
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Sang bunda membuka sebuah kotak kecil, hadiah pemberian Adrian.
"Wah cantik sekali", seru sang bunda saat sebuah cincin berlian bermata biru di raihnya dari dalam kotak.
"Apa Bunda suka?" tanya Adrian sambil menghampiri sang bunda.
"Bunda suka sama semua pemberian kalian", sahut sang bunda. "Asalkan kita selalu bersama, hanya itu yang Bunda inginkan, Nak", tuturnya sambil memeluk Adrian dan Ayunda. Mereka pun merasa kehangatan pelukan sang bunda.
"Aku selalu merindukan pelukan ini", ucap Adrian sambil tersenyum.
Sang bunda dan Ayunda pun ikut tersenyum, malam ini mereka sangat bahagia, karena dapat berkumpul merayakan ulang tahun sang bunda, meskipun tanpa sang ayah.
***
Tanpa terasa sudah dua bulan lamanya Ayunda magang di perusahaan yang mempertemukannya dengan sang kakak. Hari ini adalah hari magang terakhirnya, namun Ayunda belum juga menemukan seseorang yang berinisial A.
"Ay, aku belum menemukan orang berinisial A yang Kau minta itu. Jadi gimana dong dengan kesepakatan kita?" tanya Reina saat duduk di kursi kantin.
Ayunda hanya menolehnya sekilas, lalu kembali menikmati makan siang di hadapannya. Bisa jadi ini adalah kali terakhir makan di kantin Santoso Station. "Jangan terlalu di pikirkan", sahut Ayunda.
"Bagaimana dengan mas Tony?" tanya Reina.
Ayunda tersenyum simpul saat mendengar pertanyaan Reina. Dia memasukkan sesuap nasi dan lauk ke dalam mulutnya, " Kau juga tak perlu kuatir untuk masalah mas Tony!" seru Ayunda tanpa menoleh Reina. "Aku akan tetap membantumu", tuturnya sambil tersenyum ke arah Reina.
Reina melebarkan senyumnya. "Terima kasih, sahabatku", balas Reina sambil menggenggam tangan sahabatnya itu. Ayunda pun ikut tersenyum saat melihat sahabatnya bahagia.
***
Setelah jam makan siang berakhir, terlihat Reina yang berjalan dengan terburu-buru, saat akan membawa sebuah berkas ke ruangan Audio.
Brakk...
Seseorang menabrak Reina, map hijau di tangannya terjatuh, membuat isi map berserakan di lantai marmer.
"Maaf", ucap Reina tanpa memandang orang yang menabraknya, sambil memungut berkasnya yang berserakan. Reina menjulurkan tangannya hendak meraih lembar terakhir, namun seseorang sudah meraihnya terlebih dahulu.
"Ini!" seru seorang pria yang suaranya tak asing baginya.
__ADS_1
Saat Reina mendongak betapa kagetnya dia, seorang pria yang selalu ingin dihindarinya saat ini berdiri dihadapan Reina. "Asep", gumamnya.
"Hai, lama tak bertemu. Kenapa tak pernah lagi datang ke ruangan?" tanyanya dengan tersenyum.
Reina pun gugup, tak dapat menjawab perkataan Asep. "Maaf, Kak. Aku sudah di tunggu!" seru Reina yang berusaha menghindar.
"Eits, tunggu dulu dong", ucap Asep sambil menghalangi jalan Reina.
"Tolong Kak, aku sedang buru-buru", pinta Reina sambil memohon.
Asep tersenyum simpul, "aku akan mengizinkanmu lewat, jika Kau berjanji sesuatu padaku", sahut Asep.
"Ada apa ini?" tanya seseorang membuat Reina dan Asep kaget. "Kenapa kalian menghalangi jalan?" tanyanya dengan serius.
"Ma- maaf, Pak", ucap Asep dengan gugup. "Saya permisi, Pak", tuturnya, lalu berjalan meninggalkan Reina.
"Terima kasih, Kak Adrian", tutur Reina sambil tersenyum.
"Oke", balasnya dengan menyunggingkan sedikit senyuman, lalu berjalan meninggalkan Reina.
***
Ferdo berjalan mondar mandir sore ini, dia selalu marah-marah walaupun itu kesalahan kecil. Tya sang sekretaris jadi repot di buatnya, dia harus beberapa kali masuk ke ruangan Ferdo untuk merevisi sesuatu yang tidak begitu penting.
Ehem... Winda berdehem saat mendengar ucapan Adrian. Wajahnya yang semula terlihat bahagia, sekarang terlihat suram.
"Tya, mana berkas yang aku minta tadi?" sergahnya.
"Eh, iya sebentar, Bu. Aku- "
"Aku tunggu dalam waktu lima menit, sudah ada di mejaku!" seru Winda memotong ucapan Tya, lalu beranjak meninggalkan Adrian dan Tya. Winda terlihat kesal, dia berjalan sambil bergumam, "cih, ternyata lagu yang dinyanyikannya kemaren tidak dari hati."
"Ada apa dengan bu Winda?" tanya Tya sambil menoleh ke arah Adrian.
"Mungkin lagi pms!" seru Adrian yang masih dapat di dengar oleh Winda.
Winda semakin kesal, dia mempercepat langkah kakinya, tak ingin melihat bahkan mendengar suara Adrian dan Tya.
"Sepertinya Bapak benar", sahut Tya sambil geleng-geleng heran dengan sikap Winda.
"Oke, aku masuk ya", tutur Adrian sambil berjalan menuju pintu.
__ADS_1
"Ya, Pak. Semoga Bapak bisa menenangkannya", ucap Tya dengan penuh semangat.
Tok... tok.
Adrian langsung membuka pintu, tanpa menunggu Ferdo memintanya masuk.
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa Kau kelihatan suntuk?" tanya Adrian saat dia sudah berada diruangan Ferdo dan duduk di hadapannya.
Ferdo tak menjawab Adrian, dia terus memijit keningnya, entah kenapa kepalanya pusing setelah seharian memarahi setiap karyawan yang masuk ke ruangannya.
"Aku dengar dari Tya, mood Kamu lagi gak bagus hari ini. Kenapa?" tanya Adrian kembali.
"Bukan apa-apa. Ada apa Kau ke mari?" tanya Ferdo dengan suara parau, mengalihkan perhatian Adrian.
Adrian mendengus gusar, "Apa Kau tak ingin menceritakan masalahmu, pada sahabatmu ini? Lihatlah suaramu jadi seperti itu, karena sedari tadi Kau berteriak", ujar Adrian dengan menatap intens Ferdo.
Hening.
Ferdo menatap balik Adrian, dia sangat kesal karena sahabatnya itu suka sekali memberi tekanan padanya. Ferdo meraih kertas sticky note di mejanya, lalu mencatat sesuatu di dalamnya dan memberikannya pada Adrian.
"Apa-apaan, nih. Sekarang sahabatku ini gak bisa bicara lagi!" seru Adrian tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Ferdo.
"Baca dulu!" pinta Ferdo masih dengan suara paraunya.
"Tolong minta air jeruk hangat pada Tya!" ucap Adrian membaca pesan di sticky note. "Oke, aku yang akan mengambilnya", tuturnya sambil berjalan menuju pintu, lalu ke luar dari ruangan Ferdo.
"Atasanmu benar-benar aneh!" seru Adrian pada Tya saat menutup pintu ruangan Ferdo. "Lihatlah dia menuliskan permintaannya pada sticky note ini. Warnanya juga pink, puft." Adrian menahan tawanya.
Tya yang sedari tadi menekuk wajahnya pun ikut tersenyum, saat mendengar apa yang baru dikatakan oleh Adrian.
Tiba-tiba Ferdo membuka pintu ruangannya dan menatap tajam ke arah Tya. Tya yang di tatap seperti itu langsung mengalihkan pandangannya pada layar laptop di hadapannya.
Adrian berbalik menghadap Ferdo, "jangan menakut-nakuti seperti itu!" pinta Adrian pada Ferdo.
Ferdo tak membalas ucapan Adrian, dia malah memberikan kertas sticky note yang baru.
"Cepat!" ucap Adrian membaca pesannya. "Ya, baiklah. Aku akan berjalan dengan kecepatan penuh", tuturnya sambil meninggalkan Ferdo yang sudah menutup pintu ruangannya.
"Entah apa yang terjadi padanya hari ini", Adrian bergumam sambil berjalan menuju pantry.
***
__ADS_1
Setelah menunggu kurang dari sepuluh menit, Ferdo akhirnya menikmati segelas air jeruk hangat buatan khusus Adrian. Dia berterima kasih pada sahabatnya itu, karena masih memperhatikan apa saja yang dibutuhkannya. Sejak kecil, Adrian memang selalu memperhatikan Ferdo. Bahkan Adrian menggantikan peran seorang ibu, yang selalu memperhatikan Ferdo saat dia sakit. Semua perlakuan Adrian padanya tak akan pernah dilupakannya, karena Adrian adalah sahabat sejatinya.
To be continue...