentikan aktifitasnya, lalu beralih memandang Ayunda sambil menunggu Ayunda melanjutkan ucapannya.
"Kak Alfian janji sama Yunda, kalau dia akan membantu kita mencari bukti untuk menunjukkan ayah tidak bersalah", tuturnya dengan tersenyum yang membuat Adrian mengernyitkan keningnya.
Ayunda masih menunjukkan senyum, namun sang kakak diam seakan mencoba memahami ucapan sang adik. "Maksudnya?" tanya Adrian.
"Huft, maksudnya apa, Kak? Apa kurang jelas yang Yunda sampaikan? Ayunda balik bertanya dengan kesal.
"Ya, Kakak paham. Tapi, apa kamu yakin Alfian akan membantumu atau dia hanya mencoba membuat kamu tenang", sahut Adrian.
"Ya, dong Kak. Kak Alfian tak akan berbohong", balas Ayunda dengan menatap serius Adrian.
Adrian menghela nafas berat. "Oke, semoga saja, dia benar-benar membantu", sahutnya, kemudian kembali fokus pada laptop di hadapannya.
"Kakak sibuk banget, ya? Dari tadi cuma mandangin laptop. Sekali-kali pandang adiknya yang imut ini dong", ujarmya yang membuat Adrian melirik sekilas, lalu kembali fokus pada layar laptop.
"Jadi Yunda itu imut, ya?" ucap Adrian masih dengan mengotak atik keyboard. "Hem, iya beneran imut", balasnya saat baru saja menatap Ayunda kurang dari 1 menit.
__ADS_1
"Hem, kak Adrian gak iklas banget!" serunya dengan kesal. "Kalau gitu Yunda ke ruang makan aja deh, bunda lebih iklas masakin makan malam yang enak", ujarnya sambil menjulurkan lidahnya, lalu beranjak meninggalkan sang kakak yang tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.