Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Berkunjung ke Panti Asuhan


__ADS_3

Ayunda menuntun sang ayah menuju ruang tamu. "Bagaimana ayah bisa jadi seperti ini?" tanya Ayunda saat mereka semua sudah berada di ruang tamu.


Sang ayah pun menceritakan peristiwa naas yang telah menimpanya itu. Ayunda menatap dengan wajah sendu saat sang ayah menceritakan bagaimana dia bisa lolos dari bahaya maut yang hampir saja merenggut nyawanya.


"Alhamdullilah, ayah diberikan mukjizat dari Allah SWT." Ayunda kembali memeluk sang ayah dengan meneteskan air mata.


Seluruh keluarga yang sedang menyaksikan keduanya pun turut merasa haru.


 


Di apartemen Alfian.


"Apartemenmu besar juga. Aku mau minta kakek berikan aku apartemen seperti ini", ujar Siera, putri dari paman angkatnya itu.


Sejak paman angkat Alfian di penjara, sang kakek selalu menuruti kemauan istri dan anak dari sang paman. Sang kakek tidak ingin ada dendam yang terus berkelanjutan. Dia ingin anak angkatnya itu bertaubat setelah keluar dari penjara nantinya.


"Papa...", panggil Zahra saat melihat Alfian baru saja mengganti sepatu yang dikenakannya dengan selipar.


"Zahra sayang", sambut Alfian dengan merentangkan tangannya.


Siera menatap Zahra dengan tatapan tak suka.


"Tante ini siapa?" tanya gadis cilik yang akan memasuki usia 3 tahun itu.


"Kenalin, tante ini kakaknya papa", ujar Alfian memperkenalkan Siera yang lebih tua 2 tahun darinya.


What? Kakak? ucap Siera di dalam batinnya.


Siera tersenyum canggung saat menatap Zahra. "Hai... Namanya siapa?" tanya Siera dengan malas.


"Zahra, tante", sahut mulut mungilnya.


"Oh, Zahra", ucap Siera yang sebenarnya tidak tertarik menanyakan nama anak itu. Padahal biasanya orang-orang akan mencubit gemas pipi gembul Zahra, berbeda dengan Siera yang malah mengabaikannya.


"Kamar aku yang mana?" tanya Siera sembari membuka salah satu kamar. "Aku mau kamar yang ini", pintanya sebelum Alfian memberinya sebuah kamar.


"Tidak bisa. Itu kamar Zahra", ujar Alfian, lalu melangkahkan kakinya sembari mennggendong Zahra. "Kamarmu yang ini", tunjuk Alfian pada sebuah kamar yang digunakan oleh Siska sebelumnya.


Siera bergidik ngeri saat melihat kamar yang baru saja di buka oleh Alfian. "Em, Zahra sayang. Kita tukar kamar ya sayang. Please...", bujuknya pada Zahra seraya melontarkan senyuman.


Zahra turun dari pangkuan Alfian, lalu dia menghentakkan kaki mungilnya. "Tidak mau", ucapnya sambil menatap Siera dengan mata melotot.

__ADS_1


"Hus, gak sopan gitu. Harus hormat sama yang lebih tua", ujat Alfian menasehati.


Zahra berlari sambil menangis, dia kesal karena sang papa tidak membelanya. Alfian menaikkan kedua bahunya. "Silakan, ini.kamarmu."


Siera melangkah masuk sembari menyusuri setiap sudut ruangan. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. "Aaaa.. Aku tidak mau disitu", tunjuk Siera pada kamar tersebut.


Alfian tidak merespon reaksi berlebihan Siera. Dia hanya fokus membujuk putri kecilnya yang sedang merajuk.


 


Ayunda bersama keluarganya sedang membagikan santunan bagi anak-anak di panti asuhan. Mereka bersyukur masih diberikan rezeki untuk dapat berbagi pada yang membutuhkan.


Sang ayah tampak bahagia ditengah keadaan yang sedang dialaminya saat ini.


"Terimakasih atas sumbangan yang bapak dan ibu sudah berikan. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rezeki yang barokah, memberi kesehatan yang paripurna dan dilancarkan apa yang menjadi hajat Bapak dan Ibu."


"Amin.." ucap mereka bersamaan.


Keluarga Ayunda pun hendak berpamitan, namun Azzam tidak terlihat.


"Azzam..." panggil Adrian saat melihat putranya yang sedang belajar berjalan itu asyik bermain dengan anak-anak yang ada di panti asuhan.


"Papapapa..", suara lucu Azzam membuat Ayunda langsung menggendong Azzam dan mencium gemas pipi gembulnya.


"Kami pamit pulang ya, bu dan anak-anak semuanya. Assalamualaikum..."


"Wa alaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh", jawab mereka bersamaan.


Lalu keluarga Ayunda berjalan bersama, melangkahkan kakinya meninggalkan panti asuhan yang jauh dari kota itu.


 


Langit senja sudah kembali ke peraduannya. Keluarga Ayunda pun tiba di kediaman mereka saat langit sudah gelap.


Azzam yang tertidur pulas buru-buru di bawa masuk ke dalam kamar oleh Winda. Adrian pun mengikuti sang istri.


"Bunda bawa ayahmu ke kamar dulu ya. Katanya mau sholat."


"Baik bun", sahut Ayunda yang menyisakan dirimya seorang diri. Dia langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa. Lalu.meraih ponsel dari dalam tasmya, karena beberapa notifikasi yang masuk telah dia abaikan selama perjalanan pulang.


Ayunda mendengus kasar tatkala melihat jadwal padatnya esok hari. Lalu dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke.dalam kamar.

__ADS_1


 


Di sebuah mall.


Alfian terpaksa mengikuti permintaan Seira yang ingin berbelanja pakaian di mall. Dia tidak ingin hanya karena masalah sepele sang kakek akan direpotkan.


"Ayo, kita kesana", ajaknya pada sebuah toko butik. Dengan langkah berat Alfian pun mengikutinya. Dia tidak bisa membayangkan jika Zahra turut ikut bersama mereka saat ini.


"Suaminya tampan sekali kak", ucap penjaga toko yang sedang memperhatikan Alfian. Siera pun tersipu mendengar penuturan penjaga toko itu.


"Aku bukan..."


"Em, dia bukan seperti yang kamu pikirkan", ucap Siera memotong ucapan Alfian.


"Maksudnya kak?"


"Dia sebenarnya pemalu", bisik Siera pada penjaga toko.


Penjaga toko kembali memperhatikan Alfian. "Kayaknya gak mungkin deh", ujarnya.


Alfian yang mulai jengah karena telah menjadi bahan perbincangan di antara mereka, akhirnya beranjak dari posisinya. Dia berjalan keluar dari toko dan meninggalkan Siera yang masih sibuk bergosip.


"Kak, suaminya udah pergi tuh", ucap penjaga toko. Siera pun membalikkan badannya, lalu mengejar Alfian.


"Alfian!" teriak Siera memanggilnya, namun Alfian mengabaikan panggilan Siera. Dia melanjutkan langkahnya berjalan keluar mall, tanpa menoleh sama sekali.


Siera tak berhenti mengejarnya, bahkan hingga ke parkiran mobil. "Di mana dia?" ucapnya bergumam sembari mengedarkan pandangannya mencari keberadaan mobil Alfian, namun tidak juga ditemukannya. Lalu dia meraih ponselnya menghubungi sang kakek.


---


Alfian baru saja memasukkan password pintu apartemennya, ponsel di dalam saku celananya berdering. "Kakek", ucapnya saat melihat nama yang muncul.di layar ponselnya.


"Assalamualaikum, kek", ucap Alfian saat baru saja menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


"Waalaikumsalam... Dari mana saja kau? Kenapa kau meninggalkan Seira seorang diri di mall! Dia kan belum paham degan daerah di sana!" sergah sang kakek bertubi-tubi.


Alfian sudah menduga bahwa Siera akan melaporkannya pada sang kakek. Diengan santai dia menjawab sang kakek.


Amarah sang kakek pun reda tatkala Alfian menjelaskan bahwa Zahra ditinggalkannya seorang diri di apartemen dan putri kecilnya itu mulai ketakutan karena Alfian pergi terlalu lama.


"Lain kali jangan tinggalkan Zahra seorang diri", ujar sang kakek dari ujung telepon.

__ADS_1


"Baik, kek", sahut Alfian. Lalu mereka saling menutup sambungan telepon.


Tak berselang lama Seira keluar dari dalam lift dan melangkahkan kakinya berjalan menghampiri Alfian yang baru saja masuk ke dalam apartemen.


__ADS_2