Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Kegelisahan Winda


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Ayunda sedang duduk di sofa bersama sang kakak. Dia terus bercerita tentang kejadian yang terjadi di kantin kampus sore tadi. Sorot mata tajam Ayunda yang sedang menahan emosi saat mengingat perkataan Sherly, telah membuat Adrian merespon.


Tanpa pikir panjang Adrian langsung menghubungi seseorang, sesaat setelah kepergian Ayunda ke kamar tidurnya. Adrian tidak mau kemenangan yang sudah di raih Ayunda sia-sia, akibat ulah seorang yang merasa dirinya paling berkuasa.


"Adrian", panggil sang bunda yang melihat putranya itu duduk di sofa dengan termenung. Sang bunda berjalan menghampirinya sambil membawa segelas air.


"Kamu mau minum, Nak?" Sang bunda menawarkan segelas air di tangannya sambil duduk di sisi Adrian.


Adrian membalas dengan gelengan. "Tidak, Bun", ucapnya dengan memaksakan senyumannya.


"Oh iya bunda lupa, kalau Kamu sukanya minum air hangat, kan", tutur sang bunda, lalu meletakkan gelas yang sedari tadi di pegangnya.


"Bukan suka minum air hangat, Bun. Tapi sebelum makan Adrian biasanya harus minum air hangat dulu." Adrian berucap dengan tersenyum ramah pada sang bunda.


"Iya, sebenarnya maksud bunda itu", tutur sang bunda dengan tersenyum. "Bunda perhatikan wajahmu dari tadi murung, ada apa Nak?" tanya sang bunda dengan berhati-hati. "Coba ceritakan sama bunda", pinta sang bunda dengan menatap serius ke arah Adrian.


Adrian yang tidak ingin menyembunyikan sesuatu dari sang bunda, memilih menceritakan perihal kekhawatirannya pada Ayunda. Dengan rasa malas dia juga menceritakan kekesalannya pada seorang yang bernama Sherly, cucu dari pemilik kampus di mana Ayunda sedang berkuliah.


Sang bunda mendelik, tak menduga ada orang yang tega melakukan hal seperti yang baru saja dikatakan oleh Adrian.


"Jangan sampai Yunda menyerahkan kedudukan juara satunya pada orang seperti itu!" ucap sang bunda dengan menggeram.


"Ya, Bun. Aku akan berusaha membantu Yunda", balas Adrian mencoba menenangkan sang bunda.

__ADS_1


***


Ferdo terlihat sedang mondar mandir di dalam apartementnya. Kedatangan Siska yang saat ini berdiri di depan pintu apartemennya membuatnya gelisah, ibarat anak kos yang sedang di tagih uang bulanan oleh ibu kos yang galak.


Berulang kali Siska memencet bel, bahkan wajah tidak sabarnya terlihat jelas di layar intercom.


"Ferdo!" teriak Siska yang membuatnya menjadi perhatian seorang pria yang baru saja melewatinya.


Winda yang ikut membantu Siska masuk ke dalam apartemen menutup wajahnya dengan menahan rasa malu, atas sikap arogan saudara sepupunya itu.


"Ayo, kita kembali ke dalam apartemenku saja", ucap Winda yang mulai jengah dengan sikap Siska. Lalu dia menarik paksa tangan Siska yang mulai tenang.


"Tunggu dulu Winda! Aku yakin dia ada di dalam!" seru Siska dengan nafas yang menggebu. "Bukalah Ferdo! Jika tidak aku akan meminta kakek untuk mempercepat pernikahan kita!" ancamnya pada Ferdo.


Ferdo yang mengira Siska sudah pergi, duduk dengan santainya di sofa sambil menikmati secangkir kopi buatannya. Namun tiba-tiba dia mendengar suara teriakan Siska melalui speaker intercom. Ancaman Siska yang baru saja di lontarkannya itu, tak sedikit pun membuatnya takut, karena dia punya sesuatu yang dapat memberatkan posisi Siska.


"Aku akan menghubungi kakek. Heh, Biar kakek yang memaksanya." Siska menyeringai.


***


Malam yang panjang mulai menemani istirahat bagi sebagian orang, namun tidak bagi Winda. Kegelisahan yang dia sendiri tak tahu apa penyebabnya, telah mendorongnya untuk menelpon sang mama.


"Sudah jam 2, aku takut mengganggu mama, jika aku telepon sekarang", ucapnya dengan ragu menekan tombol memanggil di ponselnya.


Namun kegelisahan yang semakin dia rasakan, membuatnya menekan tombol memanggil di ponselnya itu. Nada tersambung pun mulai terdengar, dengan perasaan was-was Winda menunggu sang mama mengangkat ponselnya, namun sang mama tidak juga mengangkat teleponnya sampai suara operator yang meminta meninggalkan pesan di dengarnya.


Winda mencoba untuk ke dua kalinya, hasilnya masih sama, sang mama tidak mengangkat teleponnya. Bahkan Winda terus mencoba sampai ke tiga kali dan seterusnya, hasilnya juga tetap sama. Lalu Winda mencoba menghubungi sang mama sekali lagi. Kali ini berbeda, tidak ada lagi nada terhubung, karena ponsel sang mama sudah dinonaktifkan.

__ADS_1


"Apa ponsel mama kehabisan baterai, karena sejak tadi aku menghubunginya", ucap Winda setengah berbisik, dia tak ingin mengganggu Siska sedang tertidur pulas di kasurnya. "Semoga mama baik-baik saja", ucapnya masih dengan berbisik.


Winda mengembalikan ponsel di tangannya ke atas nakas, lalu dia kembali naik ke atas ranjang dengan sangat perlahan, agar tidak membangunkan Siska. Kemudian Winda juga menarik selimut dengan perlahan. Dia berusaha memejamkan matanya, dan berfikir positif bahwa sang mama dalam keadaan baik-baik saja saat ini.


***


Di tempat lain yang mirip dengan ruangan penyekapan seorang wanita paruh baya sedang duduk di kursi dengan posisi terikat. Sejak dia mengetahui bahwa sang kakak adalah orang yang sangat serakah, membuat wanita itu berdebat hebat dengannnya. Pembagian yang tidak sesuai dengan keinginan masing-masing membuat sang kakak melakukan tindakan yang menyakiti. Wanita itu adalah mamanya Winda.


Keributan yang berasal dari suara ponsel mamanya Winda, mengusik pendengaran para penjahat yang sedang menjaganya. Mereka mengira bahwa si penelepon hanya akan melakukan sampai 3 kali panggilan, namun ponselnya semakin tidak berhenti berbunyi. Akhirnya mereka menonaktifkan ponsel mamanya Winda


***


Mentari pagi memberi kehangatan bagi siapa saja yang sudah menyapanya. Hal inilah yang dilakukan oleh Ferdo. Dia duduk di kursi yang ada di balkon apartemennya sambil menikmati udara pagi di temani hangatnya mentari sambil menikmati secangkir kopi. Ferdo sedang menikmati seruputan terakhir kopi yang ada di dalam cangkir, setelah selesai dia langsung beranjak untuk mempersiapkan diri berangkat ke kantor.


Baru saja lima menit yang lalu Ferdo ke luar dari apartemennya, Siska dengan buru-buru berlari menuju pintu apartemen Ferdo. Dia sangat yakin bahwa Ferdo ada di dalam, dan sebentar lagi akan berangkat ke Kantor.


Siska terus memencet bel apartemen Ferdo, namun tidak ada jawaban. Bahkan sampai Winda yang berlari dengan tergesa-gesa berangkat ke kantor melewati Siska begitu saja. Siska langsung melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah jam 7.45. Apa Ferdo sudah berangkat lebih awal", ucapnya dengan kesal, karena gagal jumpa dengan Ferdo. Akhirnya Siska memutuskan untuk menghubungi sang kakek.


***


Brakkkk...


Hampir saja Winda terjatuh saat bertabrakan dengan Adrian yang datang dari arah berlawanan.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Adrian dengan khawatir.


"Aku tidak apa-apa", balas Winda yang masih menatap Adrian. "Kecuali jantungku. Debarannya sulit sekali aku kendalikan", ucapnya melanjutkan, yang membuat Adrian bergeming.

__ADS_1


__ADS_2