Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Kotak Makan Siang


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Tuk.. tuk.. tuk..


Langkah kaki seseorang megusik Tya, sekretaris Ferdo yang sedang menikmati segelas teh di tangannya. Tya pun menoleh ke sumber suara sambil meletak kembali gelas di tangannya. Tya mengernyitkan keningnya saat melihat seorang wanita yang berjalan sambil menggeol-geol menghampirinya.


"Selamat pagi", sapa wanita itu, lalu mencoba masuk ke dalam ruangan Ferdo sebelum Tya membalas sapaannya.


"Pagi, eh, tunggu dulu!" cegahnya saat melihat wanita itu akan menyelonong masuk.


Tya tak ingin menjadi amukan Ferdo, karena tadi dia berpesan tak ada siapa pun wanita yang boleh masuk ke ruangannya kecuali Winda. Itu juga harus menanyakan dulu pada sang bos.


"Ada apa? Apa Kau tidak mengenalku?" tanyanya dengan sinis.


Tya mencoba tenang, karena dia tahu bagaimana sikap Siska sebenarnya. "Maaf, Non Siska."


"Nah, itu Kau tahu siapa aku!" ketusnya.


"Iya, aku tahu siapa, Non. Tapi saat ini bos sedang tidak bisa di ganggu", tuturnya dengan ramah.


Siska tersenyum sinis, "tenang saja, Kau tidak akan di marahi oleh bosmu", ucapnya dengan angkuh, lalu membuka handle pintu.


Ferdo terperangah saat melihat Siska muncul dari balik pintu. Siska pun tersenyum lebar saat melihat reaksi Ferdo. "Apa Kau menungguku?" tanyanya dengan percaya diri.


Tya berjalan mengikuti Siska dari belakang. "Kenapa Kau ikut masuk?" tanya Siska dengan nada kesal.


"Maaf, Pak", ucap Tya dengan gugup.


Ferdo menajamkan sorot matanya pada Tya, membuat Tya semakin ciut tak berani menatap sang bos.


"Tya, keluar!" sergahnya.


"Siska tersenyum bahagia, "sudah aku katakan- "


"Bawa wanita ini juga keluar!" seru Ferdo memotong ucapan Siska. Tya pun berbalik saat baru saja akan melangkah ke luar.


Siska tak terima dengan perlakuan Ferdo. "Eh, tunggu dulu, kenapa Kau juga mengusirku?" tanyanya dengan kesal.


"TYA!" teriaknya memekakkan telinga.


Tya buru-buru mengajak Siska keluar, walaupun harus terpaksa menariknya.


"Lepaskan!" teriak Siska. Dia tak terima diperlakukan dengan kasar oleh seseorang seperti Tya. "Jauhkan tanganmu dariku!" pintanya dengan kasar.


Tya langsung melepas tangannya, tak ingin mendapat amukan dari Siska. Dia sadar saat ini sedang berhadapan dengan singa yang mulai menunjukkan taringnya.

__ADS_1


Siska kesal dengan perlakuan sekretaris Ferdo, dia langsung melangkahkan kakinya menjauh dari ruangan Ferdo.


"Huftt... syukurlah dia sudah pergi", gumam Tya sambil duduk di kursi kesayangannya.


***


Ceklek...


Siska membuka pintu ruangan Winda tanpa mengetuk.


"Hai, sepupuku", sapanya dengan tersenyum.


Winda mengernyitkan keningnya bingung dengan perubahan sikap Siska. "Ada apa?" tannya Winda.


Siska menghampiri Winda, lalu duduk di hadapannya. "Apa aku tidak boleh datang ke ruanganmu ini?" tanyanya.


"Tentu saja boleh, tapi kenapa Kau tiba-tiba datang kemari?"


Siska meraih ke dua tangan Winda, "aku minta maaf, karena selama ini aku sudah berbuat kasar padamu", tuturnya dengan lembut. "Aku ingin kita menjadi akrab", ucapnya melanjutkan.


Winda mendelik tak percaya dengan apa saja yang baru diucapkan oleh Siska. Ini pertama kalinya dia mendengar Siska berbicara lembut padanya. "Aku senang, jika Kau ingin kita lebih akrab lagi. Tapi apa ini tidak terlalu tiba-tiba?" tanya Winda.


Siska memandang Winda dengan wajah sendu, "apakah salah, jika aku berubah?" tanyanya.


"Maafkan aku telah mencurigaimu", sahut Winda sambil menepuk pelan punggung tangan Siska.


"Ehm, gak terlalu", sahut Winda.


"Bagus kalau begitu, aku ingin mengajakmu makan siang. Ada satu restoran favoritku, Kau pasti akan suka makanannya", tutur Siska.


Winda menganggukkan kepalanya, "baiklah, Kau atur saja", ucapnya tersenyum tulus.


Siska tersenyum bahagia, lalu beranjak dari tempat duduknya setelah berpamitan pada Winda.


Ternyata jalanku dimudahkan. Maafkan aku sepupuku, kau harus menjadi alat untuk memudahkan rencanaku, batin Siska.


Siska berjalan ke luar meninggalkan ruangan Winda dengan senyum yang terus mengembang.


***


Setelah pengumuman mengenai status Ayunda sebagai adik kandung Adrian diberitahukan, banyak karyawan yang sebelumnya acuh dengan keberadaan Ayunda, berbalik menjadi sangat perhatian. Tidak sedikit dari antara mereka yang membagikan ilmu menjadi seorang presenter yang baik padanya.


Ayunda merasa senang, meskipun dia tahu mereka tidak memberikannya dengan cuma-cuma. Ayunda harus membayarnya dengan memberikan informasi tentang Adrian.


Saat ini Ayunda berjalan dengan wajah bahagia saat ke luar dari ruang penyiaran. Dia di beri kesempatan menyaksikan langsung seorang presenter mempersiapkan diri untuk tampil di acara pukul 11. Kurang dari satu jam lamanya dia berada di ruangan penyiaran, Ayunda mengabaikan perutnya yang sudah meronta sedari tadi.


"Sudah hampir jam 12", gumamnya saat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

__ADS_1


Ayunda bergegas ke luar ruangan, dia tak ingin mencuri waktu jam istirahat. Dia berjalan dengan langkah lebar menuju ruang kerjanya.


Brukkk...


Ayunda menabrak seorang wanita.


"Kau!" teriak Siska. "Kenapa Kau selalu menabrakku, bukankah sudah aku katakan sebelumnya!" sergahnya.


Winda datang menghampiri Ayunda dan Siska. "Siska, ayo kita pergi", ajaknya dengan tersenyum.


Siska geram karena Winda selalu saja membantunya, dia pun tak dapat berbuat apa-apa, karena takut Winda akan curiga dan rencananya pun gagal.


"Ay, Kamu sudah makan siang?" tanya Winda ramah.


"Ini, mau ke kantin, Kak", balasnya ramah.


"Oo, oke kalau begitu, aku dan Siska pamit ya", tuturnya sambil tersenyum.


Ayunda membalas senyumannya, lalu memalingkan wajahnya pada Siska. Namun Siska menatapnya dengan tatapan tidak suka.


Mereka meninggalkan Ayunda yang masih mematung di tempatnya berdiri.


***


Ayunda berjalan menuju ke ruangan kerjanya sebelum ke kantin kantor, dia kaget saat melihat sekotak makanan terletak di mejanya. "Punya siapa ini?" gumamnya. Lalu dia mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang barangkali menitipkan makanan itu di atas mejanya. Namun tak seorang pun di jumpainya di ruangan itu.


Ayunda melirik secarik kertas yang tertempel pada kotak makan siang itu, sebuah catatan di sematkan membuat Ayunda mengernyitkan keningnya.


"Dari inisial A juga,,, Kenapa kakak harus memberiku makanan dengan diam-diam?" gumamnya.


Ayunda selalu lupa menanyakan pada sang kakak mengenai kiriman makanan itu, dia berniat akan menanyakannya selepas jam kerja usai hari ini. Lalu Ayunda membuka kotak nasi yang dari tampak luar saja sudah menggugah selera.


"Ummm... yummy", ucapnya saat melihat isi dalam kotak makanan.


Ayunda langsung melahapnya dengan bersemangat, tanpa dia ketahui ada seseorang yang memperhatikannya dari layar cctv.


Drrttt.. drrttt


Baru beberapa suap makanan masuk ke dalam mulutnya, seseorang menelponnya.


"Hallo", sahut Ayunda saat dia sudah menscroll tombol hijau di ponselnya. Lalu dia mendengarkan seseorang menyahut dari seberang telpon.


"Iya, maaf aku lupa memberitahumu, kalau aku tidak ke kantin siang ini. Orang dengan inisial A kembali mengirimkanku makanan, jadi aku sedang menikmatinya saat ini."


Reina yang mendengarkan dari seberang telpon tak mempermasalahkannya, dia meminta Ayunda melanjutkan makan siangnya. Ayunda pun mengatakan hal yang sama dengan Reina. Lalu mereka saling memutus sambungan telpon.


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2