
"Selamat pagi pengantin baru", sapa sang bunda saat Adrian dan Winda berjalan menghampri mereka di ruang makan.
Dengan tersipu Winda menatap sang bunda. "Pagi bunda", sahutnya. Lalu dia menoleh kearah sang ayah. "Pagi ayah.. Pagi adik ipar", ucapnya menyapa seluruh anggota keluarga.
Adrian dan Winda pun duduk di kursi kosong. "Apa tidurmu nyenyak, menantuku?" tanya sang bunda saat Winda baru saja menempelkan bokongnya di kursi.
"Ehm, ada sedikit gangguan bun", sahut Winda yang membuat Adrian tersedak saat baru saja meneguk segelas air hangat.
Semua mata tertuju pada Adrian, hingga gelas kosong yang baru saja dia letakkan, kembali dia angkat. "Ada apa?" tanya Adrian yang mulai grogi.
"Itu gelas udah kosong, kak", tunjuk Ayunda sambil tersenyum.
"Umm, iya aku cuma iseng:", ujar Adrian sambil meletakkan kembali gelas ditangannya.
"Sudah... Sudah.. Biarkan mereka makan dengan tenang", ucap sang ayah yang sedari tadi diam.
Untung saja ayah membantuku, batin Adrian.
***
Setelah semua anggota keluarga selesai menikmati hidangan spesial buatan sang bunda, Mereka pun berkumpul di ruang tamu.
"Yunda", panggil sang ayah, hingga Ayunda menoleh.
"Ya, ayah", sahutnya.
"Sebelumnya kita pernah membicarakan hal ini", ujar sang ayah dengan menarik tubuhnya dari sandaran sofa. Ayunda menautkan kedua alisnya sambil menatap serius sang ayah. "Jadi ayah dan bunda minta agar Yunda, dapat melanjutkan kuliah di kota ini saja", ujar sang ayah.
Ayunda terdiam sesaat namun sorot matanya masih menatap sang ayah. "Maaf ayah... Bunda...", sahut Ayunda sambil menatap kedua orangtuanya bergantian. "Bukan Yunda gak mau pindah ke kota ini. Tapi ada pinalty yang harus Yunda bayar kalau Yunda tidak menyelesaikan kuliah disana", ujarnya dengan tertunduk lesu.
Sang ayah menatap ke arah istrinya. "Bagaimana menurut bunda?" tanyanya.
"Mau gimana lagi, yah. Kita biarkan saja Yunda melanjutkan kuliahnya, karena pelaku penembakannya juga sudah di tangkap. Insya Allah, Yunda kita aman di sana", ujar sang bunda dengan merangkul Ayunda yang duduk disampingnya.
"Terimakasih bunda", sahut Ayunda yang langsung membalas rangkulan sang bunda.
Setelah mendengar pendapat sang istri, sang ayah pun beralih dengan menatap ke arah Adrian. "Bagaimana pendapatmu, nak?" tanyanya.
"Adrian setuju dengan ucapan bunda. Jadi biarkan saja Yunda menyelesaikan kuliahnya, yah", ucap Adrian dengan memohon.
__ADS_1
Setelah berpikir sejenak, akhirnya sang ayah juga setuju dengan pendapat sang bunda. Lalu dia menatap putri imutnya itu. "Ayah izinin Yunda berangkat ke London siang ini", ucapnya yang membuat Ayunda terlonjak girang.
"Terimakasih ayah", ucapnya dengan merangkul sang ayah. "Yunda janji, tidak akan pergi kemanapun selain kampus dan tempat magang", ucapnya kemudian dengan wajah serius.
"Ya, nak", sahut sang ayah lirih. "Jaga dirimu baik-baik di sana!" seru sang ayah sambil memandang Ayunda yang sedang mendongak menatapnya.
***
Ayah dan bunda tak melepaskan pandangannya pada putri imutnya yang sedang berjalan masuk ke ruangan chek in. Ayunda pun melambaikan tangannya saat akan menaiki eskalator menuju tempat pemeriksaan, hingga sang ayah dan bunda tidak terlihat lagi oleh pandangan matanya.
"Ayo, kita pulang bun", ajak sang ayah sambil membalikkan badannya. Tanpa disengaja seseorang menabraknya dari arah depan.
Bruk.
"Maaf... Maaf", ujar seorang pria yang sedang berjalan tergesa-gesa menuju ruang chek in.
"Dafa", ucap ayah Ayunda saat mengenali pria yang ada dihadapannya.
"Sekali lagi maaf om", ucapnya sambil mengatupkan tangannya.
"Iya, tidak apa-apa. Ayo, cepatlah nanti kau terlambat", ucap ayah Ayunda dengan menepuk pelan lengan Dafa.
***
Di parkiran bandara.
Ayah dan bunda Adrian sudah tiba diparkiran mobil. Sang ayah mengetuk pintu mobil saat melihat Adrian dan Winda masih berada di dalamnya. Dengan cepat Adrian membuka pintu mobil.
"Apa Yunda sudah berangkat, yah?" tanya Adrian saat sang ayah masuk ke dalam mobil.
"Sepertinya belum, karena jam keberangkatannya jam 1", sahut sang ayah. "Lagi pula kami juga bertemu Dafa saat mau pulang", ucapnya saat mengingat kejadian itu.
"Oo, gitu ya yah", sahut Adrian yang tidak tertarik tentang Dafa. "Apa Alfian juga datang, yah?" tanya Adrian, karena dia sudah memberitahukan keberangkatan Ayunda padanya.
"Untuk apa dia datang!" ujar sang ayah yang tak ingin Ayunda bertemu lagi dengannya.
Adrian terdiam saat mendengar ucapan sang ayah. Dengan cepat dia melajukan kendaraannya meninggalkan parkiran bandara.
"Sepertinya menantu bunda dibuat kelelahan", ujar sang bunda saat melihat Winda tertidur pulas.
__ADS_1
"Ya, lelah seharian pakai baju adat, bun", elak Adrian dengan tetap fokus menyetir.
"Hem, ngaku aja. Kamu kan penyebabnya!" seru sang bunda yang berhasil mengusik pendengaran sang ayah.
"Bunda... Kenapa masih dibahas lagi sih?" tanya sang ayah sambil menoleh ke arah sang istri.
Sang bunda hanya membalas dengan cengiran kuda. Entah kenapa hubungan Adrian dan Winda sangat menarik perhatian sang bunda.
***
Di rumah sakit.
Alfian duduk termenung sambil menunggu hasil pemeriksaan Zahra diberikan. Rencana untuk mengantarkan kepergian Ayunda di bandara telah gagal, karena pihak rumah sakit tiba-tiba mengabarkan kondisi Zahra padanya.
"Pak Alfian!" seru sang perawat memanggilnya.
"Ya, sus", jawab Alfian sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Silakan masuk, pak", ujar sang perawat dengan membawa hasil pemeriksaan Zahra ditangannya.
Alfian langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan, lalu duduk di hadapan sang dokter.
"Bagaimana kondisi Zahra, dok?" tanya Alfian dengan tidak sabar.
"Dari hasil pemeriksaan kami Zahra mengalami gangguan pernapasan", ucap sang dokter yang membuat Alfian tersentak kaget.
"Apa dia bisa sembuh dok?" tanya Alfian dengan panik.
"Insya Allah, Zahra pasti bisa sembuh. Ini terjadi karena paru-paru Zahra belum terbentuk sempurna. Jadi Zahra harus dirawat beberapa hari lagi, untuk pemulihannya."
"Oke, dok. Lakukan yang terbaik buat Zahra", sahut Alfian sambil bangkit dari tempat duduk, lalu dia berpamitan sebelum keluar dari ruangan sang dokter.
Alfian melangkahkan kakinya menuju ruang inkubator. Tak butuh waktu yang lama dia pun tiba di ruang inkubator. Dipandangnya wajah mungil yang memerah saat sedang menguap itu. "Lucunya", ucap Alfian dengan wajah sumringah saat melihat setiap gerakan Zahra yang berhasil menarik perhatiannya. "Tetap kuat ya, nak. Biar bisa ketemu sama mama", ujarnya. Tanpa terasa bulir kristal jatuh dengan bebas membasahi pipi Alfian. Buru-buru dia mengusapnya agar tak terlihat oleh Zahra, pikirnya.
Setelah 1 jam lamanya Alfian berdiri mematung sambil memandang Zahra, namun masih saja belum ada rasa puas baginya. Jika saja tidak ada keperluan yang mendesak di kantor, ingin rasanya dia berlama-lama di sana.
Dalam waktu kurang dari 15 menit Alfian sudah berada diparkiran mobil. Dengan buru-buru dia melajukan kendaraannya, karena desakan Reina yang sedang kesulitan menghadapi seorang tamu di kantornya.
"Harusnya cari sekretaris yang bisa menguasai bahasa asing, selain bahasa inggris", ujarnya berdecak kesal sambil menambah laju kendaraannya.
__ADS_1