
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Ferdo berjalan beriringan bersama Adrian menuju pintu lift, kemudian dia berdehem seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Siska mengundangku datang di acara nanti malam." Ferdo melirik Adrian sekilas, lalu masuk ke dalam lift setelah pintu lift terbuka lebar.
Adrian pun mengikuti langkah Ferdo. "Emangnya Ada acara apa?" tanya Adrian saat baru saja memencet tombol B.
Ferdo menghela nafas kasar. "Huft... Entahlah, katanya acara kumpul bareng teman-temannya. Dia mau mengenalkanku pada teman-temannya itu. Kau harus ikut!" seru Ferdo yang mendapat tatapan tidak suka dari Adrian.
"Kenapa?" Adrian bertanya sambil mengkerutkan keningnya.
Ting.
"Apa Kau tega membiarkanku mati muda, saat menghadapi mereka. Kau tahu Siska gimana, kan. Jadi Kau bisa bayangkan temannya seperti apa!" Ferdo bergidik ngeri setelah melangkahkan kakinya ke luar lift.
Adrian berjalan mensejajarkan langkahnya dengam Ferdo. "Jadi Kau mau ada teman untuk mati bersama, heh?" Adrian bertanya dengan penuh penekanan.
"Kau masih sahabatku, kan?" balas Ferdo dengan bertanya balik pada Adrian.
"Oke... oke. Aku ikut denganmu!" Adrian berdecak kesal, lalu berjalan menuju kendaraannya di parkir.
"Karna aku yang mengajak, maka aku akan menjemputmu tepat jam 7!" Ferdo sedikit berteriak, saat berbicara dengan Adrian yang baru saja masuk ke dalam mobilnya.
"Tidak perlu", balas Adrian singkat sambil melajukan kendaraannya.
"Aku tetap akan menjemputmu!" teriaknya yang masih dapat di dengar oleh Adrian. Ferdo memandang sesaat kendaraan Adrian yang semakin menjauh, lalu dia masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang bangku kemudi sambil memikirkan sesuatu. "Ayunda gimana kabarnya, ya?" ucapnya sambil berfikir sejenak. Sang supir tidak langsung menjalankan mobil, dia melirik bosnya itu melalui spion dalam mobil, barang kali sang bos memang mengatakan sesuatu padanya.
"Kenapa diam saja? Ayo jalan!" Ferdo berdecak kesal saat melihat sang sopir seakan diam-diam mengintipnya.
Sang sopir langsung menjalankan kendaraan, sambil menggelengkan kepalanya. Dia mengira sang bos sedang banyak masalah, makanya bicara seorang diri.
***
Ceklek.
__ADS_1
Adrian masuk ke dalam apartemennya, setelah pintu terbuka lebar. Lalu mengucapkan salam, yang di balas oleh sang bunda dari arah dapur.
"Bunda", panggil Adrian sambil memeluk sang bunda dari belakang.
Sang bunda tersenyum melihat tingkah manja putranya itu. "Ehm... gimana bunda mau masak, kalau gini", ucapnya dengan meletakkan kembali spatula di tangannya.
"Maaf, Bun. Habis nyaman banget meluk Bunda", ucapnya dengan cengiran kuda. Adrian pun melepas pelukannya, lalu dia melirik masakan sang bunda yang wanginya menggelitik penciumannya . "Umm, wangi banget. Bunda masak, apa?" tanyanya dengan mengendus.
"Bunda lagi buat gurame asam manis. Kamu mandi dulu, sebentar lagi juga masak", tutur sang bunda sambil mengobrak abrik isi wajan.
"Oke, Bun", balas Adrian sambil berlalu meninggalkan sang bunda yang masih berkutat dengan spatulanya.
***
Ting.
Ferdo berjalan ke luar lift saat pintu lift terbuka lebar. Dia pun berjalan menyusuri lorong menuju pintu apartemen Adrian. Sesuai janjinya pukul 7 dia akan menjemput Adrian.
Kreak.
Baru saja Ferdo akan memencet bel, seseorang sudah membukakan pintu.
Ayunda menyunggingkan senyuman ramah pada Ferdo, lalu menyapanya. "Hai, Kak Alfian. Kakak pasti mencari Kak Adrian, kan?" tanyanya mencoba menutupi kesedihannya. "Ayo, masuk dulu Kak." Ayunda mengajak Ferdo masuk, dan memintanya menunggu sambil duduk di sofa. Sedangkan Ayunda berjalan menuju kamar Adrian, untuk memberitahukan kedatangan Ferdo.
"Ya, suruh tunggu bentar!" teriak Adrian dari dalam kamarnya.
Ayunda kembali melangkahkan kakinya menghampiri Ferdo yang sedang termenung. "Lagi mikirin apa sih, Kak?" tanyanya tiba-tiba, yang membuyarkan lamunan Ferdo.
Ferdo pun tersenyum ke arah Ayunda. "Eh, Yunda. Adrian mana?" tanyanya sambil melirik ke belakang Ayunda.
"Masih di kamar, Kak. Kak Adrian minta Kakak nunggu sebentar."
"Oo... " balas Ferdo singkat. "O, ya, gimana dengan kuliahmu?" tanya Ferdo yang mencoba lebih akrab dengan Ayunda.
"Sejauh ini lancar, Kak", jawab Ayunda sekenanya, lalu dia kembali merasa canggung. Jari-jarinya terus mengetuk-ngetuk pahanya, seperti sedang menunggu seseorang. "O, ya Kak. Kompetisi mencari pembawa acara itu, ide dari Kak Alfian, kan?" tanya Ayunda yang mencoba menghilangkan rasa canggungnya. Dia menatap Ferdo dengan tersenyum, sambil menunggu jawabannya.
Senyum Ayunda seakan menular, Ferdo pun ikut tersenyum saat menatap Ayunda. "Ya, aku hanya ingin setiap orang yang berpotensi mendapat kesempatan yang sama, untuk menunjukkan kemampuannya." Ayunda menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Ferdo.
__ADS_1
"Ayo!" ajak Adrian tiba-tiba mengalihkan perhatian Ferdo dan Ayunda padanya. "Ada apa?" tanya Adrian bingung, karena mendapat tatapan aneh dari mereka.
"Ehem... Kakak terlihat seperti anak muda yang lagi kasmaran, puft." Pakaian dan parfum yang dikenakan Adrian membuat Ayunda menahan tawanya untuk mengejeknya.
Walaupun sulit di jangkau sorot matanya, Adrian melihat kembali penampilannya. "Penampilanku biasa saja!" seru Adrian yang tak terima kritikan Ayunda.
"Coba lihat sekali lagi!" sembur Ferdo. "Kau tahu... ini lebih cocok di pakai anak SMA yang mau ngapelin pacarnya!" Ferdo menekankan kata anak SMA, saat memperhatikan penampilan Adrian yang mengenakan kaos oblong dan jaket jeans di luarnya, dipadukan dengan celana jeans yang banyak sobekannya.
"Aku belum terlalu tua! Umurku saja baru 24 tahun!" seru Adrian yang tak terima dengan ejekan Ferdo.
"Kita bukan pergi ke pertemuan anak gaul! Tapi - "
"Kau mau di temani atau tidak?" tanya Adrian penuh penekanan pada Ferdo.
Ferdo tak ingin mengomentarinya lagi, dia pun membiarkan Adrian mengenakan pakainnya itu. Lalu mereka berjalan melangkah ke luar, setelah berpamitan pada Ayunda dan sang bunda yang baru saja ke luar dari kamar.
"Mereka mau ke mana, Yunda?" tanya sang bunda sambil mengernyitkan keningnya.
"Ke acara temannya Kak Alfian, Bun." Ayunda menyahut sambil melirik sang bunda.
"Tapi kenapa pakaian mereka berbeda? Apa acaranya juga beda?" tanya sang bunda yang masih bingung.
Ayunda pun tertawa kecil. "Acaranya sama, Bun. Tapi memang dasar kak Adriannya aja yang aneh, dia pakai style beda sendiri", ucapnya setelah menutup pintu.
Sang bunda menggeleng, "kakak Kamu ada-ada saja, ya", balas sang bunda yang ikut duduk di sofa bareng Ayunda, yang di balas dengan anggukan oleh Ayunda.
***
Di basement apartemen Adrian, Tony sedang menunggu dengan gelisah, sorot matanya berulang kali melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Tumben si bos telat, biasanya dia paling disiplin", gumamnya sambil memegang kemudi mobil.
Ting.
Tony langsung merespon saat mendengar dentingan lift. Sorot matanya pun dia arahkan pada pintu lift yang akan terbuka lebar.
"Nah, itu dia", ucapnya saat melihat Adrian dan Ferdo berjalan ke luar dari lift. Lalu Tony menstart kendaraannya, untuk mengeluarkan mobil dari posisi parkir.
__ADS_1
To be continue...