
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Adrian menatap curiga wajah lesu sang adik yang baru saja pulang dari kampus.
"Assalamualaikum... " ucap Adrian membuyarkan lamunan sang adik. Ayunda menatap sang kakak sambil mengkerutkan keningnya.
"Waalaikumsalam... " balas Ayunda pada sang kakak, namun masih dengan wajah bingung. Lalu dia berjalan menghampiri sang kakak yang sedang duduk di sofa.
Saat duduk di sofa sisi kiri sang kakak, Ayunda baru sadar kalau dia telah lupa mengucapkan salam sewaktu masuk tadi. "Maaf, Kak. Yunda lupa ucapkan salam", tuturnya sambil menampilkan deretan gigi rapinya.
"Hem, iya itu salah satunya, tapi ada satu lagi", sahut sang kakak dengan menatap serius Ayunda.
"Ehm, apa lagi, Kak?" tanya Ayunda sambil berfikir apa yang salah pada dirinya.
Adrian mencubit gemas pipi sang adik. "Ke mana senyum adik kesayanganku ini pergi, ha?" tanyanya masih dengan mencubit pipi sang adik hingga memerah.
"Sa,, sakit, Kak! seru Ayunda dengan kesulitan berbicara, akibat ulah sang kakak.
"Adrian!" seru sang bunda saat melihat apa yang dilakukan putranya itu pada Ayunda. "Apa yang Kau lakukan pada pipi Yunda sampai memerah, Nak!" Sang bunda menghampiri Adrian yang termangu melihat kedatangan sang bunda. Adrian seperti anak yang sedang tertangkap basah melakukan kejahatan.
"Bu- bukan seperti itu Bunda." Adrian mulai tergagap saat melihat sang bunda duduk di sisi kanannya.
"Apa?" tanya sang bunda yang berpura-pura menatap tajam Adrian.
"Bunda sayang." Adrian mengalihkan perhatiannya pada sang bunda, lalu mengusap lembut wajah sang bunda. "Bunda terlalu sering di dapur, nih. Makanya muka bunda berminyak... aww", ucapannya terputus saat sang bunda menepuk lengannya. "Bunda sudah gak sayang sama Adrian lagi, nih." Adrian mengusap kasar lengannya yang sebenarnya tidaklah sakit.
"Kamu itu makin jahil ya!" seru sang bunda sambil menjewer telinga Adrian.
__ADS_1
"Aagh... Bunda ampun!" ucap Adrian sedikit berteriak, namun jeweran sang bunda sebenarnya tidaklah sakit.
Sang bunda dan Ayunda tertawa bersama atas sikap manja Adrian. Mereka baru pertama kali melihat sikap kekanakan Adrian.
"Biarkan Ayunda mandi, Adrian!" pinta sang bunda masih dengan sisa tawanya.
"Ya, Bunda. Tapi setelah mandi, kita lanjutkan obrolan yang tadi, Yunda", ucap Adrian dengan serius pada sang adik.
"Baik, Kak", balas Ayunda dengan tersenyum pada sang kakak, lalu Ayunda beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya.
*
Ferdo berdiri di balkon apartemennya, mata sendunya menerawang karena memikirkan sesuatu yang telah di dengarnya dari Adrian di kantor tadi siang. Wajah semakin menggeram bahkan dia memegang erat pagar pembatas balkon saat mengingat pelaku yang menabrak mobil ke dua orang tuanya.
"Aku akan datang ke sana", ucapnya masih dengan menggeram. Ferdo mengabaikan ucapan Adrian tadi siang, yang mengatakan bahwa itu hanyalah tipuan Siska.
Ferdo meraih ponsel yang ada di dalam sakunya, lalu menghubungi beberapa orang suruhannya untuk melakukan pengintaian di alamat yang diberikan Adrian. Setelah orang suruhan Ferdo mengerti arahan yang telah disampaikannya, Ferdo kembali masuk ke dalam apartementnya sambil menghela nafas berat.
*
Beberapa orang suruhan Ferdo datang untuk mengintai di sebuah gudang yang sangat kotor, karena sudah lama tidak ditempati. Dengan sangat berhati-hati mereka menyusuri seluruh gudang tua itu, namun tidak menemukan apa pun. Bahkan setelah di ulang kembali menyusuri setiap sudut gudang itu, tak ada satu petunjuk pun yang menyatakan bahwa seseorang pernah tinggal di sana.
"Tidak ada apa-apa di sini. Coba cek kembali alamat yang diberikan si bos!" Salah seorang suruhan Ferdo memberi perintah pada rekannya.
"Sudah sesuai, Bro. Dan hanya ada satu gudang di daerah ini. Kau juga sudah melihatnya, kan. Di sepanjang jalan yang kita lewati tidak ada gudang yang lain selain gudang ini", tutur salah seorang suruhan Ferdo dengan wajah bingung.
"Laporkan saja sama si bos. Karena sebentar lagi malam, dan di sini minim penerangan", sahut salah seorang yang sudah mulai bergidik ngeri.
"Cih, dasar Kau orang aneh", balas salah seorang rekannya. "Sama penjahat bersenjata Kau tidak pernah takut, tapi pada makhluk yang tak kasat mata Kau sangat penakut", ledeknya pada rekannya itu.
__ADS_1
"Jelas bedalah", balasnya masih dengan bergidik ngeri. "Ayo, segera telepon bos!" pintanya dengan tidak sabar.
Seorang rekannya berdecak kesal sambil meraih ponsel di sakunya. Saat dia menghubungi sang bos, dia hanya mendengar nada terhubung meskipun sudah mengulanginya berkali-kali.
"Si bos ke mana? Dia tidak mengangkat teleponnya juga!" seru orang suruhan Ferdo sambil menghempaskan tangannya dengan kesal.
"Hei, jangan marah. Barang kali bos lagi mandi", ketus orang suruhan Ferdo yang kesal dengan sifat tidak sabar rekannya itu.
"Hem, iya", ucapnya yang merasa malu, karena telah emosi saat menunggu panggilan teleponnya di angkat oleh sang bos.
*
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Ferdo baru saja melihat cahaya layar ponselnya redup. Dia langsung melangkahkan kakinya untuk meraih ponsel yang terletak di atas nakas.
Belasan panggilan tak terjawab dari sang anak buah menghiasi layar ponselnya saat dia baru saja memasukkan sandi ponselnya. Ferdo langsung menelepon kembali sang anak buah, tanpa peduli bahwa dia masih mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Toh dia hanya melakukan panggilan biasa bukan video call.
"Hallo", sahut Ferdo dengan tidak sabar.
"Apa!" Ferdo kaget saat mendengar apa yang baru saja dilaporkan sang anak buah dari ujung telepon. Emosinya meluap, karena merasa telah dipermainkan oleh Siska.
"Oke... kalian pulang saja." Ferdo memberi perintah pada sang anak buah. Dia khawatir jika itu adalah jebakan buat mereka.
Ferdo menutup sambungan telepon, setelah sang anak buah memahami intruksinya.
"Benar kata Adrian, jika itu hanyalah akal-akalan Siska", ucap Ferdo dengan kesal. "Lebih baik aku tidak memberitahu Adrian tentang ini. Nanti dia meledekku", ucapnya sambil membayangkan reaksi Adrian. Lalu dia berjalan menuju walk in closet untuk mengenakan pakaian santainya.
*
Di sebuah ruangan, namun bukan ruangan di apartement Siska. Dia sedang menghubungi sang papa untuk melaporkan sesuatu yang penting, namun baru saja Siska mengucapkan satu kata, sang papa memintanya untuk mendengarkan saja dan hanya menjawab ya. Siska pun menuruti perkataan sang papa, dia mendengarkan setiap ucapan sang papa.
__ADS_1
Setelah Siska mendengarkan penjelasan sang papa bahwa seseorang telah menaruh alat penyadap di rumah atau barang yang selalu di bawa Siska. Dia pun mengingat sesuatu yang mencurigakan seperti yang dikatakan oleh sang papa. Siska teringat tas yang selalu di bawanya ke mana saja. Dia terperangah, karena baru menyadari selama ini perkataannya telah di dengar oleh Ferdo.