
Malam ini menjadi saksi keseriusan Alfian dalam mencintai wanita yang tak pernah dia lupakan sejak 15 tahun yang lalu. Meskipun netra Alfian fokus menyetir, namun sesekali dia melirik ke arah Ayunda yang duduk disampingnya.
"Lihat kedepan!" seru Ayunda tanpa menoleh ke arah Alfian. Dia bisa merasakan pria yang sudah melamarnya itu sedang memperhatikannya.
"Kakak memang sedang melihat masa depan!"
"Jangan kebamyakan gombal, entar hambar."
"Kakak tahu biar gak hambar", balas Alfian. "Kita harus mengubah panggilan masing-masing", lanjutnya.
"Tapi panggilan yang sekarang juga bagus kok, kak."
"Kakak ini bukan saudara Yunda, tapi calon suami. Jadi kenapa harus di panggil kakak?"
"Jadi maunya di panggil apa?"
"Hubby, bisa di singkat bi. Bagaimana, bi?"
"Yakin mau di panggil seperti itu?" tanya Ayunda yang membuat Alfian bingung. "Dua huruf itu ada di dalam nama Abian lo!"
Alfian terdiam sesaat. Dia mencoba menelaah maksud perkataan Ayunda. "Gak masalah. Yang penting sebutan hubby itu untuk calon suamimu ini."
"Kak Adrian dan kakak ipar juga saling memanggil dengan sebutan itu! Entar mereka bingung kalau kita sama-sama memanggil."
"Oh ya? Kalau begitu bantu mikir dong, Yunda", ujar Alfian yang kehabisan ide.
"Kalau menurut kakak itu harus, bagaimana kalau panggilan honey.."
"Setuju, han."
"Tapi kenapa Yunda merasa panggilan itu terlalu berlebihan ya kak?"
"Menurut kakak tidak. Coba Yunda mulai dari sekarang."
"Oke, han."
Alfian tersenyum kala mendengar sebutan baru Ayunda padanya. "Nah itu kan bagus, han."
Ayunda terpaksa menuruti keinginan calon suaminya itu, sampai ada ysng menegur mereka nantinya.
Alfian melajukan kendaraannya membelah jalanan yang masih tampak ramai itu dengan persaan bahagia. Hari ini setelah lamaran yang dia nyatakan, maka hubungannya dengan Ayunda akan semakin lebih dekat lagi.
Cit.
Suara decitan ban mobil membuat Ayunda kaget.
__ADS_1
"Ada apa kak?" tanya Ayunda yang tahu bshwa tempat tinggalnya masih berjarak beberapa meter lagi.
"Sepertinya tadi ada sesuatu di depan."
"Jangan keluar han! Bisa jadi itu jebakan. Akhir-akhir ini marak terjadi tindakan kejahatan", ujar Ayunda yang tanpa dia sadari Alfian menatapnya dengan tersenyum bahagia
"Oke, honey." Alfian mencoba mundur perlahan dan menyalakan lampu jarak dekat.
"Tidak ada apa-apa", ucap mereka hampir bersamaan. Kemudian Alfian melanjutkan perjalanan mereka yang tinggal beberapa meter itu.
Sepeninggal mereka, sosok bayangan tampak di celah pohon di tepi jalan.
Alfian menghentikan kendaraannya tepat di halaman rumah Ayunda.
"Yunda kuatir dengan apa yang terjadi tadi, han. Bisa jadi memang ada orang yang dengan sengaja menghalangi jalan kita tadi."
"Gak perlu kuatir han. Calon suamimu ini pemegang sabuk hitam."
"Yunda takut orang itu menyerang tiba-tiba. Bagaimana kalau honey minta mas Tony datsng untuk menjemput."
"Tony sudah direpotkan sedari tadi. Lagipula honey gak perlu kuatir. Ada Allah yang selalu melindungi."
"Baguslah kalau honey berkata seperti itu. Kalau begiitu hati-hati di jalan ya han", ujar Àyunda sembari keluar dari dalam mobil.
"Jangan-jangan memang ada yang sedang mengintai kak Alfian", ucap Ayunda bermonolog.
Tok. Tok.
"Siapa?" tanya Ayunda dari dalam kamarnya.
"Ini kak Adrian."
"Ada apa tengah malam begini kakak mengetuk pintu kamar Yunda."
"Azzam, tiba-tiba demam tinggi. Kakak dan kakak iparmu mau ke rumah sakit. Tolong nanti kamu beritahu ayah dan bunda ya, kakak tidak mau mengganggu istirahat mereka."
"Oke, kak. Nanti Yunda sampaikan ke ayah dan bunda", ujar Ayunda sembari keluar dari dalam kamarnya.
"Oke, dek. Kami langsung berangkat."
Ayunda mengantarkan kepergian keluarga sang kakak hingga di depan pintu. Lalu dia mencium lembut kening Azzam yang berada dalam pangkuan Winda. "Ya, Allah. Panas banget. Cepat sembuh gantengnya tante."
__ADS_1
"Kami pergi dulu. Assalamualikum..."
"Waalaikumsalam .."
Ayunda langsung menutup rapat pintu dan menguncinya. Lalu dia berjalan menuju kamarnya. Setelah berada di dalam kamarnya Ayunda kembali meraih ponselnya di atas nakas.
"Kenapa belum ada balasan dari kak Alfian", ucap Ayunda yang semakin khawatir. Lalu dia mencoba menghubunginya, namun kali ini ponsel Alfian tidak aktif. Ayunda meletakkan kembali ponselnya dengan berdecak kesal.
Mentari pagi menghangatkan setelah hujan yang datang hanya dalam beberapa menit subuh tadi. Ayunda tak tahu kapan dia benar terlelap, namun sinar mentari pagi yang menyeruak masuk melalui celah jendela kamarnya memaksanya untuk segera bangkit dari tempat tidur.
"Kenapa pagi begitu cepat?" ucap suara paraunya seraya menguap lebar. Lalu dia menggeser tubuhnya dan turun dari tempat tidur. Dengan buru-buru dia masuk ke dalam kamar mandi.
Byur. Byur.
Suara guyuran air menunjukkan betapa kilatnya Ayunda hendak menyelesaikan ritual mandinya.
Hanya dalam waktu 5 menit Ayunda sudah keluar dari kamar mandi. Lalu dia buru-buru mengenakan pakaian kantor yang baru saja dia ambil dari dalam almari. Tangannya meraih ponsel yang terletak di atas nakas. Langkahnya terburu-buru, namun jarinya sibuk menscroll ponsel di tangannya yang banyak sekali panggilan tak terjawab itu.
"Kenapa kak Adrian menelponku berkali-kali, apa sesuatu yang serius terjadi pada Azzam?" gumamnya dengan rasa khawatir. Ayunda pun semakin mempercepat langkahnya menuju meja makan.
"Pagi ayah, bunda."
"Pagi nak. Apa tadi malam kakakmu memberitahu kalau mereka membawa Azzam ke rumah sakit?"
"Maaf, bun. Yunda telat bangun, jadi lupa beritahu ayah dan bunda", sahut Ayunda dengan rasa bersalah seraya duduk di salah satu kursi yang kosong.
"Iya, gak apa-apa. Tadi ayah dan bunda merasa aneh aja, kakak iparmu belum juga bangun. Biasanya dia bangun lebih pagi dari ayah dan bunda."
"Bagaimana kabar Azzam, bun?" tanya Ayunda sembari menelan mie goreng buatan sang bunda.
"Pagi ini demamnya sudah turun. Mungkin Azzam lagi tumbuh gigi, kakak dan kakak iparmu saja yang terlalu khawatir."
"Mereka takut menggsnggu tidur ayah dan bunda, makanya langsung pergi ke rumah sakit."
"Iya, kakakmu juga ngomong seperti itu. Tapi bunda sudah nasehatinya, agar lain kali jangan panik."
"Baiik, bun", ucap Ayunda sembari meraih segelas teh di atas meja.
Setelah menyesap habis segelas teh hangat ditangannya, Ayunda bangkit dari tempat duduknya dan berpamitan pada kedua orangtuanya. "Ayah, bunda pagi ini Yunda udah telat. Yunda berangkat dulu, ya", ujarnya sembari meraiih tas jinjing miliknya dari atas meja.
"Iya, nak. Hati-hati di jalan."
"Iya ayah, bunda", balas Ayunda dengan buru-buru.
__ADS_1
Ayunda melangkahkan kakinya menjauhi meja makan. Hatinya masih saja resah, karena belum mendapat kabar dari seseorang Apa yang terjadi pada kak Alfian, kenapa masih belum ada kabar darinya. Batin Ayunda yang terus bertanya-tanya.