Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Penyebab Dafa Kritis


__ADS_3

Ayunda berjalan dengan langkah gontai menghampiri kedua orang tuanya dan sang kakak yang sedang duduk di kursi tunggu.


"Bagaimana keadaan Dafa, nak?" tanya sang ayah saat melihat wajah lesu Ayunda.


Ayunda mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh di sudut matanya, lalu dia menghela nafas. "Yunda gak tahu harus ngomong apa, yah. Keadaannya sangat memprihatinkan."


"Kesedihan tidak akan membuat Dafa sembuh nak, lebih baik kita mendoakannya."


Seorang pria paruh baya yang baru saja melewati keluarga Ayunda terpaksa menghentikan langkahnya saat mendengar nama Dafa di sebut. "Apa kalian ini ada hubungannya dengan wanita yang bernama Ayunda?" tanya pria yang belum mengenal Ayunda itu.


"Saya Yunda, pak", sahut Ayunda dengan sopan.


"Oh, jadi kamu wanita yang sudah menyebabkan anak saya jadi seperti ini? Wajahmu memang cantik, tapi tidak dengan hatimu."


Ayunda merasa tertuduh dengan ucapan yang sudah dapat dipastikan itu adalah papanya Dafa. "Maaf, pak. Apakah Dafa menabrak sesuatu atau bertabrakan dengan mobil lain?" Ayunda bertanya karena dia sempat melihat mobilnya Dafa terparkir di tempat parkir rumah sakit, tapi tidak ada tanda-tanda mobil itu baru saja mengalami kecelakaan.


"Untuk apa kau menanyakan hal itu. Kalau bukan karena kau mendorong Dafa, dia tak akan mungkin di tabrak mobil!"


Seluruh keluarga Ayunda tersentak kaget mendengar penuturan papanya Dafa.


"Apa bapak yakin dengan pernyataan bapak?" tanya ayah Ayunda dengan raut wajah serius.


"Heh, ternyata ada ayah yang mau membela anaknya. Pikirkan saja dirimu sendiri, karena jika putrimu ini dipenjara maka tidak akan ada yang menjagamu!"


Adrian tersulut emosi kala mendengar hinaan dari papa Dafa. "Tolong bapak jaga bicaranya. Dan satu hal lagi Ayunda berada di rumah sejak Dafa meninggalkan rumah kediaman kami. Semua keluarga mengetahui itu. Silakan bapak melaporkan apa yang bapak ketahui, saya tidak akan tinggal diam jika keluargaku di fitnah!"


Papanya Dafa menatap tajam ke arah Adrian. "Aku pasti akan segera melaporkannya! Jadi tunggu saja", ucapnya dengan tegas, lalu dia beranjak meninggalkan keluarga Ayunda.


"Bagaimana ini? Kenapa Ayunda kita yang dipersalahkan", ujar sang bunda dengan raut wajah khawatir.


"Bunda jangan kuatir. Kebenaran pasti akan selalu menang. Percayalah!" Adrian mencoba menenangkan sang bunda yang sedang gelisah.


"Ya, nak. Bunda hanya takut Yunda kita di penjara."


"Itu tidak akan terjadi bun. Ayo, kita pulang saja dari sini!" ajak Adrian sembari mendorong kursi roda sang ayah.Sang bunda dan Ayunda pun beranjak dari posisi mereka masing-masing, mereka berjalan mengikuti langkah Adrian.


 


Di sebuah kamar, tampak seorang wanita sedang mengobrak-abrik beberapa laci dalam sebuah ruangan yang sebelumnya masih tersusun sangat rapi.


"Apa yang sedang kau cari?" tanya Alfian pada Siera yang sedang tertangkap basah membuka laci almari dalam kamar Alfian.

__ADS_1


"Aku hanya mencari pembalut, barangkali Siska pernah menyimpannya di sini", sahutnya sembari menggerakkan tangannya seperti sedang mencari sesuatu.


Alfian menatap Siera dengan curiga. "Kalau kau hanya ingin mencari benda itu, kenapa semua berkasku kau acak?"


Siera terdiam sesaat. "Maaf, aku hanya sedikit panik, karena ini hari pertamaku. Mungkin kau tidak paham akan hal itu, karena hanya wanita yang mengerti bagaiimana rasanya."


"Pengasuh Zahra kan masih di sini. Kenapa tidak minta tolong dia yang belikan!" Alfian terus mencecar Siera.


"He, he, lupa." Siera tersenyum menampilkan cengiran kuda. Namun Alfian tidak bisa dikelabui dengan semua itu.


"Siang ini kau harus pindah! Aku sudah meminta asistenku untuk mengantarmu ke tempat yang baru."


Siera terkesiap mendengar ucapan Alfian. "Apa kakek sudah tahu mengenai hal ini?"


"Kau saja yang memberitahu. Sekarang kemasi semua barangmu. 10 menit lagi asistenku sampai."


Siera berjalan menuju kamar yang pernah ditempati oleh Siska itu dengan berdecak kesal. Dia sama sekali tidak mau pindah dari apartemen Alfian. Namun dia terpaksa mengemasi semua barang-barangnya, karena jika menelpon sang kakek belum tentu dia akan dibela oleh kakeknya itu.


Tak berselang lama Tony sudah datang untuk menjemput Siera.


"Siang pak."


"Siang Tony. Di tunggu sebentar ya. Duduklah dulu."


Siera yang sudah selesai berkemas keluar dari dalam kamar dengan wajah di tekuk. Lalu dia bejalan dengan mendorong kopernya.


"Ayo, kita berangkat", ajaknya sembari melewati Alfian dan Tony.


"Kalau begitu saya pamit ya, pak", ujar Tony seraya bangkit dari sofa.


"Ya, hati-hati di jalan."


Tony langsung melangkahkan kakinya berjalan menyusul Siera.


"Papa", panggil Zahra saat baru saja keluar dari dalam kamar. Lalu dia berlari menghamburkan diri memeluk Alfian


"Ya, sayang", sambut Alfian membalas pelukan Zahra. "Kenapa Ara belum bobok?" Alfian mencubit gemas kedua pipi Zahra.


"Males bobok ciang, gak asyik", sahut bibir mungil Zahra yang membuat Alfian tersenyum melupakan masalahnya sejenak.


"Ayo, bobok sama tante. Papa mau balik ke kantor lagi."

__ADS_1


"Ya, papa", sahut bibir mungil Zahra sembari mencium pipi Alfian. "Papa semangat kerja", ucapnya kemudian.


"Ya, sayangnya papa", balas Alfian dengan tersenyum, lalu dia menatap ke arah pengasuh Zahra. "Mba, tolong jaga Zahra, saya mau ke kantor."


"Ya, Tuan", sahutnya dengan sopan. Kemudian dia membawa Zahra kembali masuk ke kamar.


Sedangkan Alfian beranjak dari posisinya dan berjalan menuju pintu keluar.


 


Seluruh keluarga Ayunda sudah tiba di rumah.


"Ayah langsung istirahat saja", ujar Adrian.


Mendengar perkataan Adrian sang bunda langsung bergerak mendorong kursi roda sang ayah menuju kamar mereka.


"Kenapa bunda yang mendorong kursi ayah? Biar Adrian saja yang melakukannya, bun." Adrian juga meminta sang bunda beristirahat, lalu dia mendorong kursi roda sang ayah menggantikan bundanya.


"Kakakmu mana?" tanya Winda yang baru keluar dari dalam kamar, saat baru saja selesai menidurkan Azzam.


"Ada, sedang mengantar ayah ke kamar. Azzam sudah tidur kak?"


"Ya, baru saja. Bagaimana keadaan Dafa?" tanya Winda sembari menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa.


Ayunda menghela nafas, rasanya dia sulit untuk menggambarkan keadaan Dafa. "Dia sedang kritis, kak", ujarnya dengan lirih. "Yunda, gak kuat melihat keadaannya."


"Azzam sudah tidur, ma?" tanya suara dari arah dapur.


"Ya, pa", sahut Winda saat melihat Adrian datang menghampiri mereka.


"Papa mungkin butuh bantuan Tony. Apa mama bisa menghubunginya, biar dia datang kemari", pintanya pada sang istri sembari duduk disebelahnya.


"Nanti mama telpon dia. Tapi untuk apa pa?"


"Mengenai kecelakaan Dafa, tadi di rumah sakit papanya Dafa menuduh Ayunda pelaku yang sudah menyebabkan Dafa kritis. Jadi papanya Dafa akan melaporkan Ayunda ke pihak yang berwajib."


Winda terkesiap mendengar ucapan sang suami. "Bagaimana bisa seperti itu? Yunda kan selalu bersama kita setelah Dafa pulang dari rumah ini."


"Untuk itu, papa butuh bantuan Tony menyelidikinya."


"Oke, pa. Nanti mama menghubunginya."

__ADS_1


Adrian berpamitan pada Ayunda yang masih duduk di sofa dengan wajah sendu, dia ingin beristirahat sebentar di dalam kamar. Sang istri pun mengikutinya.


 


__ADS_2