Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Pacar Bohongan Ferdo


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Winda berjalan melewati Adrian dan Tya tanpa bertegur sapa dengan mereka.


"Bu, Winda", panggil Tya saat Winda berjalan dengan terburu-buru, memaksa Winda menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Tya. "Pagi, Bu", sapa Tya dengan tersenyum pada Winda.


"Pagi, Tya. Maaf saya buru-buru", balasnya pada Tya. Baru saja Winda melangkahkan kakinya, Adrian memanggilnya.


"Winda", panggil Adrian, kembali menghentikan langkah Winda. "Apa kabar pagi ini?" tanya Adrian dengan memandang punggung Winda.


"Ehm, baik", balas Winda singkat, lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Adrian dan Tya.


Adrian memandang punggung Winda yang terus menjauh, sehingga tidak lagi dapat di jangkau oleh pandangan matanya.


"Pak Adrian", panggil Tya membuyarkan lamunan Adrian.


"O, ya. Apa pak Ferdo di dalam?" tanya Adrian mengalihkan perhatian Tya.


"Ya, ada Pak", sahut Tya dengan tersenyum ramah.


Adrian pun menyunggingkan senyumnya, lalu berjalan masuk ke ruangan Ferdo.


Ceklek.


Adrian membuka pintu ruangan Ferdo setelah Ferdo mengizinkannya masuk. Saat masuk Adrian melihat sahabatnya itu sedang duduk di kursi kebesarannya sambil menengadah ke langit-langit ruangannya.


"Ada apa?" tanya Adrian saat duduk di seberang Ferdo yang dipisahkan oleh meja.


"Hufft... aku bingung", sahut Ferdo dengan membuang nafas berat.


"Apa yang membuatmu bingung?" tanya Adrian sambil menatap ke arah Ferdo yang menunggu dengan tidak sabar.


"Kakek menjodohkanku", sahut Ferdo dengan tidak bersemangat.


"Puft, mungkin kakek mengira Kau sudah tua?" cerca Adrian pada Ferdo.


"Keluar!" sergah Ferdo dengan sangat kesal.


"Sabar, bro", ujar Adrian menenangkan Ferdo. "Ayo, ceritakan padaku, bagaimana bisa kakek menjodohkanmu", tutur Adrian yang menatap Ferdo menunjukkan padanya bahwa dia siap mendengarkan.

__ADS_1


"Kemaren malam kakek mengatur sebuah pertemuan dengan ayahnya Siska", sahut Ferdo dengan sedikit kesal.


"Siska?" tanya Adrian dengan mengkerutkan keningnya.


"Ya, Siska", balas Ferdo dengan malas menyebut nama itu. "Entah apa yang dia katakan pada kakek dan ayahnya. Sampai mereka merencanakan perjodohan ini", ucap Ferdo sambil mengusap kasar wajahnya. "Tapi... ", tuturnya kemudian menggantung ucapannya, lidahnya terasa kelu untuk melanjutkannya.


"Tapi, apa? Jangan buat aku penasaran", ucap Adrian yang masih menyimak cerita Ferdo.


"Kakek memberikanku pilihan. Jika aku tidak mau dijodohkan dengan Siska, maka aku harus membawa seorang wanita, untuk dipertemukan dengan kakek sebagai calon istriku", ucapnya dengan gelisah.


"Bagus, dong!" seru Adrian.


"Iya, tapi waktunya hanya satu minggu", ujarnya dengan wajah sendu.


"Apa! Satu minggu!" ucap Adrian dengan sedikit kaget, yang di balas dengan anggukan oleh Ferdo. "Dari mana Kau mendapat wanita secepat itu? Atau Kau sudah punya seseorang yang spesial?" tanya Adrian.


"Makanya aku bingung. Bagaimana caranya, sedangkan aku tidak punya pacar", ujar Ferdo sambil memikirkan solusinya.


Adrian berjalan menghampiri Ferdo, "begini saja...", ucapnya sambil menepuk pelan pundak Ferdo. "Bagaimana kalau Kau bayar seseorang untuk menjadi pacar pura-pura Kamu?" tanya Adrian sekalian memberikan saran pada Ferdo.


"Di mana aku akan mencari wanita seperti itu. Aku juga khawatir kakek akan curiga", tutur Ferdo sambil mendongak ke arah Adrian.


"Bagaimana kalau Yunda yang jadi pacar pura-pura Kamu?" tanya Adrian, membuat Ferdo mendelik. "Aku yakin Yunda pasti mau membantumu", ucapnya kemudian.


"Ya, gak mungkin aku, kan!" cerca Adrian.


Ferdo tak mampu mengucapkan apa pun, di satu sisi dia senang, namun di sisi lain dia khawatir sang kakek akan memintanya menikah dengan Ayunda. Jika hal itu terjadi, semuanya pasti akan menjadi kacau.


"Kau jangan khawatir, aku yang akan membujuk Yunda", ucap Adrian meyakinkan Ferdo. Ferdo pun terpaksa mengikuti ide sahabatnya itu.


***


Siang ini sebenarnya Ferdo di undang Siska dan papanya untuk makan bersama, namun Ferdo menolak dengan alasan sudah ada janji dengan klien.


Drrt... drrt.


Ponsel Ferdo kembali berdering, saat baru semenit yang lalu Benny, papanya Siska menelponnya. Ferdo langsung meraih ponsel yang baru saja dimasukkan ke dalam sakunya.


"Winda", ucapnya sambil mengkerutkan kening, saat membaca nama Winda di layar ponselnya.


"Hallo, Win", ucap Ferdo saat dia menggeser icon berwarna hijau di ponselnya.

__ADS_1


"Aku sedang bersama klienku. Ada apa?" tanyanya saat menyahut Winda dari seberang telepon.


"Iya, klien baru. Maaf, aku tidak enak berlama-lama ngobrol di telepon. Jika tidak ada yang penting, aku tutup dulu, ya", sahut Adrian saat Winda mencurigainya tidak bersama klien.


Ferdo langsung memutus sambungan telepon, saat Winda tidak mengatakan apa pun hal yang penting padanya.


"Adrian", panggil Ferdo pada Adrian yang sedang fokus menyetir.


"Ada apa?" tanya Adrian yang menoleh sekilas, lalu kembali fokus menyetir.


"Bantu aku membuat Yunda setuju dengan rencana kita. Sebelum Siska memperalat Winda dan kakek untuk membantunya, agar aku setuju dijodohkan dengannya", ujar Ferdo memohon pada Adrian.


"Kau sahabatku. Aku akan membantumu, selama aku bisa melakukannya", tutur Adrian yang menoleh sekilas ke arah Ferdo sambil tersenyum.


"Terima kasih", ucap Ferdo dengan menepuk pelan pundak Adrian.


"Tidak perlu sungkan", balas Adrian sambil membelokkan kendaraannya memasuki gerbang kampus Ayunda. Lalu memarkirkan kendaraannya di parkir kampus.


Ferdo dan Adrian berjalan ke luar dari dalam mobil, menuju kantin kampus. Mereka sudah membuat janji dengan Ayunda, akan bertemu di kantin kampus siang ini.


Saat Ferdo dan Adrian berjalan di koridor kampus, semua mata memandang dengan rasa kagum pada mereka berdua. Para wanita tak berhenti memuji ketampanan mereka. Bahkan ada yang dengan sengaja menabrakkan diri pada Ferdo, demi memegang tangannya. Begitu pula dengan Adrian, para wanita itu juga melakukan hal yang sama pada Adrian.


Ferdo dan Adrian berjalan dengan langkah cepat, menghindari kerumunan para wanita yang menggilai pria tampan. Saat tiba di kantin, mereka juga mendapat perhatian seisi kantin. Sorot mata mereka tidak lepas dari Ferdo dan Adrian, yang sedang melayangkan pandangannya menyusuri setiap sudut kantin untuk mencari Ayunda.


"Itu dia", tunjuk Adrian saat melihat Ayunda melambaikan tangannya. Lalu mereka melanjutkan langkahnya menghampiri Ayunda.


"Hai, Yunda", sapa Ferdo saat duduk di salah satu kursi yang kosong, yang di ikuti oleh Adrian.


"Hai kakak-kakak tampanku. Sepertinya kalian banyak sekali penggemar, ya!" seru Ayunda saat menatap Ferdo dan Adrian bergantian.


"Ya, mau gimana lagi, dek. Kakakmu sudah terlahir seperti ini", balas Adrian dengan menyombongkan diri.


"Aku menyesal mengatakan itu tadi. Aku menarik ucapanku. Hanya Kak Alfian yang tampan", ucap Ayunda meralat ucapannya.


"Puft", Ferdo menahan tawanya dengan menutup mulut. Lalu tiba-tiba mengubah mimik wajahnya menjadi serius, saat Adrian melotot ke arahnya. Dia tak ingin Adrian marah dan berubah fikiran untuk membantunya.


Adrian menjelaskan dengan singkat tujuan mereka bertemu dengan buru-buru di kantin saat ini. Ayunda yang mendengar penjelasan sang kakak, kaget bercampur bingung. Dia tidak dapat menolak atau pun menerima ide yang disampaikan sang kakak.


"Aku fikirkan dulu ya, Kak", balasnya dengan memaksakan senyumnya.


"Baiklah, Yunda. Aku tidak akan memaksamu", tutur Ferdo dengan tersenyum ramah. Lalu Adrian dan Ferdo berpamitan meninggalkan Ayunda, yang masih ada mata kuliah berikutnya. Mereka tidak ingin mengganggu kuliah Ayunda. Namun sebelum beranjak, Adrian telah berpesan pada sang adik, bahwa Adrian menunggu jawabannya saat Ayunda pulang dari kampus nanti. Meskipun Ayunda keberatan, dia tetap menganggukkan kepalanya menyanggupi permintaan sang kakak.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2