
Setelah berpamitan pada keluarga Ayunda, Alfian langsung berjalan keluar diikuti oleh Ayunda yang sedang menggandeng tangan Zahra. Mereka tampak seperti keluarga berencana yang bahagia.
"Tante, Ara nanti naik bianglala ya", pinta Zahra sembari menggayut tangan Ayunda.
"Kalau tinggi badannya sudah cukup, ya."
Zahra melepaskan pegangan tangannya seraya mengerucutkan bibirnya. "Tante, gak asyik!' gerutunya.
Ayunda berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Zahra. "Ara sayang. Mau permainan yang asyik? Nanti tante bawa ke tempat permainan yang lebih asyik."
Zahra masih saja mengabaikan ucapan Ayunda.
"Dia memang suka merajuk. Entar juga dia berubah pikiran kalau sudah sampai di sana", ucap Alfian.
"Tapi gak baik kalau dibiarkan terlalu lama." Ayunda membayangkan waktu yang ditempuh dari rumahnya menuju taman hiburan.
"Nanti dia jadi manja, kamu juga yang repot."
Ayunda terkesiap mendengar ucapan yang keluar dari hati tulus Alfian. "Ke-kenapa Yunda yang repot kak?"
Alfian menatap intens Ayunda dengan tersenyum penuh arti. "Emangnya Yunda mau melajang selamanya?"
"Kakak bujuk Zahra saja, Yunda masuk ke mobil duluan", ujar Ayunda dengan tersipu malu. Lalu di masuk ke dalam mobil mengabaikan tatapan Alfian yang masih tersenyum padanya.
"Ara sayang, nanti papa beli ice cream, mau?" bujuk Alfian saat Zahra sedang berjongkok.
"2 ya pa..."
"Iya, dua. Tapi Ara harus masuk ke mobil dulu."
"Oke, papa", sahut Zahra dengan bersemangat. Saat sudah berada di dalam mobil, dia pun menoleh pada Ayunda yang sedang menatap ke luar kaca mobil.
"Tante, Ara boleh ikut dengan tante, ke tempat permainan yang tante bilang tadi?" tanya bibir mungil Zahra yang membuat Ayunda tergoda untuk menciumnya.
"Boleh, sayang."
"Yeay, asyik-asyik", ucap Zahra berlonjak girang sembari mengangkat kedua tangannya.
Ayunda menatap tingkah lucu Zahra dengan tersenyum bahagia. Alfian juga tersenyum namun bukan saat melihat Zahra melalui spion mobil, melainkan saat melihat wajah cantik Ayunda sedang tersenyum. Kau adalah wanita yang pertama sekali memberi cinta setelah ibuku, aku tak akan melepaskanmu. Batin Alfian.
__ADS_1
Alfian dan Ayunda menggandeng tangan Zahra masing-masing di sebelahnya, hingga Zahra berada di antara mereka berdua.
"Pa, Ara mau main yang itu!" tunjuk Zahra pada sebuah tempat yang berwarna-warni yang di sebut istana boneka itu.
"Ayo", sahut Alfian yang membuat Zahra riang.
Mata Zahra berbinar melihat banyak boneka lucu yang di pajang di sana. Senyumannya pun tak hilang kala melewati lorong-lorong indah itu.
"Apa ini bisa dibilang asyik?" tanya Alfian.
"Mengasyikkan papa. Besok kita kesini lagi ya!"
Jleb.
Alfian merasa telah salah bicara. Dia berfikir sejenak sebelum memberi jawaban pada putrinya yang suka merajuk itu. "Besok papa harus kerja sayang, biar punya duit untuk beli tiket masuk kesini."
Zahra menoleh ke arah Alfian. "Berarti besoknya lagi kita kesini pa?"
"Belum sayang. Ngumpulin duitnya gak cukup satu hari. Papa harus kerja sampai berhari-hari biar duitnya cukup."
Zahra menggut-manggut. "Kalau sudah cukup, papa ajak Ara kesini ya."
Zahra tersenyum puas. "Terimakasih pa", balasnya.
Lalu mereka lanjut menjajali wahana lain yang menarik dalam pandangan Zahra, hingga akhirnya Zahra lelah dan tertidur. Tiba-tiba pengasuh dan seorang pengawal datang menghampiri mereka.
Sejak kapan kak Alfian memanggi**l mereka? Tanya Ayunda di dalam batinnya.
"Ayo, kita ke sana", tunjuk Alfian pada wahana berbentuk kincir angin itu.
Ayunda merasa curiga bahwa Alfian sedang merencanakan sesuatu. "Apa kakak tidak lelah sudah bermain di banyak tempat sedari tadi?
"Sebenarnya itu bukanlah tujuan kita datang ke taman hiburan ini, tapi bianglala itu", tunjuk Alfian dengan tersenyum.
Ayunda pun mengikuti keinginan Alfian itu. Dia tak ingin apa yang sudah direncanakan oleh Alfian menjadi gagal. Dengan langkah sejajar mereka berjalan menuju wahana yang memacu adrenalin itu.
Saat ini Alfian dan Ayunda sudah masuk ke dalam. Bianglala pun mulai berputar, detak jantung Ayunda berdegup kencang, kala mengingat beberapa scene drama yang pernah dia tonton.
Ayunda duduk dengan gelisah seolah paku seinchi itu ada di tempat duduknya. Kini mereka berada di puncak, Alfian mulai bergerak menbuat Ayuda kehilangan keseimbangan.
"Mungkin momen ini sering Yunda tonton. Tapi mengalaminya sendiri itu lebih mengasyikkan", ujar Alfian dengan wajah serius. Lalu dia berlutut yang membuat Ayunda mengencangkan pegangannya. "Ayunda Milly Rendra, will you marry me?"
__ADS_1
Ayunda terkesiap. Pikirannya pun campur aduk, seakan menghadapi meja hijau kelulusan. Dengan menghela nafas dia mungucapkan, "Bismillah, saya terima."
Langit gelap bertaburan bintang itu, kini semakin indah dengan letusan kembang api yang menghiasinya bersamaan dengan perkataan Bismillah.
"Maaf, kakak tidak mendengarnya."
"Tunggu kita turun saja, baru Yunda akan mengulanginya."
Alfian tersenyum kala melihat wajah tersipu malu Ayunda, seakan membuat Alfian ingin menciumnya. Namun sesaat dia sadar kalau mereka belum mempunyai hubungan apapun.
Sesaat setelah mereka turun dari bianglala Ayunda berjalan terburu-buru seolah ingin menghindari seseorang. Namun karena dia berjalan tidak berhati-hati, dia pun menubruk seseorang
Aww... Ringis Ayunda sembari memegang bahunya.
"Maaf... Maaf..." ucap mereka bersamaan, karena menyadari kesalahan masing-masing.
"Pak Abian", panggil Ayunda saat mereka sama-sama berbalik.
"Yunda..." balas Abian memanggil Ayunda yang di dengar oleh Alfian.
Akrab banget panggilannya, jelas-jelas Yunda memanggilnya dengan sebutan pak, batin Alfian.
"Ada bro Alfian juga, dalam rangka apa kemari?"
"Sepertinya itu bukan urusan bro Abian. Kami permisi dulu", ujar Alfian dengan menarik paksa tangan Ayunda.
"Sampai jumpa pak Abian", ucap Ayunda saat dirinya sedang ditarik oleh Alfian. "Lepaskan, kak!" seru Ayunda kemudian. Dia kesal saat melihat sifat kekanak-kanakan Alfian.
"Dia itu menyukaimu. Lain kali jangan bersikap seperti itu padanya, nanti dia akan mengartikan berbeda dengan jalan pikiran Yunda. Lagipula bukankah Yunda sudah menerima lamaran kakak, jadi Yunda harus jaga jarak dengan pria lain."
"Oke kak", balas Ayunda dengan cepat untuk tidak memperpanjang masalah. "Tangannya belum dilepas?"
"Tidak akan kakak lepas sampai kita berada di dalam mobil."
Ayunda menatap jengah sikap Alfian yang tampak seperti calon suami over protektif. "Kak Alfian, Yunda harap setelah Yunda menerima lamaran kakak, jangan sampai kehidupan Yunda kakak atur."
"Kakak tahu batasan. Hanya saja kakak tidak mau ada pria lain yang menyukai Yunda menatap Yunda lebih lama dari kakak sendiri."
Ayunda sadar bahwa Alfian sangat pencemburu. "Baiklah kak. Yunda akan menjaga jarak dengan pria yang menyukai Yunda", ujar Ayunda agar Alfian tidak memperpanjang masalah itu. Kayaknya harus gue sensus nih, siapa aja yang suka sama gue, batin Ayunda menangis.
__ADS_1