
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Dafa menoleh ke arah wanita yang tidak menghargainya itu. Mata yang memerah dan kepalan tangannya, menunjukkan emosi yang sedang meluap. Sherly yang melihat mimik wajah menyeramkan Dafa, beringsut mundur. Dia sedikit takut dan mencoba lari dari hadapan Dafa., namun Dafa berhasil menangkapnya dan mengangkat tangan kanannya. Namun tangannya gagal mendarat di wajah Sherly, karena dia melihat Ayunda, Ferdo, Reina dan Tony baru saja ke luar dari dalam lift.
Ayunda melongo, karena melihat sisi lain Dafa, yang terlihat kasar. Pada hal, Ayunda tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Ayunda berjalan menjauhi Dafa dan Sherly, dia mengabaikan apa yang menjadi masalah mereka. Reina dan yang lainnya juga mengikuti Ayunda.
Dafa berusaha mengejarnya, namun Sherly menghalangi Dafa dengan menarik paksa tangannya. Dafa berusaha menepis tangan Sherly, meskipun harus membuat Sherly terjatuh karena aksi saling tarik di antara Dafa dan Sherly.
Dafa langsung mengejar Ayunda dan yang lainnya, saat mereka baru saja masuk ke dalam mobil. Namun Dafa gagal mengejar mereka, karena Tony sudah melajukan kendaraan meninggalkan basement.
***
Tony baru saja mengantar Reina sampai di depan gerbang rumahnya. Butuh waktu sepuluh menit bagi mereka untuk saling berdebat di dalam mobil, dan akhirnya Reina harus mengalah pada Ayunda dan Tony, saat Ferdo angkat bicara.
"Baiklah. Lain kali kalian harus singgah!" seru Reina yang tak ingin di bantah lagi.
Ayunda dan Tony dengan cepat menganggukkan kepalanya, berbeda dengan Ferdo yang tidak memberikan respon. Namun di dalam benaknya, dia mengejek tingkah mereka yang seperti anak kecil. Tony bergegas melajukan kendaraannya meninggalkan kediaman Reina, dia tak ingin Reina kembali memaksa mereka untuk singgah.
"Pak", panggil Tony dengan ragu pada Ferdo. Ferdo melirik padanya sekilas, yang membuat Tony semakin ragu melanjutkan ucapannya.
"Ada apa?" tanya Ferdo dengan tidak sabaran, karena Tony tidak melanjutkan ucapannya.
"Ehm, apa saya harus mengantar Bapak terlebih dulu?" tanyanya dengan sangat berhati-hati.
"Tidak perlu", balasnya singkat.
Tony menganggukkan kepala sambil menunggu ucapan Ferdo selanjutnya. Namun setelah beberapa menit menunggu, Ferdo tidak juga melanjutkan ucapannya, Ferdo terlihat diam sambil memandang ke luar jendela. Tony semakin gusar, dia terus bertanya sendiri di dalam benaknya. Jadi pak Ferdo ikut ke apartemen pak Adrian, ya? batinnya. Setelah pertanyaan itu berkecamuk di dalam pikirannya sendiri, akhirnya Tony memutuskan untuk membawa Ferdo ke apartemen Adrian. Lalu Tony melajukan kendaraannya menuju ke apartemen Adrian dengan kecepatan sedang.
Ayunda dan Ferdo saling bercerita mengenang masa lalu mereka. Tony yang fokus menyetir, hanya melihat dari spion dalam mobil, raut wajah Ayunda sangat bahagia saat berbicara pada Ferdo. Matanya seakan berbinar walaupun Ayunda tidak langsung menatap Ferdo.
__ADS_1
Tony membelokkan mobil, memasuki basement apartemen. Mereka langsung ke luar dari dalam mobil, saat kendaraan sudah terparkir sempurna, lalu berjalan menuju lift.
*
Ting.
Pintu lift terbuka lebar di lantai tiga, tempat Adrian dan keluarganya tinggal.
Ceklek.
Pintu apartemen terbuka lebar, dan tiba-tiba Adrian menghampiri Ferdo sambil menatap tajam padanya. "Kenapa Kau tidak mengangkat teleponmu?" tanya Adrian dengan kesal. Namun Ferdo mengabaikannya dengan menyelonong masuk sambil melewati Adrian.
Adrian menarik tangan sahabatnya itu, yang memaksa Ferdo berbalik. "Dia kakekmu, Al", ucap Adrian yang membuat Ferdo terdiam di tempatnya berdiri. "Cobalah hubungi dia", tuturnya sambil menepuk pelan lengan Ferdo. Lalu Adrian berjalan melewati Ferdo yang tetap diam.
Ferdo meraih ponsel di dalam sakunya, ada puluhan panggilan tak terjawab dari sang kakek di layar ponselnya. Dengan ragu dia menghubungi kembali sang kakek, lalu menempelkan ponsel di telinganya.
"Hallo, Kakek", sahut Ferdo saat dia baru saja mendengar suata sang kakek di seberang telpon. Lalu dia berjalan menjauh, menuju balkon.
Adrian hanya menatap punggung Ferdo yang berjalan menjauh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak", balas Adrian singkat.
"O, jadi kakeknya di mana?" tanya Ayunda kemudian.
Baru saja Adrian akan membalas ucapan Ayunda, Ferdo sudah datang dengan wajah kesal. "Bro, aku harus pulang. Kakek ada di kota ini", ucapnya menjelaskan pada Adrian.
"Oke, hati-hati di jalan", balas Adrian dengan serius.
"Perlu saya antar, Pak?" tanya Tony yang menawarkan diri dengan sopan, karena dia tahu tadi Ferdo datang bareng sama mereka. Tony tidak tahu kalau Ferdo sudah meminta bawahannya menjemputnya di apartemen Adrian.
"Tidak perlu", balas Ferdo singkat, lalu berjalan ke luar apartemen setelah berpamitan pada Adrian, Ayunda dan sang bunda yang baru saja ke luar dari dalam kamar.
__ADS_1
***
Ferdo turun dari mobil, saat bawahannya mengantarnya sampai di depan pintu restoran. Dia melangkah dengan malas, saat tahu tujuan sang kakek memintanya datang di acara pertemuan keluarga malam ini.
Ferdo mengedarkan pandangannya saat sudah berada di dalam, dia mencari-cari keberadaan sang kakek. Setelah menemukannya, Ferdo berjalan menghampiri sang kakek.
"Malam, Kek", sapa Ferdo sambil memeluk sang kakek. Siska yang mendengar suara bariton Ferdo, langsung melebarkan senyumnya. Berharap Ferdo menyapanya. "Malam, Om", sapanya dengan sopan.
"Hai, Ferdo", sapa Benny papanya Siska dengan tersenyum. "Sepertinya Kau sangat sibuk, ya", tuturnya melanjutkan.
Ferdo memandang Benny dengan tersenyum simpul. "Tidak terlalu, Om", balasnya sekedarnya.
"Kau seorang pekerja keras. Beruntung sekali wanita yang akan menjadi istrimu", tutur Benny yang membuat Siska tersenyum malu.
Ferdo berdehem saat mendengar penuturan Benny, "Om, terlalu memuji", sahutnya dengan tersenyum dipaksakan.
"Wah, Kau memang hebat. Sudah pekerja keras, rendah hati pula. Kau menantu idaman", ujar Benny memuji Ferdo. Ferdo pun tersedak saat mendengar ucapan Benny, dia meletakkan kembali gelas yang ada di tangannya ke atas meja.
"Hati-hati, Fer", seru Siska penuh perhatian, lalu mencoba menepuk pelan punggung Ferdo, Namun Ferdo menepisnya dengan cepat.
"Ehm, sepertinya mereka mulai dekat", tutur sang kakek sambil berdehem. "Bagaimana, apa Kau setuju dia menjadi menantumu?" tanyanya kemudian.
"Ya!" jawab Benny dengan mantap. "Tidak akan ada yang menolak calon menantu seperti Ferdo", ucapnya kemudian. Lalu Benny menoleh ke arah putrinya. "Benar kan, sayang?" tanya Benny sambil mengedipkan mata pada Siska.
Siska menganggukan kepalanya dengan sedikit ragu, "iya, Pa", balasnya dengan tersenyum. Siska sangat berharap hal itu benar-benar terjadi.
"Maaf, Kek. Aku fikir ini bukan zamannya lagi, untuk melakukan perjodohan", ujar Ferdo dengan tegas. Lalu bangkit dari tempat duduknya sambil meletakkan serbet dari pangkuannya ke atas meja.
"Ferdo! Jangan tidak sopan!" sergah sang kakek, saat Ferdo akan beranjak pergi. "Duduk!" pinta sang kakek dengan tegas sambil menatap tajam Ferdo.
"Maaf, Kek. Untuk yang satu ini, aku akan membantah!" seru Ferdo, yang beranjak dari tempatnya, setelah buru-buru berpamitan pada sang kakek dan Benny.
__ADS_1
Sang kakek terus memanggilnya, sampai mengusik perhatian pengunjung lainnya, namun Ferdo semakin mempercepat langkahnya, berjalan ke luar restoran dengan rasa kesal.
To be continue...