Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Penolakan Sang Kakek


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Ayunda dan Reina berjalan beriringan menuju kelas mereka. Reina berkali-kali melirik ke arah Ayunda seolah ingin mengatakan sesuatu.


"Ada apa Kau terus melihatku?" tanya Ayunda yang mulai risih dengan sikap Reina.


Reina tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ehm, itu. Aku cuma mau tahu, bagaimana kabar mas Tony?" ujar Reina yang sedari sudah tidak sabar ingin mengatakannya pada Ayunda.


"Sudah aku duga. Sahabatku ini, hanya butuh informasi tentang mas Tony", sahut Ayunda, lalu dia berjalan dengan langkah lebar tanpa memberikan informasi tentang Tony padanya.


"Ay... Ay", panggil Reina dengan sedikit berlari mengejar Ayunda. "Kenapa Kau meninggalkanku?" seru Reina dengan nafas terengah-engah.


"Aku bosan, karena Kau hanya peduli dengan mas Tony", balas Ayunda dengan wajah cemberut.


Reina mengkerutkan keningnya, "bukankah Kau sudah berjanji untuk membuatku lebih dekat dengan mas Tony!" seru Reina mengingatkan Ayunda.


Ayunda terdiam beberapa saat, dan teringat akan perjanjiannya dengan Reina. "Tapi, Kau belum membantuku menemukan orang yang berinisial A itu", sahut Ayunda yang tak ingin dipersalahkan oleh Reina.


"Hmm..." Reina mencoba berfikir kembali. "Bukankah Kau sudah tidak peduli lagi dengan orang itu? Coba Kau ingat lagi", balas Reina dengan yakin.


"Iya, iya. Aku akan menepati janjiku, tapi tolong jangan membicarakan dia setiap hari, ya", ucap Ayunda dengan memelas.


"Kamu cemburu ya, Ay?" tanya Reina dengan mencubit gemas pipinya.


"Aww", ringis Ayunda. "Sakit REINA MAUDY ARASTYA!" sergah Ayunda dengan kesal, yang di balas dengan tertawa bahagia oleh Reina. Ayunda coba membalasnya, namun Reina langsung melarikan diri. Akhirnya aksi kejar-kejaran pun terjadi.

__ADS_1


"Cih, masih kekanak-kanakan!" ledek Sherly yang melihat Ayunda dan Reina yang saling kejar-kejaran. "Kenapa bisa Dafa menyukai wanita seperti dia? Aku yakin dia pasti menggunakan guna-guna!" seringai Sherly.


"Ya, itu pasti!" seru sahabatnya yang sedari tadi juga memperhatikan Ayunda dan Reina.


"Ayo, kita pergi! Ngapain juga kita nonton tingkah kampungan mereka. Gak penting!" seru Sherly dengan mengajak ke dua temannya itu melanjutkan langkah mereka.


***


Siang ini di cafe tempat Ayunda bekerja sebelumnya, telah duduk menanti Adrian dan Ayunda di salah satu meja di sudut ruangan cafe.


"Kak Alfian lama banget ya, Kak!" seru Ayunda yang selalu melihat jam yang melingkar di tangannya, karena dia akan ada kelas dengan dosen killer pukul 1.30 siang ini.


Adrian menatap sang adik dengan tersenyum. "Sabar dong. Mungkin di jalan lagi macet", sahut Adrian sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. "Aku ke toilet sebentar, ya", ucap Adrian sambil beranjak dari tempat duduknya, yang di balas dengan anggukan oleh Ayunda.


Baru saja Adrian melangkah beberapa langkah, Ferdo sudah masuk ke dalam cafe.


"Maaf, Yunda. Tadi jalanan sedikit macet", ucap Ferdo saat baru saja berdiri di samping Ayunda, sambil menarik salah satu kursi untuk sang kakek. "Kek, kenalkan ini Ayunda", ucapnya saat mereka sudah duduk di kursi masing-masing.


"Baik", balas sang kakek dengan nada datar, membuat jantungnya berdebar kencang. Ada rasa khawatir, jika sandiwara mereka akan ketahuan oleh sang kakek.


Mereka akhirnya saling berbincang, sambil menunggu pesanan mereka dihidangkan. Banyak sekali pertanyaan yang diajukan sang kakek pada Ayunda, namun masih dapat di atasi oleh Ayunda. Ferdo tersenyum puas, karena Ayunda seorang yang sangat bisa diandalkan.


"Hai, Kek", sapa Adrian dengan tersenyum, saat baru saja bergabung dengan mereka. "Kapan Kakek akan kembali ke kota B?" tanya Adrian yang terus menatap sang kakek.


"Dasar anak nakal! Apa Kau sudah tidak ingin bertemu denganku lagi?" tanya sang kakek sambil menatap tajam Adrian.


"Maaf, Kek. Aku hanya bercanda", ucap Adrian dengan menggeser sedikit tubuhnya, saat pramusaji menghidangkan makanan pesanan mereka.

__ADS_1


Lalu mereka menikmati hidangan di atas meja, tidak ada banyak obrolan lagi antara sang kakek dengan Ayunda. Sang kakek lebih memilih mengobrol dengan Adrian, untuk melepas rasa rindunya. Dia sudah menganggap Adrian seperti cucunya Ferdo, bahkan dia tak pernah membedakan apa pun antara Ferdo dan Adrian.


Terdengar gelak tawa dan berbagai cerita menarik di sela obrolan mereka. Tanpa terasa, waktu jam kuliah dengan dosen killer Ayunda tinggal dua puluh menit lagi. Ayunda merasa ragu untuk berpamitan di saat obrolan masih terasa asyik. Dia menyikut sang kakak, seolah memberi isyarat, namun Adrian tak paham akan isyarat yang ditunjukkan Ayunda.


Ayunda mulai menarik nafas dalam. "Ehem..." Ayunda berdehem sebelum mengatakannya pada sang kakek. "Maaf, Kek. Bukan bermaksud tidak sopan. Begini, Kek... Yunda masih ada kuliah sebentar lagi. Dan dosennya sangat disiplin. Jadi..."


"Pergilah", ucap sang kakek memotong ucapan Ayunda, karena dia tahu maksud ucapan Ayunda.


"Terima kasih, Kek. Yunda pamit, ya", ucap Ayunda yang telah berpamitan pada mereka secara bergantian.


Setelah kepergian Ayunda dari cafe, sang kakek mulai membicarakan Ayunda seperti emak-emak penggosip. Dia menyatakan keberatannya, jika Ferdo bersama dengan Ayunda, karena Ayunda masih kuliah yang kemungkinan akan selesai tahun depan. Sang kakek ingin Ferdo segera menikah di tahun ini, karena usia sang kakek yang tidak tahu akan berapa lama lagi. Dia ingin melihat cicit pewarisnya lahir dari Ferdo. Bahkan dia ingin menggendong cicitnya itu nanti.


Ferdo yang mendengarkan penuturan sang kakek mulai khawatir. Di sisi lain, dia belum punya jawaban yang tepat, untuk meyakinkan sang kakek.


"Fikirkan kembali", ucap sang kakek dengan wajah serius.


Adrian yang juga mendengarkan ucapan sang kakek, turut khawatir. Dia juga berusaha membantu Ferdo, dengan meyakinkan sang kakek bahwa usianya pasti akan lama. "Kek, percayalah. Aku mengatakan ini, bukan bermaksud mendahului Tuhan. Aku yakin Kakek pasti akan punya umur yang panjang, untuk bisa melihat cicit Kakek", ucap Adrian sambil membujuknya.


Sang kakek tetap tidak setuju dengan pendapat Adrian. Sang kakek yakin bahwa pilihannya saat ini sudah tepat, dan pertunangan akan segera dilangsungkan.


Ferdo semakin gelisah, dia tidak menduga bahwa sang kakek tidak mau menerima Ayunda sebagai pendampingnya. Adrian juga tak kalah gelisah, dia bingung kenapa sang kakek seperti memaksa Ferdo harus menikah dengan Siska. Sifat sang kakek terlihat tidak seperti biasanya. Dia seperti membuat keputusan dengan terburu-buru.


"Apa kakek yakin?" tanya Adrian dengan penuh curiga.


"Kakek sudah lebih berpengalaman dari kalian. Kakek sangat yakin, Adrian!" seru sang kakek yang membuat Ferdo dan Adrian menatap sang kakek bersamaan tanpa ekspresi. Mereka terlihat pasrah dengan keputusan sang kakek.


"Kakek sudah selesai. Apa kalian masih mau tetap di sini?" tanyanya sambil beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


Ferdo dan Adrian pun melakukan hal yang sama dengan sang kakek, kemudian mereka berjalan mengikuti langkah sang kakek, namun fikiran dan perasaannya masih tetap kacau.


To be continue...


__ADS_2