
Kantor Santoso Station sedang ramai dikunjungi awak media lain. Mereka sedang menunggu seseorang datang untuk memberikan klarifikasi atas sebuah peristiwa yang terjadi tepatnya 14 tahun yang lalu.
"Permisi... Permisi...", ujar seorang pengawal untuk memberi jalan pada sang kakek yang akan turun dari mobil. Setelah memastikan keadaan aman, sang pengawal membuka pintu dan menuntun Tuannya keluar dari dalam mobil.
"Tuan... Tuan...", panggil beberapa orang awak media sambil menyodorkan mic ditangannya, namun sang pengawal menghalanginya. "Cuma 2 pertanyaan Tuan, tolong dijawab", pinta seorang reporter wanita.
Sang kakek menghentikan langkahnya, lalu dia membalikkan badannya hingga berhadapan langsung dengan awak media. Sang kakek menatap camera yang sedang on. "Cukup 2 pertanyaan dan aku berhak untuk tidak menjawabnya jika aku tidak ingin menjawab", ujar sang kakek dengan tegas.
"Baik Tuan", sahut sang wanita yang sudah siap bersama dengan rekannya yang sedang memegang kamera. Lalu dia mendekatkan mic di bibirnya. "Pertama... Ada isu yang mengatakan bahwa pelaku pembunuhan anak dan menantu Tuan sudah ditangkap, apakah pelakunya adalah keluarga dekat Tuan?"
"Bisa jadi", jawab kakek tanpa berfikir lebih dulu.
"Terimakasih Tuan", ucap sang reporter dengan sedikit kecewa. "Dan yang kedua, apakah cucu Tuan yang bernama Alfian sudah menikah?" tanyanya kembali.
"Tidak", sahut sang kakek yang membuat semua yang hadir di sana terkesiap.
"Maaf, Tuan. Apakah ini kebenarannya?" tanya sang reporter memastikan.
"Cuma 2 pertanyaan kan. Kalau begitu saya permisi", ucapnya sambil meninggalkan para awak media yang memandanginya dengan muka cengo.
***
Di restoran bundo.
Adrian menutup kembali laptop dihadapannya saat baru saja menonton berita live dari gedung Santoso Station.
"Kenapa kakek menjawab seperti itu", ucap Adrian bergumam. Lalu dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel dari dalamnya. Jarinya terus menscroll ponsel yang baru saja dinyalakannya itu. Setelah Adrian menemukan kontak Winda, dia langsung menekan tombol hijau di layar ponselnya.
"Assalamualaikum, my hubby", ucap Winda memberi salam dari seberang telepon.
"Waalaikumsalam... Apakah my hubby sedang sibuk?" tanya Adrian.
"Ehm, sedikit", sahutnya.
"Apa kita bisa bertemu sekarang?" tanya Adrian sambil bangkit dari kursi, lalu berjalan menuju toilet.
"Setengah jam lagi aku ke sana", ucap Winda masih dari seberang telepon.
"Oke, aku tunggu disini", sahut Adrian.
__ADS_1
Lalu mereka saling mengakhiri sambungan telepon dengan mengucapkan salam.
***
Pagi hari di kota London.
Ayunda sedang menikmati sarapan paginya. Sedangkan teman sekamarnya yang berasal dari negeri jiran itu baru saja menyelesaikan sarapan paginya.
"I dah selesai makan, nih. You nak kita berangkat sama ke?" tanyanya.
"Tak payah", sahut Ayunda yang mulai terbiasa dengan bahasa teman sekamarnya itu.
"Oke kalau macam tu. See you kat kampus ya" ujarnya sambil berjalan keluar dari kamar.
"Oke", balas Ayunda sambil tersenyum pada Siti temannya itu. Lalu dia kembali membaca buku yang sedari dipegangnya. Tak berselang lama ponselnya berbunyi.
"Assamualaikum, Dafa", ucap Ayunda saat baru saja menggeser tombol hijau diponselnya.
"Waalaikumsalam. Apa kau sudah menonton link yang baru saja aku kirim?" tanya Dafa yang merasa kesal karena Ayunda belum juga membaca pesan darinya.
"Maaf, dari tadi aku mengulang materi yang diberikan pak Dave", ujarnya.
"Iya aku tahu. Aku hanya mempersiapkan diri lebih awal saja", sahut Ayunda.
"O, bagus kalau begitu. Jangan lupa tonton link yang aku kirim ya. Setelah selesai beritahukan juga pendapatmu padaku", ujar Dafa dari seberang telepon.
"Iya, iya bawel", sahut Ayunda dengan sedikit kesal, karena desakan Dafa.
Lalu mereka saling memutus sambungan telepon, setelah mengucapkan salam.
Setelah itu Ayunda buru-buru membuka link yang sudah dikirimkan oleh Dafa padanya. Ayunda menatap serius layar ponsel ditangannya, dia mendengarkan pertanyaan dari seorang reporter. Ayunda terkesiap saat mendengarkan jawaban dari kakek Alfian.
"Apa maksud kakeknya Alfian?" ucap Ayunda yang masih bertanya-tanya didalam benaknya. Lalu dia menghubungi Dafa kembali untuk membicarakannya.
***
Langit senja mulai kembali keperaduannya. Namun karyawan Santoso Station seakan tak ada hentinya mengerjakan pekerjaan mereka. Kakek Santoso telah memberikan ceramah yang membangun semangat kerja mereka.
"Silakan duduk dulu, kek", pinta Winda pada sang kakek saat baru saja masuk ke dalam ruangannya, lalu dia menutup rapat pintu. "Kakek mau minum sesuatu?" tanya Winda menawarkan.
__ADS_1
"Tidak perlu, kakek gak bisa lama", ujar sang kakek saat bokongnya berhasil menempel di sofa.
"Apa gak bisa di tunda besok keberangkatan kakek?" tanya Winda sambil meletakkan segelas air putih di meja dihadapan sang kakek.
"Tidak bisa", sahut sang kakek dengan tegas. "Apa yang mau kau bicarkan? Katakan sekarang" ujar sang kakek.
"Winda mau tanya sesuatu sama kakek", ucapnya sambil memposisikan dirinya tepat di samping sang kakek. "Ehm, itu kek. Mengenai pertanyaan reporter yang menanyakan status pernikahan Alfian. Kenapa kakek berbohong saat menjawabnya?" tanya Winda dengan wajah serius.
"Kakek tidak berbohong", sahut sang kakek sambil menatap ke arah Winda. "Memang Alfian belum menikah."
"Maksud kakek gimana?"
"Jadi waktu acara pernikahan Alfian dan Siska berlangsung di gedung semula itu akal-akalan kakek yang menyebarkan isu ada bom", ujar sang kakek menjeda ucapannya. "Trus, kakek sudah mempersiapkan tempat yang lain yang sangat buruk kondisinya."
"Iya Winda ingat kejadian itu", ujarnya memotong ucapan sang kakek.
"Kakek dengan sengaja mencari penghulu bohongan. Dan berpura-pura tidak tahu kalau itu penghulu bohongan. Jadi pernikahan mereka tidak sah dong."
Winda menatap sang kakek dengan wajah bingung. "Tapi mereka kan sudah punya buku nikah, kek", ucapnya kemudian yang tidak terima dengan pernyataan sang kakek.
"Itu juga palsu", sahut sang kakek dengan santai.
"Apa?" ucap Winda sambil menutup mulutnya yang menganga. "Kenapa kakek melakukan ini semua?" tanya Winda yang tak percaya sang kakek tega melakukan semua kejahatan itu.
Sang kakek mendengus kasar. "Kakek hanya ingin menyelidiki pamanmu itu. Karena dialah yang telah mencelakai mamamu", ujar sang kakek yang membuat Winda terperangah.
"Apa? Mencelakai mama", ucapnya histeris. Dia tak percaya sang paman tega melakukan perbuatan kejam itu pada saudara kandungnya sendiri.
Sang kakek menganggukkan kepalanya. "Ya", sahut sang kakek. Lalu dia bangun dari tempat duduknya sambil di bantu sang pengawal yang sedari tadi berdiri di dekat pintu masuk.
"Kakek mau kemana?" tanya Winda yang ingin meminta penjelasan lebih.
"Kakek harus pulang sekarang dan mengenai mamamu, kamu jangan kuatir, ya. Mamamu masih hidup, kok", ujar sang kakek yang berhasil membuat Winda bangkit dari tempat duduknya.
"Katakan dimana mama kek!" seru Winda sambil memohon dengan menggenggam erat tangan sang kakek.
Ceklek.
Kakek dan Winda mengalihkan perhatiannya pada pintu yang baru saja di buka seseorang.
__ADS_1