Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Terjadinya Penyatuan antara Adrian dan Winda


__ADS_3

Alfian menatap Ayunda dalam diam. Suara biduan yang masih mendendangkan lagu mengisi kebisuan di antara mereka.


"ini, makanlah dulu." Dafa meletakkan sepiring nasi berisi lauk tepat dihadapan Ayunda.


Ayunda mendongak. "Terimakasih", ucap Ayunda sambil tersenyum.


Alfian merasa keberadaannya sudah menjadi penghalang di antara mereka. Dia pun bangkit dari tempat duduknya menyerahkan kembali kursi pada pemiliknya semula. Dia melangkahkan kakinya menuju luar gedung, hingga tanpa terasa dia sudah berada diparkiran.


"Pak Alfian!" seru seseorang memanggil namanya. Alfian pun membalikkan badannya mencari sumber suara.


"Reina", ucapnya saat melihat sekretarisnya itu berjalan bergandengan tangan dengan seseorang. "Kalian!" ucapnya dengan menunjuk Reina dan Tony bergantian.


"Kenapa pak? Apa saya tidak boleh jalan bareng mas Tony?" tanya Reina saat melihat ekspresi sang bos.


"Bukan tidak boleh", sahut Alfian dengan tersenyum. "Tapi, ini sejak kapan?" tanyanya dengan bersedekap.


"Mulai hari ini, pak", ucap Reina dengan tersipu. Namun Tony hanya diam, tak ada bantahan yang keluar dari mulutnya.


"O, bagus kalau begitu. Asal selama di kantor kalian tidak berpacaran!" seru Alfian mengingatkan. "Kalau ketahuan saya pecat!"


Reina pun mulai was was. Dia menatap Tony seakan meminta pembelaan, karena setahu Reina tidak ada peraturan perusahaan yang melarang karyawannya berpacaran.


"Lanjutkan pacarannya", ucap Alfian sambil berjalan meninggalkan Reina dan Tony.


***


Alfian berlari di lorong rumah sakit, saat dokter yang menangani bayi Siska meneleponnya.


"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Alfian saat baru saja tiba diruang inkubator.


"Alhamdullilah, detak jantungnya sudah kembali normal", ujar sang dokter yang membuat Alfian bernafas lega.


Lalu Alfian berjalan menuju inkubator. "Kenapa, nak? Kau merindukan ibumu, ya?" tanya Alfian lirih. Meskipun putri Siska bukanlah anak kandungnya, namun dia sangat menyayanginya. Bahkan sebuah nama telah dia berikan, Zahra nama yang sudah dia persiapkan untuk anak perempuannya.

__ADS_1


Bulir kristal jatuh dengan bebas membasahi wajah tegas Alfian, saat melihat tangan mungil Zahra hendak meraih sesuatu. "Sabar ya, nak. Sebentar lagi Zahra bisa keluar dari sana", ucapnya lirih.


Sang dokter menatap haru interaksi Alfian dan putri kecilnya. "Subhanallah, kau memang ayah yang baik", ucap sang dokter sambil tersenyum. Lalu dia meminta Alfian agar segera datang keruangannya, karena sang dokter ingin menjelaskan mengenai keadaan Zahra padanya.


***


Acara pernikahan megah Adrian dan Winda telah selesai. Para tamu undangan telah kembali ke kediaman masing-masing dengan membawa souvenir yang disediakan oleh pihak pengantin.


"Nanti langsung istirahat saja ya", ujar Adrian saat baru saja selesai menyalami para tamu undangan.


Winda pun mengangguk setuju. Lalu kembali duduk di kursi pengantin untuk mengistirahat tubuhnya yang mulai remuk.


Mamanya Winda datang menghampiri Adrian dan Winda. Lalu memberi wejangan kepada keduanya, agar pernikahan mereka selalu diberkahi dengan kebahagiaan. "Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah", ujar sang mama.


Winda memeluk erat sang mama. "Terimakasih, ma", ucapnya dengan rasa haru.


Setelah memberi wejangan pada kedua pengantin, mama Winda berpamitan pulang pada besannya, Winda dan menantunya.


Winda menatap nanar kepergian sang mama. Baru saja dia bercengkrama dengan sang mama, namun harus berpisah karena status Winda saat ini adalah seorang istri.


Adrian dan Winda mengangguk hampir bersamaan. "Ayo, bun", sahut Adrian menyetujui.


Lalu mereka berjalan bersama meninggalkan gedung yang masih dihiasi dengan bunga dan ornamen bernuansa merah gold itu.


Ayunda dan Dafa yang sedari tadi sudah berada di luar gedung pun datang menghampiri orang tua Ayunda yang baru saja keluar dari gedung.


"Ayah, bunda. Mau pulang?" tanya Ayunda saat dia berdiri disisi sang bunda.


"Ya, nak. Ayo, kita pulang", ajak sang bunda dengan menggayut tangan Ayunda.


Tak lama kemudian Adrian datang sambil menuntun Winda yang sedikit kesusahan saat berjalan.


***

__ADS_1


Di sebuah rumah tanpa penghuni dan tanpa penerangan di duga telah menjadi tempat persembunyian bagi paman angkat Adrian. Tempat itu telah dikepung oleh pihak yang berwajib.


Dengan lantang pemimpin pihak yang berwajib itu meminta orang yang sedang bersembunyi di dalam untuk segera keluar, karena tempat itu sudah dikepung. Namun tidak terlihat orang yang sedang di incar itu keluar dari dalam rumah.


Tiba-tiba terdengar suara letusan senjata api, saat sekelebat bayangan ke luar dari pintu belakang. Dengan cepat mereka melumpuhkan paman angkat Adrian yang mencoba kabur.


***


Di dalam kamar Adrian.


Adrian baru saja menyelesaikan ritual mandinya, sedangkan Winda masih duduk di depan meja rias untuk membuka segala pernak pernik yang masih menempel, mulai dari kepala hingga ke seluruh badannya.


"Ayo, mandilah", ucap Adrian sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk.


"Iya, sedikit lagi", sahut Winda sambil membuka anting-anting yang dia kenakan. Setelah semua pernak pernik telah dilepaskan semuanya. Winda berjalan menuju kamar mandi.


Dalam waktu kurang dari 20 menit Winda sudah menyelesaikan ritual mandinya. Namun Winda lupa membawa pakaian gantinya. Dengan terburu-buru Winda berlari menuju koper miliknya yang masih terletak disamping almari milik Adrian.


"Aww..." pekik Winda saat tubuhnya hampir saja terjatuh, jika tidak ditopang sang suami.


"Hati-hati", ujar Adrian sambil menatap sesuatu yang mencuat dari dalam handuk yang masih melilit ditubuh Winda.


"Sepertinya aku akan menarik kembali ucapanku, tadi", ucap Adrian. Winda yang paham arah ucapan suaminya itu, langsung beringsut mundur.


"Mau kemana?" tanya Adrian sambil merangkul pinggang Winda, hingga mereka semakin rapat. Dengan cepat Adrian memagut bibir ranum Winda yang sedari tadi menggodanya. Kemudian dia menjatuhkan tubuh Winda di atas ranjang.


Winda yang paham akan niat sang suami, tidak ingin meronta. Dia seakan membiarkan tangan Adrian bergerak liar di area sensitifnya. Hingga lenguhan berhasil keluar dari mulut Winda. Adrian membuka kasar handuk yang masih menempel di tubuh Winda. Hingga tubuh polosnya memenuhi netra Adrian. "Sudah siap?" tanya Adrian meminta persetujuan sang istri. Winda langsung menganggukkan kepalanya dengan wajah tersipu. Tanpa aba-aba Adrian langsung menindih sang istri hingga penyatuan itu pun terjadi.


Setelah pergulatan hebat keduanya terjadi, Adrian yang sudah kelelahan berbaring di samping sang istri dengan nafas yang memburu. "Terimakasih my hubby", ucap Adrian sambil membalikkan tubuhnya, lalu mengecup kening Winda.


Winda yang masih merasakan sakit di area sensitifnya, membalas dengan menanggukkan kepalanya.


"Masih sakit?" tanya Adrian saat melihat wajah memelas Winda.

__ADS_1


"Sedikit", balasnya.


Lalu Adrian membawa Winda ke dalam pelukannya, barangkali dapat mengurangi rasa sakit yang dialami oleh Winda. Namun hal itu tidak terlalu berguna. Winda bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi, untuk membersihkan dirinya.


__ADS_2