
Happy reading...
Keheningan malam seakan tidak mampu menghapus jejak luka yang saat ini dirasakan oleh Ayunda. Satu pintanya agar angin membawa pergi semua kenangan yang telah memberi luka di hati. Namun angin tidak ingin pergii menjauhinya, dia terus merasuki pori-pori wajah Ayunda. Begitu pula dengan bintang, dia masih saja bersembunyi di balik selimutnya. Padahal dia ingin menceritakan kerinduannya pada seseorang yang telah menaruh luka yang terasa perih sampai saat ini.
Malam semakin larut, namun kesedihannya masih ada tinggal di dalam ingatannya. Dia berharap saat menutup jendela kamar yang sengaja dia buka itu, maka semua kisah sedihnya pun akan selesai.
Ayunda menaiki tempat tidurnya, lalu menarik selimutnya sebatas dada. Dia mencoba memejamkan matanya berharap tidurnya akan pulas, namun bayangan Alfian tiba-tiba muncul dibenaknya. Beberapa kali Ayunda mencoba memejamkan mata, wajah Alfian masih melekat di benaknya. Dengan gusar Ayunda terus mengubah posisi tidurnya, namun hasilnya tetap sama. Dia pun duduk sambil mengacak-acak rambutnya. "Pergi", teriaknya dengan suara tertahan. Malam itu terasa panjang baginya. Entah sudah berapa buku yang dia baca, namun akhirnya dia pun tertidur.
***
Kicauan burung di luar jendela mengusik tidur Ayunda.
"Sudah pagi", gumamnya sambil mengucek matanya.
Rasa kantuk yang seharusnya datang tadi malam, justru dia rasakan pagi ini. Ayunda yang tidak mau di katakan sebagai wanita pemalas, bergegas turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya, agar terlihat fresh.
Setelah 20 menit menyelesaikan ritual mandinya, Ayunda langsung berpakaian rapi.
Tok... tok...
"Yunda", panggil sang bunda sambil mengetuk pintu kamar Ayunda.
"Iya, bun", sahut Ayunda yang masih berdiri di depan cermin menyisir rapi rambutnya.
"Ayo sarapan, nak", ajak sang bunda dari balik pintu kamar Ayunda.
"Iya, bun. Sebentar lagi Yunda ke sana", sahut Ayunda sambil terus menyisir rambut indahnya.
Hari ini adalah hari pertama mereka sarapan bersama setelah sekian lama berpisah dengan sang ayah, jadi Ayunda tidak ingin melewatkan moment bahagia ini.
***
Setelah beberapa minggu terlewati, tibalah saat yang ditunggu-tunggu Ayunda. Setelah kurang dari 4 tahun Ayunda menyelesaikan kuliahnya dengan nilai cumlaude.
"Akhirnya adik imut kakak ini wisuda", ujar sang kakak dengan mencubit gemas pipi Ayunda.
"Jangan, kak!" seru Ayunda dengan berdecak kesal. "Nanti bedaknya luntur", rengeknya mengingatkan sang kakak, sambil memegang pipinya.
"Acaranya kan sudah selesai", sahut Adrian.
"Tapi foto-fotonya belum", sahut Ayunda. Dia pun menoleh ke arah teman-temannya yang sedang berkumpul. "Yunda ke sana dulu ya, kak", tunjuk Ayunda sambil berjalan menghampiri teman-temannya yang terus sibuk mendokumentasikan moment kegembiraan mereka.
Ada mata yang memandang kegembiraan Ayunda dengan seulas senyum dibibirnya.
"Jika kau bahagia, akupun bahagia", gumamnya, lalu beranjak pergi meninggalkan tempat dimana dia berdiri.
Tiba-tiba Ayunda merasakan degup jantungnya yang memburu. Sambil memegang dadanya dia mengedarkan pandangannya, seakan ada yang sedang memperhatikannya dari kejauhan.
"Hei... Ay", teriak salah seorang temannya memanggil namanya mengalihkan perhatian Ayunda.
"Ayo, ke sini", panggil temannya dengan menunjuk tempat disisinya. Setelah Ayunda sudah berada di tempat yang diminta temannya itu. Sesuai arahan mereka langsung melemparkan toga masing-masing, dan mengabadikan moment bahagia itu.
Setelah selesai Ayunda langsung menghampiri keluarganya untuk pergi ke suatu tempat yang sudah dilakukan pemesanan oleh sang kakak. Mereka ingin merayakan kelulusan Ayunda.
__ADS_1
***
Hari demi hari seakan berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah hari kesepuluh setelah kelulusan Ayunda menjatuhkan lamaran, namun belum ada satu pun perusahaan yang memanggilnya untuk wawancara. Ayunda yang lulus dengan predikat cumlaude saja tidak menjamin untuk dia dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan.
"Sabar...", seru sang bunda saat melihat raut wajah kecewa Ayunda. "Pasti Allah sudah menyediakan yang terbaik buat Yunda."
Ayunda mengangguk sebagai tanpa sepakat dengan ucapan sang bunda. "Iya, bun", sahutnya dengan suara pelan. "Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapi", sentil sang bunda memotong ucapan Ayunda.
"Ya, bun", sahutnya lesu sambil memandangi ponsel di tangannya. Dia terus menunggu barangkali ada yang akan menelponnya untuk panggilan wawancara.
Tok... Tok...
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Ayunda.
"Biar Yunda yang buka, bun", seru Ayunda yang sudah beranjak dari tempat dia duduk.
Ceklek.
Ayunda membuka pintu dan melihat petugas pos berdiri di depannya.
"Dengan Ayunda Milly Rendra?" Pak pos membaca nama yang tertera pada amplop di tangannya.
"Ya, saya sendiri", sahut Ayunda.
"Ini surat buat anda", tutur pak pos dengan menyerahkan amplop ditangannya pada Ayunda. "Tolong tanda tangan di sini", pinta pak pos sambil menunjuk dengan telapak tangan, setelah amplop diterima oleh Ayunda. Lalu pak pos pamit dan pergi meninggalkan Ayunda.
Tanpa membaca nama si pengirim Ayunda sudah membuka isi amplop. Matanya terkesiap saat melihat isi amplop ditangannya, sebuah surat balasan yang sudah lama ditunggu-tunggunya.
"Pak pos, bun", jawab Ayunda ragu.
"Oh...", sahut sang bunda, lalu manik matanya tertuju pada amplop di tangan Ayunda. "Surat apa itu, nak?" tanya bunda penasaran.
"Ehm, cuma surat biasa dari kampus", jawab Ayunda dengan sedikit berbohong.
Sang bunda tidak ingin bertanya lebih jauh tentang surat itu, karena sang bunda berfikir tentulah Ayunda lebih paham dibandingkan dirinya.
"Kalau begitu, bunda ke kebun belakang dulu", ucap sang bunda dengan berjalan ke pintu samping rumah meninggalkan Ayunda. Dia tidak ingin secangkir kopi panas yang akan dibawanya unruk sang suami menjadi kopi dingin.
Ayunda terdiam sesaat. Namun pikirannya terus berkecamuk. Dia ingin mengatakan yang sebenarnya pada keluarganya, tapi dia urungkan hingga menunggu waktu yang tepat.
***
Di tempat yang berbeda di sebuah kamar tanpa penerangan, Siska menyibakkan tirai yang masih tertutup rapat, hingga tampak jelas saat ini Siska sedang mengenakan lingerie seksi berwana merah. Tanpa rasa kuatir akan ada yang melihatnya dari luar jendela, dengan santai dia melenggok menghampiri sang suami yang mulai terusik teriknya mentari.
"Bangun sayang", ucapnya lembut tepat di telinga Alfian.
Dengan mengerjap Alfian membuka matanya yang terpicing akibat sinar mentari pagi, lalu berangsur terbuka lebar. Alfian sontak kaget saat wajah Siska berada tepat diatasnya.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Alfian dengan mendorong Siska. Alfian berusaha untuk bangkit, namun tiba-tiba dia merasa pusing. Akhirnya dia kembali berbaring di atas tempat tidur.
"Kau lupa sayang?" ucap Siska dengan tersenyum menggoda.
__ADS_1
Otak Alfian dengan cepat menangkap maksud ucapan Siska. Lalu dia menyibakkan selimut yang masih membalut tubuhnya. Alfian terbeliak saat melihat tubuh polosnya.
"Apa yang kau lakukan padaku?" sergahnya meminta penjelasan Siska.
"Bukan aku, sayang. Tapi kita...", sahut Siska tersenyum sumringah. "Tadi malam kita sudah melakukannya dengan begitu manis", ucap Siska dengan manja sambil menggit jari telunjuknya. "Bahkan kau pun minta mengulanginya beberapa kali, membuatku jadi tak berdaya", Siska menutup mukanya malu saat menceritakan kejadian yang sama sekali tidak diingat oleh Alfian.
Alfian menautkan alisnya. "Kau bohong!" tuduhnya yang tidak percaya akan ucapan Siska.
Siska menangis sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Alfian.
"Aku ini istrimu, bukankah wajar jika kita melakukannya?" rengeknya dengan terisak-isak.
"Keluar!" teriak Alfian dengan rahang yang mengeras.
Lalu Siska berlari ke luar kamar sambil terisak. "Kau tidak punya hati", ujarnya saat akan menutup pintu.
Alfian mengusap kasar rambutnya dan melempar semua yang ada di atas tempat tidur.
"Arrggg...", pekiknya dengan gusar. Alfian merasa telah mengkhianati cintanya. Dia telah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia tidak akan menyentuh wanita mana pun selain dari pada istri yang dicintainya. Siska memang istrinya, tapi tidak dia cintai.
Alfian mengumpulkan semua benda di dalam kamarnya yang kemungkinan telah di sentuh oleh Siska Setelah semuanya terkumpul dan diikat menjadi satu, Alfian lanjut masuk ke kamar mandi untuk menghilangkan semua sentuhan Siska yang ada ditubuhnya.
Setelah hampir 1 jam berada di dalam kamar mandi, Alfian akhirnya ke luar masih dengan mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Kemudian dia mengenakan pakaian rapi sebelum beranjak ke luar.
Ceklek...
Tony menatap gugup saat pintu kamar Alfian di buka.
"Tony", teriak Alfian memanggilnya dengan berdiri di ambang pintu.
"Ya, pak", sahutnya dengan berlari menghampiri Alfian.
"Masuk", pintanya dengan tegas.
Saat Tony sudah berada di dalam kamar, Alfian langsung mencecar Tony dengan banyak pertanyaan.
"Apa yang terjadi kemaren malam?" tanyanya sambil berjalan mondar-mandir.
"Ehm, kemaren malam bapak mabuk berat", ucap Tony ragu.
"Teruskan sampai selesai!" seru Alfian dengan nafas memburu.
"Saat bapak mabuk. Ibu Siska melihat saya membopong bapak masuk ke dalam kamar. Lalu ibu Siska juga ikut masuk dan meminta saya ke luar. Namun saya menolaknya. Tapi bapak menarik paksa tangan ibu Siska, hingga...", Tony menggantung ucapannya sambil menelan salivanya.
"Hingga apa?" tanya Alfian dengan menatap tajam ke arah Tony.
"Hingga ibu jatuh kepelukan bapak, dan bapak mencium ibu dengan memanggilnya sayang", ucapnya. Alfian mendelik tak percaya jika dia telah melakukan hal itu.
"Saya tidak ingin mengganggu, jadi saya langsung ke luar dari kamar bapak sambil menutup pintu", ujar Tony melanjutkan ucapannya.
"Oke, tolong buang semua barang itu!" tunjuk Alfian pada barang yang diletakkannya di lantai.
"Baik, pak", balas Tony sambil membawa barang itu. Lalu beranjak meninggalkan kamar Alfian setelah berpamitan.
__ADS_1
"Aku masih tidak percaya telah melakukan seperti yang dikatakan Siska", gumam Alfian.