Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Memikul Tanggung jawab


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Adrian, Winda dan Ferdo telah tiba di Paris. Mereka beruntung karena ada penerbangan di siang hari, sehingga mereka bisa tiba di pagi hari. Namun mereka tidak dapat mengikuti proses pemakaman, karena pihak keluarga telah selesai melakukannya. Winda berlari dengan menangis histeris, menghampiri tanah gundukan merah yang masih basah itu. Dia menyesal , karena tidak bisa melihat sang mama untuk terakhir kalinya.


"Adrian", ucapnya lirih.


"Kamu yang tabah ya, semoga almarhumah husnul khotimah", ucap Adrian dengan lembut.


Winda menganggukkan kepalanya dengan lesu. Matanya yang sembab dan denyutan di kepalanya membuat Winda tak berdaya lagi. Dia seakan kehilangan harapan untuk hidup, meskipun pernah mengalami kehilangan satu kali. Saat kepergian sang papa 10 tahun yang lalu, dia bahkan tidak berbicara selama seminggu pada siapa pun. Namun kesabaran sang mama yang selalu menemani dan menghiburnya, akhirnya membuat Winda mampu untuk mengikhklaskannya.


Winda kembali terisak. "Kalau semua sudah pergi, siapa yang akan menemaniku?" tanyanya dengan lirih.


"Jadi, Kau tidak menganggapku? Apa aku bukan saudaramu lagi?" tanya Ferdo menatap Winda dengan haru. "Bahkan kita juga masih punya kakek.", Ferdo melanjutkan ucapannya untuk menenangkan Winda.


"Tapi itu beda." Suara parau Winda yang terdengar membuat Adrian dengan sigap menyodorkan minum pada Winda.


"Ayo, di minum dulu", ucap Adrian saat baru saja membuka tutup botol air mineral di tangannya.


Winda membuka mulutnya dengan malas, namun botol air minum sudah berada di ujung bibirnya. Winda pun langsung membuka lebar mulutnya dan hanya meneguk sedikit air. "Sudah", ucapnya dengan mendorong botol di tangan Adrian.


"Oke", balas Adrian singkat. Lalu Adrian membujuk Winda untuk beristirahat di rumah, namun Winda langsung menolak ajakannya. Adrian pun pasrah, dengan penuh perhatian dia menunggu sampai Winda merasa lelah dan memintanya sendiri untuk pulang. Sorot mata Adrian tetap mengawasi Winda. Dia terus berjaga-jaga, karena kondisi fisik Winda yang lemah, jangan sampai Winda jatuh pingsan.


Ferdo yang tidak sabar menunggu Adrian dan Winda, berpamitan lebih dulu. Dia meninggalkan Adrian yang tetap setia menemani Winda.


***


Sebuah berita yang menggemparkan kampus Tri Karya, membuat para barisan sakit hati Sherly tertawa bahagia. Kabar yang dengan cepatnya beredar membuat Sherly harus menutup wajahnya saat akan berjalan ke parkiran kampus.


Tidak hanya para mahasiswa, dosen yang sering mendapat ancaman Sherly juga ikut bernafas lega. Mereka sangat berterima kasih pada pemilik saham yang baru. Entah apa yang sudah di lakukan oleh pemilik saham yang baru itu, hingga dalam 1 hari kampus Tri Karya sudah tidak sepenuhnya menjadi milik kakek Sherly.


Ayunda yang duduk di bangku taman kampus juga mendengar berita itu, saat beberapa orang sedang bergosip di dekatnya.

__ADS_1


"Ay", panggil seseorang yang suaranya tidak asing baginya.


Ayunda menoleh ke sumber suara. "Reina", gumamnya.


Reina langsung berlari menghampiri Ayunda. "Terima kasih, Ay", ucapnya yang membuat Ayunda bingung.


"Untuk apa?" tanya Ayunda sambil mengernyitkan keningnya.


"Jangan berpura-pura, Ay. Aku tahu, pasti kak Adrian yang sudah melakukannya. Dia yang sudah membuat keluarga Sherly bangkrut, kan?" Reina bertanya dengan wajah bahagia pada Ayunda, namun para penggosip yang masih berada di dekat mereka langsung menaikkan antenanya, mereka seakan mendapat berita tambahan yang lebih hot.


"Jadi kakakmu yang melakukannya, Ay?" tanya Cici si ratu gosip. "Wah, kalau itu benar, berarti Kau kaya dong?" tanyanya kemudian yang membuat Ayunda merasa terganggu.


Ayunda langsung menarik tangan sahabatnya itu. "Ayo, kita pergi!" ajaknya dengan sedikit memaksa sambil berjalan dengan langkah lebar.


"Tunggu dulu, Ay!" teriak para penggosip yang kesal, karena belum mendapat berita dengan lengkap. Namun Ayunda tetap mengabaikan mereka.


*


Ayunda menatap tajam sahabatnya itu, saat mereka sudah berada di tempat yang aman.


"Reina ... apa kita sudah berbaikan kembali", ucap Ayunda dengan menghamburkan diri memeluk Reina.


"Ehm, emangnya kapan kita berantem?" tanya Reina saat mereka saling melepas pelukan.


Ayunda menatap Reina dengan tersenyum bahagia. "Kau benar, kita tidak berantem, tapi- " Ayunda menggantung ucapannya sambil menatap Reina dengan penuh arti. "Tapi kita saling akrab", ucapnya yang langsung menggelitik Reina.


"Ay ... hentikan Ay ... " Reina tak dapat menahan geli yang menjalar di seluruh tubuhnya. Lalu Ayunda berlari menghindari Reina yang mencoba membalas Ayunda, sehingga aksi kejar-kejaran pun terjadi.


Seseorang dari kejauhan menatap dengan kebencian canda tawa Ayunda dan Reina. Dia menggenggam erat setir mobil yang saat ini di pegangnya.


"Sekarang Kau bisa tertawa, tapi tidak untuk besok!" seringainya.


***

__ADS_1


Adrian bersusah payah membujuk Winda untuk pulang ke rumah sang mama. Perkataan putus asa Winda membuat Adrian merasa haru. Ingin rasanya dia segera menikahi Winda, agar dia bisa menjaganya. Setelah terus berjuang membujuk Winda, akhirnya Winda mau menuruti perkataan Adrian.


"Ayo, kita pulang", ajak Adrian dengan memapah Winda yang terlihat pucat dan sangat lemah, karena belum mengisi perutnya dengan makanan sejak kemaren.


*


Setibanya mereka di kediaman mamanya Winda. Sang paman langsung menghamburkan diri memeluk sang keponakan.


"Kamu yang tabah, ya", ucapnya sambil melepaskan pelukannya. "Ayo, masuklah dulu", ajak sang paman sambil menuntunnya untuk duduk di sofa.


"Apa dia sudah makan?" tanya sang bibi saat melihat wajah pucat Winda.


"Belum, Bu", balas Adrian.


"Ayo kita makan dulu, Nak", ajak sang bibi sambil mengusap lembut rambut Winda, yang di balas Winda dengan gelengan. "Kau harus makan, Nak. Jangan sampai jatuh sakit", tutur sang bibi membujuknya.


Lalu Adrian membisikkan sesuatu pada Winda. "Aku akan menerimamu sebagai kekasihku, jika Kau makan sekarang", bisiknya tepat di telinga Winda, yang membuatnya terbeliak, namun kondisinya masih sangat lemah.


"Be- benarkah?" tanya Winda dengan guratan tipis di wajahnya yang mengekspresikan rasa bahagianya saat ini.


Adrian mengangguk dengan cepat. "Ya", balas Adrian dengan tersenyum. Winda seakan mendapat kekuatan saat mendengar ucapan Adrian, dia langsung meminta makanan pada sang bibi.


"Aku lapar, Bi", ucap Winda yang membuat Adrian tersenyum dengan rasa haru.


Sang bibi langsung memberikannya makanan dan menyuapi Winda dengan rasa haru.


Setelah Winda selesai makan walau hanya beberapa suapan, namun wajah pucatnya telah berubah warna. Lalu sang paman datang menghampiri Winda dan menatapnya untuk memastikan keadaan Winda sudah membaik.


"Winda... " panggil sang paman dengan lembut, namun tidaklah tulus. "Aku mau nyamenyampaikan amanah mamamu", ucapnya melanjutkan.


Winda langsung menoleh ke arah sang paman. "Ya, paman", sahutnya.


"Mamamu memintaku untuk mengambil tanggung jawab menikahkanmu dengan pria yang terhormat", ucap sang paman masih dengan menatap Winda.

__ADS_1


Winda mengalihkan pandangannya pada Adrian, sorot matanya seakan berbicara meminta Adrian menyahut ucapan sang paman.


Adrian membalas Winda dengan tersenyum. Lalu mengalihkan pandangannya pada papanya Siska. "Bapak tenanglah, aku yang akan memikul tanggung jawab itu", ucapnya dengan tegas, membuat semua yang mendengarkan ucapan Adrian terbeliak. Mereka menatap Adrian dengan tatapan serius, bahkan Ferdo juga ikut meminta penjelasan atas keputusan Adrian yang tiba-tiba itu.


__ADS_2