Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Di taman Apartemen


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Hari ini adalah Minggu, waktunya bersantai bagi para pengais rezeki, salah satunya adalah Adrian. Dia sudah siap dengan pakaian olah raganya untuk memanfaatkan waktu santainya. Lalu dia berjalan melewati sang adik yang baru saja ke luar dari dalam kamarnya.


"Pagi, Kak", sapa Ayunda dengan tersenyum khas baru bangun tidur, yang mengalihkan perhatian sang kakak.


"Pagi, adikku yang imut", balas sang kakak juga dengan tersenyum.


"Hem, kalau Yunda lihat dari pakaian kakak, pasti kakak mau pergi ke kantor, kan?" Ayunda bertanya dengan mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di bibir.


"Kok ke kantor sih, dek. Kalau pakai baju ini ya pastinya mau pergi ke mall, dong", balas Adrian yang tak ingin kalah dari sang adik.


"Oh, Yunda pikir kakak mau joging, ternyata kakak mau ke mall", ucapnya tanpa ekspresi, lalu dia membalikkan badannya untuk masuk kembali ke dalam kamar. Hampir saja Ayunda menutup pintu kamarnya, Adrian langsung menahannya.


"Kau mau ikut ke mall?" tanya Adrian.


"Gak, ah. Males!" balas Ayunda masih dengan gaya santainya.


Lalu Adrian mencubit gemas hidung Ayunda. "Males melulu, entar kakak bilangin ke Ferdo kalau adiik kakak itu... " ucapan Adrian terhenti saat Ayunda menutup mulutnya.


"Ya, baiklah kak... aku ikut", balasnya dengan wajah malas. Lalu dia kembali masuk ke dalam kamar tidurnya untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga.


*


Di sebuah taman yang ada di sekitar apartement Adrian. Ayunda berjalan dengan malas mengikuti langkah sang kakak dari belakang.


"Ayo, lari lebih kencang. Dasar pemalas!" ledek sang kakak sambil membuang nafas dengan memburu.


"Tunggu aku akan mengejarmu, Kak!" sahut Ayunda dengan semakin mempercepat langkahnya.


Brakkkk.


"Aww... " ringis Ayunda saat dia telah menabrak seseorang yang muncul dari tikungan.


"Kau tidak apa-apa?" tanya seorang pria sambil membantunya berdiri. Lalu dia mendongak, untuk memastikan pria yang sudah menabraknya, karena suaranya tak asing baginya.

__ADS_1


"Dafa!" ucapnya sambil mengernyitkan keningnya. "Kenapa Kau bisa ada di sini?" tanya Ayunda yang merasa aneh, karena dia tahu jarak dari rumah Dafa ke taman ini sangatlah jauh.


"Sekarang aku tinggal di apartement sekitar taman ini", sahutnya yang masih memegang pergelangan Ayunda sambil menuntunnya duduk di kursi taman.


Ayunda kembali mengernyitkan keningnya. "Kenapa Kau pindah?" tanyanya, namun Dafa hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Ayunda.


Seseorang yang sedari tadi memperhatikan interaksi Ayunda dan Dafa memandang dengan rasa kesal.


"Ayo, datangilah dia. Dari pada Kau menduga yang tidak-tidak", bisik Adrian sambil menepuk pelan pundak Ferdo. Adrian tak ingin Winda mendengarkannya, sebelum dia menyampaikan prilaku Siska sebenarnya.


Ya Ferdo dan Winda saat ini berada di taman. Adrian telah menghubungi mereka untuk datang ke taman, saat Ayunda sedang berganti pakaian.


Ferdo menganggukkan kepalanya. "Oke", balasnya singkat. Lalu melangkahkan kakinya menuju Ayunda dan Dafa.


*


"Oo... kalau boleh tahu siapa wanita beruntung yang sudah berhasil menarik perhatianmu?" tanya Ayunda sambil menatap Dafa.


"Kau akan tahu nanti", balas Dafa dengan terenyum bahagia dan menatap Ayunda penuh arti.


"Hai, Yunda", sapa Ferdo yang datang tiba-tiba membuat Ayunda dan Dafa langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Siapa pria ini? Kenapa Ayunda sangat bahagia bertemu dengannya?" batin Dafa.


"Kakak bareng siapa ke sini?" tanya Ayunda sambil melirik ke belakang Ferdo.


"Sama Winda", balas Ferdo yang ikut duduk di bangku taman, sehingga Ayunda di apit oleh dua pria tampan yang sama-sama mencuri pandang pada Ayunda.


"Oo... tapi Kak Windanya mana?" tanya Ayunda masih dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman.


"Katanya sih joging bareng Adrian, tapi dari tadi aku tidak melihat mereka joging", balas Ferdo dengan mengedipkan matanya.


"Hahaha... barangkali joging sambil... hahaha." Ayunda menggantung ucapannya yang paham akan arah ucapan Ferdo. Mereka pun tertawa bersama mengabaikan Dafa yang sedari tadi murung melihat keakraban mereka.


"Eh, ini siapa?" tanya Ferdo yang baru saja sadar telah menjadikan pria di samping Ayunda seperti kambing congek.


"Ini Dafa, Kak. Dia teman kuliah Ayunda yang baru pindah ke apartement yang sama dengan kami." Ayunda memperkenalkan Dafa sambil melirik ke arah Dafa.

__ADS_1


"Hai, Dafa", ucapnya dengan menjulurkan tangannya.


"Ferdo", balasnya dengan membalas uluran tangan Dafa. Lalu mereka saling menggenggam dengan erat.


Ayunda bingung karena mereka terlalu lama untuk melepaskan genggaman tangan masing-masing. "Apa kalian masih normal?" tanya Ayunda yang bergantian menatap Ferdo dan Dafa.


Ferdo dan Dafa langsung melepaskan genggaman masing-masing, karena tak ingin Ayunda salah mengartikannya.


"Ja- jangan salah paham Yunda." Ferdo menggelengkan kepalanya. "Itu tidak seperti yang kau pikirkan", ucap Ferdo yang terus menatap Ayunda memastikan dia tidak salah paham.


"Puft, tak perlu takut seperti itu. Aku tahu kakak pasti masih normal, begitu juga dengan Dafa", balasnya dengan tersenyum simpul.


"Terima kasih", balas Ferdo sambil mengedipkan matanya yang membuat Ayunda tertunduk malu. Sedangkan Dafa yang tidak sengaja melihatnya mulai gusar, karena dia memiliki saingan seorang CEO yang cukup terkenal.


Apa usahaku pindah ke apartement telah sia-sia, batin Dafa.


"Dafa", panggil Ayunda saat melihatnya termenung.


"Ya, ada apa, Ay?" tanya Dafa dengan memaksakan senyumnya.


"Hem, aku dan kak Alfian mau lanjut joging, apa Kau mau ikut?" tanya Ayunda dengan tersenyum ramah.


Dafa menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ay. Kalian pergi saja, aku masih ada keperluan", balasnya dengan berbohong.


"Oh, oke Dafa. Kalau begitu kami pergi dulu, ya." Ayunda berkata sambil beranjak dari tempat duduknya yang diikuti oleh Ferdo. Lalu mereka melangkahkan kakinya meninggalkan Dafa yang masih duduk di kursi taman dengan wajah yang sudah berubah sendu.


"Aku harus kembali ke rumah orang tuaku. Dari pada di sini, aku akan selalu melihat kemesraan mereka", ucapnya dengan lirih. Lalu dia bergegas kembali ke apartemen untuk mengemas barang-barangnya. "Huft, kenapa kisah cintaku tidak berjalan dengan mulus", ucapnya dengan membuang nafas kasar.


*


Adrian dan Winda sedang duduk di tepi kolam yang terletak di tengah taman. Adrian selalu berusaha menghibur Winda yang baru saja kehilangan sang mama. Dia bahkan mencoba berbagai cerita lucu yang sebenarnya garing.


"Sayang", panggil Adrian yang sudah mengubah panggilannya sejak lamarannya di terima oleh sang paman dan kakeknya Winda, bahkan Adrian juga sudah menceritakan niat baiknya pada sang bunda. Bunda yang ikut senang, langsung menyampaikan kabar baik itu pada beberapa orang kerabatnya di kampung.


Winda bergayut manja pada lengan Adrian. "Kau tidak akan meninggalkanku, kan?" tanya Winda sambil mendongak ke arah Adrian.


Adrian langsung menganggukkan kepalanya. "Ya, sayang", balasnya dengan tersenyum.

__ADS_1


Semoga cinta kita tidak akan luntur selamanya.


__ADS_2