
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Meeting dadakan kembali diadakan. Semua divisi akan mempresentasikan program masing-masing. Sebuah program yang sudah dipersiapkan dengan matang mereka susun dengan percaya diri, agar Ferdo sang pimpinan tidak marah pada mereka. Presentasi pun di mulai, setiap mata memandang kepala divisi memaparkan program dan ide masing-masing dengan perasaan gugup. Namun beberapa saat kemudian wajah serius kini menggantikan ketegangan di antara mereka, sesaat setelah Ferdo berbicara.
Ferdo memberikan pertanyaan di sela presentasi yang mereka sampaikan, bahkan dia tak segan-segan memberikan pujian atas ide brilliant dari masing-masing divisi . Mereka yang hadir di ruang rapat saling melirik dan melemparkan senyum, karena perubahan sikap Ferdo membuat suasana rapat menjadi tidak menegangkan lagi.
Setelah semua divisi menyelesaikan presentasinya, Ferdo meminta mereka memberikan applause saat berakhirnya presentasi. Sebuah keputusan telah di ambil oleh Ferdo. Dia setuju dan sangat puas dengan dua program baru yang dipaparkan oleh divisi marketing. Bahkan dia meminta minggu ini semuanya sudah bisa dijalankan.
Ferdo memberikan tanggapan sebagai penutup rapat dadakan itu. Semua orang bahagia, karena Ferdo baru saja mengumumkan akan ada bonus bagi semua karyawan, jika program acara baru mencapai sukses. Semua yang hadir di ruang rapat memberikan applause, saat Ferdo mengakhiri ucapannya. Lalu Ferdo berjalan meninggalkan ruang rapat yang diikuti oleh Adrian dari belakang.
"Apa ini benar-benar Pak Ferdo?" tanya seorang karyawan pada rekan kerja di sebelahnya dengan berbisik.
"Emang Kau pikir pak Ferdo itu seperti apa?" balas rekan di sebelahnya sambil mengkerutkan keningnya.
Ehem...
Adrian berdehem menghentikan obrolan mereka. "Jangan suka bergosip, kalau masih mau dapat bonus!" seru Adrian dengan berbisik, namun nadanya penuh penekanan.
Kedua karyawan yang mendengar perkataan Adrian sama-sama terdiam, mereka tak dapat melanjutkan ucapannya. Adrian yang berhasil membungkam kedua karyawan itu, hanya melirik sekilas sebelum melanjutkan langkahnya meninggalkan ruang rapat. Salah satu dari mereka tak terima telah di tuduh bergosip. "Ini semua karenamu! Aku telah menampik ucapanmu, tapi tetap saja jadi sasaran pak Adrian", ucapnya sambil beranjak meninggalkan rekan kerja yang sedang memandangnya dengan muka cengo, lalu dia ke luar dari ruang rapat.
*
Di dalam ruangan Ferdo, terlihat berkas-berkas yang dibutuhkan oleh beberapa divisi, lembar kertas yang ada di hadapannya saat ini, adalah lembar terakhir yang akan dia tanda tangan. Sang sekretaris merasa takjub, saat baru saja melangkah masuk keruangan sang atasan. Berkas di sisi sebelah kiri, semuanya sudah berpindah tempat ke sisi sebelah kanan meja kerja Ferdo.
"Permisi, Pak", sapa Tya dengan senyum lebar. "Apakah semua berkas ini sudah selesai, Pak?" tanya Tya dengan ragu.
__ADS_1
"Seperti yang Kau lihat!" seru Ferdo dengan tatapan serius sambil memegang sebuah pena di tangannya.
"Maaf, Pak. Saya hanya mau memastikan saja", balas Tya dengan sedikit menunduk. Saat ini dia tidak tahu apakah suasana hati sang bos sedang baik atau tidak.
Ferdo meletakkan kembali pena di tangannya, "silakan di ambil", ucapnya dengan nada lembut, membuat Tya mengangkat kembali kepalanya.
"Baik, Pak!" sahut Tya dengan tersenyum, lalu dia merapikan semua berkas di atas meja Ferdo, sebelum membawanya ke luar ruangan. "Saya permisi, Pak", ucap Tya saat berkas-berkas itu telah berada di tangannya, kemudian dia berjalan menjauhi Ferdo.
Baru saja Tya memegang handle pintu, seseorang telah memaksa masuk ke dalam ruangan Ferdo. Tya tak dapat menghalanginya masuk, karena berkas di tangannya menyulitkannya bergerak bebas. "Non Siska, tolong jangan menyulitkanku", ucap Tya dengan lembut.
Siska tidak peduli dengan ucapan Tya, dia langsung berjalan dengan gontai menghampiri Ferdo. "Fer, papa mengundangmu makan nanti malam", tuturnya dengan lembut, dan gaya yang di buat sok manja. Namun tingkahnya itu membuat Ferdo mual, dan ingin sekali memiliki pintu ke mana saja.
"Maaf, aku tidak bisa", ucapnya tegas pada Siska.
"Tapi Kakek juga di undang", ucapnya kemudian, membuat Ferdo syok. Dia tidak habis pikir, kenapa sang Kakek tidak memberitahunya, kalau dia sedang berada di kota ini.
"Tapi, Kau akan datang, kan?" tanya Siska memastikan.
Ferdo tidak langsung menjawab, dia memandang jam yang melingkar di tangannya. Lalu dia meraih jas yang tergantung di kursi kerjanya. Ferdo melirik sekilas ke arah Siska, sebelum meninggalkan ruangannya.
"Ferdo! Fer...!" panggil Siska sambil mengejarnya, karena Ferdo pergi tanpa menjawab pertanyaannya. Dia berusaha meraih tangan Ferdo, namun Ferdo langsung menepisnya.
"Tya... aku ada urusan di luar. Mungkin tidak akan balik ke kantor lagi", ucap Ferdo pada sang sekretaris. Namun tetap mengabaikan Siska.
"Baik, Pak", balas Tya dengan tersenyum ramah pada sang bos. Tya memandang sang bos yang sudah memutar badannya, lalu berjalan menjauhinya.
"Ferdo! Tunggu dulu!" seru Siska dengan sedikit berteriak dan terus mengikuti langkah Ferdo hingga sampai di depan lift.
__ADS_1
Winda yang baru saja lewat, tidak sengaja melihat kelakuan sang sepupu yang sangat tidak tahu malu itu. Ferdo sudah berkali-kali menepis tangan Siska, namun Siska tetap menggayut tangannya.
"Siska!" teriak Winda memanggilnya.
"Bagus Kau di sini. Tolong beritahu sepupumu ini, jika dia masih mau di izinkan masuk, suruh dia pergi dari hadapanku!" sergah Ferdo.
"Ayo..." ajak Winda pada Siska sambil menarik paksa tangannya. "Apa Kau tidak malu di lihat semua karyawan!" teriak Winda dengan kesal, masih dengan menarik tangan Siska menuju ruangannya.
"Winda, hentikan!" balas Siska dengan berteriak, namun Winda mengabaikannya.
"Kenapa Kau berbuat seperti itu pada Ferdo?" tanya Winda saat baru saja menutup pintu ruangannya. Winda berjalan menghampiri Siska yang masih memegang pergelangan tangannya, yang sedikit sakit, "Kau tidak boleh memaksanya. Jika Kau terus memaksanya, maka Ferdo akan semakin menjauhimu!" ujar Winda sambil menatap Siska dengan serius.
Siska mengernyitkan keningnya, "apa Kau akan membantuku mendapatkannya?" tanya Siska dengan membalas tatapan Winda.
"Jika untuk membujuknya datang ke acara nanti malam, aku akan coba. Tapi tidak untuk membantumu mendapatkannya, Kau berusahalah sendiri!" seru Winda sambil duduk di kursi kerjanya.
Siska menyeringai, "baiklah, lakukan itu saja sudah cukup bagiku", ujar Siska dengan tersenyum, yang di balas dengan senyuman oleh Winda.
***
Di sebuah mall terbesar di kota itu, Ayunda, Reina dan Tony sedang berjalan mengelilingi beberapa toko. Sebenarnya Ayunda terpaksa ikut dengan Reina, karena janjinya untuk mendekatkan Reina dengan sang bodyguard. Ayunda beberapa kali tertinggal di belakang, saat Reina berpura-pura salah menarik tangan sahabatnya itu.
"Eh, maaf mas Tony", ucap Reina sambil menutup mulutnya. Reina berpura-pura khilaf, karena telah salah mengira kalau yang di pegangnya adalah tangan Ayunda. Tony hanya membalasnya dengan tersenyum, saat Reina meminta maaf. "Ay, ayo kita cari tempat makan!" seru Reina sambil menoleh ke arah Ayunda.
"Apakah aku boleh ikut?" tanya seorang pria yang datang tiba-tiba dari belakang Ayunda.
To be continue...
__ADS_1